UNIVERSITAS BENGKULU

Pengukuhan Guru Besar tidak hanya menjadi momentum pencapaian akademik tertinggi seorang dosen, tetapi juga menjadi ruang lahirnya gagasan ilmiah yang mampu menjawab berbagai persoalan strategis bangsa. Hal itulah yang tergambar dalam orasi ilmiah Prof. Dr. Slamet Widodo, S.E, M.S, Guru Besar Bidang Manajemen Sumber Daya Manusia Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Bengkulu (Unib), pada Rapat Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar di Gedung Serba Guna (GSG) Unib, Rabu (22/7/2026).

Prof. Slamet Widodo saat menyampaikan orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar di hadapan Rapat Senat.(hms2)

Mengangkat tema “Membangun Spiritualitas dan Kebermaknaan Kerja Pegawai: Perspektif Keselarasan Individu dan Organisasi pada Sektor Publik,” Prof. Slamet menawarkan perspektif baru dalam pengelolaan sumber daya manusia sektor publik.

Menurutnya, peningkatan kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak cukup hanya dilakukan melalui peningkatan kompetensi teknis, sistem penghargaan, ataupun reformasi birokrasi, tetapi juga harus menyentuh dimensi psikologis dan spiritual pegawai agar pekerjaan dipandang sebagai bentuk pengabdian yang bermakna.

Dalam orasinya, Prof. Slamet mengawali pembahasan dengan memotret kondisi aktual birokrasi Indonesia. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebermaknaan kerja ASN masih relatif rendah. Kondisi tersebut tercermin dari lemahnya motivasi kerja, rendahnya disiplin, produktivitas, inovasi, hingga meningkatnya tingkat ketidakhadiran pegawai tanpa keterangan.

Secara nasional, kondisi tersebut sejalan dengan capaian sektor publik Indonesia yang masih berada di bawah sejumlah negara lain. Bahkan, berdasarkan hasil pengukuran terhadap sampel ASN di Provinsi Bengkulu yang dipaparkan dalam orasi tersebut, lebih dari 73 persen pegawai berada pada kategori kinerja rendah hingga sangat rendah.

“Rendahnya semangat dan disiplin kerja sesungguhnya merupakan salah satu indikator bahwa pegawai mulai kehilangan makna terhadap pekerjaan yang mereka jalankan,” ungkap Prof. Slamet.

Prof. Slamet Widodo saat menyampaikan orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar di hadapan Rapat Senat.(hms1)

Menurutnya, selama ini berbagai kebijakan reformasi birokrasi lebih banyak berorientasi pada aspek administratif dan pencapaian target kinerja, sementara dimensi kemanusiaan yang membentuk motivasi intrinsik pegawai masih belum memperoleh perhatian yang memadai.

Berangkat dari persoalan tersebut, Prof. Slamet melakukan kajian menggunakan pendekatan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menguji hubungan antara spiritualitas di tempat kerja, transendensi diri, kesesuaian individu dengan organisasi (person-organization fit), dan kebermaknaan pekerjaan pada pegawai sektor publik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas di tempat kerja terbukti berpengaruh positif terhadap keselarasan nilai antara individu dan organisasi serta meningkatkan transendensi diri pegawai. Namun, temuan menariknya adalah bahwa transendensi diri tidak terbukti memberikan pengaruh signifikan terhadap terbentuknya kebermaknaan kerja.

Sebaliknya, faktor yang paling menentukan adalah keselarasan antara nilai pribadi pegawai dengan nilai organisasi (person-organization fit). Semakin selaras nilai, tujuan, dan budaya organisasi dengan karakter pegawai, semakin tinggi pula tingkat kebermaknaan pekerjaan yang dirasakan.

Temuan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa organisasi publik memiliki peran yang jauh lebih besar dibandingkan faktor individual dalam membangun pegawai yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaannya.

“Kebermaknaan kerja bukan hanya lahir dari dalam diri seseorang, tetapi juga dibentuk oleh lingkungan organisasi yang mampu menghadirkan keselarasan nilai, rasa memiliki, serta budaya kerja yang sehat,” jelasnya.

