Dosen Unib Edukasi Masyarakat Batu Raja Kol tentang Pengendalian Kutu Putih pada Pepaya
Universitas Bengkulu (Unib) terus mendorong penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian untuk membantu masyarakat mengatasi berbagai persoalan di sektor pertanian. Salah satunya melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) yang memberikan edukasi dan pendampingan mengenai pengenalan serta pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT), khususnya kutu putih pada tanaman pepaya.
Kegiatan bertajuk “Mengenal Kutu Putih pada Tanaman Pepaya dan Pengendaliannya” tersebut dilaksanakan di Desa Batu Raja Kol, Kecamatan Hulu Palik, Kabupaten Bengkulu Utara, Rabu (7/10/2026). Melalui kegiatan ini, masyarakat dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk mengenali karakteristik kutu putih, mengidentifikasi gejala serangannya, serta memahami teknik pengendalian yang tepat dan ramah lingkungan.
Edukasi ini dinilai penting mengingat serangan kutu putih dapat mengganggu pertumbuhan tanaman pepaya, bahkan menurunkan kualitas dan produktivitas buah apabila tidak ditangani secara tepat. Karena itu, kemampuan petani mengenali keberadaan hama sejak dini menjadi salah satu langkah penting dalam melindungi tanaman dan meminimalkan potensi kerugian.
Kegiatan PPM ini diketuai Prof. Dr. Ir. Dwinardi Apriyanto, M.Sc, dengan anggota Prof. Agustin Zarkani, S.P, M.Si, Ph.D, dan Ir. Priyatiningsih, M.Sc. Pelaksanaannya juga melibatkan dua mahasiswa, Ruth Yohana Sitompul dan Monika Parida S., sebagai bagian dari pembelajaran lapangan sekaligus penerapan ilmu perlindungan tanaman secara langsung di tengah masyarakat.
Kegiatan ini didanai melalui Dana Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Fakultas Pertanian Unib Tahun Anggaran 2026. Dukungan tersebut menjadi bagian dari komitmen fakultas dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta mendukung pengembangan pertanian yang produktif, sehat, dan berkelanjutan.
Pembukaan kegiatan dihadiri perwakilan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kabupaten Bengkulu Utara, perangkat Desa Batu Raja Kol, penyuluh pertanian, serta masyarakat setempat.
Kepala Dinas TPHP Kabupaten Bengkulu Utara, H. Juwita Abadi, S.P, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap kegiatan pengabdian yang berorientasi pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi permasalahan OPT.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, penyuluh, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat penerapan teknologi pengendalian OPT yang efektif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Apresiasi serupa disampaikan Sekretaris Desa Batu Raja Kol, Mujiyati. Ia mengucapkan terima kasih kepada tim dosen pengabdi Unib yang telah memilih desanya sebagai lokasi kegiatan. Menurutnya, edukasi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memahami berbagai persoalan hama tanaman sekaligus meningkatkan kemampuan dalam melakukan penanganan.
“Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan pemahaman mengenai permasalahan hama pada tanaman pertanian dan cara penanganannya,” tuturnya.
Sementara itu, Koordinator Penyuluh Pertanian di wilayah setempat, Iskandar, S.P, menekankan pentingnya peran penyuluh dalam mendampingi petani agar pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan edukasi dapat diterapkan secara tepat di lapangan.
“Pendampingan berkelanjutan diperlukan agar teknologi pengendalian OPT dapat diterapkan sesuai dengan kondisi pertanaman dan permasalahan yang dihadapi petani,” ujarnya.
Ketua Jurusan Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Unib, Dr. Mimi Sutrawati, S.P, M.Sc, juga menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan tridarma perguruan tinggi. Melalui pengabdian kepada masyarakat, dosen dan mahasiswa diharapkan tidak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan solusi terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, dosen dan mahasiswa diharapkan dapat berkontribusi secara langsung dalam membantu masyarakat mengatasi permasalahan pertanian melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi perlindungan tanaman,” tuturnya.
Pengendalian Kutu Putih Berbasis Ramah Lingkungan
Pada sesi penyampaian materi, tim pengabdi memberikan penjelasan mengenai pengenalan kutu putih pada tanaman pepaya, karakteristik dan ciri-ciri serangannya, serta dampaknya terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Masyarakat juga diberikan pemahaman tentang pentingnya melakukan pengamatan secara rutin untuk mengetahui keberadaan hama dan mengenali gejala serangan sejak tahap awal.
Kemampuan mengidentifikasi hama secara tepat menjadi dasar dalam menentukan langkah pengendalian. Dengan demikian, penanganan dapat dilakukan sesuai dengan kondisi tanaman dan tingkat serangan, sehingga tidak menimbulkan dampak yang tidak diperlukan terhadap lingkungan.
Selain pengenalan hama, edukasi juga diarahkan pada penerapan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Pendekatan ini menekankan penggunaan berbagai teknik pengendalian secara terpadu dengan mempertimbangkan kondisi tanaman, tingkat serangan, serta aspek keamanan lingkungan.
Melalui pendekatan PHT, masyarakat diperkenalkan pada pemahaman bahwa pengendalian hama tidak semata-mata bergantung pada penggunaan pestisida kimia. Pengamatan rutin, tindakan pengendalian yang sesuai, serta pemanfaatan metode yang lebih ramah lingkungan perlu menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan tanaman.
Melalui kegiatan ini, masyarakat Desa Batu Raja Kol diharapkan semakin memahami karakteristik kutu putih, mampu mengenali gejala serangannya lebih dini, serta memiliki pengetahuan dalam menentukan langkah pengendalian yang efektif dan berkelanjutan.
Lebih dari sekadar transfer pengetahuan, kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, pemerintah desa, dan masyarakat dalam memperkuat perlindungan tanaman. Sinergi tersebut diharapkan dapat mendorong penerapan teknologi pertanian yang sesuai dengan kebutuhan lapangan sekaligus mendukung peningkatan produktivitas dan keberlanjutan usaha tani masyarakat. [Laporan: Agustin | Editor: Purna Herawan | Humas].