Universitas Bengkulu (Unib) terus memperkuat komitmennya menghadirkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak berhenti di ruang akademik, tetapi diterapkan untuk menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat. Salah satunya dilakukan melalui penguatan kapasitas pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di wilayah pesisir agar produk lokal tidak hanya mampu diproduksi dengan kualitas yang lebih baik, tetapi juga memiliki identitas, daya saing, dan akses pasar yang lebih luas.



Tim Dosen Pengabdi Unib menyerahkan bantuan alat pengolahan produk ikan laut dan mempraktikkan inovasi pengolahan ikan agar dapat diikuti oleh pelaku UMKM di pesisir Seluma.(foto:ist-selly)
Upaya tersebut diwujudkan Tim Dosen Pengabdi Unib bersama mahasiswa peserta KKN Tematik melalui program pemberdayaan masyarakat di Desa Pasar Seluma, Kecamatan Seluma Selatan, Kabupaten Seluma. Fokus kegiatan diarahkan pada penguatan strategi bisnis berbasis digital marketing bagi anggota Kelompok Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan (Poklahsar).
Kegiatan yang dipusatkan di Balai Pertemuan Desa Pasar Seluma ini merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Ekonomi Produktif Masyarakat Pesisir yang didanai Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026.
Program ini berangkat dari persoalan yang cukup mendasar. Setelah dilakukan intervensi teknologi produksi yang sebelumnya dilakukan oleh para dosen pengabdi, masyarakat pesisir telah memiliki sumber daya dan keterampilan mengolah hasil perikanan menjadi berbagai produk bernilai tambah.
Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya diikuti kemampuan membangun pasar yang lebih luas. Produk masih banyak dipasarkan secara konvensional, mengandalkan pasar lokal dan promosi dari mulut ke mulut, sementara dari sisi kemasan dan materi promosi masih relatif sederhana.
Dalam konteks inilah, digitalisasi pemasaran menjadi bagian penting dari proses hilirisasi. Produk yang telah dikembangkan melalui inovasi pengolahan perlu diperkenalkan dengan cara yang lebih sesuai dengan perilaku konsumen saat ini.




Aneka produk olahan iklan laut yang dihasilkan UMKM pesisir di Desa Pasar Seluma setelah dilakukan pendampingan oleh Tim Pengabdi Unib.(foto:ist-selly)
Dari Inovasi Produk ke Strategi Pasar
Ketua Tim Dosen Pengabdi Unib, Selly Ratna Sari, S.Pi, M.Si, dari Jurusan Teknologi Industri Pertanian, menjelaskan bahwa pelatihan digital marketing merupakan kelanjutan dari rangkaian pengabdian yang sebelumnya berfokus pada pengembangan dan peningkatan kualitas produk olahan hasil perikanan lokal.
“Jika sebelumnya kita mengembangkan inovasi agroindustri perikanan lokal untuk meningkatkan daya simpan, kualitas, dan nilai tambah produk, maka pada pengabdian lanjutan ini kita melatih para istri nelayan dan anggota Poklahsar menerapkan digital marketing agar produk yang sudah dikembangkan memiliki pasar yang lebih luas dan pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan,” jelas Selly.
Menurut Selly, pengembangan produk dan pemasaran merupakan dua mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Produk yang berkualitas belum tentu memberikan dampak ekonomi optimal apabila tidak didukung strategi pemasaran yang mampu mempertemukan produk dengan konsumen.
Karena itu, penguatan kapasitas pemasaran digital menjadi tahapan penting dalam memastikan produk olahan hasil laut masyarakat tidak hanya memiliki kualitas dan nilai tambah, tetapi juga mampu menjangkau konsumen di luar wilayah produksi.
Program pengabdian ini melibatkan dua dosen Unib sebagai anggota tim, yakni Woki Bilyaro, S.Pt, M.Si, dari Jurusan Peternakan dan Nella Tri Agustini, S.Kel, M.Si, dari Program Studi Ilmu Kelautan.
Kegiatan juga melibatkan mahasiswa peserta KKN Tematik Inovasi Agroindustri Perikanan Terpadu Unib. Kehadiran mahasiswa tidak sekadar membantu pelaksanaan teknis, tetapi menjadi bagian dari proses pembelajaran kontekstual. Mahasiswa berinteraksi langsung dengan masyarakat, memetakan persoalan ekonomi di wilayah pesisir, sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi, edukasi, dan pendampingan masyarakat.