Prof. Slamet Widodo usai dikukuhkan sebagai Guru Besar foto bersama Rektor dan Ketua Senat Unib.(hms1)

Prof. Slamet menjelaskan bahwa spiritualitas di tempat kerja tidak identik dengan praktik keagamaan semata. Spiritualitas lebih dimaknai sebagai kemampuan organisasi menghadirkan lingkungan kerja yang memberikan ruang bagi pegawai untuk menemukan makna, tujuan, kebersamaan, serta kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.

Dalam organisasi yang demikian, pekerjaan tidak lagi dipandang sekadar sebagai rutinitas administratif atau sarana memperoleh penghasilan, tetapi menjadi media aktualisasi diri sekaligus bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara.

Sebaliknya, ketika pegawai merasa kontribusinya tidak dihargai, diperlakukan tidak adil, ditempatkan pada pekerjaan yang tidak sesuai kompetensi, kehilangan ruang menyampaikan pendapat, atau terputus dari nilai-nilai yang diyakininya, maka pekerjaan akan kehilangan maknanya. Kondisi inilah yang pada akhirnya berdampak pada rendahnya motivasi, produktivitas, dan kualitas pelayanan publik.

Melalui hasil kajiannya, Prof. Slamet menegaskan bahwa reformasi birokrasi ke depan perlu bergerak melampaui pendekatan administratif menuju pengelolaan sumber daya manusia yang berbasis nilai (value-based human resource management). Organisasi publik harus mampu membangun budaya kerja yang tidak hanya mengejar capaian indikator kinerja, tetapi juga memperkuat integritas, empati, rasa memiliki, dan keselarasan nilai antara pegawai dengan organisasi.

Ia juga menekankan pentingnya peran pemimpin dalam membangun lingkungan kerja yang memberi ruang dialog, penghargaan, kepercayaan, serta komunikasi nilai secara berkelanjutan. Menurutnya, kepemimpinan yang mampu menghubungkan tujuan organisasi dengan tujuan hidup pegawai akan melahirkan aparatur yang bekerja bukan sekadar karena kewajiban, tetapi karena kesadaran akan makna pengabdian.

“Organisasi publik harus menjadi tempat di mana setiap pegawai menemukan alasan mengapa pekerjaannya penting, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi masyarakat yang dilayaninya,” ujarnya.

Prof. Dr. Slamet Widodo, S.E, M.S.

Di akhir orasi, Prof. Slamet menyimpulkan bahwa peningkatan kualitas pelayanan publik tidak cukup hanya ditopang oleh kompetensi teknis dan sistem birokrasi yang baik. Lebih dari itu, dibutuhkan organisasi yang mampu membangun spiritualitas kerja, memperkuat keselarasan nilai individu dan organisasi, serta menghadirkan pengalaman kerja yang bermakna bagi setiap pegawai.

Melalui pendekatan tersebut, kinerja ASN diharapkan tidak hanya meningkat secara administratif, tetapi juga tumbuh dari kesadaran, integritas, dan semangat pengabdian sebagai pelayan masyarakat.

Jejak Akademik

Prof. Dr. Slamet Widodo lahir di Ngawi, 21 Desember 1961. Ia mengabdikan diri sebagai dosen Universitas Bengkulu sejak 1987 dan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Manajemen Sumber Daya Manusia Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Pendidikan sarjana ditempuh di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, kemudian meraih gelar Magister Manajemen di Universitas Gadjah Mada (UGM), serta menyelesaikan program doktor di Universitas Kebangsaan Malaysia.

Selama berkarier di Universitas Bengkulu, Prof. Slamet pernah menjabat sebagai Pembantu Dekan III Fakultas Ekonomi serta dua periode menjadi Koordinator Program Magister Manajemen FEB Unib. Selain aktif dalam pendidikan dan penelitian, ia juga banyak berkontribusi dalam berbagai program pemberdayaan UMKM, pengembangan kewirausahaan, serta penguatan ekonomi masyarakat di Provinsi Bengkulu. [Purna Herawan | Humas].