Universitas Bengkulu (Unib) terus mendorong pemanfaatan potensi sumber daya lokal menjadi produk bernilai tambah. Salah satunya dilakukan melalui program pengabdian berbasis riset yang mengolah limbah sabut kelapa di Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah, menjadi bahan baku produk ramah lingkungan dan bernilai ekonomi.

Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Unib bersama mitra Asosiasi Pengusaha Mikro Kecil Menengah Mandiri Indonesia dan Otonom (APMIKIMMDO) Bengkulu Tengah memperkenalkan teknologi pengolahan sabut kelapa menjadi cocofiber dan cocopeat, yang selanjutnya dapat dikembangkan menjadi produk geotextile dan briket.
Kegiatan bertajuk “Konversi Cocofiber dan Cocopeat Sampah Sabut Kelapa Menjadi Produk Geo-Textile dan Briket untuk Meningkatkan Nilai Ekonomi di Pondok Kelapa” tersebut dilaksanakan di Desa Pekik Nyaring, Kecamatan Pondok Kelapa, Selasa (15/9/2026). Tim pengabdian LPPM Unib terdiri atas Prof. Dr. Mochamad Ridwan sebagai ketua, bersama Dr. Yar Johan, S.Pi, M.Si dan Azansyiah, S.E, M.Si.
Program ini menyasar masyarakat dan pelaku UMKM dengan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan limbah, tetapi juga pada penciptaan peluang usaha berbasis potensi lokal.
Potensi Sabut Kelapa Lebih dari 100 Ton
Ketua tim pengabdian, Prof. Mochamad Ridwan, mengatakan Bengkulu Tengah memiliki potensi tanaman kelapa yang cukup besar. Berdasarkan data BPS Bengkulu Tengah tahun 2025, luas areal tanaman kelapa di daerah tersebut mencapai 1.222 hektare, dengan Kecamatan Pondok Kelapa menjadi salah satu wilayah penghasil kelapa terbesar, yakni sekitar 266 hektare.

Besarnya potensi tanaman kelapa tersebut berbanding lurus dengan ketersediaan limbah sabut yang dihasilkan. Ketua Program Studi Ilmu Kelautan Unib yang juga anggota tim pengabdi, Dr. Yar Johan, memperkirakan potensi limbah sabut kelapa di Kecamatan Pondok Kelapa dapat mencapai lebih dari 100 ton.
“Kalau melihat potensi kelapa yang ada di Pondok Kelapa, limbah sabutnya cukup besar dan kami memprediksi bisa mencapai lebih dari 100 ton,” ujar Yar Johan.
Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa sabut kelapa memiliki potensi ekonomi yang besar apabila dikelola melalui teknologi yang tepat. Selama ini, sabut masih sering dipandang sebagai limbah dan belum dimanfaatkan secara optimal.
“Sabut kelapa ini jangan dilihat hanya sebagai limbah. Dari satu bahan ini bisa menghasilkan beberapa produk yang memiliki manfaat dan nilai ekonomi. Tantangan utamanya bukan hanya pengolahan, tetapi bagaimana memastikan bahan baku dapat dikumpulkan secara rutin dan diproduksi secara berkelanjutan,” jelasnya.
Dari Sabut Menjadi Produk Bernilai Tambah
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diperkenalkan pada tahapan pengolahan sabut kelapa, mulai dari pemisahan bahan hingga menghasilkan dua produk utama, yakni cocofiber dan cocopeat.
Cocofiber merupakan serat alami yang diperoleh dari sabut kelapa. Karakteristiknya yang kuat dan lentur membuat serat ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, salah satunya sebagai bahan geotextile yang membantu penguatan dan perlindungan tanah.
Sementara itu, cocopeat merupakan bagian halus dari sabut kelapa yang memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air. Selain dapat digunakan sebagai media tanam, cocopeat juga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, termasuk bahan baku pembuatan briket sebagai energi alternatif.

Prof. Ridwan mengatakan, pemanfaatan sabut kelapa menjadi produk turunan merupakan bagian dari upaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap limbah. “Sayang jika sabut kelapa hanya dibuang begitu saja. Padahal, bagian ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk yang memiliki nilai ekonomi,” katanya.
Ia menambahkan, sabut kelapa memiliki sejumlah keunggulan karena relatif tahan lama, tidak mudah membusuk, tahan terhadap jamur, dan ramah lingkungan. Karena itu, pengolahannya tidak hanya berpotensi menghasilkan produk bernilai jual, tetapi juga membantu mengurangi persoalan lingkungan akibat limbah kelapa yang belum tertangani.

