Universitas Bengkulu (Unib) memantapkan arah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat untuk lima tahun ke depan. Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Unib menggelar sosialisasi dan diskusi Rencana Induk Penelitian (RIP) dan Rencana Induk Pengabdian kepada Masyarakat (RIPkM) periode 2026-2030 di Ruang Rapat Utama Gedung Layanan Terpadu (GLT) Unib, Jumat (3/9/2026).



Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata saat memberi sambutan pada acara Sosialisasi dan FGD Rencana Induk Penelitian dan Pengabdan Kepada Masyarakat Unib 2026-2030.(foto:arif)
Kegiatan strategis ini dihadiri Rektor Unib beserta para Wakil Rektor, Ketua Senat Universitas Bengkulu, para kepala lembaga dan dekan, kepala biro, serta para ketua jurusan dari delapan fakultas di lingkungan Unib.
Forum tersebut menjadi ruang untuk menyamakan arah sekaligus memperkuat komitmen seluruh unsur akademik Unib agar penelitian dan pengabdian tidak berhenti pada capaian akademik, tetapi mampu menjawab persoalan nyata, mengoptimalkan potensi lokal, dan menghadirkan manfaat yang terukur bagi masyarakat.
Rektor Unib, Prof. Dr. Indra Cahyadinata, SP, M.Si, menyambut baik terselenggaranya kegiatan tersebut dan memberikan apresiasi kepada LPPM Unib yang telah menyiapkan dokumen Rencana Induk Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat periode 2026-2030.
Menurut Rektor, dokumen rencana induk tersebut harus menjadi kompas bersama dalam menentukan arah riset dan pengabdian Unib. Bukan sekadar dokumen perencanaan, RIP dan RIPkM diharapkan mampu menuntun sivitas akademika dalam mengidentifikasi persoalan yang paling mendesak, mempertemukan keahlian lintas disiplin, serta menjaga kesinambungan program sehingga menghasilkan perubahan yang dapat diukur.
“Terima kasih kepada LPPM dan seluruh pihak yang telah menyiapkan kegiatan ini. Mari kita wujudkan rencana 2026-2030 melalui kolaborasi yang sungguh-sungguh dan keberanian menghasilkan karya. Semoga dari Universitas Bengkulu lahir ilmu yang menerangi, inovasi yang menjawab kebutuhan, dan pengabdian yang menumbuhkan kemandirian,” ujar Prof. Indra.

Dari Pengetahuan Menjadi Kemajuan
Rektor menegaskan, kebesaran sebuah universitas tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya pengetahuan yang dihasilkan, tetapi juga oleh kemampuan mengubah pengetahuan tersebut menjadi kemajuan kehidupan.
Di sinilah penelitian dan pengabdian menemukan maknanya. Ketekunan akademisi dalam memahami persoalan harus bermuara pada lahirnya solusi yang dapat dirasakan dan dimanfaatkan masyarakat.
“Penelitian menuntut keberanian untuk bertanya, kerendahan hati untuk menguji asumsi, dan kejujuran untuk menerima bukti. Pengabdian menuntut kesediaan untuk mendengar, memahami konteks, serta belajar bersama masyarakat. Ketika keduanya bertemu, ilmu menjadi semakin kuat secara akademik dan semakin bermakna secara sosial,” tuturnya.
Menurut Prof. Indra, Bengkulu merupakan ruang tumbuh ilmu pengetahuan yang memiliki kekayaan potensi sekaligus tantangan yang kompleks. Persoalan pertanian, pesisir, lingkungan, kesehatan, pendidikan, hingga kesejahteraan masyarakat membutuhkan kontribusi nyata dari kalangan akademisi dan peneliti.
“Berangkat dari persoalan lokal, kita dapat menghasilkan pengetahuan yang relevan bagi dunia,” paparnya.
