Universitas Bengkulu (Unib) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah melalui program pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan ribuan mahasiswa. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak yang secara resmi dilepas oleh Rektor Unib, pada upacara pelepasan di halaman gedung Rektorat Unib, Senin pagi (15/6/2026).



Ribuan mahasiswa Unib saat mengikuti upacara pelepasan KKN Berdampak di halaman Rektorat.(foto:hms1)
Sebanyak 2.052 peserta KKN periode ke-108 akan diterjunkan ke berbagai wilayah di Provinsi Bengkulu untuk melaksanakan program pemberdayaan masyarakat selama lebih dari satu bulan. Melalui KKN Berdampak, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
Prosesi pelepasan ditandai dengan penyematan rompi dan atribut KKN kepada perwakilan mahasiswa dari masing-masing fakultas oleh Rektor Unib Prof. Dr. Indra Cahyadinata, SP, M.Si, didampingi Ketua Senat Unib Prof. Herawan Sauni, para Wakil Rektor, para Dekan, serta pimpinan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unib.





Rektor Unib bersama Ketua Senat, para Wakil Rektor, para Dekan dan Ketua LPPM menyematkan rompi dan atribut KKN secara simbolis kepada perwakilan peserta KKN.(foto:hms1)
Turut hadir dalam kegiatan tersebut para Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), pimpinan unit kerja di lingkungan Unib, serta sejumlah mitra strategis, antara lain perwakilan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) dan BPJS Ketenagakerjaan yang selama ini mendukung pelaksanaan program KKN Unib.
Ketua LPPM Unib Prof. Dr. Eng. Dedi Suryadi, ST, MT melalui Ketua Pusat Pengelolaan dan Pengembangan KKN (P3KKN) Ir. Lindung Zalbuin Mase, ST, M.Eng, Ph.D menjelaskan, KKN Periode ke-108 akan berlangsung mulai 16 Juni hingga 31 Juli 2026 dan dilaksanakan di 223 desa dan kelurahan yang tersebar pada 33 kecamatan di empat kabupaten, yakni Kabupaten Seluma, Kabupaten Bengkulu Selatan, Kabupaten Kaur, serta Kecamatan Enggano di Kabupaten Bengkulu Utara.
Menurut Lindung, tahun ini KKN Unib mengusung tema besar “Literasi dan Pemberdayaan Masyarakat di Provinsi Bengkulu.” Tema tersebut dijabarkan ke dalam dua fokus utama yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah lokasi KKN.



Ketua P3KKN LPPM Unib saat menyampaikan laporan dan Rektor Unib bersama perwakilan BPJS Ketenagakerjaan menyerahkan secara simbolis Kartu BPJS kepada peserta KKN.(foto:hms1)
Untuk Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan, dan Kaur, mahasiswa akan mengimplementasikan program-program yang berorientasi pada pengelolaan sampah dan penciptaan lingkungan bersih yang berkelanjutan. Sementara itu, mahasiswa yang ditempatkan di Kecamatan Enggano akan mengembangkan program berbasis pengelolaan sumber daya pesisir dan pelestarian hutan hujan tropis sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan ekosistem di pulau terluar Indonesia tersebut.
“Tema ini dipilih agar mahasiswa mampu menghadirkan program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan di daerah,” jelas Lindung.
Dari total 2.052 peserta KKN reguler, sebanyak 845 orang merupakan mahasiswa laki-laki dan 1.207 orang mahasiswa perempuan yang berasal dari delapan fakultas di lingkungan Unib. Peserta tersebut terdiri atas 191 mahasiswa FKIP, 349 mahasiswa Fakultas Hukum, 373 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, 345 mahasiswa FISIP, 328 mahasiswa Fakultas Pertanian, 58 mahasiswa FMIPA, 370 mahasiswa Fakultas Teknik, dan 38 mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK).



