Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Bengkulu (BEM-KBM Unib) melalui Kabinet Lesat Makna, khususnya Kementerian Pendidikan Karakter dan Kepemimpinan (KPKK), berhasil menyelenggarakan empat kelas pembelajaran dalam program Student Leadership Education (SLE) Jilid #15 tahun 2026. Program ini menjadi ruang pembinaan bagi mahasiswa baru untuk mengenali potensi diri, membangun karakter, mengasah keterampilan, dan mengembangkan jiwa kepemimpinan.

Mengusung tema “The Journey of Leaders” dengan semboyan “Satu Perjalanan, Empat Langkah Bertumbuh”, SLE Jilid #15 dirancang sebagai proses pembelajaran berkelanjutan. Peserta tidak hanya dibekali pemahaman mengenai kepemimpinan, tetapi juga diajak membangun kebiasaan positif, melatih kemampuan komunikasi, serta mengembangkan gagasan melalui karya tulis.
Empat kelas yang menjadi bagian dari program tersebut adalah Kelas Titik Awal, Kelas Tempa Diri, Kelas Gerak Nyata, dan Kelas Manifesta. Masing-masing kelas memiliki fokus pembelajaran berbeda, tetapi saling berkaitan dalam membentuk mahasiswa yang mampu memimpin diri sendiri, bekerja sama dengan orang lain, serta menerjemahkan gagasan menjadi tindakan nyata.
Menteri KPKK Kabinet Lesat Makna BEM-KBM Unib sekaligus Koordinator SLE Jilid #15, Sandri Prayuda, mengatakan pendidikan kepemimpinan membutuhkan proses yang tidak singkat. Kepemimpinan, menurutnya, tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui pengalaman, tantangan, perjuangan, dan ketekunan dalam menjalani setiap tahapan pembelajaran.
“Perjalanan SLE Jilid #15 telah membawa kita melewati empat ruang pembelajaran yang penuh makna. Kelas Titik Awal untuk memahami kepemimpinan, Kelas Tempa Diri untuk membangun kebiasaan positif, Kelas Gerak Nyata untuk mengasah kemampuan komunikasi dan debat, hingga Kelas Manifesta untuk menuangkan gagasan melalui KTI dan esai,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap kelas dirancang bukan sekadar untuk menyampaikan materi, melainkan memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenali diri, mengembangkan potensi, dan mempraktikkan kemampuan yang diperoleh selama proses pembelajaran.
“Setiap kelas menjadi bagian dari proses belajar, berproses, dan bertumbuh bersama. Bukan sekadar menyelesaikan materi, tetapi juga tentang membangun karakter, mengembangkan potensi, dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang berdampak,” tambahnya.

Diikuti 713 Mahasiswa Baru
SLE Jilid #15 merupakan salah satu program unggulan KPKK BEM-KBM Unib yang diikuti mahasiswa baru Universitas Bengkulu tahun 2026. Berdasarkan data panitia, sebanyak 713 mahasiswa baru terdaftar sebagai peserta program yang berlangsung selama sekitar empat bulan tersebut.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan grand launching pada 29 Agustus 2026 dan direncanakan berakhir melalui Wisuda SLE pada akhir November 2026. Sebelum mencapai tahap akhir, peserta akan mengikuti rangkaian kegiatan lanjutan berupa perlombaan, leadership camp, social project, serta pengerjaan tugas akhir.
Rangkaian tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih komprehensif. Melalui perpaduan materi, praktik, dan kegiatan kolaboratif, peserta diharapkan tidak hanya memahami konsep kepemimpinan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan kampus dan lingkungan sosial.
“Prosesnya panjang, berlangsung selama empat bulan. Di akhir ada lomba, leadership camp, social project, serta pengerjaan tugas akhir untuk menguji tingkat kompetensi peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian pelatihan. Setelah semua proses dilewati, peserta yang lulus akan diwisuda pada Wisuda SLE di akhir November 2026,” jelas Sandri.
Empat Kelas, Empat Tahapan Pembelajaran
Kelas Titik Awal: Mengenali Dasar Kepemimpinan. Tahapan pertama dimulai melalui Kelas Titik Awal yang dilaksanakan pada 6 September 2026 di Gedung Bersama 5 Unib. Kelas ini menjadi pintu masuk bagi peserta untuk memahami dasar-dasar kepemimpinan, mengenali peran seorang pemimpin, serta menumbuhkan kesadaran bahwa kepemimpinan dimulai dari kemampuan mengelola diri sendiri.



