Skip to main content

UNIVERSITAS BENGKULU

Universitas Bengkulu (Unib) terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendorong kemajuan sektor pertanian melalui penerapan inovasi berbasis riset. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Berbasis Riset berupa diseminasi teknologi budidaya bawang merah menggunakan True Shallot Seeds (TSS) kepada kelompok tani di Desa Batu Ampar, Kecamatan Merigi, Kabupaten Kepahiang. Kegiatan bertajuk “Diseminasi Teknologi Budidaya Bawang Merah Berbasis True Shallot Seeds (TSS) di Desa Batu Ampar, Kabupaten Kepahiang” ini dilaksanakan pada Agustus–September 2026 dengan melibatkan Kelompok Tani “Tani Maju”. Sebanyak 15 petani mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menerapkan teknologi budidaya bawang merah berbasis biji botani. Ketua Tim Pengabdi yang juga Guru Besar Fakultas Pertanian Unib, Prof. Dr. Ir. Marlin, M.Sc, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan alternatif teknologi budidaya bawang merah yang berpotensi meningkatkan efisiensi penyediaan bahan tanam sekaligus membuka peluang pengembangan usaha pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan. Menurutnya, True Shallot Seeds (TSS) merupakan benih bawang merah yang berasal dari biji botani, berbeda dengan metode konvensional yang menggunakan umbi sebagai bahan tanam. Teknologi ini menawarkan alternatif dalam pengembangan budidaya bawang merah, tetapi penerapannya membutuhkan pemahaman teknis yang memadai, terutama dalam proses persemaian, pemindahan bibit, penanaman, dan pemeliharaan tanaman. “Melalui kegiatan ini, kami memperkenalkan teknologi TSS sebagai salah satu alternatif inovasi pertanian yang dapat dipelajari dan diuji penerapannya oleh petani. Harapannya, petani tidak hanya mengenal teknologi baru, tetapi juga memiliki keterampilan untuk mengembangkan budidaya bawang merah sesuai dengan potensi dan kondisi lingkungan setempat,” jelas Prof. Marlin. Optimalkan Potensi Lahan dan Agroklimat Desa Batu Ampar Prof. Marlin menjelaskan, Desa Batu Ampar memiliki potensi sumber daya lahan dan kondisi agroklimat yang dapat dikembangkan untuk mendukung usaha hortikultura. Wilayah ini berada pada ketinggian sekitar 600–1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), sehingga karakteristik lingkungan setempat menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan komoditas dan teknologi budidaya yang tepat. Potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui pengelolaan lahan, pemilihan teknologi, serta penyesuaian teknik budidaya dengan kondisi lingkungan. Namun, keterbatasan pengetahuan petani mengenai teknologi budidaya bawang merah berbasis TSS dan belum optimalnya pemanfaatan potensi lahan menjadi tantangan yang perlu dijawab melalui pendampingan dan transfer pengetahuan. Karena itu, program pengabdian ini tidak hanya berorientasi pada pengenalan teknologi, tetapi juga mendorong petani membangun pengalaman dan kemampuan dalam mengembangkan komoditas hortikultura bernilai ekonomi. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperluas pilihan usaha tani masyarakat, meningkatkan produktivitas pemanfaatan lahan, serta membuka peluang pengembangan agribisnis di tingkat desa. Belajar Langsung melalui Penyuluhan dan Praktik Untuk memastikan teknologi dapat dipahami dan diterapkan, tim pengabdi menggunakan pendekatan pembelajaran langsung atau learning by doing. Rangkaian kegiatan diawali dengan koordinasi bersama kelompok tani dan survei lahan, kemudian dilanjutkan dengan penyuluhan, demonstrasi teknologi, praktik lapangan, serta evaluasi terhadap respons dan penerimaan petani. Dalam kegiatan praktik, petani dilibatkan secara langsung mulai dari persiapan lahan, penyiapan media tanam, persemaian benih TSS, hingga praktik penanaman di lahan kelompok tani. Menurut Prof. Marlin, keterlibatan langsung petani dalam setiap tahapan budidaya menjadi bagian penting dari proses transfer teknologi. Dengan demikian, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga berkesempatan memahami proses teknis sekaligus mendiskusikan berbagai kendala yang mungkin dihadapi dalam penerapannya. “Melalui praktik langsung, petani dapat mempelajari setiap tahapan budidaya, mulai dari persiapan lahan hingga persemaian dan penanaman. Mereka juga dapat bertanya dan berdiskusi mengenai aspek teknis yang membutuhkan ketelitian agar teknologi