Lembaga riset regional bidang biologi tropika, SEAMEO BIOTROP, menggelar Pelatihan Nasional dan Seminar Regional tentang Pengelolaan dan Pemanfaatan Lahan Suboptimal di Universitas Bengkulu selama empat hari, Selasa hingga Jumat (19–22 Mei 2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi pendidikan, riset, dan pengembangan pertanian berkelanjutan di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.



Suasana Pembukaan Pelatihan Nasional dan Seminar Regional SEAMEO BIOTROP di Unib.(foto:hms1)
Pelatihan nasional diikuti sekitar 30 guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dari Kota Bengkulu dan daerah sekitarnya. Para peserta mendapatkan pembekalan dari akademisi dan peneliti berkompeten yang berasal dari SEAMEO BIOTROP, Universitas Bengkulu, PKR Karst Microbes–LPPM Universitas Hasanuddin, serta akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB).
Sementara itu, seminar regional diikuti sekitar 70 peserta yang terdiri dari unsur pendidik, peneliti, mahasiswa, pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat umum. Kegiatan dilaksanakan secara hybrid, memadukan luring dan daring, dengan pusat kegiatan di Ruang Rapat 1 Gedung Layanan Terpadu (GLT) Universitas Bengkulu.
Berbagai akademisi dan peneliti hadir sebagai narasumber dan instruktur, di antaranya Dr. rer.nat. Doni Yusri, SP., MM, Risa Rosita, S.Si., M.Si, Saiful Bachri, M.Si, Alya Shafira, S.T, Sunardi Ikay, dan Aris Purnajaya dari SEAMEO BIOTROP. Selain itu hadir pula Prof. Indra Cahyadinata dari Universitas Bengkulu, Prof. Halimah Larekeng dari PKR Karst Microbes–LPPM Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Priyono Prawito, M.Sc, Dr. Khin Maung Sint dari Dewan Pengurus SEAMEO BIOTROP Myanmar, Dr. Supriyanto selaku ilmuwan afiliasi SEAMEO BIOTROP, Dr. Ir. Sigid Hariyadi, M.Sc dari IPB University, dan Dr. Ir. Kamir Raziudin Brata, M.Sc.



Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata saat membuka kegiatan pelatihan dan seminar.(foto:hms1)
Kegiatan strategis tersebut dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Bengkulu, Prof. Dr. Indra Cahyadinata, SP, M.Si. Acara pembukaan turut dihadiri secara daring oleh Direktur SEAMEO BIOTROP Prof. Edi Santoso, serta secara luring oleh Deputi Direktur Program SEAMEO BIOTROP Dr. Doni Yusri, Manager Science Innovation and Technology Department SEAMEO BIOTROP Risa Rosita, M.Si, dan Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan Provinsi Bengkulu Rainer Atu, S.E, M.M.
Dalam sambutannya, Prof. Indra Cahyadinata menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya karena Universitas Bengkulu dipercaya menjadi tuan rumah pelatihan nasional dan seminar regional yang dinilai sangat penting bagi penguatan pendidikan vokasi dan pengembangan pertanian berkelanjutan.
“Sebagai alumni IPB, kami memahami betul kedekatan historis dan semangat riset yang dimiliki BIOTROP dan IPB. Kehadiran para peneliti dan akademisi BIOTROP di kampus ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami,” ujarnya.
Prof. Indra menegaskan, Universitas Bengkulu terus mendorong civitas akademika agar tidak hanya menghasilkan ilmu pengetahuan di lingkungan kampus, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Karena itu, kegiatan yang menghubungkan dunia pendidikan, lembaga riset, dan pendidikan vokasi dinilai sangat sejalan dengan visi pengembangan Unib.



Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata didampingi Kabid SMK Dinas Pendidikan Provinsi Bengkulu menerima cindera mata dari Deputi Direktur SEAMEO BIOTROP Dr. Doni Yusri.(foto:hms1)
Menurutnya, isu pengelolaan lahan suboptimal bukan sekadar tantangan teknis, melainkan peluang besar yang harus dijawab melalui ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi lintas institusi. Para guru SMK yang mengikuti pelatihan diharapkan menjadi ujung tombak dalam mentransformasikan pengetahuan tersebut ke ruang-ruang kelas dan praktik pertanian di lapangan.
“Kami berharap kolaborasi antara Universitas Bengkulu dan SEAMEO BIOTROP tidak berhenti sampai di sini, tetapi menjadi awal dari kemitraan yang panjang, produktif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas,” katanya.
Direktur SEAMEO BIOTROP, Prof. Edi Santoso, dalam arahannya menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperluas penyebaran inovasi teknologi pertanian melalui dukungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta kolaborasi dengan Universitas Bengkulu dan PKR Karst Microbes–LPPM Universitas Hasanuddin.
Ia menyebutkan, pada tahun 2025 sekitar 150 sekolah dan lebih dari 500 guru di Indonesia telah mengikuti program pelatihan nasional yang dilaksanakan SEAMEO BIOTROP. Pada tahun 2026, program tersebut ditargetkan menjangkau 15 provinsi dengan empat fokus utama, yakni pengelolaan lahan suboptimal, ekonomi sirkular, smart carbon farming, dan geopark education model.
“Pelatihan nasional dan seminar regional ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi regional sekaligus meningkatkan peran guru SMK dalam pengelolaan dan pemanfaatan lahan suboptimal,” tegasnya.

Deputi Direktur Program SEAMEO BIOTROP, Dr. Doni Yusri, menambahkan bahwa SEAMEO BIOTROP merupakan lembaga riset regional di bidang biologi tropika yang berfokus pada pengelolaan keanekaragaman hayati dan penyelesaian isu lingkungan secara berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara.
Menurutnya, seminar regional dan pelatihan nasional ini bertujuan meningkatkan kapasitas peserta dalam memahami strategi pengelolaan dan pemanfaatan lahan suboptimal guna mendukung ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, dan peningkatan produktivitas pertanian berbasis inovasi teknologi.
“Melalui pelatihan ini, para guru tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga keterampilan praktis dalam pengelolaan lahan suboptimal yang dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran di sekolah,” ujarnya.
Dr. Doni menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi lahan suboptimal yang sangat luas dan dapat dikembangkan sebagai sumber alternatif produksi pertanian. Namun, pemanfaatannya masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan pengetahuan tentang teknik pengelolaan lahan, rendahnya kesadaran konservasi tanah dan air, serta kurangnya pemahaman tentang kualitas lingkungan.

Karena itu, pendekatan pengelolaan yang berbasis ilmu pengetahuan, keterampilan teknis, dan praktik berkelanjutan menjadi sangat penting. Dalam konteks pendidikan vokasi, guru SMK memiliki peran strategis sebagai agen transfer teknologi yang menjembatani teori akademik dengan praktik industri pertanian modern.
Pelatihan ini juga dirancang secara komprehensif, mulai dari pengenalan karakteristik lahan, teknik konservasi tanah dan air, identifikasi polutan, pemanfaatan gulma indikator, budidaya adaptif, hingga penguatan sistem pertanian sirkular melalui teknik pengomposan dan penggunaan pupuk hayati.
“Sinergi ini bertujuan memperkuat kualitas pendidikan vokasi di Indonesia, menghasilkan lulusan yang kompeten, adaptif terhadap tantangan lingkungan, dan siap menjadi penggerak pertanian berkelanjutan di masa depan,” pungkasnya, seraya memberikan apresiasi kepada Unib sebagai tuan rumah yang baik dalam kegiatan ini. [Laporan: Iqbal | Editor: Purna Herawan | Humas].