UNIVERSITAS BENGKULU

Pagi Jumat, 24 April 2026, Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Bengkulu dipenuhi energi yang berbeda. Ribuan sivitas akademika larut dalam suasana khidmat sekaligus penuh harapan. Di podium Rapat Senat Terbuka Dies Natalis ke-44 Universitas Bengkulu (Unib), seorang tokoh nasional berdiri, bukan sekadar sebagai menteri, tetapi sebagai seseorang yang membawa narasi besar tentang masa depan.

Menteri PPN/Kepala Bappenas RI Prof. Rachmat Pambudy saat beroerasi di hadapan ribuan sivitas akademika Universitas Bengkulu.(foto:hms1)

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas RI, Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, MS, membuka orasi ilmiahnya dengan nada personal yang hangat.

“Kehormatan bagi saya bisa berdiri di podium ini. Tepat di usia Unib yang ke-44, saya juga genap 66 tahun. Usia 44 tahun ini mengingatkan saya, pada 44 tahun lampau saya duduk sebagai mahasiswa, seperti adik-adik di hadapan saya hari ini,” ujarnya, mengundang senyum dan perhatian seluruh hadirin.

Dari awal, suasana orasi terasa hidup. Ia tidak hanya berbicara tentang kebijakan dan angka, tetapi juga tentang perjalanan, mimpi, dan kemungkinan.

Ia menatap ke arah balkon, tempat para mahasiswa duduk berderet. “Teruslah belajar. Siapkan diri. Suatu saat nanti, Anda bisa berdiri di sini—bahkan menjadi menteri,” katanya, disambut tepuk tangan panjang.

Bengkulu: Ruang Peradaban yang Membentuk Ketangguhan

Dalam orasinya, Prof. Rachmat mengajak hadirin melihat Bengkulu dari sudut pandang yang lebih luas, bukan sekadar wilayah geografis, tetapi ruang peradaban. “Bengkulu bukan hanya titik di peta. Ia adalah ruang yang ditempa oleh alam, samudera, dan sejarah perjuangan,” tuturnya.

Ia mengingatkan bagaimana provinsi ini turut memberi kontribusi penting dalam sejarah bangsa, termasuk melalui sosok Fatmawati Soekarno, putri Bengkulu yang menjahit Sang Saka Merah Putih.

Dari karakter alamnya—gelombang laut, gempa bumi, hingga tanah yang menantang—lahir satu pelajaran penting, yaitu ketangguhan. “Di sini kita belajar bahwa pembangunan bukan sekadar pertumbuhan atau pemerataan. Ia adalah tentang ketahanan, keberlanjutan, dan peningkatan martabat manusia,” tegasnya.

Menteri PPN/Kepala Bappenas mengajak semua pihak untuk mendorong Unib jadi pusat rujukan global.(hms1)

Unib sebagai Kompas Pembangunan

Dalam refleksi dies natalis ini, Prof. Rachmat menempatkan Universitas Bengkulu pada posisi strategis, bukan hanya institusi pendidikan, tetapi kompas pembangunan daerah dan nasional.

Ia mengaitkan peran perguruan tinggi dengan arah besar bangsa menuju Indonesia Emas 2045, yang dirumuskan dalam RPJPN 2025–2045 melalui “Trisula Pembangunan”: pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, peningkatan kualitas SDM, dan penurunan kemiskinan.

“Di sinilah pendidikan tinggi memainkan peran sentral, yaitu sebagai produsen ilmu, pencetak talenta, sekaligus penjaga moral dan peradaban,” ujarnya.

Khusus Bengkulu, ia memaparkan arah pembangunan berbasis bioindustri dan ekonomi hijau. Namun, ia juga tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan, seperti tingginya angka kemiskinan, ketergantungan pada sektor primer, hingga kualitas infrastruktur dan SDM yang masih perlu ditingkatkan. Solusinya, menurutnya, tidak bisa dilepaskan dari kontribusi perguruan tinggi.