ini dapat diterapkan dengan baik,” ujarnya. Antusiasme peserta selama kegiatan menunjukkan adanya ketertarikan terhadap inovasi yang diperkenalkan. Meski demikian, tim pengabdi menilai pendampingan lanjutan tetap diperlukan, terutama untuk meningkatkan keterampilan petani pada tahapan budidaya yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi. Respons Positif terhadap Teknologi TSS Penerimaan petani terhadap teknologi yang diperkenalkan turut dievaluasi berdasarkan lima karakteristik inovasi, yakni keuntungan relatif (relative advantage), kesesuaian (compatibility), tingkat kerumitan (complexity), kemudahan untuk diujicobakan (trialability), dan kemudahan mengamati hasil penerapan (observability). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa teknologi budidaya bawang merah berbasis TSS memperoleh respons positif dari para peserta. Penilaian terhadap aspek keuntungan relatif mencapai 87,3 persen, kesesuaian teknologi dengan kondisi petani sebesar 89,3 persen, dan kemudahan mengamati hasil penerapan mencapai 93,3 persen. Tingginya penilaian pada aspek kemudahan mengamati hasil menunjukkan bahwa pengalaman melihat dan mempelajari penerapan teknologi secara langsung menjadi faktor penting dalam membangun pemahaman serta ketertarikan petani terhadap inovasi tersebut. Sementara itu, aspek tingkat kerumitan memperoleh nilai 68,0 persen dan kemudahan untuk diujicobakan sebesar 61,7 persen. Hasil ini mengindikasikan bahwa petani masih membutuhkan penguatan keterampilan teknis, demonstrasi yang berkelanjutan, serta pendampingan lapangan agar semakin siap mengadopsi teknologi TSS. Tim pengabdi menilai, keberhasilan diseminasi inovasi pertanian tidak cukup hanya dengan memperkenalkan teknologi baru. Proses tersebut perlu diikuti pembelajaran dan pendampingan secara berkesinambungan sehingga petani memiliki pengetahuan, keterampilan, serta kepercayaan diri untuk menguji dan menerapkannya sesuai dengan kondisi usaha tani masing-masing. Perkuat Kemandirian Pangan dan Peluang Agribisnis Selain aspek teknis budidaya, program ini juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas petani dalam mengelola usaha tani dari sisi ekonomi. Pemahaman mengenai biaya produksi, perhitungan harga pokok produksi (HPP), serta potensi pendapatan menjadi bagian penting agar penerapan teknologi tidak hanya dinilai dari aspek teknis, tetapi juga dari kelayakan usaha. Pengembangan budidaya bawang merah di Desa Batu Ampar diharapkan dapat mendorong pemanfaatan lahan secara lebih produktif, mendukung ketersediaan pangan rumah tangga, sekaligus membuka alternatif sumber pendapatan bagi masyarakat. Namun, keberhasilan pengembangan usaha tersebut tetap perlu mempertimbangkan hasil panen, biaya produksi aktual, harga jual, dan dinamika pasar setempat. Untuk menjaga keberlanjutan program, tim pengabdi mendorong penguatan kapasitas kelompok tani melalui pendampingan penyuluh dan instansi terkait serta kemitraan dengan Universitas Bengkulu. Kelompok tani diharapkan dapat berkembang menjadi ruang belajar bersama untuk bertukar pengalaman, mengevaluasi hasil budidaya, dan memperluas penerapan teknologi apabila terbukti sesuai dengan kebutuhan serta kondisi usaha tani masyarakat. Melalui kegiatan PKM Berbasis Riset ini, Unib berupaya memperkuat keterhubungan antara hasil penelitian dan kebutuhan nyata masyarakat. Diseminasi teknologi TSS di Desa Batu Ampar menjadi salah satu langkah untuk menghadirkan inovasi pertanian yang aplikatif, meningkatkan kapasitas petani, dan mendorong pengembangan potensi agribisnis lokal secara bertahap. Upaya ini sekaligus mencerminkan semangat Kampus Berdampak, yakni menjadikan hasil riset dan kepakaran dosen sebagai solusi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi, kelompok tani, penyuluh, dan pemerintah setempat diharapkan mampu membangun sektor pertanian yang lebih inovatif, adaptif terhadap kondisi lingkungan, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan melalui Skema Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Berbasis Riset dengan pendanaan PNBP Universitas Bengkulu Tahun Anggaran 2026. Program tersebut menjadi bagian dari komitmen Unib dalam mendorong penerapan hasil riset agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam pengembangan teknologi budidaya dan penguatan kemandirian pangan. [Laporan: Marlin | Editor: Purna Herawan | Humas].