Mahasiswa KKN Tematik Unib saat memberikan pelatihan “Canva Penunjang Digital Marketing” pada pelaku UMKM yang tergabung dalam Poklahsar Perikanan Nusantara dan Poklahsar Seluma City Mandiri.(foto:ist-selly)
Canva: Mengubah Kemasan Informasi Menjadi Daya Tarik Produk
Salah satu tantangan yang diidentifikasi tim pengabdi adalah kemampuan pelaku usaha dalam menghadirkan produk secara visual di ruang digital. Selama ini, produk olahan ikan mitra masih menggunakan kemasan pouch dengan stiker sederhana yang belum sepenuhnya mampu menyampaikan identitas, keunggulan, maupun nilai produk kepada calon konsumen.
Persoalan tersebut kemudian dijawab melalui pelatihan “Canva Penunjang Digital Marketing” yang dilaksanakan pada Jumat, 28 Agustus 2026. Pelatihan memberikan pengalaman praktis kepada masyarakat untuk membuat materi promosi secara mandiri menggunakan aplikasi desain yang relatif mudah dioperasikan.
Sesi pelatihan dipandu Sholaiman, mahasiswa Program Studi Teknologi Industri Pertanian Unib, sebagai pemateri utama teknis aplikasi. Ia berkolaborasi dengan Bukhari, Rasyid, Reza, Siti, Joko, Rahma, Fardan, dan Galang.
Sebanyak 25 peserta yang terdiri atas ibu-ibu anggota Poklahsar Perikanan Nusantara Seluma, Poklahsar Seluma City Mandiri, serta pemuda Karang Taruna mengikuti kegiatan tersebut.
Canva diperkenalkan bukan sekadar sebagai perangkat untuk mempercantik tampilan produk, tetapi sebagai instrumen komunikasi pemasaran. Peserta diarahkan memahami bagaimana identitas visual, informasi produk, foto, katalog, hingga video promosi dapat membentuk persepsi konsumen terhadap sebuah produk.
Dalam praktiknya, peserta diperkenalkan pada sejumlah fungsi Canva untuk mendukung pemasaran, mulai dari membangun identitas merek, membuat infografis, memproduksi video pendek untuk Reels dan TikTok, meningkatkan daya tarik visual iklan, menghemat biaya desain, hingga menjaga konsistensi konten promosi.
Pendampingan dilakukan secara langsung melalui praktik satu-lawan-satu. Peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi diajak merancang desain katalog produk dan pamflet penjualan yang dapat langsung digunakan untuk mempromosikan produk mereka.
Materi visual tersebut diarahkan untuk memperkuat identitas produk pangan fungsional lokal bermerek SABARA (Seluma Bahari Rasa) yang terdiri atas abon ikan, ikan asap modern, ikan kering, dan stik ikan. Hasil desain kemudian dipersiapkan untuk mendukung promosi melalui akun Instagram komersial @seluma_bahari_rasa serta akun pendukung inovasi @inofishery.id.
Bagi Sholaiman, kemampuan membuat materi promosi secara mandiri diharapkan menjadi modal keberlanjutan bagi kelompok usaha. Dengan demikian, setelah program pendampingan berakhir, masyarakat tetap memiliki kemampuan untuk memperbarui materi promosi sesuai kebutuhan pasar.


Mahasiswa Unib saat memberikan pelatihan “Media Sosial Sebagai Media Pemasaran Digital” kepada pelaku UMKM di Poklahsar Perikanan Nusantara dan Poklahsar Seluma City Mandiri.(foto:ist-selly)
Media Sosial sebagai Etalase Digital
Penguatan kapasitas juga didahului dengan pelatihan “Media Sosial Sebagai Media Pemasaran Digital” pada Kamis, 27 Agustus 2026. Kegiatan yang dilaksanakan di ruang unit produksi kelompok pengolah Desa Pasar Seluma tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan hilirisasi produk hasil perairan laut setempat.
Materi disampaikan Reza Ainur Rahma, mahasiswa Program Studi Teknologi Industri Pertanian Unib, bersama Bukhari, Rasyid, Sholaiman, Siti, Joko, Rahma, Fardan, dan Galang.
Pelatihan ini menjadi penting karena pola pemasaran masyarakat sebelumnya masih cenderung konvensional. Produk diolah dan dijual untuk memenuhi pasar pada hari yang sama, sementara aktivitas pemasaran lanjutan untuk membangun pelanggan dan memperluas jangkauan pasar belum dilakukan secara optimal.
Tim mahasiswa kemudian memperkenalkan Instagram, TikTok, dan Facebook sebagai kanal pemasaran yang dapat dimanfaatkan untuk membangun komunikasi dengan konsumen sekaligus memperluas jangkauan produk.
Reza menjelaskan bahwa media sosial memungkinkan pelaku usaha tidak hanya mempromosikan produk, tetapi juga menyampaikan informasi mengenai produk, nilai gizi, keunggulan pangan, serta membangun hubungan yang lebih dekat dengan konsumen. Visualisasi produk yang menarik juga dapat mempermudah konsumen mengenali produk sekaligus membuka peluang terjadinya transaksi jarak jauh.
Dalam pelatihan, peserta kemudian dibimbing membangun profil akun bisnis sebagai “etalase digital”. Elemen yang diperhatikan meliputi nama dan username yang mudah dikenali, penggunaan logo sebagai foto profil, bio yang informatif, kontak resmi yang aktif, serta tautan pemesanan yang memudahkan konsumen melakukan transaksi.
Praktik tersebut langsung diterapkan pada akun Instagram @seluma_bahari_rasa dan @inofishery.id. Melalui kedua kanal tersebut, produk SABARA seperti abon ikan, ikan asap modern, ikan kering higienis, dan stik ikan dapat diperkenalkan secara lebih konsisten kepada khalayak yang lebih luas.
Dengan pendekatan tersebut, media sosial tidak lagi diposisikan sekadar sebagai sarana publikasi, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pemasaran yang menghubungkan produsen, produk, dan konsumen.
Membuka Batas Pasar Produk Pesisir
Dimensi lain dari program ini diperkuat melalui materi digital marketing yang disampaikan Bukhari Hakim Wibowo, mahasiswa Program Studi Teknologi Industri Pertanian Unib. Ia memberikan pendampingan kepada Poklahsar Perikanan Nusantara Seluma yang dipimpin Pinda Fitria, S.Pd.I, dan Poklahsar Seluma City Mandiri yang dipimpin Maryanti.
Menurut Bukhari, persoalan pemasaran menjadi salah satu faktor yang membatasi potensi ekonomi produk olahan hasil laut masyarakat. Selama ini, produk umumnya dipasarkan di sekitar desa dan mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Di sisi lain, tampilan produk masih menggunakan kemasan sederhana.
Kondisi tersebut menyebabkan produk yang sebenarnya memiliki potensi nilai ekonomi belum mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Karena itu, pelatihan dirancang dengan pendekatan sederhana dan aplikatif agar dapat langsung dipraktikkan menggunakan perangkat yang telah dimiliki masyarakat.
“Dengan digital marketing, produk tidak lagi hanya dikenal oleh masyarakat di sekitar desa. Jangkauannya bisa lebih luas, bahkan membuka peluang pasar ke luar Kabupaten Seluma,” jelas Bukhari.
Selain memperluas jangkauan pasar, pemasaran digital memberikan peluang efisiensi biaya promosi. Media sosial memungkinkan pelaku usaha memasarkan produk tanpa harus selalu bergantung pada media promosi konvensional.
Lebih jauh, kanal digital juga membuka ruang komunikasi dua arah. Pertanyaan, masukan, maupun ulasan konsumen dapat diterima secara langsung dan menjadi sumber informasi bagi pelaku usaha untuk mengevaluasi produk maupun pelayanan.
Pada saat yang sama, akun media sosial dapat berfungsi sebagai etalase yang bekerja sepanjang waktu. Konsistensi menghadirkan konten informatif dan menarik secara bertahap diharapkan dapat membangun branding dan memperkuat pengenalan terhadap produk lokal Seluma.


