Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Bengkulu (Unib) kembali memperkuat atmosfer akademik bertaraf internasional melalui penyelenggaraan The 2nd Basic and Applied Sciences International Symposium of Tropical and Coastal Research (BASISTORA 2026). Forum ilmiah ini menjadi ruang pertemuan para akademisi, peneliti, mahasiswa, dan profesional dari berbagai negara untuk bertukar pengetahuan sekaligus membangun jejaring kolaborasi dalam pengembangan ilmu dasar dan terapan.



Rektor dan para Wakil Rektor serta Dekan FMIPA Unib bersama-sama memukul dol sebagai simbolis pembukaan simposium dan memotong tumpeng sebagai peringatan HUT ke-27 FMIPA Unib.(foto:hms1)
Mengusung tema “Global Excellence and Competitiveness in Mathematics, Natural Sciences, and Health: Advancing Knowledge and Technology” atau Keunggulan dan Daya Saing Global dalam Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Kesehatan: Memajukan Pengetahuan dan Teknologi, BASISTORA 2026 menghadirkan para pembicara dan peserta dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri.
Simposium internasional yang diselenggarakan secara hybrid, baik luring maupun daring melalui aplikasi Zoom tersebut, resmi dibuka oleh Rektor Unib Prof. Dr. Indra Cahyadinata, S.P, M.Si, di Ruang Rapat Utama Gedung Layanan Terpadu (GLT) Unib, Senin (10/8/2026). Kegiatan ini menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
Pembukaan BASISTORA 2026 berlangsung semarak. Secara simbolis, Rektor Unib bersama sejumlah pimpinan universitas melakukan pemukulan dol sebagai tanda dimulainya rangkaian kegiatan. Pembukaan kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-27 FMIPA Unib. Acara tersebut turut dihadiri para Wakil Rektor Unib, pimpinan lembaga, para Wakil Dekan, serta sejumlah tamu undangan.
Memperluas Jejaring Akademik Internasional
Ketua Panitia BASISTORA 2026, Dr. Devi Ratnawati, S.Pd, M.Si, mengatakan penyelenggaraan simposium internasional tersebut merupakan bagian dari upaya FMIPA Unib memperluas jejaring akademik sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi pertukaran pengetahuan dan kolaborasi penelitian lintas negara.
BASISTORA 2026 diselenggarakan bersamaan dengan 2nd Students Conference and Competition (Konferensi dan Kompetisi Mahasiswa ASIAN ke-2/ASCC 2026) yang diorganisasi oleh FMIPA Unib.



Ketua Panitia Dr. Devi Ratnawati saat menyampaikan laporan dan para peserta sangat antusias mengikuti rangkaian simposium internasional ini.(foto:hms1)
“Kami sangat beruntung dapat menghadirkan para pembicara utama dari lembaga-lembaga ternama dunia dan kami juga sangat menghargai kontribusi dari para pembicara undangan yang berasal dari berbagai universitas mitra di luar negeri,” ujar Dr. Devi.
Para keynote speakers dan invited speakers BASISTORA 2026 berasal dari Taiwan, Thailand, Singapura, Malaysia, Kanada, Rwanda, Jepang, dan India. Kehadiran para akademisi dari berbagai negara tersebut memperlihatkan semakin terbukanya ruang kolaborasi internasional yang dapat dikembangkan Unib, khususnya dalam bidang matematika, ilmu pengetahuan alam, kesehatan, dan teknologi.
Sejumlah pembicara hadir secara langsung di GLT Unib, di antaranya Dr. Norhidayah Abd Manan dari Institute of Tropical Aquaculture and Fisheries (AKUATROP), Universiti Malaysia Terengganu, Malaysia, serta Assoc. Prof. Dr. Sitisaiyidah Saiwari dari Department of Rubber Technology and Polymer Science, Faculty of Science and Technology, Prince of Songkla University, Thailand.
Sementara itu, pembicara utama dan pembicara undangan lainnya bergabung secara daring. Mereka antara lain Dr. Fatima Mraiche dari Department of Pharmacology, Faculty of Medicine and Dentistry, University of Alberta, Kanada; Prof. Chun-Chen Yang dari Department of Chemical Engineering, Ming Chi University of Technology, Taiwan; Martianus F. Ezerman, Ph.D, dari Division of Mathematical Sciences, School of Physical and Mathematical Sciences, Nanyang Technological University, Singapura; serta Prof. Kanakuze A. Chris dari East African Christian College (EACC), Rwanda.
Pada sesi paralel, hadir pula secara daring Dr. Philip Anggo Krisbiantoro dari Department of Applied Chemistry, Graduate School of Engineering, Tohoku University, Jepang; Dr. Deepika Rani dari Department of Mathematics, Dr. B. R. Ambedkar National Institute of Technology Jalandhar, India; serta Dr. Rudy Hermawan dari Department of Microbiology, University of Toyama, Jepang.