Dari Laboratorium ke Kesejahteraan

Salah satu penekanan penting dalam orasi tersebut adalah hilirisasi riset. Prof. Rachmat menegaskan bahwa hasil penelitian tidak boleh berhenti di jurnal atau laboratorium. “Universitas Bengkulu harus menjadi jembatan hilirisasi, memastikan setiap riset bertransformasi menjadi nilai ekonomi nyata bagi masyarakat, khususnya petani dan nelayan,” katanya.

Ia bahkan secara khusus mengapresiasi inovasi Unib yang telah menghasilkan varietas unggul seperti Jagung Unib CT9, Cabai Unib CHR17, hingga inovasi pertanian presisi di lahan marginal.

Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan bahwa Unib tidak hanya berorientasi pada pengajaran, tetapi juga mulai bergerak menuju riset yang berdampak. “Kampus tidak cukup hanya menjadi teaching university, tetapi harus menjadi research university yang melahirkan entrepreneur muda dan solusi nyata,” tambahnya.

Menteri PPN/Kepala Bappenas saling bertukar cindera mata dengan Rektor Unib.(foto:hms1)

Menjawab Tantangan Global

Di tengah dinamika global yang semakin tidak linier, ditandai oleh percepatan digitalisasi dan kecerdasan buatan, Prof. Rachmat menegaskan pentingnya transformasi pendidikan tinggi.

Model pembelajaran harus adaptif, riset harus relevan, dan universitas harus mampu menjadi penghasil solusi.

Ia mendorong Unib untuk memperkuat kemitraan strategis, baik dengan pemerintah daerah, industri, maupun mitra global. Selain itu, pengembangan unit bisnis kampus dan peningkatan tata kelola juga menjadi bagian dari strategi menuju kemandirian dan daya saing global.

Menuju Global Excellence dari Bengkulu

Dalam bagian yang paling menggugah, Prof. Rachmat menyampaikan visi besar: menjadikan Unib sebagai pusat rujukan global berbasis keunggulan lokal.

Ia menyoroti potensi riset pesisir, biodiversitas, energi berkelanjutan, hingga pertanian lahan suboptimal sebagai kekuatan khas yang tidak dimiliki banyak perguruan tinggi lain.

Melalui hilirisasi inovasi, transformasi digital, serta penguatan kolaborasi, Unib diyakini mampu melampaui batas regional.

Pernyataannya di bagian penutup menjadi penanda arah sekaligus tantangan: “Ke depan, jangan lagi kita berkiblat pada dunia internasional. Justru dunia internasional harus berkiblat pada Universitas Bengkulu.”

Kalimat itu menggema di dalam ruangan, bukan sekadar retorika, tetapi visi yang menuntut kerja kolektif.

Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Wakil Gubernur Bengkulu melakukan foto bersama dengan Rektor dan Senat Universitas Bengkulu serta ribuan dosen dan mahasiswa di GSG Unib.(foto:hms1)

Integritas sebagai Fondasi

Menutup orasinya, Prof. Rachmat mengingatkan bahwa ilmu dan inovasi saja tidak cukup tanpa karakter. “Ilmu membawa kita maju, tetapi integritas menjaga arah kita tetap benar,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi harus menjadi pusat penjaga integritas—mengawal pemerintah, menjaga nilai, dan memastikan pembangunan berjalan dengan benar.

Di tengah semangat menuju Indonesia Emas, pesan itu terasa relevan sekaligus mendalam, bahwa kemajuan sejati lahir dari pertemuan antara kecerdasan dan kejujuran. Dan dari Bengkulu, narasi besar itu kembali ditegaskan—bahwa sebuah universitas di pesisir barat Sumatera bisa menjadi titik awal perubahan, bahkan rujukan bagi dunia. [Purna Herawan | Humas].

Menteri PPN/Kepala Bappenas menyapa para mahasiswa dan melakukan foto selfie.(foto:hms1)