Mahasiswa Unib saat memberikan pelatihan “Digital Marketing” kepada pelaku UMKM di Poklahsar Perikanan Nusantara dan Poklahsar Seluma City Mandiri.(foto:ist-selly)
Menjadikan Teknologi sebagai Instrumen Pemberdayaan
Yang membedakan pendekatan pengabdian ini bukan hanya pada materi yang diberikan, tetapi pada praktik langsung yang memungkinkan masyarakat menghasilkan produk komunikasi pemasaran yang dapat segera digunakan.
Peserta didampingi mengelola kanal digital, menampilkan produk, membangun identitas merek, menyusun materi promosi, hingga berinteraksi dengan calon konsumen. Seluruh proses tersebut diarahkan untuk mendukung pemasaran produk SABARA yang meliputi abon ikan, ikan asap, ikan kering, dan stik ikan.
Dengan demikian, proses pemberdayaan tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Ada upaya membangun kapasitas agar masyarakat secara bertahap mampu mengelola sendiri rantai pemasaran produknya.
Selly berharap penguatan kapasitas tersebut menjadi titik awal bagi produk olahan hasil laut Desa Pasar Seluma untuk naik kelas, dari produk yang selama ini beredar dalam lingkup lokal menjadi produk yang mampu bersaing dan menjangkau konsumen di luar daerah.
“Harapannya, melalui edukasi dan pendampingan yang terstruktur ini, Poklahsar Desa Pasar Seluma mampu meningkatkan volume penjualan hingga ke luar daerah dan meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga lebih dari 50 persen,” harapnya.
Bagi Unib, program tersebut memperlihatkan bagaimana pengabdian kepada masyarakat dapat ditempatkan sebagai ruang pertemuan antara ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, pembelajaran mahasiswa, dan kebutuhan masyarakat.
Dari pesisir Seluma, proses hilirisasi tidak berhenti pada bagaimana hasil perikanan diolah menjadi produk yang lebih tahan lama dan bernilai tambah. Tantangan berikutnya adalah bagaimana produk tersebut memiliki identitas, mampu dikomunikasikan secara menarik, ditemukan oleh konsumen, dan akhirnya memiliki pasar yang lebih luas.
Pada titik inilah teknologi digital menjadi instrumen pemberdayaan. Ketika masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi memiliki kemampuan memanfaatkannya untuk mengembangkan usaha, maka inovasi akademik memperoleh makna yang lebih konkret, yaitu mengubah potensi lokal menjadi nilai ekonomi dan membuka peluang kesejahteraan yang lebih luas bagi masyarakat pesisir. [Laporan: Selly | Editor: Purna Herawan | Humas].