UNIVERSITAS BENGKULU

Penguatan karakter peserta didik tidak cukup dilakukan melalui penyampaian materi di ruang kelas, tetapi perlu dibangun melalui pengalaman belajar yang mendorong tanggung jawab, gotong royong, integritas, empati, dan kemampuan berpikir kritis. Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim dosen Universitas Bengkulu (Unib) lintas fakultas mengembangkan model pembelajaran Collaborative Learning Project (CLP) untuk memperkuat kompetensi guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) dalam merancang pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai karakter.

Tim Pengabdi Unib foto bersama dengan Kepala SMPN 21 Kota Bengkulu.(foto:ist-psdp)

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Peningkatan Kemampuan Guru SMP dalam Pengembangan Pembelajaran Karakter Berbasis Collaborative Learning Project Era Milenial” ini dilaksanakan di SMP Negeri 21 Kota Bengkulu, pada 20 Agustus 2026, dengan melibatkan 30 guru SMP di wilayah Kota Bengkulu.

Kegiatan yang didanai melalui skema PPM-Riset tahun 2026 tersebut diketuai Prof. Dr. Badeni, M.A dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unib, bersama tiga anggota tim, yakni Dr. Eko Risdiyanto, M.Pd (FKIP), Prof. Dr. Achmad Aminudin, M.Si (FISIP), dan Prof. Agustin Zarkani, S.P, M.Si, Ph.D (Fakultas Pertanian).

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya di bidang pendidikan. Melalui pendampingan langsung kepada guru, pengetahuan dan hasil pengembangan keilmuan dosen tidak berhenti pada ranah akademik, tetapi diterapkan untuk memperkuat praktik pembelajaran di sekolah.

Pendekatan tersebut sejalan dengan paradigma Pendidikan Tinggi Berdampak, yang mendorong perguruan tinggi menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang relevan dengan persoalan di lapangan. Peningkatan kapasitas guru diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun pengalaman belajar yang lebih bermakna sekaligus memperkuat pembentukan karakter peserta didik.

Menjawab Tantangan Pembelajaran Karakter di Sekolah

Sebelum melaksanakan program, tim pengabdi terlebih dahulu mengidentifikasi sejumlah persoalan yang dihadapi guru SMP, meliputi aspek pedagogis, metodologis, dan asesmen. Pemetaan kebutuhan ini menjadi dasar untuk merancang kegiatan yang sesuai dengan kondisi dan tantangan pembelajaran di sekolah.

Pada aspek pedagogis, guru menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan nilai-nilai karakter, seperti gotong royong, integritas, dan tanggung jawab, ke dalam materi pelajaran yang cukup padat. Pembentukan karakter tidak hanya perlu disampaikan secara eksplisit melalui materi atau arahan guru, tetapi juga ditanamkan melalui pengalaman belajar sehari-hari, termasuk interaksi, pembagian peran, pengambilan keputusan, dan penyelesaian masalah bersama.

Dari sisi metodologis, variasi strategi pembelajaran aktif masih perlu diperkuat. Kegiatan kerja kelompok yang selama ini diterapkan belum sepenuhnya disusun berdasarkan prinsip Collaborative Learning Project yang terstruktur. Padahal, pembelajaran kolaboratif memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertukar gagasan, berbagi tanggung jawab, menyelesaikan persoalan, dan menghasilkan karya bersama.

Gedung SMPN 21 Kota Bengkulu sebagai tempat dilaksanakannya pengabdian kepada masyarakat dan flayer tema pengabdian disertai foto Tim Pengabdi dan Kepala Sekolah.(foto:ist-psdp)

Tantangan lainnya terdapat pada aspek asesmen. Guru membutuhkan instrumen penilaian yang dapat mengukur tidak hanya hasil akhir tugas kelompok, tetapi juga kontribusi setiap siswa, tanggung jawab dalam menjalankan peran, kemampuan bekerja sama, serta perkembangan karakter selama proses pembelajaran. Penilaian antarteman atau peer assessment menjadi salah satu pendekatan yang diperkenalkan untuk mendukung penilaian tersebut secara lebih terarah.