Karena itu, Rektor mengajak para dosen, peneliti, dan pengabdi untuk terus menghidupkan integrasi Tridharma Perguruan Tinggi. Temuan penelitian perlu dibawa ke ruang pembelajaran, mahasiswa dilibatkan dalam kegiatan pengabdian, sementara pengalaman bersama masyarakat dapat menjadi sumber pertanyaan dan gagasan untuk penelitian berikutnya.
Dengan pola tersebut, kampus tidak hanya menjadi tempat menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menjadi ekosistem yang terus belajar bersama masyarakat dan memperluas manfaat ilmu pengetahuan.
“Publikasi, paten, dan capaian kinerja perlu kita perjuangkan dengan mutu dan integritas. Pada saat yang sama, mari kita tanyakan, pengetahuan apa yang bertambah, kemampuan siapa yang menguat, dan kehidupan siapa yang menjadi lebih baik melalui pekerjaan kita?” ujarnya.

Tiga Tema Utama Penelitian Unib 2026-2030
Kepala LPPM Unib, Prof. Dr. Eng. Ir. Dedi Suryadi, S.T, M.T, menjelaskan, Rencana Induk Penelitian Unib 2026-2030 diarahkan pada tiga tema utama, yakni Sumber Daya Alam (SDA) Pesisir dan Hutan Hujan Tropis, Energi Terbarukan Berbasis SDA Lokal, serta Pengelolaan Limbah Berbasis Ekonomi Sirkular.
Ketiga tema tersebut dipilih dengan mempertimbangkan keunggulan komparatif Bengkulu, perkembangan sumber daya manusia akademik Unib, serta tren penelitian yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Bengkulu memiliki garis pantai sepanjang 567 kilometer yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, ekosistem laut dan mangrove yang unik, serta hutan tropis yang membentang di sepanjang Bukit Barisan. Bengkulu juga memiliki kekayaan flora dan fauna langka, seperti Rafflesia, badak, dan gajah Sumatera.
Di sisi lain, potensi energi baru terbarukan (EBT) juga cukup besar, mulai dari biomassa, energi surya, mikrohidro, hingga energi gelombang laut. Kondisi geografis Bengkulu yang berada di zona subduksi aktif juga menjadikannya wilayah yang menghadapi risiko gempa, tsunami, dan longsor. Potensi tersebut menjadi ruang yang luas bagi Unib untuk mengembangkan riset yang berangkat dari kekuatan lokal sekaligus menjawab tantangan pembangunan.
Tren penelitian Unib periode 2021-2025 juga menunjukkan perkembangan positif. Dalam kurun tersebut tercatat 2.603 judul penelitian, dengan capaian tertinggi pada 2024 sebanyak 579 judul penelitian.
Namun, peningkatan kuantitas tersebut perlu diikuti penguatan kualitas, hilirisasi, dan kebermanfaatan hasil penelitian. Sejumlah tantangan masih perlu dijawab, antara lain belum optimalnya pemetaan dan karakterisasi ilmiah SDA pesisir dan hutan tropis, pemanfaatan EBT yang masih terbatas, belum optimalnya pengelolaan limbah agroindustri dan pesisir, serta belum maksimalnya riset kebencanaan.
Selain itu, pendanaan penelitian Unib masih memiliki ketergantungan pada PNBP sehingga diperlukan diversifikasi sumber pendanaan eksternal. Upaya penguatan kekayaan intelektual (KI) dan komersialisasi hasil penelitian juga perlu terus didorong agar paten dan produk komersial yang lahir dari riset Unib semakin meningkat.
“Dengan memperhatikan keunggulan komparatif Bengkulu dan tantangan yang dihadapi, kita berharap Rencana Induk Penelitian 2026-2030 ini hadir sebagai jawaban strategis untuk mengoptimalkan keunggulan dan menjawab tantangan pembangunan Bengkulu,” ungkap Prof. Dedi.

Lima Fase Menuju Ekosistem Riset Unggul
Untuk menerjemahkan tiga tema utama tersebut ke dalam program yang terarah, LPPM Unib telah menyusun peta jalan penelitian 2026-2030 dalam lima fase.
