UNIVERSITAS BENGKULU

Universitas Bengkulu (Unib) melalui Fakultas Pertanian kembali memperkuat kiprahnya dalam membangun jejaring akademik internasional melalui The 5th International Seminar on Promoting Local Resources for Sustainable Agriculture and Development (ISEPROLOCAL) 2026 yang dilaksanakan secara hybrid di Ballroom Hotel Santika Bengkulu, Selasa (6/10/2026).

Pembukaan ISEPROLOCAL 2026 diawali dengan tari persembahan sekapur sirih sebagai simbol penyambutan terhadap para tamu undangan.(foto:hms1)

Mengusung tema “Smart Agriculture and Applied Sciences for Resilient Food Systems and Environmental Sustainability”, seminar internasional ini menjadi ruang bertemunya akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi, pemerintah, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk bertukar pengetahuan serta mendorong pemanfaatan sumber daya lokal bagi pertanian dan pembangunan berkelanjutan.

Ketua Panitia Pelaksana ISEPROLOCAL 2026, Dr. Apri Andani, SP, M.Si, menyampaikan kegiatan ini mendapat respons luas dari komunitas akademik dan profesional. Konferensi tahun ini diikuti peserta dari lebih dari 20 institusi dan tujuh negara, yakni Taiwan, Jepang, India, Pakistan, Cina, Thailand, dan Indonesia.

“Sebanyak 130 abstrak terdaftar, dengan lebih dari 50 makalah lengkap yang disubmit. Para peserta mewakili lebih dari 20 institusi dan tujuh negara,” ujar Apri.

Partisipasi dari Indonesia juga datang dari berbagai wilayah, di antaranya Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, dan Riau. Keragaman peserta tersebut sekaligus menunjukkan semakin luasnya ruang kolaborasi yang dibangun melalui ISEPROLOCAL sebagai forum ilmiah internasional yang secara konsisten mengangkat isu pertanian, pangan, lingkungan, dan pemanfaatan sumber daya lokal.

Ketua Panitia Pelaksana ISEPROLOCAL 2026, Dr. Apri Andani, saat menyampaikan laporan.(foto:hms1)

Secara keilmuan, ISEPROLOCAL 2026 menghadirkan 130 presenter yang tersebar dalam delapan lingkup konferensi. Topik yang dibahas mencakup agribisnis, sosioekonomi dan pembangunan perdesaan; perubahan iklim, manajemen karbon, konservasi hutan dan keanekaragaman hayati; perikanan dan akuakultur; sistem pangan tangguh dan agroindustri berkelanjutan; perlindungan tanaman; ilmu tanah dan manajemen sumber daya lahan; produksi tanaman berkelanjutan, pemuliaan tanaman dan bioteknologi pertanian; serta sistem peternakan dan produksi hewan berkelanjutan.

Keragaman topik tersebut memperlihatkan karakter multidisiplin ISEPROLOCAL sekaligus menegaskan bahwa tantangan pembangunan pertanian tidak dapat diselesaikan melalui satu pendekatan keilmuan. Perubahan iklim, ketahanan pangan, degradasi lingkungan, dinamika sosial ekonomi, serta perkembangan teknologi membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan lintas pemangku kepentingan.

Apri mengatakan, forum ISEPROLOCAL 2026 diharapkan tidak berhenti pada pertukaran hasil penelitian, tetapi berkembang menjadi ruang untuk memperluas jejaring dan melahirkan peluang kolaborasi penelitian maupun kegiatan akademik lainnya.

“Kami berharap ISEPROLOCAL 2026 menjadi forum yang produktif untuk berbagi temuan penelitian, bertukar perspektif, dan mengembangkan peluang untuk kolaborasi di masa mendatang,” katanya.

Dekan Fakultas Pertanian Unib Prof. Dr. Ir. Suharyanto, S.Pt, M.Si saat menyampaikan sambutan.(foto:hms1)

Pertanian Cerdas Berbasis Lokal

Dekan Fakultas Pertanian Unib, Prof. Dr. Ir. Suharyanto, S.Pt, M.Si, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada para pembicara utama yang telah hadir dan berbagi pengetahuan serta pengalaman dalam forum internasional tersebut.

Para pembicara utama ISEPROLOCAL 2026 terdiri atas Dr. Ruei-Feng Shiu dari National Taiwan Ocean University, Taiwan; Dr. Nerida Donovan dari Department of Primary Industries, New South Wales, Australia; Prof. Toshinobu Matsuda dari Department of Agricultural, Life and Environmental Science, Tottori University, Jepang; serta Prof. Dr. Ir. Sigit Sudjatmiko, M.Sc. dari Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.

Prof. Suharyanto menegaskan, tema yang diangkat pada ISEPROLOCAL 2026 sangat relevan dengan tantangan pertanian saat ini. Perubahan iklim, ketahanan pangan, degradasi lingkungan, dan perkembangan teknologi menuntut hadirnya sistem pertanian yang lebih produktif, tangguh, efisien, sekaligus berkelanjutan.

