UNIVERSITAS BENGKULU

Di balik jalan tanah kuning yang licin dan batu-batu besar yang menyulitkan langkah, mahasiswa Universitas Bengkulu (Unib) memilih untuk hadir. Mereka datang bukan sekadar membawa program kerja, melainkan membawa kepedulian dan keberanian untuk melihat persoalan masyarakat dari jarak paling dekat.

Anak-anak di Desa Kota Niur tampak semangat mengikuti pengajian dibimbing mahasiswa Unib.(foto:ist)

Melalui kegiatan “Perempuan Mengabdi”, Kementerian Pergerakan Perempuan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Besar Universitas Bengkulu (BEM KBM Unib) menginisiasi aksi pengabdian masyarakat bertema “Menyiapkan Generasi Tumbuh Terarah Melalui Pendidikan dan Kesehatan yang Berkelanjutan”. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Kota Niur, Kecamatan Semidang Lagan, Kabupaten Bengkulu Tengah, selama tiga hari, pada 28–30 November 2025 lalu.

Program Perempuan Mengabdi lahir dari semangat kolaborasi dan kesadaran bersama bahwa perempuan, mahasiswa, dan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghadirkan perubahan sosial yang nyata. Kegiatan ini menjadi ruang aksi kolektif bagi mahasiswa untuk bergerak, berdaya, serta menjawab persoalan pendidikan, kesehatan, dan sosial yang dihadapi masyarakat desa secara langsung.

Pemilihan Desa Kota Niur bukan tanpa alasan. Desa ini menyimpan potret ketimpangan yang kerap luput dari perhatian. Perjalanan menuju lokasi menjadi gambaran awal tantangan yang dihadapi warga setiap hari. Akses jalan yang rusak dengan medan sulit membuat waktu tempuh membengkak hingga lebih dari dua jam, meski jarak seharusnya dapat dilalui dalam waktu sekitar satu setengah jam.

Keceriaan anak-anak di Desa Kota Niur saat bermain dan belajar bersama para mahasiswa Unib.(foto:ist)

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mendasar: jika mahasiswa yang hadir sementara saja sudah mengalami kesulitan, bagaimana dengan guru yang harus datang setiap hari? Bagaimana pendidikan dapat berjalan optimal ketika akses dasar saja menjadi hambatan? Dan bagaimana anak-anak dapat mengejar ketertinggalan belajar jika perjuangan sudah dimulai bahkan sebelum pelajaran dimulai?

Realitas pendidikan di Kota Niur memperlihatkan dampak nyata dari keterbatasan akses tersebut. Masih ditemui siswa kelas empat hingga lima sekolah dasar yang belum mampu membaca. Bukan karena keterbatasan potensi, melainkan akibat sistem pendukung yang rapuh. Ketika guru sulit hadir tepat waktu, ketika sekolah berdiri dalam keterisolasian, dan ketika anak-anak tumbuh tanpa pendampingan belajar yang konsisten, maka ketertinggalan menjadi keniscayaan yang bukan kesalahan mereka.

Di luar persoalan pendidikan, terdapat pula isu yang lebih sensitif dan mengkhawatirkan. Kasus pelecehan dan kekerasan seksual pada anak disinyalir masih terjadi. Kondisi ini diperparah oleh minimnya jaringan komunikasi. Ketiadaan sinyal membuat proses pelaporan, pengawasan, dan pendampingan menjadi sangat terbatas, sehingga anak-anak berada dalam situasi yang rentan.

Menjawab berbagai persoalan tersebut, rangkaian kegiatan Perempuan Mengabdi diawali dengan pertemuan dan pembukaan bersama kepala dusun serta masyarakat setempat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga, meliputi pengecekan tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat. Anak-anak juga menjalani pengukuran tinggi badan sebagai bagian dari pemantauan tumbuh kembang.

Program Perempuan Mengabdi yang diselenggaraan BEM Unib disambut antusias masyarakat.(foto:ist)

Pada malam hari, mahasiswa berinteraksi dengan anak-anak pengajian. Kedekatan yang dibangun secara sederhana ini menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk lebih terbuka, berani berinteraksi, dan merasa didengar.

