UNIVERSITAS BENGKULU

Universitas Bengkulu (Unib) terus memperkuat komitmennya dalam melahirkan generasi muda yang adaptif, kreatif, dan berdaya saing. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Forum Group Discussion (FGD) bertajuk Urgensi Pengembangan dan Penguatan Ekosistem Kewirausahaan yang digelar pada Selasa (24/2/2026).

Kepala UPA PKK Unib Ir. Khairul Amri Rosa, ST, MT saat menyampaikan laporan kegiatan dan Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata saat membuka FGD.(foto:hms1)

Kegiatan ini menghadirkan Dekan Fakultas Kewirausahaan dan Bisnis Universitas Podomoro, Dr. Wisnu Sakti Dewobroto, ST, M.Sc sebagai narasumber utama. Selain menjadi pembicara dalam Workshop Proposal Program Pengembangan Mahasiswa Wirausaha (P2MW), kehadiran Dr. Wisnu di kampus biru juga dimanfaatkan untuk berdiskusi strategis bersama pimpinan universitas dan fakultas di lingkungan Unib.

FGD yang diselenggarakan oleh Unit Penunjang Akademik Pengembangan Karier dan Kewirausahaan (UPA PKK) ini dibuka langsung oleh Rektor Unib, Prof. Dr. Indra Cahyadinata, SP, M.Si, serta dihadiri para Wakil Rektor—Dr. Yulian Fauzi, Prof. Agustin Zarkani, dan Prof. Ashar Muda Lubis—para dekan, serta dosen pengampu mata kuliah kewirausahaan.

Dalam sambutannya, Prof. Indra Cahyadinata menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini dan menyambut baik kontribusi pemikiran dari Dr. Wisnu. “Kami berkomitmen mendorong pengembangan dan penguatan ekosistem kewirausahaan di Unib. Mahasiswa tidak hanya harus unggul secara akademik, tetapi juga mampu membaca peluang, adaptif terhadap perubahan, dan kreatif dalam menciptakan nilai melalui usaha,” tegasnya.

Menurut Rektor, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis untuk tidak sekadar mencetak pencari kerja (job seeker), tetapi juga pencipta lapangan kerja (job creator), terlebih di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan.

Dekan Fakultas Kewirausahaan dan Bisnis Universitas Podomoro, Dr. Wisnu Sakti Dewobroto saat menyampaikan materi dan pemikiran tentang urgensi pengembangan ekosistem kewirausahaan.(foto:hms1)

Kewirausahaan sebagai Jawaban Tantangan Bangsa

Dalam paparannya, Dr. Wisnu Sakti Dewobroto menguraikan urgensi kewirausahaan berbasis data dan kebijakan nasional. Ia menyoroti bahwa Indonesia masih menghadapi persoalan pengangguran dan perlambatan penciptaan lapangan kerja.

Berdasarkan data BPS 2024, sekitar 7,47 juta atau 4,91% penduduk usia produktif masih belum mendapatkan pekerjaan. Selain itu, terjadi penurunan signifikan penciptaan lapangan kerja baru dari 8,55 juta (periode 2014–2019) menjadi 2,01 juta (periode 2020–2024). Di saat yang sama, jumlah kelas menengah juga mengalami penurunan dari 57,3 juta (21,5%) pada 2019 menjadi 47,85 juta (17,1%) pada 2024.

“Kewirausahaan bukan lagi pilihan alternatif, tetapi kebutuhan strategis bangsa,” jelasnya.

Ia menegaskan, peran pemerintah melalui kebijakan nasional, termasuk arah pembangunan dalam Asta Cita, menempatkan kewirausahaan sebagai motor penciptaan lapangan kerja berkualitas, penguatan industri kreatif, serta pembangunan berbasis desa dan ekonomi lokal.

UMKM dan Dampak Sosial Ekonomi

Dr. Wisnu juga menekankan pentingnya peran wirausaha dan UMKM sebagai penggerak ekonomi lokal. UMKM terbukti dapat menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal, mendorong inovasi dan pertumbuhan produk berkualitas, serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Dampaknya tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga sosial dengan memberikan peluang bagi kelompok kurang mampu, memperluas akses ekonomi bagi masyarakat kecil, serta membuka kesempatan pertumbuhan bagi daerah tertinggal.

“Proporsi UMKM berkorelasi positif dengan pendapatan per kapita. Namun agar naik kelas, UMKM harus didorong oleh inovasi. Di sinilah perguruan tinggi mengambil peran,” ujarnya.

Mengutip Bruce Bachenheimer, Dr. Wisnu menegaskan bahwa kewirausahaan jauh lebih luas daripada sekadar mendirikan usaha. “Entrepreneurship is much broader than the creation of a new business venture. At its core, it is a mindset – a way of thinking and acting. It is about imagining new ways to solve problems and create value.”

Artinya, kewirausahaan adalah pola pikir, cara berpikir kreatif, solutif, dan berorientasi pada penciptaan nilai.

Dr. Wisnu Sakti Dewobroto saat menjadi narasumber FGD Kewirausahaan di Unib.(foto:hms1)

Model Penguatan Ekosistem Kewirausahaan

FGD ini juga membahas model pengembangan ekosistem kewirausahaan yang terintegrasi, dengan melibatkan Dunia usaha dan industry, Dunia pendidikan, Industri keuangan (bank dan non-bank), dan Pemerintah pusat dan daerah.

Model bisnis yang dikembangkan mencakup wirausaha sosial, wirausaha desa, wirausaha teknologi, wirausaha perempuan, wirausaha pemuda, hingga ekonomi kreatif.

Ekosistem kewirausahaan yang kuat, menurut Dr. Wisnu, harus ditopang oleh budaya yang kondusif, SDM berjiwa wirausaha, pendidikan dan pelatihan, akses pembiayaan, pasar yang terbuka terhadap inovasi, serta dukungan kebijakan dan regulasi pemerintah.

“Perguruan tinggi melalui riset, teknologi, dan inkubasi bisnis mampu menghadirkan solusi agar UMKM lebih efisien, adaptif, dan kompetitif,” tambahnya.

Dr. Wisnu Sakti Dewobroto bertukar cindera mata dengan Rektor Unib dan foto bersama dengan para dekan dan para dosen Kewirausahaan Unib.(foto:hms1)

P2MW dan PKM sebagai Instrumen Strategis

Dalam konteks perguruan tinggi, program seperti P2MW (Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha) dan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) menjadi instrumen penting. P2MW berorientasi pada aksi nyata dan pengembangan usaha dari tahap rintisan hingga mapan. PKM mendorong lahirnya ide-ide inovatif kewirausahaan di kalangan mahasiswa.

Melalui integrasi program, kebijakan, dan dukungan ekosistem, diharapkan lahir wirausaha muda yang tidak hanya inovatif tetapi juga inklusif dan berkelanjutan.

Menutup paparannya, Dr. Wisnu menyampaikan pesan reflektif yang mendapat respons positif peserta FGD. Ia mengungkapkan “Kebijakan memang dari Istana, tapi mencetak wirausaha muda Indonesia dimulai dari kita semua.”

FGD ini menjadi langkah strategis Unib dalam merumuskan penguatan ekosistem kewirausahaan yang terstruktur, kolaboratif, dan berdampak luas. Hal ini sejalan dengan visi kampus sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional. [Purna Herawan | Humas].