UNIVERSITAS BENGKULU

Universitas Bengkulu (Unib) melalui Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) terus mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menguasai kompetensi akademik, tetapi juga memiliki wawasan kewirausahaan dan kesiapan menghadapi dunia usaha. Upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Ekspor-Impor bagi mahasiswa yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting, Selasa (22/9/2026).

Dekan FMIPA Unib, Prof. Dr. Sal Prima Yudha, S.Si, M.Si saat membuka acara pelatihan via zoom meeting.(ist-rif)

Kegiatan dibuka oleh Dekan FMIPA Unib, Prof. Dr. Sal Prima Yudha, S.Si, M.Si, dengan menghadirkan Roy Wibisono Anang Prabowo, S.Si, CEO Naruna Ceramic, sebagai narasumber. Kegiatan dipandu Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama FMIPA Unib, Prof. Dr. Arif Ismul Hadi, S.Si, M.Si.

Diikuti puluhan mahasiswa FMIPA Unib, pelatihan ini memberikan wawasan praktis mengenai kewirausahaan sekaligus membuka pemahaman tentang peluang mengembangkan produk hingga menembus pasar internasional.

Dalam pemaparannya, Roy membagikan pengalaman membangun Naruna Ceramic, usaha produk keramik yang dirintis dari skala kecil hingga berkembang dan memiliki pasar mancanegara. Menariknya, perjalanan tersebut berawal dari pengalaman akademik dan tugas akhir Roy ketika menempuh pendidikan di bidang Kimia FMIPA Universitas Diponegoro (Undip).

Pengalaman Naruna menunjukkan bahwa keterbatasan modal dan fasilitas pada tahap awal bukan menjadi penghalang untuk berinovasi. Menurut Roy, nilai sebuah produk tidak hanya ditentukan bahan baku, tetapi juga kreativitas, desain, kualitas, inovasi, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar.

Produk-produk Naruna, misalnya, dikembangkan dengan desain estetis dan efek reactive glaze, serta dipadukan dengan material seperti kayu, rotan, dan resin. Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan nilai tambah sekaligus meningkatkan daya saing produk.

Suasana pelatihan ekspor-impor via zoom meeting yang digelar FMIPA Unib.(ist-rif)

Memahami Langkah Menuju Pasar Ekspor

Roy juga menjelaskan bahwa ekspor bukan sekadar menjual produk ke luar negeri, tetapi membutuhkan persiapan dan proses yang terencana. Melalui materi “Peta Ekspor – 9 Langkah Menuju Go Ekspor”, mahasiswa diperkenalkan pada tahapan mulai dari persiapan produk, penyusunan marketing kit, riset calon pembeli (buyer research), penentuan harga, menghubungi calon pembeli, pengiriman sampel, negosiasi, pemenuhan legalitas, hingga ekspor secara reguler.

Materi tersebut memberikan gambaran bahwa kesiapan produk harus berjalan beriringan dengan kemampuan pemasaran, komunikasi bisnis, administrasi, serta pemahaman terhadap prosedur perdagangan internasional.

Selain aspek teknis, Roy menekankan pentingnya karakter seorang entrepreneur maupun technopreneur. Keberanian mengambil risiko, kreativitas, kemauan belajar, pantang menyerah, disiplin, tanggung jawab, kejujuran, komitmen, kemampuan beradaptasi, serta ketekunan menjadi modal penting dalam membangun usaha.

Flayer pelatihan ekspor-impor via zoom meeting yang digelar FMIPA Unib.(ist-rif)

Mahasiswa juga didorong agar tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja setelah lulus, tetapi berani menciptakan peluang usaha dan mengembangkan produk yang memiliki daya saing. Bagi mahasiswa FMIPA, latar belakang keilmuan dapat menjadi sumber gagasan untuk melahirkan inovasi yang memiliki nilai ekonomi.

Melalui pelatihan ini, mahasiswa FMIPA Unib diharapkan semakin memahami peluang kewirausahaan dan mekanisme ekspor-impor, sekaligus terdorong mengembangkan produk inovatif yang berpotensi memasuki pasar nasional maupun internasional.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen FMIPA Unib dalam memperluas wawasan dan kompetensi mahasiswa melalui pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan dunia usaha. Kehadiran praktisi juga memberikan pengalaman kontekstual agar mahasiswa semakin siap, kreatif, dan mampu melihat peluang di tengah perkembangan perdagangan global. [Laporan: Arif | Editor: Purna Herawan | Humas].