UNIVERSITAS BENGKULU

Pulau Enggano bukan hanya menyimpan keindahan alam di gugusan terluar Indonesia, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi yang besar dari sumber daya lokal. Salah satunya adalah pisang kepok dan berbagai jenis pisang lainnya yang tumbuh melimpah di pulau yang berada di Samudra Hindia, sekitar 170 kilometer dari Kota Bengkulu.

Para Dosen Pengabdi Unib berdiskusi dan memberikan bimbingan kepada warga dan UMKM Royal Banana Caramel di Desa Malakoni tentang pengelolaan pisang.(foto:ist-lppm)

Namun, melimpahnya hasil perkebunan belum selalu berbanding lurus dengan nilai ekonomi yang diterima masyarakat. Keterbatasan akses transportasi laut, terutama ketika terjadi gangguan pada jalur pelayaran, membuat hasil panen pisang kerap tidak terserap pasar. Buah yang tidak tahan lama akhirnya membusuk dan terbuang, sementara petani kehilangan peluang untuk memperoleh nilai tambah dari hasil kebunnya.

Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan nyata yang dihadapi masyarakat Pulau Enggano. Pulau seluas sekitar 400,6 kilometer persegi dengan populasi sekitar 4.000 jiwa yang tersebar di enam desa dan hidup dalam lima suku asli ini sesungguhnya memiliki modal sumber daya alam yang kuat. Tantangannya adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi produk bernilai ekonomi yang lebih tinggi dan mampu bertahan menghadapi keterbatasan geografis.

Persoalan itu pula yang menjadi perhatian Universitas Bengkulu (Unib) melalui program pengabdian kepada masyarakat. Bagi Unib, pemberdayaan masyarakat di wilayah kepulauan tidak cukup dilakukan dengan memberikan pelatihan sesaat, tetapi perlu dibangun melalui pendampingan yang menyentuh mata rantai usaha secara lebih utuh, mulai dari bahan baku, proses produksi, keamanan pangan, legalitas, pengemasan, branding, pemasaran hingga pemanfaatan teknologi.

Gangguan akses transportasi laut yang terjadi pada pertengahan 2025, misalnya, ketika pendangkalan alur di Dermaga Pulau Baai Kota Bengkulu berdampak pada kelancaran pelayaran ke Enggano, menjadi gambaran betapa rentannya pemasaran produk segar masyarakat terhadap kondisi geografis dan konektivitas transportasi. Dalam situasi seperti itu, mengolah pisang menjadi produk pangan dengan nilai tambah menjadi salah satu strategi penting agar hasil perkebunan masyarakat tidak berhenti sebagai komoditas mentah.

Seorang Pilot Maskapai Susi Air yang melayani penerbagan rute Kota Bengkulu – Enggano sangat senang bisa membawa pulang dan mempromosikan Royal Banana Caramel Enggano dengan kemasan modern.(foto:ist-lppm)

Atas dasar pemikiran tersebut, Unib kembali melanjutkan pengabdian kepada masyarakat di Pulau Enggano pada 2026. Kali ini, pendekatan dilakukan melalui kolaborasi tiga kelompok pengabdi di bawah koordinasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unib. Semangat yang diusung adalah mendorong “UMKM Naik Kelas”, dengan sasaran utama UMKM Royal Banana Caramel di Desa Malakoni, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 15–18 Agustus 2026 tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian PNBP Skema Pengabdian Mandat Universitas Bengkulu Tahun 2026. Tiga program pengabdian dirancang dengan fokus berbeda, tetapi saling melengkapi, yakni memperkuat legalitas dan keamanan pangan, meningkatkan nilai ekonomi melalui branding dan pemasaran, serta mengenalkan teknologi untuk meningkatkan kualitas proses produksi.

Pendekatan kolaboratif tersebut menjadi penting karena persoalan UMKM di wilayah kepulauan tidak berdiri sendiri. Produk yang baik membutuhkan proses produksi yang aman, legalitas yang jelas, kemasan yang menarik, strategi pemasaran yang tepat, sekaligus teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas produk.

Dosen Pengabdi Unib, Selly Ratna Sari, aktif mempromosikan Royal Banana Caramel Enggano di berbagai kesempatan baik di internal kampus maupun masyarakat luas.(foto:ist-lppm)

Dari Legalitas hingga Keamanan Pangan

Program pertama mengangkat tema “UMKM Naik Kelas: Legalitas sebagai Tolak Ukur Ketahanan dan Keamanan Pangan Royal Banana Caramel di Desa Malakoni, Kecamatan Enggano.” Program ini dipimpin Dr. Sipriyadi, S.Si, M.Si, dengan melibatkan Dr. Nurna Aziza, S.E, M.Si, Akt, CA, dan Dr. Henny Johan, S.Si, M.Pd, serta mahasiswa Universitas Bengkulu.