Hari kedua diisi dengan senam pagi bersama di SDN 86 Kota Niur, edukasi tentang pentingnya pendidikan, serta kegiatan belajar dan bermain yang dirancang secara menyenangkan. Kegiatan ini menjadi upaya menumbuhkan semangat belajar sekaligus mempererat kedekatan emosional antara mahasiswa dan anak-anak.

Di sela-sela kegiatan tersebut, Kementerian Pergerakan Perempuan berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup BEM KBM Unib menyerahkan Beasiswa Hijau kepada siswa terpilih. Bantuan ini menjadi simbol komitmen mahasiswa bahwa pendidikan dan kepedulian terhadap lingkungan harus berjalan beriringan sebagai fondasi masa depan yang berkelanjutan.

Anak-anak SD di Desa Kota Niur mengukir harapan dan cita-cita bersama mahasiswa Unib.(foto:ist)

Sore harinya, anak-anak mengikuti lomba bercerita tentang cita-cita di tempat pengajian. Kegiatan ini memberi ruang bagi mereka untuk bermimpi dan mengekspresikan harapan akan masa depan. Malam penutup diisi dengan sosialisasi anti-bullying, yang kemudian ditutup dengan kegiatan menonton bersama dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan.

Pada hari kepulangan, kepala dusun menyampaikan bahwa pemerintah daerah berjanji akan memperbaiki akses jalan desa pada tahun 2026. Bagi warga, janji tersebut bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan harapan atas masa depan pendidikan dan kesehatan anak-anak mereka. Selama akses jalan belum layak, keterlambatan akan terus terjadi, dan setiap keterlambatan berarti hilangnya kesempatan untuk belajar, berkembang, dan merasa aman.

Kegiatan Perempuan Mengabdi meninggalkan kesadaran mendalam bahwa pengabdian tidak berhenti pada tiga hari pelaksanaan. Ada pesan kuat yang ingin ditegaskan: Pendidikan Tinggi Berdampak bukan sekadar slogan, melainkan kehadiran nyata perguruan tinggi di tengah masyarakat. Pembangunan tidak cukup dibuktikan melalui laporan, tetapi melalui perubahan yang benar-benar dirasakan warga.

Program Perempuan BEM Unib di Kota Niur memberikan dampak positif bagi masyarakat.(foto:ist)

Desa Kota Niur menunjukkan bahwa masyarakat tidak kekurangan kemauan untuk maju. Mereka hanya kekurangan perhatian yang seharusnya datang lebih awal. Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah desa ini membutuhkan bantuan, melainkan kapan perhatian itu benar-benar diwujudkan. Anak-anak di Kota Niur masih menunggu, dan masa depan mereka tidak seharusnya terus tertunda hanya karena jalan menuju harapan tak kunjung diperbaiki.

Informasi dihimpun Tim Humas Unib, kegiatan pengabdian masyarakat ini dihadiri langsung oleh Ketua BEM KBM Unib Teo Ramadhan Z, M. Iqbal Fahmi selaku Menteri Media dan Informasi, Ricki Gultom selaku Menteri Lingkungan Hidup, Huda selaku Menteri Dalam Negeri, Fanissa Azzahra selaku Menteri Pergerakan Perempuan, serta Elsa M. Cik Nur selaku Ketua Pelaksana.

Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa dari Staf Kementerian Pergerakan Perempuan BEM KBM Unib 2025, yakni Ela Safitri, Rara Azila, Riry Balqis Azzahra, Aisyah Nurlaili, Afriani, Heni Lestaida Siregar, Aurora Sondang Gultom, Gustyne Permatasari, Ine Cyntia, Sinta Rezki Lestari, Yolanda Agustira, Aulya Duwi Siputri, dan Betri Nurbaeta Sari.

Setelah menerima laporan hasil kegiatan, Rektor Universitas Bengkulu Prof. Dr. Indra Cahyadinata, SP, M.Si, melalui Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Prof. Agustin Zarkani, SP, M.Si, Ph.D, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para mahasiswa pengabdi. Ia menilai kegiatan tersebut telah menyebarkan dampak kebaikan serta memberikan dorongan semangat bagi masyarakat dan anak-anak desa untuk terus maju.

“Semoga ke depan kegiatan serupa dapat terus ditingkatkan sehingga semakin banyak masyarakat yang merasakan dampak dari aktivitas dan kreativitas mahasiswa Unib,” ujarnya. [Laporan: Fanissa | Editor: Purna Herawan | Humas].