Universitas Bengkulu (Unib) terus memantapkan langkah strategis menuju perguruan tinggi unggul dan berdaya saing internasional melalui penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) revisi Rencana Strategis (Renstra) 2025–2029. Kegiatan ini dilaksanakan di ruang rapat utama Gedung Layanan Terpadu (GLT) Unib dan dihadiri Ketua dan Sekretaris Senat Universitas, Rektor dan para Wakil Rektor, para Dekan, Kepala Biro, serta pimpinan unit kerja lainnya.



Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata ketika membuka FGD dan memberikan arahan.(foto:hms1)
FGD dibuka secara resmi oleh Rektor Unib, Prof. Dr. Indra Cahyadinata, SP, M.Si yang dalam sambutannya mengapresiasi kerja Tim Penyusun Renstra yang telah menyiapkan draf awal untuk didiskusikan secara komprehensif dan partisipatif.
Dalam arahannya, Rektor menegaskan bahwa revisi Renstra 2025–2029 harus mengakomodasi berbagai komponen strategis yang tertuang dalam Perjanjian Kinerja institusi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), yang telah ditandatangani sebelumnya. Selain itu, dokumen tersebut juga harus merefleksikan hasil evaluasi Renstra periode sebelumnya serta selaras dengan visi dan misi dalam statuta terbaru, yakni menjadikan Unib sebagai universitas unggul, berbudaya, dan berdaya saing internasional.
Menurut Prof. Indra, Renstra bukan sekadar dokumen administratif, melainkan kompas pembangunan institusi empat tahun ke depan. Karena itu, masukan dan saran dari seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci dalam merumuskan peta jalan yang realistis, terukur, dan berdampak.
“Kita perlu menyamakan persepsi dan memperkaya substansi Renstra ini. Dokumen ini akan menjadi peta jalan bersama dalam mewujudkan visi dan misi universitas, sekaligus memastikan seluruh program dalam Perjanjian Kinerja dapat direalisasikan secara optimal,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa Renstra merupakan tanggung jawab kolektif seluruh unsur pimpinan dan unit kerja. Implementasinya harus mampu mendorong penguatan sistem pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang unggul, berbasis mutu dan karakter, serta relevan dengan agenda internasionalisasi institusi.



Wakil Rektor IV Unib Prof. Ashar Muda Lubis ketika memandu FGD yang diikuti antusias oleh peserta.(foto:hms1)
FGD yang dimoderatori oleh Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan dan Kerja Sama, Prof. Ashar Muda Lubis, S.Si, M.Sc, Ph.D berlangsung dalam suasana dialogis dan konstruktif. Forum ini membahas refleksi capaian Renstra 2020–2024, tantangan strategis yang dihadapi ke depan, serta perumusan arah kebijakan pengembangan universitas di bidang akademik, sumber daya manusia, kemahasiswaan, riset, pengabdian kepada masyarakat, dan kemitraan strategis.
Dalam paparannya, Ketua Tim Penyusun Renstra, Dr. Muhammad Mustopa Romdhon, SP, M.Si menjelaskan bahwa draf yang disusun masih bersifat dinamis dan terbuka untuk penyempurnaan.
“Draf ini bukan final. Justru melalui FGD ini kita mengharapkan masukan kritis dan konstruktif agar Renstra yang ditetapkan benar-benar menjadi pedoman implementatif bagi seluruh unit kerja,” jelasnya.
Dr. Mustopa memaparkan sejumlah potensi strategis Unib yang dapat dioptimalkan. Di antaranya, peluang menjadikan Unib sebagai pusat unggulan STEM dan riset kebencanaan di wilayah Sumatera bagian selatan yang diakui secara nasional dan internasional; pengembangan ekosistem inovasi dan hilirisasi yang menghubungkan riset akademik dengan kebutuhan industri dan pembangunan nasional; penguatan reputasi global berbasis kontribusi nyata terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs); serta akselerasi transformasi digital pembelajaran untuk memperluas akses, meningkatkan kualitas, dan membuka sumber pendanaan baru.



Ketua Tim Penyusun Revisi Rensrta ketika memaparkan draf Renstra dan foto bersama pimpinan Unib dengan seluruh peserta FGD.(foto:hms1)
Namun demikian, ia juga mengingatkan sejumlah tantangan yang harus diantisipasi secara serius, seperti potensi penurunan kualitas layanan pendidikan, krisis regenerasi akademik yang dapat berdampak pada kepemimpinan ilmiah, ketidakmampuan beradaptasi terhadap disrupsi teknologi dan kebutuhan industri, serta ketertinggalan dalam persaingan global yang tercermin dari masih terbatasnya internasionalisasi dan posisi pemeringkatan institusi.
“Melalui Renstra inilah seluruh potensi dan tantangan tersebut dirumuskan secara sistematis sebagai panduan langkah strategis universitas. Dengan perencanaan yang terarah dan komitmen bersama, visi dan misi institusi akan lebih terukur untuk diwujudkan,” pungkasnya.
Melalui FGD ini, Unib menegaskan komitmennya untuk terus bertransformasi, memperkuat tata kelola, dan mengoptimalkan seluruh sumber daya demi mewujudkan universitas yang unggul, berbudaya, dan berdaya saing internasional. [Purna Herawan | Humas].