Di tengah suasana khidmat Rapat Senat Terbuka Dies Natalis ke-44 Universitas Bengkulu (Unib), sebuah momen ringan tiba-tiba mencairkan ruangan. Ribuan sivitas akademika yang memadati Gedung Serba Guna (GSG) Unib tak hanya disuguhi gagasan besar tentang pembangunan dan masa depan, tetapi juga cerita sederhana, yang justru membekas.



Menteri PPN/Kepala Bappenas RI, Prof. Rachmat Pambudy tertawa lepas dan penuh kehangatan saat menyampaikan Orasi Ilmiah di Rapat Senat Terbuka Dies Natalis Ke-44 Unib.(foto:hms1)
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas RI, Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, MS, menyelipkan kisah pribadi di sela orasi ilmiahnya. Kisah yang awalnya terdengar sepele, namun mengundang tawa sekaligus harapan.
Cerita itu muncul sebagai respons atas harapan Rektor Unib, Prof. Dr. Indra Cahyadinata, SP, M.Si, yang sebelumnya menginginkan agar Menteri PPN/Kepala Bappenas lebih sering berkunjung dan memberi perhatian pada pembangunan di Provinsi Bengkulu, termasuk optimalisasi Rumah Sakit Pendidikan Unib.
Namun alih-alih langsung menjawab secara formal, Prof. Rachmat memilih cara yang lebih hangat: bercerita.
Dari Kunjungan Pertama, Tersimpan Cerita Tak Terduga
Ia mengawali dengan kesan pertamanya tentang Bengkulu, sebuah daerah yang menurutnya tidak sekadar hadir sebagai titik geografis. “Saya amati Bengkulu bukan hanya titik di peta. Ia adalah ruang yang ditempa oleh alam, samudera, dan sejarah perjuangan,” ujarnya.
Kunjungan tersebut menjadi pengalaman perdana baginya, termasuk bagi sang istri. Salah satu destinasi yang mereka kunjungi adalah rumah pengasingan Bung Karno di Bengkulu, sebuah situs bersejarah yang sarat makna.



Menteri PPN/Kepala Bappenas RI Prof. Rachmat Pambudy saat bertukar cindera mata dengan Rektor Unib.(hms1)
Di sanalah cerita itu bermula. “Istri saya sempat membasuh muka di sumur rumah Bung Karno dan Ibu Fatmawati,” tuturnya, dengan nada santai.
Namun setelah itu, kejadian tak terduga terjadi. “Setelah itu, ketika hendak membuka koper pakaian, ternyata koper istri saya tidak bisa dibuka,” katanya.
Sejenak ruangan hening, sebelum ia melanjutkan. “Akhirnya kami terpaksa membeli baju di Kota Bengkulu,” tambahnya.
Lalu ia melemparkan pertanyaan yang spontan sekaligus jenaka: “Apakah ini pertanda alam ya… kalau kami harus sering-sering datang kembali ke Bengkulu?”
Seketika, ruangan pecah oleh gelak tawa. Suasana formal berubah hangat, penuh keakraban.


Istri Prof. Rachmat Pambudy, Ninuk Mardiana Estilistiati Pambudy, M.Hum, didampingi istri Prof. Indra Cahyadinata, Dr. Gushevinalti, S.Sos, M.Si atau Gushevinalti Cahyadinata, saat menghadiri Orasi Ilmiah dalam rangka dies natalis ke-44 Unib. (foto:hms1)
Di Balik Canda, Terselip Harapan
Meski disampaikan dengan nada ringan, cerita tersebut seperti membawa pesan tersirat. Bahwa kunjungan pertama ini bukanlah yang terakhir.
Di balik tawa, ada harapan yang menguat, bahwa perhatian pemerintah pusat terhadap Bengkulu, khususnya melalui Kementerian PPN/Bappenas, akan semakin nyata.
Harapan itu sejalan dengan rencana strategis pembangunan Rumah Sakit Pendidikan Universitas Bengkulu yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2027. Kehadiran rumah sakit ini tidak hanya penting bagi penguatan pendidikan dan praktik mahasiswa Fakultas Kedokteran, tetapi juga menjadi tumpuan peningkatan layanan kesehatan masyarakat di Provinsi Bengkulu. Dengan posisi strategis tersebut, dukungan kebijakan dan perencanaan dari Bappenas menjadi kunci.
Apa yang disampaikan Prof. Rachmat mungkin berawal dari hal sederhana, sebuah koper yang tak bisa dibuka. Namun dalam konteks yang lebih luas, cerita itu menjadi simbol kedekatan, keterhubungan, dan mungkin juga komitmen yang sedang tumbuh. Bahwa dari kunjungan pertama yang penuh kesan, bisa lahir perhatian yang lebih besar ke depan.
Dan bagi sivitas akademika Unib, momen itu bukan sekadar selingan dalam orasi ilmiah. Ia menjadi pengingat bahwa dalam setiap peristiwa kecil, kadang tersimpan pertanda besar, tentang kolaborasi, tentang masa depan, dan tentang harapan yang terus dirawat dari Bengkulu untuk Indonesia. [Purna Herawan | Humas].