Ribuan mahasiswa Unib sangat antusias dan bersemangat melaksanakan KKN Berdampak.(foto:hms1)
Selain melibatkan mahasiswa Unib, program KKN tahun ini juga kembali memperkuat jejaring kerja sama antarperguruan tinggi melalui skema KKN Kolaborasi. Sebanyak 59 mahasiswa dari perguruan tinggi mitra akan bergabung bersama mahasiswa Unib di lokasi KKN.
Mahasiswa tamu tersebut berasal dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang sebanyak 13 orang, Universitas Negeri Padang (UNP) 10 orang, Universitas Lampung (Unila) enam orang yang ditempatkan di Kabupaten Seluma dan Kaur, serta 30 mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang akan melaksanakan program KKN Kolaborasi di enam desa di Kecamatan Enggano.
“Selain itu, Unib juga secara konsisten berpartisipasi dalam KKN Internasional Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri Wilayah Barat (BKS-PTN Barat). Pada tahun 2026 ini, Unib mengirimkan tiga mahasiswa untuk mengikuti program tersebut yang dipusatkan di Universitas Siliwangi Tasikmalaya sebagai tuan rumah,” ujar Lindung.
Dalam pelaksanaannya, para mahasiswa akan dibimbing oleh 47 Dosen Pembimbing Lapangan yang berasal dari berbagai disiplin ilmu di delapan fakultas. Untuk mendukung kelancaran program, P3KKN LPPM Unib juga menjalin kolaborasi dengan pemerintah daerah, DPMPTSP provinsi dan kabupaten, serta BPJS Ketenagakerjaan.
Lindung menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan program tersebut dan berharap seluruh peserta mampu mengoptimalkan perannya sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada pimpinan Universitas Bengkulu, pemerintah daerah, serta seluruh mitra yang telah mendukung pelaksanaan KKN ini. Kepada seluruh peserta, kami berharap dapat melaksanakan KKN Berdampak secara optimal sehingga benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan mendukung kemajuan daerah,” tuturnya.

Rektor Unib saat menyampaikan sambutan dan arahan kepada para peserta KKN Berdampak.(foto:hms1)
Sementara itu, Rektor Unib Prof. Dr. Indra Cahyadinata menegaskan bahwa KKN bukan sekadar mata kuliah lapangan ataupun sarana memenuhi beban studi mahasiswa. Lebih dari itu, KKN harus menjadi wadah pembelajaran sosial yang mampu menghasilkan perubahan nyata di tengah masyarakat.
“KKN harus menjadi kegiatan yang berdampak. Hadirlah di tengah masyarakat bukan sebagai orang yang merasa paling tahu, tetapi sebagai mahasiswa yang mau mendengar, belajar, dan bekerja bersama masyarakat,” ujar Rektor.
Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak memaksakan program yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sebaliknya, mahasiswa harus mampu mengidentifikasi potensi desa, memahami persoalan yang dihadapi warga, lalu menyusun program yang realistis dan dapat dilanjutkan oleh masyarakat setelah masa KKN berakhir.



Rektor dan para Wakil Rektor, Ketua Senat dan pimpinan unit kerja foto bersama dengan peserta KKN.(foto:hms1)
Menurut Rektor, ukuran keberhasilan KKN tidak terletak pada banyaknya kegiatan seremonial yang dilaksanakan, melainkan pada sejauh mana program yang dijalankan mampu menciptakan perubahan positif dan memberikan manfaat yang berkelanjutan.
“Kita ingin KKN ini menghasilkan dampak yang nyata. Program yang dibuat harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan manfaat yang terus dirasakan meskipun mahasiswa sudah kembali ke kampus,” tegasnya.
Di akhir sambutannya, Rektor berpesan agar seluruh peserta senantiasa menjaga etika, kesehatan, kekompakan, serta keselamatan selama berada di lokasi KKN. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga nama baik Universitas Bengkulu melalui sikap yang santun, disiplin, adaptif, kreatif, dan bertanggung jawab.
“Tunjukkan bahwa mahasiswa Unib adalah pribadi yang santun, disiplin, adaptif, kreatif, dan bertanggung jawab. Selamat mengabdi, selamat belajar dari masyarakat, dan selamat memberikan karya terbaik bagi negeri,” tutup Rektor.
Melalui KKN Berdampak Periode ke-108 ini, Universitas Bengkulu berharap kontribusi mahasiswa tidak hanya memperkuat hubungan kampus dengan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mendorong pembangunan daerah yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis pemberdayaan masyarakat. [Purna Herawan | Humas].