UNIVERSITAS BENGKULU

Universitas Bengkulu (Unib) kembali menorehkan capaian akademik membanggakan dengan mengukuhkan enam Guru Besar dalam Rapat Senat Paripurna Terbuka yang digelar di Gedung Serba Guna (GSG) Unib, Selasa (10/2/2026). Momentum ini terasa istimewa karena salah satu profesor yang dikukuhkan adalah Rektor Unib, Prof. Dr. Indra Cahyadinata, S.P, M.Si.

Ketua Senat Unib saat membuka Rapat Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar dan Rektor Unib saat menyampaikan sambutan.(foto:hms1)

Pengukuhan dan pemasangan samir tanda kehormatan kepada Prof. Indra Cahyadinata dilakukan langsung oleh Ketua Senat Universitas Bengkulu, Prof. Dr. Herawan Sauni, S.H, M.S. Selanjutnya, Prof. Indra Cahyadinata selaku Rektor Unib mengukuhkan lima Guru Besar lainnya, didampingi Ketua Senat yang turut memasangkan samir kehormatan.

Rapat Senat Terbuka ini dipimpin Ketua Senat dan dihadiri oleh Sekretaris serta para anggota senat, jajaran Guru Besar Unib, unsur Forkopimda Provinsi Bengkulu seperti Kepala Kejaksaan Tinggi Bengkulu dan Danlanal Bengkulu, pimpinan perguruan tinggi mitra, mitra perbankan, serta ratusan keluarga dan kolega para profesor yang dikukuhkan.

Ketua Senat Unib Prof. Herawan Sauni saat mengukuhan dan memasang Samir Kehormatan Guru Besar kepada Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata.(foto:hms1)

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. Indra Cahyadinata resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian. Lima Guru Besar lainnya yang turut dikukuhkan yakni: Prof. Dr. Ir. Irnad, M.Sc, Guru Besar Bidang Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian (FP); Prof. Dr. Ir. Rustikawati, M.Si, Guru Besar Bidang Pertanian Lahan Kering Fakultas Pertanian; Prof. Dr. Wisma Yunita, S.Pd, M.Pd, Guru Besar Bidang Pengajaran Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP); Prof. Dr. Jose Rizal, S.Si, M.Si, Guru Besar Bidang Ilmu Matematika Terapan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA); dan Prof. Dr. Drs. Sugeng Suharto, MM, M.Si, Guru Besar Bidang Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata saat mengukuhkan lima Guru Besar diikuti pemasangan Samir Kehormatan oleh Ketua Senat Prof. Herawan Sauni.(foto:hms1)

Sebagai bagian dari tradisi akademik, keenam Guru Besar menyampaikan orasi ilmiah yang merepresentasikan hasil penelitian unggulan di bidang keilmuannya masing-masing. Kegiatan ini juga disiarkan secara live streaming melalui kanal YouTube Unib TV, sehingga dapat disaksikan oleh sivitas akademika dan masyarakat luas.

Orasi ilmiah diawali oleh Prof. Irnad dengan judul “Eksplorasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja dan Loyalitas Profesi Nelayan di Provinsi Bengkulu: Structural Equation Model.” Selanjutnya, Prof. Rustikawati memaparkan orasi berjudul “Pengembangan Tanaman Adaptif Lahan Kering dengan Bioteknologi.” Sementara itu, Prof. Wisma Yunita menyampaikan orasi “Model Pembelajaran Tata Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing di Indonesia.”

Pada sesi berikutnya, Prof. Jose Rizal mengangkat tema “Pemodelan Spasio-Temporal Terintegrasi dalam Analisis Risiko Gempa Bumi Megathrust di Zona Sumatera.” Kemudian Prof. Indra Cahyadinata menyampaikan orasi berjudul “Model Pengelolaan Perikanan Kepiting Bakau pada Pulau Utama (Mainland) dan Pulau Kecil Terluar.” Orasi ilmiah ditutup oleh Prof. Sugeng Suharto dengan judul “Kemitraan Organisasi Publik dan Privat dalam Penyediaan Infrastruktur Layanan Publik (Studi Kebijakan tentang Public Private Partnership pada Pasar Modern di Kota Bengkulu).”