Tahun 2026 menjadi fase konsolidasi. Pada tahap ini, Unib akan memperkuat fondasi melalui inventarisasi SDA pesisir dan hutan, pemetaan risiko bencana, pemetaan potensi EBT, serta survei limbah agroindustri. Target yang ditetapkan antara lain menghasilkan 320 jurnal internasional bereputasi dan sekitar 60 HaKI baru.
Untuk mendukung pencapaian target tersebut, LPPM Unib akan memperkuat kolaborasi dengan BRIN, BMKG, BNPB, serta mitra internasional dan mengoptimalkan pemanfaatan pangkalan data riset terintegrasi Prisma LPPM.
Tahun 2027 memasuki fase akselerasi, dengan fokus pada penguatan kapasitas SDM dan modernisasi laboratorium, pengembangan prototipe teknologi EBT dan bioremediasi, sistem peringatan dini bencana, serta peningkatan proposal hibah internasional seperti GCF, JICA, dan USAID. Targetnya adalah sekitar 420 jurnal internasional bereputasi dan 62 HaKI baru.
Selanjutnya, tahun 2028 menjadi fase terapan, melalui uji lapangan teknologi dan model kebencanaan, standardisasi dan sertifikasi teknologi, peningkatan perolehan KI strategis seperti paten dan indikasi geografis (GI) Kopi Bengkulu, serta penguatan kemitraan industri untuk penerapan teknologi, termasuk prototipe pengolah limbah.
Tahun 2029 diarahkan sebagai fase inovasi, dengan fokus pada inovasi pemanfaatan SDA dan hutan pesisir, pra-inkubasi bisnis, advokasi kebijakan pengurangan risiko bencana, replikasi inovasi ke wilayah lain di Sumatera, serta pengembangan lisensi teknologi dan spin-off hijau.
Kemudian pada tahun 2030, penelitian Unib memasuki fase inkubasi. Tahap ini diarahkan pada hilirisasi model, penguatan Pusat Unggulan Institusi (PUI) agar diakui secara nasional, pengembangan ekosistem riset yang unggul dan mandiri, serta pembentukan Centre of Excellence SDA Tropis. Pada fase ini, target penelitian mencapai 720 jurnal internasional bereputasi dan 70 HaKI baru.
“Pada fase konsolidasi, sasaran kita adalah membangun fondasi data, kelembagaan, dan kemitraan riset pada tiga tema riset yang telah kita tetapkan. Pada fase akselerasi, sasarannya adalah memperkuat kapasitas SDM, laboratorium, dan kolaborasi riset,” papar Prof. Dedi.
“Pada fase terapan, sasarannya mengujicobakan teknologi di lapangan dan memperoleh KI strategis. Pada fase inovasi, sasarannya mematangkan inovasi, menginkubasi bisnis, dan mereplikasi model. Kemudian pada fase inkubasi, sasarannya adalah mewujudkan ekosistem riset mandiri dan Centre of Excellence regional,” lanjutnya.
Berdasarkan analisis SWOT, LPPM Unib juga menyiapkan sejumlah strategi tindak lanjut, antara lain mengoptimalkan kekuatan SDM dan ekosistem riset untuk menangkap peluang hibah EBT dan kebencanaan, memperluas kolaborasi internasional untuk meningkatkan luaran penelitian, memperkuat riset kebencanaan dan konservasi berbasis publikasi, serta memberikan intervensi khusus kepada fakultas yang belum menghasilkan luaran penelitian secara optimal.
Selaras dengan SDGs dan ASTA CITA
Arah penelitian Unib 2026-2030 juga dirancang agar selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Tema-tema strategis tersebut berkontribusi terhadap berbagai tujuan SDGs, antara lain pengurangan kemiskinan, ketahanan pangan, pendidikan berkualitas, energi bersih, pertumbuhan ekonomi, kota berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, penanganan perubahan iklim, pelestarian ekosistem laut dan daratan, serta penguatan kemitraan global.
