Universitas Bengkulu (Unib) terus memperkuat atmosfer akademik internasional sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan mahasiswa dan mendorong pengembangan ilmu pengetahuan yang responsif terhadap isu-isu global. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan Fakultas Hukum (FH) Unib melalui penyelenggaraan dua seminar internasional yang mengangkat isu strategis mengenai keadilan, masyarakat demokratis, perkembangan teknologi informasi, serta masa depan hukum perubahan iklim.




Ahli hukum dari tiga negara berbagi pandangan tentang penguatan keadilan dan pembangunan masyarakat demokratis pada seminar internasional Fakultas Hukum Unib.(foto:Adrian)
Dua forum akademik tersebut diselenggarakan oleh Program Studi Doktor Ilmu Hukum dan Program Studi Magister Ilmu Hukum FH Unib dalam satu rangkaian kegiatan. Meskipun mengusung tema yang berbeda, keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni menghadirkan ruang akademik internasional bagi mahasiswa untuk memperkaya perspektif, bertukar gagasan, serta memahami perkembangan hukum dari berbagai sudut pandang nasional dan global.
Seminar internasional pertama bertajuk “Strengthening Justice, Building Democratic Societies” diselenggarakan Program Studi Doktor Ilmu Hukum di Ruang Internasional 1 Gedung Dekanat FH Unib, Selasa (15/9/2026). Sementara itu, seminar kedua bertajuk “The Future of Climate Change Law” dengan tagline “Together for a Greener Future” digelar Program Studi Magister Ilmu Hukum di Ruang Rapat Utama Gedung Layanan Terpadu (GLT) Unib, Rabu (16/9/2026).
Pada seminar pertama, FH Unib menghadirkan tiga akademisi dari dalam dan luar negeri. Mereka adalah Prof. Dr. Shidarta, S.H, M.Hum, Guru Besar Binus University, Indonesia; serta Assoc. Prof. Wan Mohd. Zulhafiz Bin Wan Zahari dari International Islamic University Malaysia yang hadir secara luring. Sementara itu, Prof. Dr. Mohammad Towhidul Islam, Guru Besar University of Dhaka, Bangladesh, bergabung secara virtual melalui aplikasi Zoom.



Wakil Rektor IV Unib Prof. Ashar Muda Lubis, Dekan FH Unib Dr. Yamani dan Ketua Program Doktor FH Unib Prof. Herlambang memberikan cindera mata dan sertifikat penghargaan kepada para narasumber.(foto:Adrian)
Forum yang membahas penguatan keadilan dan pembangunan masyarakat demokratis di tengah perkembangan teknologi informasi dan digitalisasi tersebut berlangsung interaktif. Para pembicara berbagi perspektif mengenai dinamika hukum dan masyarakat di era digital, sekaligus membuka ruang dialog dengan mahasiswa dan peserta seminar.
Diskusi dipandu Dosen FH Unib, Ari Wirya Dinata, S.H, M.H, dan disiarkan secara langsung melalui akun YouTube FH Unib TV sehingga dapat diikuti oleh peserta dari luar lingkungan kampus.
Sehari berikutnya, atmosfer akademik internasional kembali hadir melalui seminar “The Future of Climate Change Law”. Seminar ini menghadirkan empat pembicara yang memberikan perspektif dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura mengenai perkembangan dan masa depan hukum perubahan iklim.
Hadir secara langsung, Prof. Dr. M.R. Andri Gunawan Wibisana, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), dan Assoc. Prof. Wan Mohd. Zulhafiz Bin Wan Zahari dari International Islamic University Malaysia. Sementara itu, Pradipha Suwanrat, LL.M, dari Thaksin University, Thailand, serta Rumana Yasmin Ferdousi, LL.M, MPA, dari National University of Singapore, menyampaikan pemaparannya secara virtual melalui Zoom.



Ahli Hukum dari empat negara menjelaskan tentang masa depan hukum perubahan iklim dalam seminar internasional Fakultas Hukum Unib.(foto:Adrian/hms1)
Mengusung semangat “Together for a Greener Future”, seminar tersebut menjadi ruang akademik untuk mendiskusikan tantangan perubahan iklim sekaligus melihat bagaimana hukum dapat berperan dalam merespons persoalan lingkungan yang semakin kompleks. Kehadiran akademisi dari sejumlah negara juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa FH Unib untuk mengenal perspektif dan pendekatan hukum yang berkembang di berbagai yurisdiksi.
Seminar yang dipandu Dosen FH Unib, Dr. Ema Septaria, tersebut berlangsung interaktif dengan adanya sesi diskusi dan pertukaran pandangan antara narasumber dan peserta. Kegiatan juga disiarkan secara langsung melalui akun YouTube FH Unib TV, sehingga jangkauan forum akademik tersebut tidak terbatas pada peserta yang hadir secara langsung.
Dekan FH Unib, Dr. M. Yamani, S.H, M.Hum, mengatakan, penyelenggaraan seminar internasional tersebut merupakan bagian dari implementasi komitmen kerja sama, kolaborasi, dan sinergisitas program yang terus dibangun FH Unib bersama perguruan tinggi mitra, baik di dalam maupun luar negeri.



Dekan FH Unib Dr. Yamani saat menyampaikan sambutan dan tampak puluhan mahasiswa sangat antusias mengikuti seminar internasional.(foto:Adrian/hms1)
Menurutnya, kegiatan akademik internasional tidak hanya memberikan pengayaan pengetahuan bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi sarana untuk memperluas jejaring akademik sekaligus meningkatkan kapasitas dan kiprah FH Unib di tingkat nasional maupun global.
“Kami mengapresiasi Program Pascasarjana Ilmu Hukum, baik Program Doktor maupun Magister, yang telah menginisiasi dan bergerak bersama dalam menyukseskan aktivitas akademik internasional ini. Kami juga berterima kasih kepada para pembicara, baik dari dalam maupun luar negeri, yang telah menyempatkan diri untuk berbagi informasi, ilmu pengetahuan, dan pengalaman mengenai dinamika ilmu hukum kepada para mahasiswa FH Unib,” ujar Dr. Yamani.
Ia menambahkan, aktivitas akademik internasional di FH Unib ke depan akan terus ditingkatkan. Terlebih, saat ini FH Unib juga telah memiliki mahasiswa yang berasal dari luar negeri, sehingga interaksi akademik lintas negara menjadi semakin relevan untuk dikembangkan.



Dekan FH Unib Dr. Yamani dan Ketua Program Magister Ilmu Hukum Dr. Herlita Eryke memberikan cindera mata dan sertifikat penghargaan kepada para narasumber seminar internasional.(foto:Adrian)
Menurut Dr. Yamani, perjumpaan mahasiswa dengan akademisi dari berbagai negara, termasuk melalui pembahasan perbandingan hukum dan perkembangan isu hukum global, dapat membuka ruang belajar yang lebih luas. Interaksi tersebut juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk tidak hanya memahami perbedaan sistem dan perspektif hukum, tetapi sekaligus mengenal keberagaman budaya dalam lingkungan akademik internasional.
“Dengan semakin banyaknya aktivitas akademik internasional, kami berharap mahasiswa FH Unib memiliki wawasan yang semakin luas, tidak hanya memahami persoalan hukum dalam konteks nasional, tetapi juga mampu melihat dinamika dan perkembangan hukum dalam perspektif global,” pungkasnya. [Purna Herawan | Humas].



Dua narasumber dari dua negara foto bersama dengan Dekan dan Wakil Dekan FH Unib, para dosen dan mahasiswa peserta seminar internasional.(foto:Andrian)