Keenam Guru Besar yang dikukuhkan foto bersama dengan Ketua Senat Unib dan menyanyikan lagu Pada Mu Negeri di hadapan para undangan yang hadir di GSG Unib.(foto:hms1).

Dengan pengukuhan ini, jumlah Guru Besar Universitas Bengkulu meningkat dari 83 menjadi 89 orang. Capaian tersebut tidak sekadar menambah angka, tetapi menjadi simbol bertambahnya kekuatan intelektual, kepakaran, serta tanggung jawab moral Unib dalam mendukung pembangunan bangsa dan daerah.

Dalam sambutannya, Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata menyampaikan bahwa pengukuhan ini merupakan momen istimewa, tidak hanya bagi para profesor yang dikukuhkan, tetapi juga bagi Universitas Bengkulu dan masyarakat akademik secara keseluruhan.

“Atas nama pimpinan Universitas Bengkulu, saya menyampaikan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para profesor yang hari ini dikukuhkan. Gelar profesor bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab akademik yang lebih besar,” ujarnya.

Prof. Indra mengutip pemikiran filsuf Socrates, “Hidup yang tidak diuji tidak layak untuk dijalani,” sebagai pengingat bahwa tugas akademisi—terlebih seorang profesor—adalah terus berpikir kritis, menelaah, dan mencari kebenaran demi kemajuan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat.

Ketua Senat Unib saat menutup Rapat Senat, pemberian ucapan selamat dan keenam Guru Besar foto bersama dengan unsur Forkompinda Provinsi Bengkulu .(foto:hms1)

Dengan gaya ringan namun reflektif, Prof. Indra menambahkan bahwa beban akademik seorang dosen akan “naik level” setelah menjadi profesor. “Kalau dulu pusing karena revisi dari dosen pembimbing, sekarang pusingnya karena revisi dari reviewer jurnal internasional. Bedanya, dulu revisinya dua halaman, sekarang komentarnya bisa belasan halaman,” ungkapnya yang disambut senyum hadirin.

Menurutnya, gelar profesor bukan sekadar menambah gelar akademik, tetapi juga memperpanjang daftar tanggung jawab dan dedikasi. Guru besar adalah penjaga marwah keilmuan—seorang pengajar, peneliti, pemikir, sekaligus inspirator—yang perannya semakin strategis di tengah disrupsi teknologi, perkembangan kecerdasan buatan (AI), dan perubahan sosial yang cepat.

Foto bersama para pimpinan Unib, para Guru Besar yang dikukuhkan dengan para undangan di GSG Unib.(hms1)

“Kita membutuhkan profesor yang tidak hanya produktif dalam publikasi ilmiah, tetapi juga hadir memberikan solusi nyata bagi masyarakat. Profesor yang manfaat ilmunya dirasakan oleh petani, guru, pelaku usaha, pemerintah daerah, dan masyarakat luas,” tegasnya.

Kepada para profesor yang baru dikukuhkan, Prof. Indra menitipkan tiga pesan utama: menjaga integritas, memperkuat kolaborasi, dan mewariskan inspirasi. “Profesor sejati tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga melahirkan generasi penerus yang lebih hebat,” katanya.

Ia berharap, tradisi akademik di Universitas Bengkulu terus tumbuh, tidak hanya dari sisi kuantitas Guru Besar, tetapi juga kualitas dan dampak nyata bagi masyarakat.

“Pengukuhan hari ini adalah bukti bahwa Universitas Bengkulu terus bergerak maju. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan akademik para profesor hingga mencapai jabatan tertinggi ini,” pungkasnya. [Purna Herawan | Humas].