Ratusan mahasiswa sangat antusias mengikuti Kelas Titik Awal dalam program SLE Jidil #15.(foto:ist-doc)
Sebanyak 188 peserta mengikuti pembelajaran dan diskusi pendalaman bersama lima narasumber, yaitu Fadli Miko Pratama, Arca Wijaya, S.Si., Novanzah, Sinta Apriani, dan Popika Ramadina, S.Pd., GR.
Melalui kelas ini, peserta diajak memahami bahwa kepemimpinan tidak semata-mata berkaitan dengan jabatan atau kewenangan, tetapi juga menyangkut karakter, tanggung jawab, dan kemampuan memberikan pengaruh positif bagi lingkungan sekitar.
Kelas Tempa Diri: Membangun Kebiasaan Positif. Tahapan kedua dilaksanakan melalui Kelas Tempa Diri pada 12 September 2026 di Gedung Bersama 2 FISIP Unib. Sebanyak 124 peserta mengikuti pembelajaran yang berfokus pada pengenalan kebiasaan diri dan pentingnya membangun pola perilaku positif untuk mendukung pengembangan karakter.
Materi disampaikan oleh Hafizh Zikri Hamdi, Qori Rahayu, Rahmadani Nata F, Sandri Prayuda, Yunia Dianti Fadli, Geby Viola Syakira, Ahmad Soni Adi Pratama, dan Wahyu Agung Prasetyo.
Dalam kelas ini, peserta didorong untuk mengevaluasi kebiasaan sehari-hari, mengenali hal-hal yang perlu diperbaiki, serta membangun kedisiplinan dan konsistensi. Proses tersebut menjadi bagian penting dalam menyiapkan mahasiswa agar mampu mengelola diri dan menjalankan tanggung jawab secara lebih baik.



Ratusan mahasiswa sangat antusias mengikuti Kelas Tempa Diri dalam program SLE Jidil #15.(foto:ist-doc)
Kelas Gerak Nyata: Mengasah Komunikasi dan Keberanian Berpendapat. Selanjutnya, Kelas Gerak Nyata diselenggarakan pada 19 September 2026 di ruang terbuka, halaman sayap kiri Gedung Rektorat Unib. Sebanyak 126 peserta mengikuti pembelajaran yang menghadirkan Tengku Abdul Zikri Maulana, Lio Kusnata, Fannisa Azzahra, dan Nindy Amalia sebagai narasumber.
Berbeda dari dua kelas sebelumnya yang berfokus pada pengenalan diri dan pembentukan kebiasaan, kelas ini memberikan ruang bagi peserta untuk mengembangkan keterampilan komunikasi melalui public speaking dan praktik debat.
Peserta dilatih membangun kepercayaan diri, menyusun argumen secara logis, serta menyampaikan pendapat dengan jelas dan terarah. Kemampuan tersebut penting bagi mahasiswa untuk terlibat aktif dalam diskusi akademik, organisasi kemahasiswaan, maupun berbagai kegiatan sosial di lingkungan masyarakat.
Melalui praktik langsung, peserta juga memperoleh kesempatan untuk belajar menghargai perbedaan pandangan, menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab, dan membangun komunikasi yang efektif.



Ratusan mahasiswa sangat antusias mengikuti Kelas Gerak Nyata dalam program SLE Jidil #15.(foto:ist-doc)
Kelas Manifesta: Menuangkan Gagasan melalui Karya Tulis. Rangkaian empat kelas ditutup dengan Kelas Manifesta pada 26 September 2026 di lantai 3 Gedung Bersama 5 Unib. Kelas yang diikuti 118 peserta ini berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan penyampaian gagasan melalui Karya Tulis Ilmiah (KTI) dan esai.
Empat narasumber yang hadir, yakni Aldiki Surya Ramadhan, Fero Sanjaya, Latifa Ermala Wani, dan Nafizah Rizki Utami Daulay, membekali peserta dengan pemahaman mengenai penulisan KTI dan esai. Selain mempelajari konsep dan teknik penulisan, peserta juga memperoleh kesempatan mempraktikkan penyusunan esai.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa didorong untuk mengembangkan kemampuan mengidentifikasi persoalan, menyusun pemikiran secara sistematis, dan menyampaikan gagasan dalam bentuk tulisan. Keterampilan ini diharapkan dapat mendukung proses pembelajaran akademik sekaligus mendorong mahasiswa menghasilkan ide dan solusi yang relevan dengan kebutuhan lingkungan sekitarnya.



Ratusan mahasiswa sangat antusias mengikuti Kelas Manifesta dalam program SLE Jidil #15.(foto:ist-doc)
Tuntasnya empat kelas tersebut menandai selesainya satu tahapan penting dalam perjalanan SLE Jilid #15. Namun, proses pembinaan belum berakhir. Para peserta masih akan mengikuti rangkaian kegiatan lanjutan sebelum menyelesaikan seluruh program pada akhir November mendatang.
Sandri menyampaikan apresiasi kepada para pemateri, panitia, dan seluruh peserta yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan program. Ia berharap pengalaman yang diperoleh selama empat kelas dapat menjadi bekal bagi mahasiswa baru untuk terus belajar, mengembangkan diri, dan mengambil peran positif dalam kehidupan kampus maupun masyarakat.
“Selamat kepada seluruh peserta SLE Jilid #15 yang telah menyelesaikan empat kelas pembelajaran. Setiap kelas menjadi bagian dari proses mengenali diri, membangun karakter, mengasah kemampuan, hingga berani mewujudkan gagasan dalam tindakan nyata. Satu Perjalanan, Empat Langkah Bertumbuh,” tutupnya. [Laporan: Sandri | Editor: Purna Herawan | Humas].