UNIVERSITAS BENGKULU

Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Besar Universitas Bengkulu (BEM KBM Unib) terus memperkuat peran mahasiswa sebagai garda terdepan dalam melawan segala bentuk kekerasan seksual, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program edukasi dan sosialisasi yang dikemas dalam forum Institut Laskar Fatmawati (ILF).

Puluhan peserta Institut Laskar Fatmawati bersemangat dan antusias mengikuti sosialisasi dan edukasi tampak.(ist)

Institut Laskar Fatmawati merupakan program strategis Kementerian Pergerakan Perempuan (KPP) BEM KBM Unib yang sepanjang akhir tahun 2025 telah melaksanakan rangkaian kegiatan kampanye anti kekerasan seksual. Program ini dirancang sebagai ruang edukatif, reflektif, sekaligus advokatif bagi mahasiswa lintas fakultas.

Salah satu kegiatan utama dilaksanakan pada 28 September 2025 di Saung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Bengkulu. Puluhan mahasiswa dari berbagai fakultas mengikuti forum edukasi dan sosialisasi dengan tema “Perempuan Berdaya, Generasi Berkarya; Meneguhkan Peran Strategis Menuju Masa Depan Bangsa.”

Menteri KPP BEM KBM Unib, Fanissa Azzahra, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai isu kekerasan seksual secara komprehensif. Materi yang disampaikan mencakup definisi dan jenis-jenis kekerasan seksual, dampak yang dialami korban, serta pembahasan berbagai kasus aktual yang terjadi di Indonesia, termasuk di lingkungan pendidikan.

“Para pemateri menekankan pentingnya perspektif korban, pendekatan berbasis keadilan, serta keberpihakan pada penyintas dalam setiap upaya penanganan kekerasan seksual,” ujar Fanissa.

Peserta Institut Laskar Fatmawati mengikuti proses wisuda dan pemasangan samir oleh Presiden BEM Unib.(ist)

Selain pemaparan materi, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi interaktif yang melibatkan seluruh peserta. Diskusi tersebut mengulas peran strategis individu, komunitas, dan pemerintah dalam pencegahan serta penanganan kekerasan seksual. Peserta diajak memahami bahwa upaya melawan kekerasan seksual merupakan tanggung jawab kolektif, bukan semata-mata beban korban.

Melalui forum Institut Laskar Fatmawati, peserta diharapkan memiliki kepekaan dan kepedulian yang lebih tinggi terhadap kasus pelecehan dan kekerasan seksual, baik di tingkat nasional, regional Bengkulu, maupun di lingkungan Universitas Bengkulu.

“Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap tegas dalam menolak segala bentuk kekerasan seksual serta memperkuat solidaritas antarperempuan,” tambah Fanissa.

Lebih lanjut, BEM KBM Unib melalui Kementerian Pergerakan Perempuan mengajak seluruh mahasiswi Universitas Bengkulu untuk merangkul korban, mendukung keberanian untuk melapor, serta aktif menyebarluaskan informasi mengenai Jaringan Perlindungan Perempuan (JPP) sebagai bentuk nyata dukungan terhadap penyintas.

Bagi mahasiswa yang mengalami atau mengetahui adanya tindakan pelecehan maupun kekerasan seksual, pelaporan dapat dilakukan melalui kanal resmi Satgas PPKPT Universitas Bengkulu, serta melalui JPP KPP BEM KBM Unib dan JPP di masing-masing BEM Fakultas. Layanan Hotline Pengaduan JPP KPP BEM KBM Unib dapat diakses melalui WhatsApp di nomor +62 896-0378-8849.

“Untuk setiap hal yang menghalangi langkah, cita-cita, dan mimpi perempuan, termasuk pelecehan dan kekerasan seksual, tidak ada pilihan lain selain melawan,” tegasnya.

Wakil Rektor III Unib Prof. Agustin memberikan support dan apresiasi terhadap program ILF BEM Unib.(ist)

Sebagai puncak rangkaian kegiatan, puluhan mahasiswa yang telah mengikuti Sekolah Perempuan Progresif Institut Laskar Fatmawati dikukuhkan sebagai Agent Penanggulangan dan Pemberantasan Kekerasan Seksual. Pengukuhan dilakukan dalam format wisuda dan pemberian sertifikat di Ruang Rapat Utama Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu pada 16 November 2025.

Kegiatan ini mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Bengkulu, Prof. Agustin Zarkani, SP, M.Si, Ph.D. Dalam sambutannya, ia menegaskan komitmen Unib untuk terus mewujudkan kampus yang aman, nyaman, dan berintegritas dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.

“Rangkaian Sekolah Perempuan Progresif dalam forum Laskar Fatmawati BEM KBM Unib ini sangat relevan dengan komitmen Universitas Bengkulu dalam mewujudkan kampus aman—anti korupsi, anti radikalisme, anti narkoba, serta anti segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual,” ujarnya.

Prof. Agustin juga menyampaikan selamat kepada para peserta wisuda yang telah menyelesaikan rangkaian kegiatan tersebut. Menurutnya, pengukuhan ini menjadi penanda lahirnya jejaring mahasiswa yang memiliki kapasitas, kepedulian, dan komitmen berkelanjutan dalam upaya pemberdayaan perempuan serta pencegahan kekerasan seksual di lingkungan Universitas Bengkulu. [Laporan: Fanissa | Editor: Purna Herawan | Humas].