Untuk memperkuat aspek legalitas dan keamanan pangan, tim juga menghadirkan praktisi dari BPOM Bengkulu, Yunika Sary, S.Farm, M.Si, Apt, serta praktisi sertifikasi halal Khozin Zaki, MA dan dr. Karunia Cahyati dari Pusat Halal LPPM UIN Fatmawati Soekarno Bengkulu.

Pendampingan ini menempatkan legalitas dan keamanan pangan bukan sekadar persyaratan administratif, tetapi sebagai bagian dari fondasi keberlanjutan usaha. Bagi UMKM pangan, kepercayaan konsumen tumbuh bukan hanya dari cita rasa, tetapi juga dari keyakinan bahwa produk dibuat melalui proses yang aman, memenuhi ketentuan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Para Dosen Pengabdi dan mahasiswa Unib foto bersama dengan para pengelola UMKM Royal Banana Caramel di Desa Malakoni, Kecamatan Enggano.(foto:ist-lppm)

Mengubah Produk Lokal Jadi Produk yang Lebih Menjual

Program kedua diarahkan pada peningkatan nilai ekonomi produk melalui pelatihan branding, pemasaran, dan pengawetan Royal Banana Caramel. Program ini dipimpin Selly Ratna Sari, S.Pi, M.Si, melibatkan tim lintas fakultas, yakni Is Susanti, S.I.P, M.A.P, Evan Vria Andesmora, S.Si, M.Si, dan Putri Lisya Anggraini, S.Pd, M.Si, bersama mahasiswa Universitas Bengkulu.

Pada tahap ini, perhatian tidak hanya diberikan pada produk, tetapi juga pada bagaimana produk tersebut “berbicara” kepada konsumen. Branding dan kemasan menjadi bagian penting karena produk lokal yang memiliki cita rasa baik belum tentu mampu menarik perhatian pasar apabila identitas visual dan penyajiannya belum mendukung.

Sebelum mendapatkan pendampingan, Royal Banana Caramel umumnya menggunakan kemasan plastik bening dengan stiker sederhana. Melalui kegiatan pendampingan, pelaku UMKM mulai diarahkan untuk menggunakan kemasan yang lebih menarik, informatif, dan memiliki nilai jual.

Perubahan tersebut tampak sederhana, tetapi memiliki makna penting dalam proses pengembangan UMKM. Kemasan tidak lagi dipandang hanya sebagai pembungkus untuk menjaga produk, melainkan sebagai bagian dari identitas merek, media komunikasi dengan konsumen, sekaligus instrumen pemasaran.

Dengan demikian, proses “naik kelas” tidak selalu harus dimulai dari investasi besar. Perubahan dapat dimulai dari cara pelaku usaha melihat produknya sendiri, yakni dari sekadar makanan olahan rumah tangga menjadi produk ekonomi yang memiliki identitas, pasar, dan peluang untuk berkembang.

Para Dosen Pengabdi foto bersama dengan para pengelola UMKM Royal Banana Caramel di Desa Malakoni, Kecamatan Enggano.(foto:ist-lppm)

Teknologi untuk Meningkatkan Kualitas Produk

Sementara itu, program ketiga mengangkat tema “Pemberdayaan UMKM Desa Malakoni, Enggano melalui Pelatihan dan Pemanfaatan Teknologi Oil Spinner Tenaga Surya untuk Meningkatkan Kualitas Produk.”

Program yang dipimpin Dr. Elfi Yuliza, S.Si, M.Si tersebut memberikan pengenalan dan pelatihan pemanfaatan teknologi oil spinner tenaga surya sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas produk olahan.

Kehadiran teknologi tersebut menjadi relevan dengan karakteristik wilayah Enggano yang memiliki tantangan tersendiri dalam hal akses energi, transportasi, dan ketersediaan sarana pendukung produksi. Pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan kondisi lokal diharapkan tidak hanya membantu meningkatkan kualitas produk, tetapi juga membuka perspektif baru bagi masyarakat bahwa teknologi dapat diadaptasi untuk menjawab persoalan produksi di wilayah kepulauan.

Ketiga program tersebut kemudian bertemu pada satu tujuan: menjadikan Royal Banana Caramel sebagai produk yang tidak hanya memiliki cita rasa dan memanfaatkan bahan baku lokal, tetapi juga memiliki kualitas, identitas, legalitas, dan daya saing yang lebih baik.

