Upaya memperkuat ketahanan kawasan Asia Tenggara terhadap ancaman bencana geoteknik terus didorong melalui kolaborasi akademik lintas negara. Universitas Bengkulu (Unib) melalui Geotechnical Hazard Research Unit (GHRU) dan Divisi Geoteknik King Mongkut’s Institute of Technology Ladkrabang (KMITL), Thailand, sepakat membangun kemitraan riset yang memadukan pengalaman lapangan dengan teknologi analisis dan pemodelan komputasi mutakhir.

Kesepakatan tersebut mengemuka dalam program “Geotechnical Hazard Knowledge Sharing to Form the Research Innovation for Young Researchers” yang dilaksanakan di KMITL, Bangkok, pada 3–6 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus langkah awal untuk memperluas jejaring riset geoteknik antara peneliti muda Unib dan KMITL, khususnya dalam pengembangan inovasi mitigasi bencana yang relevan dengan karakteristik wilayah ASEAN.
Program tersebut merupakan rangkaian kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) skema Kerja Sama Luar Negeri yang didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Bengkulu (LPPM Unib). Melalui program ini, pendekatan rekayasa sipil yang selama ini banyak berorientasi pada penanganan struktur secara parsial diarahkan menuju pendekatan yang lebih komprehensif melalui konsep Resilience Engineering atau rekayasa ketahanan infrastruktur.
Kolaborasi melibatkan Prof. Ir. Lindung Zalbuin Mase, Ph.D. dan Muharram Nur Fikri, S.T, M.Eng dari GHRU Unib, serta Assoc. Prof. Salisa Chaiyaput, D.Eng dari KMITL. Pertemuan para peneliti ini tidak hanya menjadi forum pertukaran gagasan, tetapi juga membuka peluang lahirnya agenda riset bersama yang dapat menjawab kebutuhan nyata masyarakat di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi.
Dalam sesi ilmiah, tim GHRU Unib memaparkan hasil investigasi lapangan dan analisis forensik geoteknik mengenai kondisi tanah di Sumatera ketika menerima beban guncangan gempa. Data empiris tersebut menjadi bahan penting dalam diskusi mengenai perilaku tanah dan infrastruktur saat terjadi bencana, sekaligus memperkaya perspektif peneliti KMITL dalam mengembangkan sistem mitigasi yang lebih adaptif.
Dari forum tersebut, pembahasan berkembang pada pentingnya menggeser paradigma penelitian dari sekadar mengukur kemampuan sebuah struktur bertahan terhadap beban ekstrem menuju bagaimana keseluruhan sistem infrastruktur dapat tetap berfungsi, beradaptasi, dan pulih setelah mengalami bencana.
Perspektif inilah yang kemudian menjadi salah satu fondasi dalam penyusunan agenda riset bersama Unib dan KMITL. Kedua institusi sepakat mengembangkan penelitian yang mengintegrasikan data lapangan, analisis geoteknik, pemodelan komputasi, serta teknologi pemantauan kebencanaan sehingga hasil riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat diterapkan untuk memperkuat sistem mitigasi di wilayah rawan bencana.

Selama empat hari kegiatan, tim juga melakukan peninjauan terhadap berbagai sarana pengujian material dan fasilitas laboratorium canggih yang dimiliki KMITL. Kunjungan tersebut memberikan gambaran mengenai peluang pemanfaatan fasilitas riset secara bersama untuk mendukung penelitian geoteknik yang lebih mendalam.
Tidak kalah penting, kedua pihak mulai menyusun peta jalan penelitian kawasan ASEAN serta menginisiasi pengembangan alat pemantau bahaya geologi berbiaya efisien. Instrumen tersebut diarahkan untuk mendukung pemantauan potensi bahaya geologi, khususnya likuifaksi dan tanah longsor, dengan pendekatan teknologi yang dapat diterapkan secara lebih luas di lapangan.
Implementasi kerja sama kemudian dirumuskan melalui lima langkah strategis. Salah satunya adalah pembentukan Joint Research Working Group yang akan menjadi wadah koordinasi pengembangan proposal dan penjaringan hibah penelitian internasional.
Kerja sama juga diperkuat melalui Implementation Agreement (IA) yang mengatur skema penelitian lapangan ilmuwan KMITL di Bengkulu serta membuka akses bagi peneliti Unib untuk memanfaatkan fasilitas pengujian tingkat lanjut di Thailand. Skema ini diharapkan menciptakan ekosistem riset yang saling melengkapi, dengan Bengkulu menjadi laboratorium alam untuk kajian kebencanaan dan KMITL mendukung dari sisi fasilitas serta teknologi pengujian.
Pada sisi luaran, kedua institusi menargetkan lahirnya publikasi ilmiah pada jurnal bereputasi internasional yang terindeks Scopus maupun Web of Science (WoS). Selain itu, kolaborasi diarahkan pada pengajuan paten untuk pengembangan Early Warning System yang dapat digunakan dalam mendeteksi potensi bahaya likuifaksi maupun tanah longsor.

Kerja sama tidak berhenti pada aspek penelitian. Pakar GHRU Unib juga dipercaya untuk berkontribusi dalam pengayaan kurikulum Teknik Sipil KMITL melalui penyusunan modul mitigasi bencana. Kedua pihak juga berkomitmen menyelenggarakan seminar internasional secara berkala dengan posisi Unib dan KMITL sebagai co-host secara bergantian.
Rangkaian penguatan jejaring akademik tersebut turut diperluas melalui kunjungan tim GHRU Unib ke Suranaree University of Technology (SUT) di Nakhon Ratchasima, Thailand. Di kampus tersebut, tim GHRU Unib berdiskusi secara intensif dengan Assoc. Prof. Dr. Jiratchaya Ayawanna untuk mengeksplorasi peluang pengembangan jejaring dan kolaborasi riset di bidang geoteknik dan kebencanaan.
Salah satu gagasan penting yang mengemuka adalah pemanfaatan repositori digital bersama untuk mempercepat pertukaran data penelitian. Sistem tersebut dinilai dapat mengurangi hambatan akses data antar perguruan tinggi sekaligus memperkuat basis pengambilan keputusan dalam penelitian kebencanaan.
Ke depan, pola pertukaran data berbasis hasil investigasi lapangan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari proyek penelitian tertentu, tetapi dapat dibakukan sebagai agenda akademik secara berkala. Bahkan, hasil kolaborasi tersebut diarahkan untuk terintegrasi dengan pola pembimbingan tugas akhir mahasiswa, sehingga mahasiswa dari kedua institusi sejak dini dapat terlibat dalam ekosistem riset lintas negara.

Bagi Unib, kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperluas dampak tridarma perguruan tinggi melalui riset dan pengabdian yang menjawab persoalan nyata. Sementara bagi KMITL, pengalaman empiris GHRU Unib dalam mengkaji kondisi geoteknik wilayah rawan gempa di Indonesia menjadi sumber pengetahuan penting untuk memperkaya pengembangan inovasi mitigasi bencana.
Lebih dari sekadar pertukaran pengetahuan, kemitraan Unib dan KMITL menunjukkan bahwa tantangan kebencanaan di Asia Tenggara membutuhkan jawaban yang melampaui batas negara. Dengan mempertemukan data lapangan, teknologi, kepakaran, dan generasi peneliti muda, kolaborasi ini diharapkan menjadi pijakan menuju riset geoteknik yang semakin inovatif, aplikatif, dan berdampak bagi penguatan ketahanan masyarakat ASEAN terhadap bencana. [Laporan: Lindung | Editor: Purna Herawan | Humas].