UNIVERSITAS BENGKULU

Universitas Bengkulu (Unib) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) bersama Badan Perencanaan Pembangunan dan Riset Daerah (Bapperida) Provinsi Bengkulu terus mendorong penguatan kapasitas pemerintah daerah dalam merancang pembangunan yang rendah karbon dan berketahanan terhadap perubahan iklim.

Pelatihan System Dynamics dan Modelling untuk Mendukung PRKBI di Bengkulu.(foto:hms1)

Upaya tersebut dilakukan melalui Pelatihan System Dynamics dan Modelling untuk Mendukung Perencanaan Daerah dan Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim (PRKBI) yang digelar di Hotel Grage, Kota Bengkulu, 21–24 September 2026.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari proyek Low Carbon Development Initiative (LCDI) Kementerian PPN/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Oxford Policy Management Limited (OPML). Pelatihan diikuti 35 peserta yang merupakan perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di tingkat Provinsi Bengkulu serta kabupaten/kota.

Para peserta merupakan aparatur yang memiliki tugas dan fungsi berkaitan dengan perencanaan pembangunan maupun isu pembangunan rendah karbon dan berketahanan iklim. Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya diperkenalkan pada konsep System Dynamics, tetapi juga dilatih menggunakan pendekatan tersebut untuk membaca persoalan pembangunan secara lebih menyeluruh dan merumuskan berbagai kemungkinan skenario kebijakan.

Tim Leader LCDI LPPM Unib, Dr. Yansen, mengatakan pelatihan tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas para pemangku kepentingan terkait PRKBI agar mampu mengimplementasikan pendekatan System Dynamics dalam penyusunan dokumen perencanaan pembangunan sekaligus menentukan strategi pencapaian tujuan PRKBI.

“Secara khusus, melalui pelatihan ini para peserta diharapkan dapat memahami peranan pendekatan System Dynamics dalam penyusunan dokumen PRKBI, memahami Causal Loop Diagram (CLD) terkait pembangunan rendah karbon, memahami Stock and Flow Diagram dalam model PRKBI Bengkulu, serta mampu melakukan simulasi dan interpretasi terhadap berbagai skenario pembangunan rendah karbon dengan model PRKBI Bengkulu,” jelas Dr. Yansen.

Selama empat hari, peserta mendapatkan materi yang memadukan pemahaman konseptual dengan praktik pemodelan. Materi mencakup Pemodelan Kebijakan Pembangunan Rendah Karbon Berketahanan Iklim, Systems Thinking and System Dynamics, prinsip-prinsip System Dynamics dan tahapan pemodelannya.

Peserta juga mengikuti praktik penggunaan perangkat lunak, mulai dari membangun Causal Loop Diagram (CLD), menyusun CLD menggunakan Powersim, membangun model pengelolaan sampah dan melakukan simulasi kebijakan pengelolaan sampah, hingga membangun model tutupan lahan dan emisi.

Selain itu, peserta dibekali kemampuan melakukan ekstraksi dan interpretasi hasil pemodelan serta mendapatkan tutorial penggunaan model Stella. Seluruh materi disampaikan melalui pendekatan praktik dan diskusi dengan dipandu para pemateri yang expert di bidangnya, yakni Dr. Yansen, Dr. Sukisno, Fauzan Ahmad, dan Nadia Nurul Utami.

Pelatihan System Dynamics dan Modelling untuk Mendukung PRKBI di Bengkulu.(foto:hms1)

Memperkuat Implementasi PRKBI Bengkulu

Dr. Yansen menjelaskan, pelatihan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat implementasi agenda PRKBI di Provinsi Bengkulu. Melalui program Inisiatif Pembangunan Rendah Karbon Fase 2 (LCDI 2), Provinsi Bengkulu telah mendapatkan dukungan untuk mengintegrasikan agenda PRKBI ke dalam berbagai dokumen perencanaan pembangunan, termasuk RPJMD, Renstra, dan RKPD OPD.

Provinsi Bengkulu juga telah memiliki Dokumen Rencana Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim (PRKBI) Tahun 2025–2045, yang diperkuat dengan terbitnya Peraturan Gubernur Bengkulu Nomor 36 Tahun 2025.

Menurutnya, keberhasilan pencapaian target PRKBI tidak hanya ditentukan oleh tersusunnya dokumen perencanaan, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah daerah memahami keterkaitan berbagai faktor yang memengaruhi pencapaian target tersebut.

