Sampah organik rumah tangga yang selama ini kerap dibuang begitu saja ternyata memiliki potensi untuk diolah menjadi pupuk kompos yang bermanfaat dan bernilai ekonomi. Melalui pengenalan metode Takakura, Fakultas Teknik Universitas Bengkulu (FT Unib) mengajak masyarakat mengubah kebiasaan dalam mengelola sampah sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan secara berkelanjutan.

Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PPM) yang melibatkan ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta warga Kelurahan Sawah Lebar Baru, Kota Bengkulu. Kegiatan yang berlangsung di Kantor Lurah Sawah Lebar Baru pada Sabtu (3/10/2026) tersebut dipimpin oleh tim pengabdian masyarakat FT Unib yang diketuai Ir. Fepy Supriani, S.T, M.T.
Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang pengelolaan sampah organik, tetapi juga mengikuti praktik langsung pembuatan kompos dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan rumah tangga.
Metode Takakura dipilih karena relatif sederhana, praktis, dan dapat diterapkan dalam skala rumah tangga. Teknik pengomposan ini dikembangkan oleh Koji Takakura bersama Pusdakota Surabaya dan Pemerintah Kota Surabaya pada 2005.
Dengan menggunakan keranjang berpori sebagai wadah pengomposan, metode ini memungkinkan masyarakat mengolah sampah organik secara mandiri tanpa membutuhkan lahan yang luas.
Dalam sosialisasi tersebut, peserta diperkenalkan dengan berbagai jenis sampah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos, antara lain kulit buah, sisa sayuran, kulit bawang, sisa nasi, dan kulit telur. Bahan-bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat diolah kembali menjadi pupuk untuk menyuburkan tanaman.
Praktik pembuatan kompos dipandu Fahrul Rahman. Peserta mempelajari tahapan pengomposan menggunakan keranjang berpori yang dilengkapi penutup, kardus, bantalan sekam, tanah, sekop, cairan aktivator Effective Microorganisms 4 (EM4), serta sampah organik yang telah dicacah.

Proses pembuatan diawali dengan melapisi bagian dalam keranjang menggunakan kardus. Selanjutnya, bantalan sekam dan tanah dimasukkan sebagai bagian dari media pengomposan, kemudian ditambahkan sampah organik yang telah dicampur dengan aktivator. Penambahan bahan dilakukan secara bertahap hingga keranjang terisi, sebelum ditutup dan disimpan untuk menjalani proses pengomposan.
Melalui praktik tersebut, peserta memperoleh gambaran langsung bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari rumah dengan peralatan sederhana. Kebiasaan memilah sampah dan mengolah sisa dapur menjadi kompos juga menjadi langkah awal untuk mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat penampungan akhir.
Pada kesempatan yang sama, tim PPM FT Unib menyerahkan bantuan sarana pengolahan sampah berupa tempat sampah, keranjang Takakura, dan cairan aktivator EM4 secara simbolis kepada Lurah Sawah Lebar Baru, Nellywati, S.PKP. Sarana tersebut selanjutnya akan dibagikan kepada kelompok ibu-ibu PKK agar dapat dimanfaatkan untuk mempraktikkan pengomposan di rumah masing-masing.
Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan mereka dalam mengajukan pertanyaan dan mengikuti setiap tahapan praktik. Keterlibatan ibu-ibu PKK diharapkan dapat memperluas penerapan metode Takakura di lingkungan keluarga sekaligus mendorong tumbuhnya kebiasaan mengelola sampah secara mandiri.
Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini mencerminkan kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui pemanfaatan kembali sampah organik menjadi kompos, masyarakat diajak menerapkan prinsip pengurangan sampah dan pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.

Kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, melalui upaya membangun lingkungan permukiman yang lebih bersih dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Selain itu, pemanfaatan kompos untuk menyuburkan tanaman turut mendukung SDG 15 tentang Ekosistem Daratan, terutama dalam mendorong praktik pemeliharaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Dari sisi ekonomi, produksi kompos secara mandiri berpotensi mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk membeli pupuk. Apabila dikembangkan secara konsisten dan memenuhi kebutuhan pasar, kegiatan ini juga dapat membuka peluang usaha berbasis lingkungan bagi masyarakat. Potensi tersebut sejalan dengan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, meskipun manfaat ekonominya masih memerlukan pengembangan lebih lanjut.
Tim PPM FT Unib berharap kegiatan ini tidak berhenti pada sosialisasi dan praktik sesaat, tetapi berlanjut menjadi kebiasaan baru di tengah masyarakat. Dengan dukungan sarana, keterlibatan kelompok PKK, dan pendampingan berkelanjutan, pengolahan sampah organik melalui metode Takakura diharapkan dapat menjadi salah satu solusi sederhana untuk mengurangi sampah rumah tangga sekaligus menghasilkan produk yang bermanfaat.
Melalui pengabdian seperti ini, para dosen Unib terus mendorong penerapan pengetahuan dan teknologi yang dekat dengan kebutuhan warga. Langkah sederhana dari dapur rumah tangga menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran lingkungan, memperkuat peran masyarakat, dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang dapat dirasakan mulai dari tingkat keluarga. [Purna Herawan | Humas].