UNIVERSITAS BENGKULU

Universitas Bengkulu (Unib) terus memperkuat wawasan dan kapasitas sivitas akademika dalam menghadapi perubahan pendidikan tinggi yang semakin dinamis. Salah satunya melalui kegiatan lecture series yang menghadirkan akademisi internasional untuk berbagi gagasan dan pengalaman tentang kepemimpinan serta manajemen pendidikan tinggi.

Dekan FKIP Unib Abudl Rahman, Ph.D saat membuka acara dan menyampaikan sambutan.(foto:ist-fkip)

Upaya tersebut salah satunya dilakukan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unib dengan menggelar pelatihan bertajuk Management and Leadership in Higher Education di Aula Bukit Daun, Gedung Kuliah Bersama (GKB) 3 FKIP Unib, Senin, 21 September 2026.

Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian Lecture Series FKIP Unib 2026 tersebut menghadirkan Prof. Hamish Coates, akademisi asal Australia yang saat ini berkiprah di Institute of Education, Tsinghua University.

Kuliah umum ini dimoderatori oleh Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unib, Perti Rosanda, M.Pd. Kegiatan diikuti sejumlah pimpinan fakultas, dosen, serta sivitas akademika Unib yang memiliki perhatian terhadap pengembangan tata kelola dan mutu pendidikan tinggi.

Kegiatan dibuka oleh Dekan FKIP Unib Abdul Rahman, Ph.D. Turut hadir Wakil Dekan I Bidang Akademik FKIP Unib Prof. Dr. Iwan Setiawan, S.Si, M.Sc, Wakil Dekan I Bidang Akademik Fakultas Teknik Unib Helimzar, S.T, M.T, Ph.D, Plt. Kepala Biro Akademik dan Kemahasiswaan Rektorat Unib Andi Yudi Prayoga, S.Kom, M.M, serta perwakilan dosen dari FISIP dan Fakultas Pertanian Unib.

Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Perti Rosanda, M.Pd, memandu kuliah umum dan diskusi.(foto:ist-fkip)

Dalam sambutannya, Abdul Rahman menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran akademisi dengan pengalaman internasional menjadi kesempatan penting bagi sivitas akademika Unib untuk memperoleh perspektif baru mengenai perkembangan pendidikan tinggi global.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Prof. Hamish Coates yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan berbagi pengetahuan serta pengalaman dengan sivitas akademika Unib.

“Semoga kegiatan ini dapat menambah informasi dan memperluas wawasan kita semua, serta meningkatkan kerja sama dan kolaborasi internasional FKIP Unib dengan universitas mitra di luar negeri,” ujar Abdul Rahman.

Asesmen di Tengah Perkembangan AI

Dalam paparannya, Prof. Hamish Coates mengangkat salah satu tantangan besar yang kini dihadapi pendidikan tinggi, yakni bagaimana memastikan asesmen benar-benar mampu menggambarkan kompetensi peserta didik di tengah perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Ia menyoroti semakin sulitnya memastikan keaslian hasil pekerjaan mahasiswa ketika teknologi AI dapat digunakan untuk membantu menghasilkan berbagai bentuk tugas akademik. Dalam konteks tersebut, ia menyampaikan pandangan bahwa hingga 80 persen hasil asesmen saat ini berpotensi menjadi fake result, dalam arti tidak sepenuhnya merepresentasikan kemampuan asli peserta didik karena adanya penggunaan AI.

Akademisi asal Australia Prof. Hamish Coates, memaparkan tentang kepemimpinan dan manajemen pendidikan tinggi di era AI di hadapan sivitas akademika FKIP Unib.(foto:ist-fkip)

Gagasan tersebut mengajak perguruan tinggi untuk tidak sekadar mempertahankan pola asesmen yang berorientasi pada produk akhir, tetapi mulai merancang sistem penilaian yang dapat membuktikan kompetensi secara lebih autentik.

Menurut Prof. Coates, perkembangan AI tidak semestinya hanya dipandang sebagai ancaman bagi proses pembelajaran. Sebaliknya, perubahan teknologi tersebut perlu menjadi momentum bagi perguruan tinggi untuk mengevaluasi kembali desain pembelajaran, metode asesmen, sekaligus cara mengukur keberhasilan pendidikan.

Ia juga mengajak peserta membayangkan model pendidikan tinggi yang pada masa mendatang semakin berorientasi pada penguasaan kompetensi, bukan semata-mata pada lamanya seseorang menempuh studi. “Bukan lagi by time, tetapi by assessment,” paparnya.

Sebagai ilustrasi, Prof. Coates mengajak peserta membayangkan seorang mahasiswa yang ketika memasuki Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) sebenarnya telah menguasai seluruh capaian pembelajaran lulusan. Dalam perspektif berbasis kompetensi, kemampuan tersebut dapat menjadi dasar untuk memperoleh pengakuan kualifikasi melalui asesmen yang sah dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Gagasan tersebut menunjukkan bahwa perubahan teknologi juga mendorong perguruan tinggi untuk memikirkan kembali hubungan antara proses belajar, waktu studi, asesmen, dan pengakuan kompetensi.

Para Dosen FKIP Unib antusias mengikuti kuliah umum dari Prof. Hamish Coates dan kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama.(foto:ist-fkip)

Perkuat Integritas Akademik

Menanggapi gagasan tersebut, Dekan FKIP Unib Abdul Rahman memandang penguatan integritas akademik sebagai bagian penting yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan pendidikan tinggi di era AI.

Menurutnya, pemanfaatan AI dalam pembelajaran perlu diiringi dengan rancangan pembelajaran dan asesmen yang transparan, bertanggung jawab, serta mampu memastikan bahwa karya yang dihasilkan mahasiswa benar-benar mencerminkan kompetensi yang dimilikinya.

Dengan demikian, teknologi tidak hanya menjadi alat bantu dalam proses pembelajaran, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi pendidikan yang tetap menempatkan integritas akademik, kualitas pembelajaran, dan pencapaian kompetensi sebagai pijakan utama.

Kegiatan lecture series tersebut sekaligus menjadi ruang bagi sivitas akademika Unib untuk mendiskusikan tantangan dan peluang pendidikan tinggi ke depan. Pertukaran gagasan dengan akademisi internasional diharapkan dapat memperkaya perspektif sekaligus mendorong FKIP Unib terus beradaptasi dan berinovasi dalam menjawab perubahan lanskap pendidikan tinggi global. [Laporan: Rio Kurniawan | Editor: Purna Herawan | Humas].