UNIVERSITAS BENGKULU

Di banyak ruang kelas di Indonesia, bahasa Inggris masih kerap dianggap momok. Ia terasa rumit, penuh aturan, dan membingungkan. Lebih memprihatinkan lagi, dalam praktik pembelajarannya, tatabahasa sering dipinggirkan—yang penting bisa berbicara. Padahal, bagaimana mungkin seseorang mampu berbicara dan menulis dengan baik jika fondasi strukturnya rapuh?

Prof. Dr. Wisma Yunita, M.Pd saat menyampaikan orasi ilmiah para Rapat Senat Unib.(foto:hms1)

Keresahan itulah yang lama menggelisahkan hati Prof. Dr. Wisma Yunita, M.Pd. Sebagai akademisi di bidang Pengajaran Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Bengkulu (Unib), ia melihat adanya jurang antara penguasaan aturan dan kemampuan berkomunikasi. Tatabahasa acap kali diajarkan sebagai rumus yang terpisah dari makna—kering, mekanis, dan jauh dari konteks kehidupan pembelajar.

“Tatabahasa adalah tulang punggung bahasa. Kosakata adalah dagingnya. Keduanya tidak dapat dipisahkan,” ujar Prof. Wisma dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Model Pembelajaran Tatabahasa Inggris Sebagai Bahasa Asing di Indonesia”, pada Rapat Senat Terbuka di Gedung Serba Guna (GSG) Unib, Selasa (10/2/2026).

Pada momen tersebut, Prof. Wisma resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Pengajaran Bahasa Inggris FKIP Unib, bersama lima guru besar lainnya: Prof. Dr. Ir. Irnad, M.Sc (Sosial Ekonomi Pertanian, FP); Prof. Dr. Ir. Rustikawati, M.Si (Pertanian Lahan Kering, FP); Prof. Dr. Jose Rizal, S.Si, M.Si (Matematika Terapan, FMIPA); Prof. Dr. Drs. Sugeng Suharto, MM, M.Si (Kebijakan Publik, FISIP); serta Rektor Unib Prof. Dr. Indra Cahyadinata, S.P, M.Si yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Sosial Ekonomi Pertanian.

Namun lebih dari sekadar seremoni akademik, pengukuhan ini menjadi penanda puncak perjalanan riset panjang Prof. Wisma dalam menjawab satu pertanyaan mendasar: bagaimana membuat pembelajaran tatabahasa menjadi menyenangkan, bermakna, dan relevan dengan konteks Indonesia?

Prof. Wisma Yunita dan lima Guru Besar Unib lainnya saat dikukuhkan oleh Rektor dan Ketua Senat Unib.(hms1)

Dari Aturan ke Cerita

Dijelaskannya, bahasa Inggris sebagai bahasa asing telah dipelajari bertahun-tahun, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Namun kenyataannya, tidak sedikit pembelajar yang belum mampu menggunakannya secara kompeten. Salah satu penyebabnya adalah lemahnya penguasaan struktur tatabahasa, diperparah oleh perbedaan mendasar antara struktur bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

Tatabahasa kerap dianggap sulit, terfragmentasi, dan terputus dari komunikasi nyata. Ia hadir sebagai seperangkat aturan yang harus dihafal, bukan sebagai alat untuk membangun dan menyampaikan makna.

Berangkat dari penelitian yang panjang dan berkesinambungan, Prof. Wisma kemudian merumuskan sebuah pendekatan komprehensif, yakni Integrated Story-based Grammar Learning Model (ISGL) atau Model Pembelajaran Tatabahasa Terintegrasi Berbasis Cerita.

“Dengan model ISGL, pembelajaran tatabahasa tidak lagi membosankan dan terpusat pada dosen. Ia menjadi proses yang menyenangkan dan menunjang kompetensi komunikatif pembelajar bahasa Inggris, khususnya di negara dengan konteks bahasa Inggris sebagai bahasa asing seperti Indonesia,” jelasnya.

ISGL dikembangkan dari pendekatan story-based approach yang dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara bentuk tatabahasa dan kompetensi komunikatif. Alih-alih mengajarkan aturan secara terisolasi, model ini menempatkan tatabahasa dalam konteks cerita yang hidup dan kaya makna.