Berbagai persoalan itu menunjukkan bahwa penguatan pendidikan karakter memerlukan dukungan model pembelajaran yang tidak hanya menekankan penguasaan materi, tetapi juga memberikan ruang bagi siswa untuk mempraktikkan nilai-nilai positif dalam kegiatan nyata.

“Perkembangan teknologi di era milenial memicu pergeseran perilaku siswa usia SMP, seperti menguatnya sikap individualis dan menurunnya kepedulian sosial. Untuk mengatasi persoalan karakter tersebut, guru dituntut tidak hanya menyampaikan materi akademis, tetapi juga mengintegrasikan pembentukan karakter melalui strategi pembelajaran yang interaktif dan relevan. Di sinilah kita hadir untuk meningkatkan kemampuan guru dalam merancang dan mengimplementasikan model Collaborative Learning Project berbasis pendidikan karakter,” ujar Prof. Badeni.

Pelatihan Partisipatif, Guru Merancang Modul Ajar

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim pengabdi menggunakan metode Participatory Action Research (PAR), yaitu menempatkan peserta sebagai pihak aktif dalam proses identifikasi masalah, pengembangan solusi, praktik, dan evaluasi. Melalui metode ini, guru tidak sekadar menjadi penerima materi, tetapi terlibat langsung dalam merancang perangkat pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas masing-masing.

Kegiatan dilaksanakan melalui empat tahapan, yakni pemetaan kebutuhan melalui pre-test, lokakarya atau pelatihan terstruktur, pendampingan penyusunan modul ajar, serta simulasi dan evaluasi melalui post-test.

Dalam lokakarya, tim pengabdi memberikan pemahaman mengenai karakteristik belajar siswa pada era digital, termasuk dinamika pembelajaran generasi muda. Peserta juga memperoleh penjelasan mengenai konsep dan kerangka kerja Collaborative Learning Project, serta cara mengintegrasikan lima nilai karakter utama ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau modul ajar. Kelima nilai tersebut meliputi tanggung jawab, gotong royong, integritas, bernalar kritis, dan empati.

Tim Pengabdi Unib foto bersama dengan Kepala SMPN 21 Kota Bengkulu.(foto:ist-psdp)

Materi pelatihan dirancang agar guru dapat menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam aktivitas pembelajaran yang konkret. Misalnya, tanggung jawab dikembangkan melalui pembagian peran dan penyelesaian tugas; gotong royong melalui kerja sama dalam mencapai tujuan bersama; integritas melalui kejujuran dalam proses pengerjaan; bernalar kritis melalui analisis masalah dan pertukaran gagasan; serta empati melalui kemampuan menghargai pendapat dan memahami perspektif orang lain.

Setelah memperoleh penguatan konseptual, para guru didampingi menyusun modul ajar CLP dan rubrik asesmen karakter dengan prinsip co-design. Melalui proses ini, rancangan pembelajaran dikembangkan secara kolaboratif dengan mempertimbangkan kebutuhan, pengalaman, dan konteks sekolah tempat para guru mengajar.

Beberapa platform juga diperkenalkan kepada para guru, antara lain Trello, Canva Teams, dan Padlet, untuk membantu guru dalam mengelola proyek, memantau tanggung jawab peserta didik, serta menghasilkan karya secara kolaboratif.

Guru kemudian mempraktikkan skenario proyek kolaboratif melalui simulasi pembelajaran antarrekan sejawat atau peer microteaching. Tahap ini menjadi ruang untuk menguji rancangan pembelajaran, memperoleh masukan, dan menyempurnakan perangkat ajar sebelum dievaluasi melalui post-test.

Dengan demikian, hasil kegiatan tidak hanya berupa peningkatan pemahaman konseptual, tetapi juga perangkat pembelajaran yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pembelajaran karakter di sekolah.

