Universitas Bengkulu (Unib) terus memperkuat komitmennya dalam membangun lingkungan akademik yang sehat, inklusif, dan berdaya dukung tinggi bagi seluruh sivitas akademika. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah melalui penguatan peran Unit Penunjang Akademik Bimbingan Konseling (UPA-BK), yang kini mulai menyosialisasikan berbagai program layanan kepada seluruh fakultas sebagai upaya menghadirkan layanan bimbingan dan konseling yang profesional, sistematis, serta berkelanjutan.



UPA-BK Unib saat menggelar sosialisasi di FISIP Unib.(foto:ist-yess)
Sosialisasi perdana program UPA-BK dilaksanakan pada Kamis (9/7/2026) di dua fakultas, yakni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) serta Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Bengkulu.
Di FISIP, kegiatan dibuka langsung oleh Dekan FISIP, Prof. Dr. Drs. Sugeng Suharto, M.M, M.Si, dan dihadiri para wakil dekan, kepala bagian umum, ketua tim kerja, ketua program studi, Unit Penjaminan Mutu Fakultas (UPMF), tenaga kependidikan, serta perwakilan mahasiswa.
Sementara itu, di FKIK, sosialisasi dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum, Dr. dr. Enny Nugraheni, S.M.Biomed, mewakili dekan. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 30 peserta yang terdiri atas unsur pimpinan fakultas, ketua senat, koordinator program studi, ketua bimbingan konseling, Unit Penjaminan Mutu, Medical Education Unit (MEU), dosen, tenaga kependidikan, hingga perwakilan mahasiswa.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pembentukan UPA-BK Universitas Bengkulu pada tahun 2025. Sejak dibentuk, unit tersebut telah menyusun berbagai perangkat dasar penyelenggaraan layanan, mulai dari visi, misi, dan tujuan organisasi, mekanisme serta alur pelayanan, hingga pelaksanaan Rapid Assessment Kerentanan Hidup Insan Akademika Universitas Bengkulu.




Sosialiasi layanan BK oleh UPA-BK Unib di FISIP Unib berlangsung interaktif dan partisipatif. (foto:ist-yess)
Hasil asesmen tersebut menunjukkan bahwa berbagai kelompok sivitas akademika, baik mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan, memiliki tingkat kerentanan dalam berbagai aspek kehidupan, meliputi aspek fisik, psikologis, sosial, ekonomi, dan spiritual.
Selain itu, dinamika kehidupan kampus juga memperlihatkan adanya sejumlah persoalan yang memerlukan perhatian serius, seperti perundungan (bullying), pelecehan seksual, penyalahgunaan narkoba, serta tekanan akademik yang berpotensi memengaruhi kesehatan mental. Kondisi tersebut semakin kompleks ketika belum seluruh sivitas akademika memiliki akses terhadap layanan pendampingan, pengembangan kapasitas, maupun ruang rekreasional yang memadai.
Berangkat dari hasil kajian tersebut, Universitas Bengkulu memandang penting menghadirkan sistem layanan bimbingan dan konseling yang lebih komprehensif sebagai bagian dari upaya menciptakan ekosistem pendidikan tinggi yang aman, sehat, dan mendukung keberhasilan akademik seluruh warga kampus.



UPA-BK Unib menyerahkan banner informasi layanan BK kepada Dekan FISIP Unib dan foto bersama. (foto:ist-yess)
Dalam kegiatan sosialisasi, Kepala UPA-BK Unib, Yessilia Osira, S.Sos, M.P, bersama tim yang terdiri atas Rosi L. Vini Siregar, S.Sos, M.Kesos, Tarmizi, S.IP, M.I.Kom, dan Husnul Qoimah, A.Md, memaparkan sejarah pembentukan UPA-BK sekaligus menjelaskan visi, misi, program kerja, serta mekanisme layanan yang akan diberikan kepada sivitas akademika.
Yessilia menjelaskan bahwa UPA-BK dikembangkan sebagai pusat layanan yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian masalah, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pengembangan kapasitas individu agar mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan akademik maupun sosial secara lebih adaptif.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, UPA-BK menghadirkan empat pilar layanan utama, yaitu layanan bimbingan konseling individu, bimbingan konseling kelompok, bimbingan konseling keluarga, serta layanan pengembangan kapasitas yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan personal, sosial, dan akademik sivitas akademika.




UPA-BK Unib saat melakukan sosialisasi layanan BK di FKIK Unib dan foto bersama. (foto:ist-yess)
Selain memperkenalkan layanan tersebut, tim UPA-BK juga memaparkan hasil Rapid Assessment Kerentanan Hidup Insan Akademika yang telah dilaksanakan sepanjang tahun 2025 sebagai dasar penyusunan berbagai program intervensi dan pendampingan yang lebih tepat sasaran.
Pada akhir kegiatan, tim UPA-BK menyerahkan media sosialisasi berupa banner layanan kepada masing-masing fakultas sebagai bagian dari upaya memperluas akses informasi mengenai layanan yang tersedia. Sivitas akademika juga diajak memanfaatkan berbagai fasilitas konsultasi yang disediakan, baik melalui layanan tatap muka (offline) maupun layanan daring (online), sehingga bantuan dapat diakses secara lebih mudah, cepat, dan nyaman.
Melalui penguatan layanan ini, Universitas Bengkulu berharap UPA-BK dapat menjadi garda terdepan dalam mendukung kesehatan mental, kesejahteraan psikososial, serta pengembangan potensi sivitas akademika. Kehadiran layanan tersebut diharapkan mampu membentuk insan akademik yang sehat secara fisik, mental, sosial, dan spiritual, sekaligus mendukung terwujudnya Universitas Bengkulu yang unggul, inklusif, inovatif, dan berdampak. [Laporan: Yessillia | Editor: Purna Herawan | Humas].