Genap berusia 44 tahun pada 24 April 2026, Universitas Bengkulu (Unib) memperingati hari jadinya dengan menggelar Rapat Senat Terbuka di Gedung Serba Guna (GSG) Unib. Momentum puncak dies natalis ini diisi dengan orasi ilmiah yang menghadirkan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Republik Indonesia, Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, MS.



Menteri PPN/Bappenas Prof. Rachmat Pambudy, Wakil Gubernur Ir. Mian, Rektor Unib, Ketua Senat dan para Guru Besar disambut tari sekapur sirih ketika memasuki GSG Unib.(foto:hms1)
Rapat Senat Terbuka dibuka oleh Ketua Senat Universitas Bengkulu, Prof. Dr. Herawan Sauni, S.H, M.S, dan dihadiri anggota senat, para guru besar, pimpinan universitas dan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, serta ribuan mahasiswa. Turut hadir Wakil Gubernur Bengkulu Ir. H. Mian mewakili Gubernur Bengkulu, bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Bengkulu dan para mitra perbankan.
Sebelum orasi ilmiah, Rektor Unib Prof. Dr. Indra Cahyadinata, S.P, M.Si menyampaikan pidato bertajuk “Bersama Unib: Merajut Keunggulan Global dan Mengawal Asta Cita untuk Indonesia Emas.” Tema ini menegaskan komitmen Unib untuk terus tumbuh sebagai perguruan tinggi unggul, berdaya saing, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat, daerah, dan bangsa.



Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata menyampaikan pidato di hadapan Menteri PPN/Bappenas dan undangan yang hadir dalam rapat senat terbuka dies natalis ke-44 Unib.(foto:hms1)
Dalam paparannya, Rektor menjelaskan bahwa pada fase transformasi 2025–2029, Unib menunjukkan fondasi pertumbuhan yang semakin kuat. Peringkat nasional meningkat dari posisi 46 pada 2025 menjadi 37 pada 2026. Jumlah program studi bertambah dari 81 menjadi 88, dengan prodi terakreditasi A/Unggul naik dari 19 menjadi 29. Rasio dosen–mahasiswa juga semakin ideal, mencapai 1:22, bahkan di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) mencapai 1:10.
Daya tarik Unib terus meningkat, tercermin dari lonjakan jumlah peminat sebesar 44,4 persen, dari 28.981 menjadi 41.847. Kualitas lulusan turut menguat, ditandai dengan peningkatan IPK rata-rata menjadi 3,56–3,58 serta penurunan masa studi dari 4,48 menjadi 4,11 tahun. Pada 2025, mahasiswa Unib juga mencatatkan 154 prestasi, terdiri dari 17 tingkat internasional dan 101 tingkat nasional.
Di bidang sumber daya manusia dan riset, publikasi ilmiah meningkat signifikan dari 433 pada 2021 menjadi 2.364 pada 2025. Saat ini, Unib memiliki 937 dosen, dengan 302 dosen bergelar doktor dan 92 guru besar. Sementara itu, pada bidang pengabdian kepada masyarakat, dana yang terserap pada 2025 mencapai Rp5,32 miliar dengan 735 kegiatan.



Rektor Unib memberikan cindera mata berupa plakat institusi kepada Menteri PPN/Bappenas RI di hadapan ribuan undangan dan mahasiswa.(foto:hms1)
Dengan total anggaran universitas sebesar Rp490,8 miliar, didukung aset lahan seluas 1.078.441 meter persegi dan 204 bangunan, Unib memiliki modal kuat untuk mengembangkan konsep smart campus, green campus, dan kampus berdampak.
Rektor menegaskan bahwa arah pengembangan Unib disusun melalui peta jalan strategis bertahap: konsolidasi sistem pada 2026, akselerasi mutu pada 2027, ekspansi berdampak pada 2028, serta konsolidasi reputasi pada 2029. Untuk mendukung percepatan tersebut, sejumlah proyek strategis telah disiapkan.
Pada 2027, Unib menargetkan penguatan Rumah Sakit Pendidikan sebagai pusat pendidikan kedokteran dan layanan kesehatan berbasis riset. Rektor berharap dukungan pemerintah pusat dan daerah untuk pemenuhan kebutuhan operasional agar rumah sakit tersebut dapat berfungsi optimal.
“Terkait pemenuhan pendanaan operasional Rumah Sakit Pendidikan Unib ini, kami berharap dukungan dari Bapak Menteri PPN/Kepala Bappenas agar proposal yang telah diajukan dapat menjadi prioritas untuk direalisasikan, serta sinergi berkelanjutan dari Pemerintah Provinsi Bengkulu,” ujar Prof. Indra.



Menteri PPN/Bappenas Prof. Rachmat Pambudy juga memberikan cindera mata kepada Rektor Unib dan beliau mengaku bangga bisa berkunjung dan menyampaikan orasi ilmiah di Unib.(foto:hms1)
Selain itu, Unib juga merencanakan pembangunan Digital Learning Centre melalui skema SBSN dengan anggaran sekitar Rp273 miliar. Gedung tujuh lantai ini diproyeksikan menjadi pusat pembelajaran digital, kolaborasi, dan inovasi, sekaligus mendukung pengembangan ekosistem kecerdasan buatan berbasis IoT dan teknologi informasi di lingkungan kampus.
Melalui agenda Revitalisasi PTN 2027, Unib juga akan membangun Gedung Kuliah Laboratorium Terpadu dengan nilai sekitar Rp125 miliar. Di saat yang sama, penguatan Badan Usaha Milik Universitas terus didorong untuk meningkatkan kemandirian institusi serta mendorong hilirisasi potensi lokal menjadi nilai ekonomi dan sosial.
Komitmen terhadap keberlanjutan global turut ditegaskan melalui langkah menuju Times Higher Education Impact Rankings. Unib mengembangkan pengelolaan limbah berbasis zero waste melalui pendekatan LCDI-ITF, sebagai bagian dari dukungan terhadap agenda Low Carbon Development Indonesia.



Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Wakil Gubernur Bengkulu melakukan foto bersama dengan Ketua dan Anggota Senat Unib serta ribuan undangan dan mahasiswa yang hadir di acara orasi ilmiah.(foto:hms1)
“Keunggulan global yang kita rajut bukan hanya keunggulan akademik, tetapi juga keunggulan etika pembangunan—kampus yang inovatif, peduli lingkungan, dan berorientasi pada dampak berkelanjutan,” tegas Rektor.
Menutup pidatonya, Rektor menyampaikan apresiasi atas kehadiran Menteri PPN/Kepala Bappenas RI dalam momentum dies natalis ini. Ia menegaskan kesiapan Unib untuk berperan aktif dalam pembangunan nasional melalui penguatan sumber daya manusia, inovasi, hilirisasi, transformasi digital, dan agenda keberlanjutan menuju Indonesia Emas.
“Fondasi pertumbuhan Unib telah kuat. Tugas kita ke depan adalah memastikan setiap capaian tidak berhenti sebagai angka, melainkan terhubung dengan keberlanjutan, reputasi, dan dampak nyata. Dengan kebersamaan seluruh sivitas akademika dan para pemangku kepentingan, Unib akan terus melangkah menjadi kampus unggul, berdaya saing global dan berdampak,” tutup Prof. Indra. [Purna Herawan | Humas].