UNIVERSITAS BENGKULU

Dalam rangka mempercepat transformasi pembelajaran dan memperkuat daya saing menuju kampus bertaraf internasional, Universitas Bengkulu (Unib) bekerja sama dengan Google Indonesia menyelenggarakan pelatihan dan sertifikasi kompetensi internasional Gemini Academy for Higher Education bagi dosen dan tenaga kependidikan (Tendik), Rabu (28/1/2026).

Wakil Rektor II Unib Dr. Yulian Fauzi dan Perwakilan Google Indonesia Colling Nursatriawan menyampaikan sambutan di acara pembukaan pelatihan dan sertifikasi.(foto:hms1)

Kegiatan yang dilaksanakan secara luring di Ruang Rapat Utama Gedung Layanan Terpadu (GLT) Unib ini diikuti sekitar 160 dosen dan Tendik dari berbagai fakultas dan unit kerja. Program ini menjadi bagian strategis Unib dalam membangun ekosistem pembelajaran adaptif berbasis teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Pada kesempatan tersebut, juga dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang pemanfaatan Google Workspace for Education di lingkungan Universitas Bengkulu.

MoU dan PKS ditandatangani oleh Rektor Unib Prof. Dr. Indra Cahyadinata, SP, M.Si bersama Direktur Utama PT Cahaya Mitra Harapan (Paideia Educational Solutions) Yoshua Bonar Abdiel Sirait, B.Sc, M.Pd, selaku Official Partner Google for Education di Indonesia.

Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata dan Direktur Utama PT. Cahaya Mitra Harapan selaku Partner Google menandatangani MoU dan Perjanjian Kerja Sama.(foto:hms1)

Wakil Rektor II Bidang Keuangan dan Umum Unib, Dr. Yulian Fauzi, S.Si, M.Si, dalam sambutan pembukaan menyampaikan bahwa kegiatan ini mendapat perhatian serius dari seluruh pimpinan universitas dan disambut antusias oleh peserta. Menurutnya, pelatihan dan sertifikasi ini tidak hanya meningkatkan literasi AI, tetapi juga memperkuat kompetensi sumber daya manusia Unib dalam mendukung transformasi pembelajaran.

“Teknologi informasi dan AI berkembang sangat pesat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia pendidikan tinggi. Melalui Gemini Academy for Higher Education, dosen dan Tendik Unib dibekali kompetensi global yang relevan untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih inovatif, efektif, dan berdampak,” ujarnya.

Ia menambahkan, sertifikasi kompetensi internasional ini menjadi nilai tambah strategis bagi dosen dan Tendik, sekaligus mendukung kebijakan transformasi pembelajaran yang menempatkan dosen sebagai fasilitator pembelajaran berbasis teknologi.

Sementara itu, Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata menegaskan bahwa kerja sama berkelanjutan dengan Google Indonesia sejalan dengan visi Universitas Bengkulu sebagai perguruan tinggi berakreditasi unggul yang berbudaya akademik kuat dan berdaya saing internasional.

“Pemanfaatan AI melalui Gemini Academy diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, mulai dari pencarian referensi, pengayaan materi, hingga pendalaman substansi keilmuan yang lebih terarah dan tajam. Bagi tenaga kependidikan, teknologi ini juga mendukung peningkatan kualitas layanan akademik dan administrasi,” jelasnya.

Rektor menekankan bahwa Unib tidak boleh tertinggal dalam arus transformasi digital. Oleh karena itu, pelatihan dan sertifikasi ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kesiapan dosen dan Tendik dalam menghadapi perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan, yang semakin memengaruhi dunia pendidikan tinggi.

“Kami berharap kolaborasi Unib dengan Gemini Academy dan Google Indonesia dapat terus berlanjut melalui berbagai program lanjutan, sehingga berdampak nyata dalam penguatan daya saing institusi dan kualitas lulusan di era transformasi digital,” pungkasnya.

Para dosen dan tenaga kependidikan Unib tampak antusias dan serius mengikuti pelatihan.(foto:hms1)

Di sisi lain, perwakilan Google Indonesia, Collin Nursatriawan, menyampaikan apresiasi atas keterbukaan Universitas Bengkulu dalam mengadopsi teknologi AI sebagai bagian dari transformasi pembelajaran dan riset. Menurutnya, keberhasilan pemanfaatan teknologi tidak hanya ditentukan kecanggihan platform, tetapi juga oleh kemampuan pengguna dalam mengoptimalkannya.

“Berdasarkan riset, tingkat keberhasilan pemanfaatan teknologi sering kali hanya sekitar 40 persen. Bukan karena teknologinya tidak mampu, melainkan karena pengguna belum memahami cara menggunakannya secara optimal,” ungkapnya.

Dalam konteks AI, lanjut Collin, tantangan utama terletak pada kemampuan pengguna dalam merumuskan masalah dan prompting yang tepat. “AI membantu mencari solusi, tetapi ide, konteks, dan pemahaman masalah tetap harus datang dari manusia,” tegasnya.

Foto bersama Tim Google Indonesia dengan para pimpinan Unib dan peserta pelatihan.(foto:hms1)

Ia juga menegaskan bahwa Google Gemini bukan sekadar chatbot, melainkan ekosistem AI berbasis data yang dirancang untuk mendukung pembelajaran, riset, dan pengolahan informasi secara aman. Oleh karena itu, dosen dan tenaga pendidik didorong untuk menggunakan akun institusi pendidikan resmi agar data dan konten akademik tetap terlindungi.

Melalui pelatihan ini, peserta memperoleh berbagai manfaat, antara lain pelatihan berkualitas global tanpa biaya, sertifikasi internasional resmi Gemini Certified Educator, modul pembelajaran berbasis praktik baik, serta dukungan penuh dari Google dalam bentuk narasumber dan pendampingan sertifikasi.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif strategis Google yang diselenggarakan secara free of charge bagi perguruan tinggi, dengan tujuan meningkatkan literasi AI, melahirkan pendidik bersertifikasi internasional, serta mendorong transformasi pembelajaran dan penelitian berbasis teknologi kecerdasan buatan. [Purna Herawan | Humas].