Kebijakan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, yang mendorong penerimaan mahasiswa baru Fakultas Kedokteran (FK) melalui skema beasiswa pemerintah daerah mendapat sambutan positif dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Bengkulu (Unib).

Dalam Siaran Pers Nomor 290/Sipers/VI/2026 yang disampaikan pada Kamis (11/6), Menteri Brian memberikan apresiasi terhadap skema penerimaan mahasiswa angkatan pertama Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Manado (Unima) yang menyediakan kuota khusus bagi 50 putra-putri daerah dengan pembiayaan penuh dari pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota di Sulawesi Utara.
Menurut Menteri Brian, model penerimaan tersebut tidak hanya membuka akses pendidikan kedokteran yang lebih luas bagi masyarakat daerah, tetapi juga menjadi salah satu solusi strategis dalam mengatasi persoalan distribusi tenaga dokter di Indonesia yang hingga kini masih belum merata.
“Kita memahami bahwa tantangan kesehatan Indonesia saat ini tidak semata-mata jumlah dokter, tetapi juga distribusi dokter untuk bertugas di daerah yang memang membutuhkan. Sungguh, saya bahagia bahwa selain membuka Fakultas Kedokteran, Unima juga memperluas akses mahasiswa baru dari setiap kota, kabupaten, dan provinsi. Ini adalah capaian luar biasa,” tegas Menteri Brian.
Lebih lanjut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) telah mempelajari serta menyebarluaskan model seleksi yang diterapkan FK Unima kepada berbagai fakultas kedokteran di Indonesia. Skema tersebut dinilai mampu memperkuat pemerataan layanan kesehatan melalui penyediaan dokter yang berasal dari daerah masing-masing dan berpotensi kembali mengabdi di wilayah asalnya setelah menyelesaikan pendidikan.
Mendiktisaintek juga menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia di sektor kesehatan merupakan investasi jangka panjang yang tidak dapat dihitung hanya dari aspek biaya. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dinilai menjadi langkah konkret dalam menjawab kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan yang berkualitas dan merata.
Melalui pengembangan fakultas kedokteran di berbagai daerah, Kemdiktisaintek berkomitmen untuk terus memperluas akses pendidikan kedokteran yang berkualitas sekaligus mendukung pemerataan tenaga dokter di seluruh Indonesia. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, rumah sakit mitra, dan masyarakat diharapkan dapat menjadi model pembangunan pendidikan kedokteran yang memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kualitas layanan kesehatan nasional.


Para mahasiswa Baru Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Bengkulu (FKIK Unib) tahun 2025 saat mengikuti pembekalan kehidupan kampus.(foto:ist/fkik-unib)
Menanggapi kebijakan tersebut, Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum FKIK Unib, Dr. dr. Enny Nugraheni Sulistyorini, M.Biomed, menyatakan bahwa skema penerimaan mahasiswa baru melalui beasiswa pemerintah daerah merupakan langkah yang sangat baik dan layak untuk terus dikembangkan, tentunya dengan tetap menjunjung tinggi prinsip seleksi yang terbuka, transparan, dan berintegritas.
“Skema seleksi mahasiswa baru melalui beasiswa pemerintah daerah itu sangat bagus dengan tetap memperhatikan proses seleksi yang terbuka dan berintegritas. Dulu di FKIK Unib juga begitu ketika baru pertama berdiri dan akan sangat baik jika model tersebut dilaksanakan secara berkelanjutan untuk memperluas akses mahasiswa baru dari setiap kota dan kabupaten,” ujarnya.
Dr. Enny menjelaskan bahwa ketika pertama kali menerima mahasiswa baru pada tahun 2009, FKIK Unib masih berstatus Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD). Status tersebut kemudian berkembang menjadi fakultas melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 75 Tahun 2013.
Pada periode awal penerimaan mahasiswa kedokteran Unib tahun 2009 hingga 2011, tercatat sebanyak 257 mahasiswa diterima melalui berbagai jalur, mulai dari jalur reguler SNMPTN dan SBMPTN, program Bidikmisi, hingga jalur kerja sama pemerintah daerah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 47 mahasiswa merupakan penerima beasiswa yang didanai oleh pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu.
Mahasiswa penerima beasiswa daerah tersebut berasal dari berbagai wilayah, yakni Kabupaten Lebong sebanyak 11 orang, Kabupaten Bengkulu Utara 12 orang, Kabupaten Kepahiang 3 orang, Kabupaten Bengkulu Tengah 6 orang, Kabupaten Kaur 7 orang, dan Kota Bengkulu 8 orang.

Menurut Dr. Enny, program tersebut telah menunjukkan hasil yang positif. Sebagian besar penerima beasiswa telah menyelesaikan pendidikan dokter, bahkan ada yang telah menempuh pendidikan dokter spesialis dan kembali mengabdi di daerah asal yang memberikan dukungan pembiayaan selama masa studi.
“Sebagian dari mereka sudah tamat, bahkan sudah menyelesaikan pendidikan dokter spesialis dan kembali ke daerah pemberi beasiswa. Karena itu, apabila skema beasiswa pemerintah daerah terus dilanjutkan dan diperkuat, tentu akan sangat baik bagi upaya pemerataan tenaga kesehatan di daerah. Kami menyambut baik dorongan kebijakan tersebut,” tutupnya.
Pengalaman FKIK Unib tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam penyediaan beasiswa pendidikan kedokteran bukan hanya membuka akses pendidikan bagi putra-putri daerah, tetapi juga menjadi investasi strategis untuk memenuhi kebutuhan tenaga dokter yang kompeten dan berkelanjutan di berbagai wilayah Provinsi Bengkulu. [Purna Herawan | Humas].