Selain itu, sasaran strategis penelitian Unib juga memiliki relevansi dengan ASTA CITA, khususnya dalam mendorong kemandirian pangan dan energi, penciptaan lapangan kerja berkualitas, pembangunan hijau dan berkelanjutan, serta peningkatan ekonomi berbasis potensi lokal.
“RIP Unib 2026-2030 adalah komitmen institusional untuk menjadikan Bengkulu sebagai pusat riset unggulan pesisir dan hutan tropis yang berdampak nyata bagi masyarakat,” tegas Prof. Dedi.
Untuk mewujudkannya, lanjutnya, dibutuhkan dukungan kebijakan berupa insentif HaKI dan publikasi, peningkatan alokasi anggaran riset, fasilitasi kerja sama dengan mitra strategis, serta percepatan peningkatan kualifikasi dosen.

Pengabdian yang Berangkat dari Kebutuhan Masyarakat
Tidak hanya penelitian, LPPM Unib juga memaparkan arah strategis pengabdian kepada masyarakat untuk periode 2026-2030.
Melalui Sekretaris Bidang Pengabdian, Dr. Ir. Hardiansyah, S.T, M.T, dipaparkan bahwa Rencana Induk Pengabdian kepada Masyarakat 2026-2030 mengusung tiga tema strategis, yakni coastal and marine community empowerment, tropical agriculture and sustainable agribusiness, serta environmental management and zero waste.
Ketiga tema tersebut menjadi landasan bagi pengabdian Unib agar semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat sekaligus memiliki kesinambungan dari tahap pemetaan hingga hilirisasi dan perluasan dampak.
Pada 2026, pengabdian diarahkan pada fase pemetaan dan penguatan dasar, dengan luaran berupa baseline wilayah, basis data pemangku kepentingan, forum kemitraan, dan model awal program tematik.
Memasuki 2027, fokus bergeser pada penguatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan teknis, literasi digital, pemberdayaan perempuan dan pemuda, serta penguatan kelembagaan.
Kemudian 2028 menjadi fase inovasi dan diversifikasi produk, dengan kegiatan antara lain riset terapan dan inovasi teknologi tepat guna, diversifikasi produk unggulan, pelatihan kewirausahaan dan pemasaran digital, serta pengembangan smart farming dan smart fishery.
Pada 2029, pengabdian memasuki fase hilirisasi dan ekspansi pasar. Fokusnya mencakup komersialisasi, replikasi model, penguatan rantai nilai, serta digitalisasi branding. Target yang ditetapkan meliputi replikasi lima model pemberdayaan, peningkatan pendapatan masyarakat sebesar 30 persen, dan membawa 25 produk unggulan ke pasar yang lebih luas.
Selanjutnya pada 2030, Unib menargetkan terwujudnya ekosistem unggulan yang berkelanjutan. Model pengabdian ditargetkan dapat direplikasi di sedikitnya 10 wilayah nasional dan internasional, meningkatkan kesejahteraan masyarakat binaan minimal 40 persen, membangun kemitraan dengan 21 mitra strategis aktif, serta menghasilkan 10 rekomendasi kebijakan yang diadopsi pemerintah.
“RIPkM LPPM Unib 2026-2030 adalah pedoman strategis pengabdian kepada masyarakat selama lima tahun ke depan, sebagai jembatan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi dengan kebutuhan nyata masyarakat,” ujar Dr. Hardiansyah.
Menurutnya, pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi merupakan tanggung jawab sosial Unib dalam mendukung pembangunan daerah, nasional, dan global.
Melalui RIP dan RIPkM 2026-2030, Unib menegaskan arah baru penguatan Tridharma yang tidak hanya berorientasi pada seberapa banyak penelitian dan pengabdian yang dihasilkan, tetapi juga seberapa besar pengetahuan tersebut mampu melahirkan inovasi, memperkuat kemandirian, dan menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat. [Purna Herawan | Humas].