Universitas Bengkulu (Unib) kembali menegaskan komitmennya sebagai penggerak kolaborasi pendidikan tinggi di Provinsi Bengkulu. Melalui forum yang difasilitasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah II, Unib dipercaya menjadi tuan rumah sekaligus Sekretariat Bersama (Sekber) Konsorsium Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Berdampak Provinsi Bengkulu, sebuah wadah sinergi yang diharapkan mampu melahirkan berbagai program strategis bagi kemajuan daerah.



Para pimpinan PTN dan PTS se Provinsi Bengkulu bahan Konsorsium Kampus Berdampak di Unib.(foto:hms1)
Kesepakatan tersebut lahir dalam rapat gabungan pimpinan perguruan tinggi yang berlangsung di Ruang Rapat I Gedung Layanan Terpadu (GLT) Universitas Bengkulu, Selasa (7/7/2026). Pertemuan dihadiri langsung oleh Kepala LLDikti Wilayah II, Prof. Iskhaq Iskandar, M.Sc, bersama pimpinan dua perguruan tinggi negeri di Bengkulu, yakni Universitas Bengkulu dan Akademi Komunitas Negeri Rejang Lebong (AKREL), serta pimpinan 14 perguruan tinggi swasta di Provinsi Bengkulu.
Forum ini merupakan tindak lanjut Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi yang diselenggarakan di Bandar Lampung pada 23 Juni 2026. Tujuannya adalah menyatukan persepsi, memetakan potensi kerja sama, serta merumuskan langkah strategis dalam pembentukan Konsorsium PTN-PTS Berdampak sebagai implementasi kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Rektor Universitas Bengkulu, Prof. Dr. Indra Cahyadinata, SP, M.Si, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas komitmen seluruh pimpinan perguruan tinggi yang hadir. Menurutnya, pembentukan konsorsium menjadi momentum penting untuk menghilangkan sekat antarlembaga dan membangun budaya kolaborasi yang lebih kuat demi kemajuan pendidikan tinggi di Bengkulu.
“Universitas Bengkulu mendukung penuh terbentuknya Konsorsium PTN dan PTS Berdampak Provinsi Bengkulu. Melalui sinergi ini kita dapat memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, mulai dari pendidikan, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat dan pemerintah daerah,” ujar Prof. Indra.
Ia menambahkan, tantangan pembangunan saat ini tidak mungkin diselesaikan oleh satu perguruan tinggi secara sendiri-sendiri. Karena itu, kolaborasi menjadi kunci untuk melahirkan riset yang lebih berkualitas, inovasi yang aplikatif, serta pengabdian kepada masyarakat yang memberikan dampak nyata.



Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata menyambut baik pembentukan Konsorsium Kampus Berdampak.(foto:hms1)
Sementara itu, Kepala LLDikti Wilayah II, Prof. Iskhaq Iskandar, menjelaskan bahwa pembentukan Konsorsium PTN-PTS Berdampak merupakan implementasi kebijakan Kemdiktisaintek yang menindaklanjuti arahan Presiden Republik Indonesia agar perguruan tinggi semakin aktif berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan bangsa dan daerah.
Menurutnya, konsorsium diharapkan mampu memperkuat kualitas akademik, memperluas jejaring penelitian, meningkatkan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus meningkatkan daya saing perguruan tinggi melalui kolaborasi yang lebih terstruktur.
Sebagai contoh keberhasilan, Prof. Iskhaq menyebut implementasi konsorsium di wilayah LLDikti XV Kupang yang melibatkan Universitas Brawijaya, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Muhammadiyah Malang. Melalui kolaborasi tersebut, berbagai program bersama berhasil dijalankan, termasuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif Tematik yang berfokus pada pengentasan kemiskinan dan percepatan penurunan angka stunting.
“Pertemuan ini menjadi momentum bagi kita untuk mewujudkan program Diktisaintek Berdampak. Melalui konsorsium ini, perguruan tinggi di Bengkulu diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah,” ujarnya.



Kepala LLDikti II, Prof. Iskhaq Iskandar saat menjelaskan maksud, tujuan dan arah kebijakan Konsorsium PTN-PTS Berdampak di Provinsi Bengkulu.(foto:hms1)
Prof. Iskhaq menilai Bengkulu memiliki potensi sumber daya alam yang besar, tetapi juga menghadapi sejumlah tantangan pembangunan, mulai dari ketahanan pangan, pengembangan blue economy, energi, kesehatan, hingga pelestarian lingkungan. Karena itu, konsorsium diharapkan menjadi wadah kolaborasi untuk menghasilkan inovasi dan solusi berbasis riset yang dapat diterapkan secara langsung di masyarakat.
Konsorsium ini akan mengembangkan lima pilar strategis, yaitu Research Excellence, Human Capital Development, Innovation and Commercialization, Sustainable Food Ecosystem, serta Policy and Partnership. Kelima pilar tersebut diharapkan mampu mendorong kampus menjadi pusat solusi pembangunan daerah melalui riset terapan, inovasi teknologi, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan kemitraan dengan pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan media.
Selain itu, sejumlah program prioritas juga telah diidentifikasi untuk dikembangkan bersama, antara lain pendampingan desa mandiri, riset kolaboratif yang mendukung kawasan pangan dan program Makan Bergizi Gratis (MBG), hilirisasi inovasi perguruan tinggi, pendampingan UMKM oleh dosen dan mahasiswa, serta KKN Tematik Berdampak yang berorientasi pada penyelesaian persoalan masyarakat.
Dalam sesi diskusi, para pimpinan perguruan tinggi turut menyampaikan berbagai usulan bentuk kerja sama yang dapat segera direalisasikan, mulai dari penelitian bersama, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan kurikulum, pertukaran dosen dan mahasiswa, pemanfaatan laboratorium secara bersama, hingga peningkatan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan.



Foto Rektor Unib dan Kepala LLDikti II bersama para pimpinan Perguruan Tinggi se Provinsi Bengkulu.(foto:hms1)
Sebagai tindak lanjut, forum menyepakati Universitas Bengkulu sebagai Sekretariat Bersama Konsorsium PTN-PTS Berdampak Provinsi Bengkulu. Sekretariat ini akan menjadi pusat koordinasi seluruh program kolaboratif antarpimpinan perguruan tinggi, khususnya melalui sinergi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) di seluruh PTN dan PTS di Bengkulu.
Melalui Sekretariat Bersama tersebut diharapkan lahir berbagai riset kolaboratif yang lebih berkualitas, meningkatnya peluang memperoleh pendanaan kompetitif dari kementerian maupun lembaga pendanaan lainnya, bertambahnya publikasi ilmiah bersama, serta terciptanya inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan mendukung percepatan pembangunan Provinsi Bengkulu.
Lebih jauh, keberadaan konsorsium ini diharapkan menjadi tonggak baru penguatan ekosistem pendidikan tinggi di Bengkulu. Dengan mengedepankan semangat kolaborasi, perguruan tinggi negeri dan swasta tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan bergerak bersama menghasilkan inovasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menghadirkan dampak nyata bagi kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat. [Purna Herawan | Humas].