Namun, menurutnya, konsep pertanian cerdas tidak semata-mata identik dengan penggunaan teknologi mutakhir. Pertanian cerdas juga perlu berakar pada potensi lokal, didukung pendekatan ilmiah, memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan, serta memberikan ruang yang inklusif bagi masyarakat.

“Sumber daya lokal kita, keanekaragaman hayati, pengetahuan tradisional, dan pengalaman masyarakat merupakan aset penting yang harus diperkuat melalui sains, inovasi, dan kolaborasi,” ujarnya.

Dekan Fakultas Pertanian Unib Prof. Dr. Ir. Suharyanto, S.Pt, M.Si saat menyampaikan sambutan.(foto:hms1)

Menurut Prof. Suharyanto, prinsip tersebut sejalan dengan arah pengembangan Fakultas Pertanian Unib yang terus memperkuat program akademik, penelitian dan inovasi, kerja sama internasional, serta keterlibatan dengan pemerintah, industri, petani, peternak, nelayan, dan masyarakat.

Ia menekankan bahwa kompleksitas persoalan pertanian menuntut universitas untuk membangun kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai pihak. “Universitas tidak seharusnya bekerja sendirian. Tantangan di bidang pertanian semakin kompleks dan membutuhkan kolaborasi antaruniversitas, lembaga penelitian, pemerintah, industri, lembaga keuangan, dan masyarakat,” katanya.

Dari Forum Ilmiah Menuju Dampak

Sementara itu, Rektor Unib Prof. Dr. Indra Cahyadinata, SP, M.Si, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya ISEPROLOCAL 2026. Sebagai akademisi yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Indra menilai seminar internasional tersebut memiliki posisi strategis dalam memperkuat atmosfer akademik sekaligus memperluas jejaring Fakultas Pertanian Unib.

Ia mengajak seluruh peserta menjadikan ISEPROLOCAL tidak sekadar sebagai forum untuk mempresentasikan hasil penelitian, tetapi sebagai ruang untuk menghasilkan pengetahuan, membangun kolaborasi, dan menciptakan dampak yang lebih luas.

“Mari jadikan ISEPROLOCAL ini bukan hanya forum untuk mempresentasikan penelitian, tetapi juga platform untuk menciptakan pengetahuan, membangun kolaborasi, dan menghasilkan dampak,” ujar Prof. Indra.

Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata saat menyampaikan sambutan dan memberikan apresiasi atas terselenggaranya ISEPROLOCAL ke-5 tahun 2026.(foto:hms1)

Pesan tersebut sekaligus memperkuat semangat Kampus Berdampak yang mendorong perguruan tinggi agar hasil-hasil akademik dan penelitian tidak berhenti pada ruang ilmiah, tetapi dapat dikembangkan menjadi pengetahuan, inovasi, dan solusi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

ISEPROLOCAL sendiri memiliki rekam jejak penyelenggaraan sejak 2015 dan kemudian berlanjut pada 2020, 2022, dan 2024. Pada penyelenggaraan kelima tahun 2026, forum ini kembali mempertemukan berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan pertanian, pangan, lingkungan, perikanan, kehutanan, serta sosial ekonomi.

Dengan jejaring peserta yang semakin luas dan cakupan keilmuan yang semakin beragam, ISEPROLOCAL 2026 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat posisi Fakultas Pertanian Unib sebagai bagian dari jejaring akademik internasional sekaligus memperluas kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.

Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi Bengkulu, R.A. Denni, bersama Rektor Unib dan Dekan Fakultas Pertanian Unib memukul dol sebagai simbol dibukanya ISEPROLOCAL ke-5 tahun 2026.(foto:hms1)

Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah

Pembukaan ISEPROLOCAL 2026 dilakukan oleh Gubernur Bengkulu H. Helmi Hasan yang diwakili Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Bengkulu, R.A. Denni, S.H, M.M. Pembukaan ditandai dengan pemukulan dol secara bersama-sama oleh R.A. Denni, Rektor Unib, dan Dekan Fakultas Pertanian Unib, kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama.

Mewakili Gubernur Bengkulu, R.A. Denni menyambut baik dan mengapresiasi penyelenggaraan seminar internasional tersebut. Ia berharap ISEPROLOCAL dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan daerah, khususnya dalam pengembangan sektor pertanian dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

“Kami berharap kegiatan ini bermanfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta berkontribusi sebesar-besarnya bagi kemajuan pembangunan daerah, khususnya bidang pertanian dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Melalui ISEPROLOCAL 2026, Fakultas Pertanian Unib tidak hanya menghadirkan forum pertukaran gagasan pada tingkat internasional, tetapi juga membuka ruang lebih luas bagi terbentuknya kolaborasi akademik dan riset yang berorientasi pada pemanfaatan sumber daya lokal, penguatan sistem pangan, serta keberlanjutan lingkungan. [Purna Herawan | Humas].

Asisten II Provinsi Bengkulu, R.A. Denni, Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata dan Dekan Fakultas Pertanian Unib Prof. Suharyanto foto bersama dengan para pemateri dan peserta ISEPROLOCAL.(foto:hms1)