Universitas Bengkulu (Unib) kembali menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan melalui lahirnya gagasan-gagasan akademik yang relevan dengan tantangan zaman. Salah satu di antaranya disampaikan oleh Guru Besar Bidang Manajemen Sumber Daya Manusia Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unib, Prof. Dr. Fahrudin Js Pareke, S.E, M.Si, yang memperkenalkan konsep Resource Cascade Theory of Human Performance sebagai paradigma baru dalam membangun kinerja manusia yang berkelanjutan di era kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).

Gagasan tersebut dipaparkan dalam orasi ilmiah berjudul “Humanizing Performance Melalui Resource Cascade: Membangun Kinerja Manusia yang Berkelanjutan di Era Kecerdasan Artifisial”, yang disampaikan pada Rapat Senat Terbuka Universitas Bengkulu dalam rangka pengukuhan enam Guru Besar baru, di Gedung Serba Guna (GSG) Unib, Rabu (22/7/2026).
Di hadapan sivitas akademika, para tamu undangan, dan keluarga besar universitas, Prof. Fahrudin mengawali orasinya dengan sebuah refleksi mengenai perubahan besar yang sedang dihadapi dunia kerja. Menurutnya, bonus demografi yang dimiliki Indonesia beriringan dengan percepatan digitalisasi, otomatisasi, dan perkembangan AI yang mengubah hampir seluruh aspek organisasi modern.
Kemajuan teknologi, menurutnya, memang menghadirkan efisiensi dan produktivitas yang semakin tinggi. Namun di balik itu muncul paradoks yang tidak bisa diabaikan. Ketika sistem kerja semakin modern, justru tekanan psikologis, kelelahan kerja (burnout), kecemasan, hingga menurunnya keterlibatan karyawan semakin sering ditemukan.
“Organisasi menjadi semakin kaya akan data, tetapi belum tentu berhasil membangun kreativitas, komitmen, dan rasa memiliki dari sumber daya manusianya,” ungkapnya.
Menurut Prof. Fahrudin, fenomena tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan organisasi pada masa depan tidak lagi hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang dimiliki, tetapi oleh kemampuan organisasi membangun manusia yang bekerja di dalamnya.


Prof. Fahrudin Js Pareke saat dipakaikan samir tanda kehormatan Guru Besar oleh Ketua Senat Unib Prof. Herawan Sauni. (foto:hms1)
Humanizing Performance: Memanusiakan Kinerja
Berangkat dari pengalaman penelitian lebih dari 25 tahun di bidang perilaku organisasi dan manajemen sumber daya manusia, Prof. Fahrudin menawarkan sebuah gagasan besar yang ia sebut Humanizing Performance.
Konsep ini berpandangan bahwa tujuan utama manajemen sumber daya manusia bukan sekadar mengejar peningkatan produktivitas, melainkan memastikan bahwa setiap proses pencapaian kinerja tetap menjaga martabat manusia, kesejahteraan psikologis, serta ruang bagi individu untuk terus berkembang.
Dalam perspektif tersebut, kinerja tinggi tidak boleh dicapai dengan mengorbankan kesehatan mental maupun kualitas kehidupan kerja.
Ia menegaskan bahwa tantangan terbesar organisasi modern bukan lagi bagaimana membuat manusia bekerja seperti mesin, tetapi bagaimana organisasi tetap mampu memanusiakan manusia ketika sebagian besar sistem kerja telah bergerak menuju otomatisasi berbasis AI.