Persoalan PRKBI, lanjut Dr. Yansen, merupakan persoalan yang kompleks karena melibatkan banyak sektor, variabel, kepentingan, serta perubahan kondisi dari waktu ke waktu. Karena itu, dibutuhkan pendekatan yang mampu melihat persoalan secara utuh, tidak hanya berdasarkan satu variabel atau sektor tertentu.

“Pendekatan System Dynamics dapat membantu melihat hubungan antarkomponen dalam suatu sistem secara menyeluruh, termasuk bagaimana perubahan pada satu variabel dapat memengaruhi variabel lainnya dan pada akhirnya memengaruhi pencapaian tujuan pembangunan,” jelasnya.

Pelatihan System Dynamics dan Modelling untuk Mendukung PRKBI di Bengkulu.(foto:hms1)

Dari Identifikasi Masalah hingga Simulasi Kebijakan

Dr. Yansen menjelaskan, penyusunan dokumen PRKBI dengan pendekatan System Dynamics dilakukan melalui sejumlah tahapan yang saling berkaitan. Proses diawali dengan menentukan tujuan sistem dan kebutuhan yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan tersebut. Selanjutnya dilakukan perumusan masalah berdasarkan hasil kajian, brainstorming, serta diskusi dengan para pemangku kepentingan dan pakar.

Tahap berikutnya adalah identifikasi sistem melalui pemetaan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap persoalan yang dikaji. Hubungan antarfaktor tersebut kemudian dituangkan dalam Causal Loop Diagram (CLD) untuk menggambarkan hubungan sebab-akibat sekaligus menentukan batas sistem yang akan dianalisis.

Setelah struktur hubungan antarfaktor terbentuk, analisis dilanjutkan dengan penyusunan Stock and Flow Diagram. Struktur ini memungkinkan berbagai data dimasukkan ke dalam model sehingga perilaku sistem dapat disimulasikan dari waktu ke waktu.

“Dengan pemodelan tersebut, kita tidak hanya melihat kondisi saat ini, tetapi juga dapat mengeksplorasi bagaimana sistem berperilaku ketika diberikan intervensi atau kebijakan tertentu,” terang Dr. Yansen.

Model yang telah dibangun selanjutnya perlu melalui proses validasi untuk memastikan bahwa model dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hasil simulasi kemudian dievaluasi dengan membandingkannya dengan kondisi atau keluaran yang diharapkan.

Tahapan berikutnya dapat dilakukan melalui pengujian sensitivitas serta analisis terhadap berbagai skenario kebijakan. Dengan cara ini, pemerintah daerah dapat memperoleh gambaran mengenai kemungkinan dampak dari suatu kebijakan sebelum kebijakan tersebut diimplementasikan.

Pelatihan System Dynamics dan Modelling untuk Mendukung PRKBI di Bengkulu.(foto:hms1)

Membangun Kapasitas untuk Pembangunan Berkelanjutan

Menurut Dr. Yansen, penguasaan System Dynamics oleh para pemangku kepentingan menjadi semakin penting seiring dengan kebutuhan pemerintah daerah untuk menyusun perencanaan pembangunan yang lebih terintegrasi dan berbasis bukti.

Peningkatan kapasitas tersebut diharapkan tidak berhenti pada kemampuan teknis menggunakan perangkat lunak pemodelan, tetapi juga membangun cara berpikir sistemik dalam melihat persoalan pembangunan.

Terbitnya Peraturan Gubernur Bengkulu Nomor 36 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim Tahun 2025–2045 menjadi salah satu landasan penting bagi penguatan agenda tersebut di Provinsi Bengkulu.

Karena itu, pelatihan System Dynamics ini diharapkan menjadi bagian dari proses memperkuat kapasitas pemerintah daerah dalam menerjemahkan dokumen PRKBI ke dalam strategi dan kebijakan pembangunan yang lebih terukur, terintegrasi, dan adaptif terhadap perubahan.

Kolaborasi LPPM Unib dan Bapperida, dengan dukungan LCDI Bappenas dan OPML, sekaligus menunjukkan peran perguruan tinggi dalam mendukung pemerintah daerah menghadirkan pendekatan berbasis pengetahuan dan pemodelan dalam proses perencanaan pembangunan. Dengan kapasitas sumber daya manusia yang semakin kuat dan didukung pendekatan pemodelan yang tepat, agenda PRKBI diharapkan dapat diimplementasikan secara lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan. [Purna Herawan | Humas].