Dorong UMKM Naik Kelas
Program pengabdian tersebut tidak berhenti pada pengenalan teknologi pengolahan. LPPM Unib juga mendorong agar pemanfaatan sabut kelapa dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi masyarakat dan memperkuat kapasitas pelaku UMKM.
Prof. Ridwan mengatakan, pelaku UMKM masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan teknologi, akses pasar, serta jaringan usaha. Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan organisasi UMKM diperlukan agar inovasi berbasis potensi lokal dapat berkembang secara berkelanjutan.
“Kita ingin masyarakat melihat bahwa sabut kelapa bukan sekadar limbah, tetapi bisa menjadi bahan baku produk yang memiliki nilai tambah dan peluang usaha. Harapannya, teknologi yang diberikan ini tidak berhenti pada pelatihan, tetapi bisa diterapkan dan dikembangkan masyarakat secara berkelanjutan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Dr. Yar Johan. Menurutnya, pengembangan sabut kelapa membutuhkan sistem pengelolaan yang terintegrasi, mulai dari pengumpulan bahan baku, proses produksi, peningkatan kualitas, hingga pemasaran.
“Potensi ini harus dikembangkan secara bersama-sama. Dukungan teknologi, pendampingan, serta akses pasar akan menentukan keberlanjutan program ini,” tambahnya.

Pemerintah Kecamatan Dukung Pengembangan
Camat Pondok Kelapa, Ridu Lima, S.Sos, A.Kp, M.AP, mengapresiasi program LPPM Unib bersama APMIKIMMDO Bengkulu Tengah tersebut. Menurutnya, inovasi pengolahan sabut kelapa sejalan dengan potensi wilayah Pondok Kelapa yang memiliki areal tanaman kelapa cukup besar.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini. Pondok Kelapa memiliki potensi kelapa yang cukup besar, sehingga limbah sabut yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal perlu mendapat perhatian,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada tahap pelatihan, tetapi dapat dilanjutkan menjadi kegiatan produksi yang mampu membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. “Yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya pengetahuan, tetapi juga pendampingan agar produk yang dihasilkan bisa berkembang dan memiliki pasar,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris APMIKIMMDO Bengkulu Tengah, Susi Handayani, menyambut positif kolaborasi dengan LPPM Unib. Ia menilai potensi kelapa di Bengkulu Tengah cukup besar, tetapi pemanfaatan limbah sabutnya masih belum maksimal.
Ia berharap kerja sama tersebut dapat berlanjut melalui pendampingan produksi, peningkatan kualitas produk, hingga penguatan akses pemasaran sehingga bahan baku lokal dapat benar-benar memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha.

Bangun Ekonomi Sirkular Berbasis Potensi Lokal
Pemanfaatan sabut kelapa menjadi cocofiber, cocopeat, geotextile, dan briket sekaligus memperkenalkan konsep ekonomi sirkular kepada masyarakat. Melalui pendekatan ini, limbah yang sebelumnya tidak termanfaatkan diolah kembali menjadi produk yang memiliki fungsi dan nilai ekonomi.
Bagi Unib, program tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan hasil riset dan inovasi perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat. Teknologi sederhana yang diperkenalkan diharapkan dapat terus dikembangkan sehingga tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan, tetapi tumbuh menjadi aktivitas produksi yang berkelanjutan.
Dengan potensi bahan baku yang melimpah dan dukungan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, serta pelaku UMKM, sabut kelapa di Pondok Kelapa memiliki peluang untuk berkembang menjadi salah satu sumber ekonomi baru berbasis sumber daya lokal.
Ke depan, pengelolaan yang konsisten diharapkan mampu membangun rantai usaha mulai dari penyediaan bahan baku hingga pemasaran produk, sekaligus mengurangi limbah dan memperkuat ekonomi masyarakat Bengkulu Tengah. [Laporan: Yar Johan | Editor: Purna Herawan | Humas].