Prof. Wisma Yunita dan lima Guru Besar Unib lainnya saat menyanyikan lagu Pada Mu Negeri.(foto:hms1)

Tiga Pilar ISGL

Model ISGL, kata Prof. Wisma, bertumpu pada tiga pilar utama: masukan berbasis cerita, pengamatan tatabahasa secara eksplisit, dan penguatan multimodal.

Dalam praktiknya, mahasiswa tidak sekadar mempelajari pola kalimat, tetapi menyelaminya melalui cerita—terutama cerita rakyat Indonesia dari lima pulau terbesar di Nusantara. Cerita-cerita tersebut memberikan paparan alami terhadap struktur bahasa sekaligus menumbuhkan kesadaran antarbudaya dan pembentukan identitas.

“Dengan praktik tersebut, maka tatabahasa tidak lagi dipahami sebagai sekadar aturan, melainkan sebagai sarana penciptaan makna yang tertanam dalam narasi,” ujarnya.

Berlandaskan pedagogi komunikatif, pembelajaran bahasa antarbudaya, dan literasi multimodal, ISGL dirancang fleksibel untuk berbagai tingkat kemahiran—dari dasar hingga mahir—dengan menyesuaikan kompleksitas cerita dan fokus linguistik.

Prof. Dr. Wisma Yunita, M.Pd, Guru Besar Bidang Pengajaran Bahasa Inggris, FKIP Unib.(foto:ist)

Lalu bagaimana menerapkan ISGL di kelas? Menurut Prof. Wisma, langkah implementasinya mencakup empat tahap: presentation, attention, co-construction, dan extension.

Melalui tahapan tersebut, pembelajaran berlangsung interaktif dan reflektif. Mahasiswa aktif membangun pemahaman bersama, memperoleh umpan balik dari dosen, serta mengembangkan kemampuan berbahasa secara lebih utuh dan kontekstual.

“Dengan teks naratif singkat, multimodalitas, respons mahasiswa, dan umpan balik dosen di setiap langkah, pembelajaran tatabahasa berubah menjadi proses yang bermakna secara pribadi,” ungkap Prof. Wisma.

Jika diperkuat dengan strategi belajar yang tepat serta sikap positif terhadap bahasa Inggris, model ini diyakini mampu mendorong motivasi berkelanjutan sekaligus mengembangkan kompetensi komunikatif dan antarbudaya pembelajar.

Profesor sebagai Penggerak Solusi

Pengukuhan enam Guru Besar ini menambah jumlah profesor Unib dari 83 menjadi 89 orang. Lebih dari sekadar angka, capaian tersebut mencerminkan bertambahnya kekuatan intelektual universitas dalam menjawab berbagai persoalan riil masyarakat.

“Atas nama pimpinan Universitas Bengkulu, saya menyampaikan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para profesor yang hari ini dikukuhkan. Gelar profesor bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab akademik yang lebih besar,” ujar Prof. Indra Cahyadinata.

Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata saat menyampaikan sambutan di acara pengukuhan Guru Besar.(foto:hms1)

Ia menegaskan bahwa profesor tidak hanya dituntut produktif dalam publikasi ilmiah, tetapi juga menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat. “Kita membutuhkan profesor yang manfaat ilmunya benar-benar dirasakan oleh petani, nelayan, guru, pelaku usaha, pemerintah daerah, dan masyarakat luas,” tegasnya.

Dalam konteks itulah, gagasan Prof. Wisma menjadi lebih dari sekadar model pembelajaran. Ia merupakan tawaran solusi atas kegelisahan panjang dunia pendidikan bahasa di Indonesia—sebuah ikhtiar menjadikan tatabahasa bukan lagi beban, melainkan jembatan menuju komunikasi yang utuh.

Melalui cerita-cerita Nusantara yang dihidupkan kembali di ruang kelas, bahasa Inggris tak lagi terasa asing. Ia menjelma menjadi ruang dialog, ruang makna, dan ruang tumbuh bagi generasi pembelajar Indonesia. [Purna Herawan | Humas].