Pengetahuan Bertambah, Cara Pandang Berubah

Sebanyak 30 peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sekaligus jiwa kewirausahaan masyarakat.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan yang cukup signifikan antara hasil pretest dan posttest. Perubahan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa materi dan pendampingan yang diberikan mampu meningkatkan pemahaman peserta terhadap aspek-aspek penting dalam pengembangan usaha.

Lebih dari sekadar angka evaluasi, perubahan juga terlihat pada cara peserta memandang produk yang mereka hasilkan. Pendampingan memberikan pemahaman bahwa pengembangan UMKM membutuhkan perhatian pada berbagai aspek secara bersamaan, bukan hanya bagaimana menghasilkan produk, tetapi juga bagaimana memastikan produk tersebut aman, memiliki legalitas, menarik secara visual, mudah dipasarkan, dan mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Perubahan tampilan Royal Banana Caramel menjadi salah satu bukti konkret dari proses tersebut. Kemasan yang sebelumnya sederhana mulai diarahkan menjadi kemasan yang lebih menarik dan memiliki daya jual. Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun citra produk sekaligus memperluas peluangnya untuk memasuki pasar yang lebih beragam.

Bagi pelaku usaha di Desa Malakoni, perubahan itu dapat menjadi titik awal untuk membangun kepercayaan diri bahwa produk lokal dari pulau terluar pun memiliki peluang untuk tampil lebih profesional.

Para Dosen Pengabdi dan mahasiswa Unib foto bersama dengan para pengelola UMKM Royal Banana Caramel di Desa Malakoni, Kecamatan Enggano.(foto:ist-lppm)

Kolaborasi Lintas Ilmu untuk Masyarakat Pulau Terluar

Hal menarik dari kegiatan ini adalah keterlibatan pengabdi dari berbagai bidang keilmuan. Tim berasal dari sejumlah fakultas di Universitas Bengkulu, antara lain Fakultas MIPA, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Pertanian, serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pemberdayaan masyarakat, khususnya UMKM di wilayah kepulauan, membutuhkan pendekatan multidisiplin. Persoalan produksi tidak dapat dilepaskan dari teknologi. Pemasaran berkaitan dengan branding. Keamanan pangan berhubungan dengan standar dan legalitas. Sementara keberlanjutan usaha sangat dipengaruhi oleh kemampuan manajemen dan kewirausahaan pelaku UMKM.

Dengan pendekatan tersebut, pengabdian kepada masyarakat tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi bergerak menuju proses pendampingan yang berupaya membangun kapasitas masyarakat untuk menyelesaikan persoalannya secara lebih mandiri.

Bagi Unib, model kolaborasi semacam ini sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghadirkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Terlebih, Enggano memiliki karakter geografis dan sosial yang berbeda dari wilayah daratan Bengkulu, sehingga solusi yang diterapkan perlu mempertimbangkan kondisi lokal dan potensi yang tersedia.

Pada akhirnya, Royal Banana Caramel bukan sekadar cerita tentang pisang yang diolah menjadi makanan ringan. Di balik produk tersebut terdapat cerita yang lebih besar tentang bagaimana potensi lokal di pulau terluar dapat diubah menjadi sumber nilai ekonomi bagi masyarakat.

Dosen Pengabdi Unib terus berupaya meningkatkan nilai ekonomi dan mempromosikan hasil produksi UMKM Royal Banana Caramel .(foto:ist-lppm)

Dari pisang yang berisiko terbuang karena keterbatasan transportasi, masyarakat mulai didorong untuk mengolahnya menjadi produk yang lebih tahan, lebih menarik, dan memiliki nilai jual lebih tinggi. Dari kemasan sederhana, kini mulai diarahkan menjadi kemasan yang lebih menjual. Dari pengetahuan yang terbatas, peserta memperoleh wawasan baru mengenai legalitas, keamanan pangan, teknologi, branding, pemasaran, dan kewirausahaan.

Semangat “UMKM Naik Kelas” yang dibawa Unib ke Pulau Enggano pada akhirnya bukan sekadar slogan. Ia menjadi proses untuk mengubah cara pandang terhadap potensi lokal, bahwa hasil kebun masyarakat tidak harus berhenti sebagai komoditas mentah dengan nilai ekonomi terbatas, tetapi dapat diolah menjadi produk unggulan yang memiliki identitas dan daya saing.

Royal Banana Caramel dengan kemasan barunya menjadi salah satu gambaran konkret dari proses tersebut, sebuah produk lokal Enggano yang perlahan dipersiapkan untuk tampil lebih berkualitas, lebih bernilai, dan lebih siap menembus pasar. [Laporan: Is Susanti | Editor: Purna Herawan | Humas].