Lahirnya Resource Cascade Theory
Puncak dari perjalanan intelektual tersebut adalah lahirnya Resource Cascade Theory of Human Performance, sebuah teori yang dirumuskan Prof. Fahrudin setelah melakukan berbagai penelitian mengenai keadilan organisasional, kepemimpinan, perilaku inovatif, kecerdasan emosional, resiliensi, work engagement, hingga adaptive performance selama lebih dari dua dekade.
Secara sederhana, teori ini menjelaskan bahwa kinerja manusia yang berkelanjutan tidak muncul secara instan dan bukan pula hasil dari satu faktor tunggal. Sebaliknya, kinerja merupakan hasil dari proses bertahap ketika sumber daya organisasi, seperti kepemimpinan yang inklusif, budaya kerja yang sehat, keadilan organisasi, kesempatan belajar, dan dukungan sosial, mengalir menjadi sumber daya psikologis individu.
Sumber daya psikologis tersebut kemudian berkembang menjadi ketahanan (resilience), kemampuan beradaptasi, kesejahteraan, hingga akhirnya melahirkan perilaku kerja yang mampu menghasilkan kinerja secara berkelanjutan.
Prof. Fahrudin mengibaratkan proses tersebut seperti aliran air yang mengalir dari satu tingkat menuju tingkat berikutnya. Oleh karena itu, ia menggunakan istilah cascade, yaitu proses transformasi sumber daya yang terus berkembang dari organisasi menuju individu.
“Organisasi yang mampu menciptakan keadilan, membangun hubungan yang sehat, memperkuat sumber daya psikologis, dan membantu individu berkembang akan memiliki peluang lebih besar menghasilkan kinerja yang berkelanjutan dibanding organisasi yang hanya berorientasi pada target jangka pendek,” jelasnya.
Empat Fondasi Utama
Dalam orasinya, Prof. Fahrudin menjelaskan bahwa Resource Cascade Theory dibangun di atas empat proposisi utama. Pertama, kinerja berkelanjutan selalu berawal dari kualitas sumber daya yang disediakan organisasi. Kedua, sumber daya organisasi terlebih dahulu ditransformasikan menjadi sumber daya psikologis individu, seperti kepercayaan diri, keterikatan kerja, optimisme, dan kecerdasan emosional. Ketiga, sumber daya psikologis berkembang menjadi kemampuan adaptasi serta ketahanan menghadapi perubahan. Keempat, seluruh proses tersebut bermuara pada terciptanya kinerja manusia yang tidak hanya produktif, tetapi juga mampu dipertahankan dalam jangka panjang.
Melalui kerangka ini, organisasi dipandang bukan semata sebagai pengendali kinerja, melainkan sebagai ekosistem yang membentuk kualitas manusia.

Organisasi Harus Mencegah “Negative Resource Cascade”
Salah satu kontribusi penting teori ini adalah pengenalan konsep dual resource cascade, yaitu adanya dua kemungkinan aliran sumber daya dalam organisasi.
Apabila organisasi mampu membangun kepemimpinan yang inklusif, keadilan, budaya kerja yang sehat, dan dukungan sosial, maka akan terbentuk positive resource cascade yang menghasilkan keterikatan kerja, kreativitas, inovasi, kesejahteraan, serta kinerja yang berkelanjutan.
Sebaliknya, apabila organisasi dipenuhi ketidakadilan, kepemimpinan yang buruk, lingkungan kerja yang toksik, serta beban kerja berlebihan, maka akan muncul negative resource cascade. Dalam kondisi tersebut, sumber daya psikologis individu akan terus menurun hingga memicu burnout, disengagement, quiet quitting, bahkan turnover intention.
Karena itu, menurut Prof. Fahrudin, organisasi masa depan tidak hanya bertugas meningkatkan produktivitas, tetapi juga bertanggung jawab mencegah terjadinya degradasi manusia di dalam sistem kerja.
Relevan dengan Era Kecerdasan Artifisial
Di era AI, Prof. Fahrudin menilai keberhasilan transformasi digital tidak cukup diukur dari kemampuan organisasi mengadopsi teknologi terbaru. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut dikelola agar tetap memperkuat manusia, bukan justru melemahkannya.
Ia menekankan bahwa investasi organisasi pada masa depan tidak boleh hanya diarahkan pada perangkat digital, melainkan juga pada penguatan psychological resources, seperti resiliensi, self-efficacy, emotional intelligence, dan work engagement.
“Kecerdasan artifisial mungkin mampu meningkatkan efisiensi kerja, tetapi tidak dapat menggantikan kemampuan manusia dalam mengelola ketidakpastian, tekanan, kreativitas, maupun makna dalam bekerja,” tegasnya.

Kontribusi Akademik
Di akhir orasinya, Prof. Fahrudin menegaskan bahwa Resource Cascade Theory bukan dimaksudkan sebagai penutup diskursus ilmu manajemen sumber daya manusia, melainkan sebagai undangan bagi para akademisi untuk membuka cara pandang baru mengenai hakikat kinerja manusia.
Menurutnya, masa depan manajemen sumber daya manusia tidak hanya terletak pada kemampuan organisasi mengelola performa, tetapi pada kemampuannya terus menghumanisasi kinerja, sehingga setiap peningkatan produktivitas berjalan seiring dengan penguatan aspek kemanusiaan.
“Kinerja yang tinggi hanya akan bertahan lama apabila dibangun di atas fondasi manusia yang sehat, tangguh, adaptif, dan terus berkembang,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Prof. Dr. Fahrudin Js Pareke merupakan Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia FEB Unib. Alumni Program Studi Manajemen Universitas Bengkulu ini menyelesaikan pendidikan magister di Universitas Gadjah Mada dan doktor di Universitas Padjadjaran. Selama karier akademiknya, ia telah mengajar pada jenjang sarjana hingga doktoral, membimbing ratusan mahasiswa, serta pernah menjabat sebagai Pembantu Dekan Bidang Akademik, Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, hingga Dekan FEB Universitas Bengkulu periode 2018–2020. [Purna Herawan | Humas].