Kompetensi Guru Meningkat 38 Persen

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan rata-rata kompetensi guru sebesar 38 poin persentase, dari 47 persen pada pengukuran awal menjadi 85 persen setelah mengikuti rangkaian kegiatan. Capaian ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan praktis peserta dalam mengembangkan pembelajaran karakter berbasis Collaborative Learning Project.

Selain peningkatan kompetensi, kegiatan ini menghasilkan produk konkret berupa modul ajar CLP lintas kurikulum yang dilengkapi rubrik penilaian karakter dan instrumen peer assessment. Perangkat tersebut dirancang untuk membantu guru mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam proses pembelajaran sekaligus memberikan panduan dalam menilai keterlibatan dan kontribusi siswa selama mengerjakan proyek bersama.

Tim Pengabdi Unib foto bersama dengan Kepala SMPN 21 Kota Bengkulu dan puluhan guru yang menjadi peserta pelatihan dalam Program Pengabdian kepada Masyarakat Unib.(foto:ist-psdp)

Prof. Badeni menjelaskan bahwa para guru tidak hanya menerima teori pedagogis, tetapi juga terlibat langsung dalam menyusun, merevisi, dan menguji rancangan modul pembelajaran. Proses tersebut diharapkan membantu guru menerapkan model pembelajaran kolaboratif sesuai dengan kebutuhan mata pelajaran dan karakteristik peserta didik.

Menurutnya, penguatan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran karakter merupakan bagian penting dari upaya membangun lingkungan belajar yang lebih partisipatif. Melalui pembelajaran berbasis proyek dan kolaborasi, siswa diharapkan tidak hanya memahami materi pelajaran, tetapi juga terbiasa bekerja sama, bertanggung jawab, menghargai perbedaan, serta menyelesaikan persoalan secara kritis.

Meski demikian, dampak jangka panjang program terhadap perubahan perilaku siswa dan budaya belajar sekolah memerlukan penerapan berkelanjutan serta evaluasi lanjutan. Modul dan instrumen asesmen yang dihasilkan menjadi modal awal bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran karakter secara lebih terencana dan terukur.

Pengabdian Berdampak bagi Penguatan Pendidikan

Program ini memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu dalam menjawab persoalan pendidikan. Kepakaran dosen dari FKIP, FISIP, dan Fakultas Pertanian dipadukan dalam kegiatan yang berorientasi pada kebutuhan mitra, dengan guru sebagai pelaku utama dalam pengembangan dan penerapan solusi pembelajaran.

Dalam kerangka Pendidikan Tinggi Berdampak, keberhasilan pengabdian tidak hanya dilihat dari terlaksananya pelatihan, tetapi juga dari manfaat yang dapat digunakan dan dikembangkan oleh masyarakat. Peningkatan kompetensi guru, tersedianya modul ajar, serta instrumen penilaian karakter menjadi luaran awal yang membuka peluang penerapan lebih luas di sekolah-sekolah lain.

Ke depan, penerapan modul secara berkelanjutan, pertukaran praktik baik antarguru, dan evaluasi hasil pembelajaran dapat menjadi langkah lanjutan untuk memperkuat dampak program. Dengan demikian, pengabdian perguruan tinggi dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas pembelajaran sekaligus mendukung pembentukan generasi muda yang berintegritas, kolaboratif, dan mampu menghadapi tantangan zaman.

Prof. Badeni menyampaikan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unib serta Kepala SMP Negeri 21 Kota Bengkulu atas dukungan terhadap pelaksanaan program tersebut. Ia juga mengapresiasi para guru SMP yang telah berpartisipasi aktif dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias.

Melalui program ini, Unib terus mendorong agar keilmuan dan kepakaran dosen memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Penguatan kapasitas guru menjadi salah satu langkah strategis untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga menumbuhkan karakter dan kecakapan sosial peserta didik sebagai bekal menghadapi masa depan. [Laporan: Badeni | Editor: Purna Herawan | Humas].