Foto bersama Rektor Unib dan para Wakil Rektor, Ketua Lembaga, Dekan, pembicara dan panitia simposium.(hms1)
Menurut Dr. Devi, BASISTORA 2026 diikuti 163 peserta yang telah terdaftar. Sebanyak 71 peserta hadir secara tatap muka di GLT Unib, sedangkan 92 peserta lainnya mengikuti kegiatan secara daring dari berbagai wilayah dan negara.
Peserta tidak hanya berasal dari lingkungan Unib, tetapi juga dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia dan luar negeri, antara lain Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Jambi, Universitas Palangka Raya, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Universitas Mulawarman, Institut Teknologi Sumatera, Universitas Borneo Tarakan, Universitas Pendidikan Indonesia, Kaohsiung Medical University Taiwan, dan Yala Rajabhat University Thailand.
“Para peserta mencerminkan komitmen bersama kita untuk memajukan penelitian ilmiah dan memperkuat jaringan akademik internasional,” kata Dr. Devi.
Ia mengajak seluruh penyaji memanfaatkan forum tersebut tidak sekadar sebagai ruang untuk mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga sebagai kesempatan untuk berdiskusi, memperoleh umpan balik konstruktif, serta menjajaki peluang kolaborasi penelitian di masa mendatang.
“Saya sungguh percaya bahwa diskusi hari ini akan menghasilkan ide-ide inovatif dan memperkuat kolaborasi internasional di bidang matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu kesehatan, dan teknologi demi kepentingan masyarakat,” paparnya.
Ilmu Dasar dan Terapan Menjawab Tantangan Global
Dekan FMIPA Unib Prof. Dr. Sal Primayudha S, S.Si, M.Si, menegaskan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung sangat cepat. Di tengah perubahan tersebut, dunia menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari keberlanjutan lingkungan, kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, energi, hingga perubahan iklim.



Dekan FMIPA Unib Prof. Sal Primayudha saat menyampaikan sambutan.(foto:hms1)
Menurutnya, persoalan-persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu maupun satu lembaga. Diperlukan kolaborasi, inovasi, dan pertukaran gagasan yang melampaui batas keilmuan dan geografis.
“Oleh karena itu, BASISTORA diselenggarakan tidak hanya sebagai konferensi akademik, tetapi juga sebagai platform untuk menghubungkan para peneliti, pendidik, profesional, dan mahasiswa dari berbagai negara untuk berbagi pengetahuan, menginspirasi inovasi, dan membangun kolaborasi yang bermakna untuk masa depan,” ujarnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan posisi ilmu dasar dan ilmu terapan yang menjadi fondasi penting dalam menjawab berbagai persoalan kehidupan. Ilmu dasar memberikan pemahaman terhadap prinsip-prinsip fundamental yang mengatur berbagai fenomena alam, sedangkan ilmu terapan menerjemahkan pengetahuan tersebut menjadi inovasi dan solusi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, kawasan tropis dan pesisir memiliki posisi yang sangat strategis. Wilayah ini merupakan rumah bagi keanekaragaman hayati yang luar biasa, menyimpan sumber daya alam yang melimpah, sekaligus memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan sistem bumi.
Namun, kawasan tropis dan pesisir juga menghadapi tekanan yang semakin besar akibat perubahan iklim, degradasi ekosistem, penurunan keanekaragaman hayati, serta meningkatnya tekanan terhadap keberlanjutan sumber daya alam.
Kondisi tersebut membutuhkan penelitian yang tidak hanya kuat secara fundamental, tetapi juga mampu menghasilkan solusi aplikatif melalui pendekatan multidisiplin dan transdisiplin.
Bengkulu sebagai Living Laboratory Riset Tropis dan Pesisir
Rektor Unib Prof. Dr. Indra Cahyadinata, S.P, M.Si, mengapresiasi penyelenggaraan BASISTORA 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat peran Unib dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan jejaring akademik internasional.



Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata menyampaikan sambutan dan mengapresiasi simposium BASISTORA.(hms1)
Ia menyampaikan selamat datang dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh peserta, khususnya para keynote speakers dan invited speakers yang telah berkenan hadir serta berbagi pengetahuan dalam forum ilmiah internasional tersebut.
Menurut Prof. Indra, kehadiran ilmuwan, peneliti, dan akademisi dari berbagai negara merupakan kehormatan besar bagi Unib. Forum tersebut sekaligus membuktikan bahwa ilmu pengetahuan memiliki karakter universal yang mampu melampaui batas geografis, budaya, maupun institusi.
“Melalui pertemuan ilmiah seperti ini, kita membangun ruang bersama untuk bertukar gagasan, memperkuat jejaring akademik, serta menciptakan kolaborasi yang mampu menjawab berbagai tantangan global,” ujarnya.
Lebih jauh, Rektor menjelaskan bahwa sepanjang perjalanan peradaban manusia, ilmu-ilmu dasar selalu menjadi fondasi utama bagi kemajuan. Melalui basic sciences, manusia dapat memahami prinsip-prinsip fundamental yang mengatur berbagai fenomena alam. Sementara itu, applied sciences menerjemahkan pemahaman tersebut menjadi berbagai inovasi di bidang lingkungan, kesehatan, energi, teknologi, pembangunan berkelanjutan, serta pengelolaan kawasan tropis dan pesisir.
Dalam konteks inilah, kawasan tropis dan pesisir menjadi salah satu wilayah yang memiliki nilai strategis dalam pengembangan penelitian global.
Bagi Unib, posisi geografis Bengkulu yang berada di kawasan tropis dan memiliki garis pantai yang panjang merupakan modal akademik yang sangat berharga. Kekayaan lingkungan tersebut dapat menjadi living laboratory bagi pengembangan penelitian fundamental maupun terapan, khususnya yang berkaitan dengan ekosistem tropis, pesisir, biodiversitas, pangan, kesehatan, lingkungan, serta teknologi berkelanjutan.
“Kami meyakini bahwa universitas memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga berperan aktif dalam menjawab persoalan global melalui riset yang inovatif, kolaboratif, dan berorientasi pada keberlanjutan,” tegas Prof. Indra.



Dua keynote speakers Dr. Norhidayah Abd Manan dan Dr. Sitisaiyidah Saiwari saat menyampaikan materi secara langsung di ruang utama GLT Unib.(foto:hms1)
Karena itu, BASISTORA 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai forum pertukaran gagasan ilmiah, tetapi berkembang menjadi pintu masuk bagi lahirnya kolaborasi penelitian yang lebih konkret. Jejaring yang terbentuk melalui pertemuan tersebut diharapkan dapat memperkuat kerja sama antara Unib dan perguruan tinggi maupun lembaga penelitian di berbagai negara.
“Melalui BASISTORA 2026, kita berharap lahir berbagai gagasan ilmiah, penguatan jejaring penelitian internasional, serta kolaborasi strategis yang mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya dalam memahami serta menjaga keberlanjutan kawasan tropis dan pesisir,” ungkapnya.
Prof. Indra juga berharap setiap diskusi, pertukaran ilmu, dan kolaborasi yang terbangun dalam BASISTORA 2026 menjadi bagian dari perjalanan panjang ilmu pengetahuan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.
“Semoga setiap diskusi, pertukaran ilmu, dan kolaborasi yang terbangun dalam forum ini menjadi bagian dari perjalanan panjang ilmu pengetahuan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Kami juga mengucapkan selamat ulang tahun ke-27 untuk FMIPA Unib. Semoga semakin unggul sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian yang berdampak bagi masyarakat,” tutupnya.
Dari Kecerdasan Buatan hingga Teknologi Energi Masa Depan
Ragam topik yang disajikan dalam BASISTORA 2026 memperlihatkan luasnya spektrum ilmu dasar dan terapan yang menjadi perhatian para akademisi internasional.
Dalam sesi utama yang disiarkan secara live streaming melalui akun YouTube FMIPA Unib, Dr. Fatima Mraiche membahas “Artificial Intelligence in Education: From Evidence to Educational Innovation”, yang mengangkat perkembangan kecerdasan buatan dan potensinya dalam mendorong inovasi pendidikan berbasis bukti.






Para Pembicara Utama saat menyampaikan materi secara daring via aplikasi Zoom.(foto:hms1)
Sementara itu, Dr. Norhidayah Abd Manan memaparkan “Aquaponic Technology: A Sustainable Approach to Modern Aquaculture”, yang mengulas teknologi akuaponik sebagai pendekatan berkelanjutan dalam pengembangan akuakultur modern.
Topik pengelolaan lingkungan juga menjadi perhatian melalui paparan Dr. Sitisaiyidah Saiwari mengenai “Rubber Waste Management”. Dari bidang teknologi energi dan kendaraan masa depan, Prof. Chun-Chen Yang menyajikan materi “Molten-Salt Method Prepares High-Performance Ultrahigh Ni-rich Single-Crystalline NCM Cathodes for the Next Generation EVs”.
Adapun Martianus F. Ezerman, Ph.D, membahas isu keamanan teknologi digital masa depan melalui materi “Post-Quantum Cryptography: Algorithms and Standards”.
Keragaman tema menunjukkan bahwa BASISTORA 2026 tidak hanya mempertemukan berbagai disiplin ilmu, tetapi juga mempertemukan beragam perspektif untuk menjawab tantangan yang dihadapi masyarakat dan dunia. Dari ruang kelas hingga ekosistem pesisir, dari akuakultur berkelanjutan hingga teknologi kendaraan listrik dan keamanan digital, ilmu dasar dan terapan dipertemukan dalam satu ruang akademik untuk mendorong lahirnya pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi yang berdampak. [Purna Herawan | Humas].