Kiprah mahasiswa Universitas Bengkulu (Unib) di tingkat nasional kembali menorehkan prestasi. Dalam Musyawarah Nasional (Munas) Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) ke-XIX yang berlangsung di Politeknik Negeri Semarang (Polines), 27 Juli–1 Agustus 2026, delegasi BEM Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Bengkulu (BEM KBM Unib) mendapat kepercayaan untuk mengambil bagian dalam kepemimpinan nasional BEM SI.

Prestasi tersebut ditandai dengan terpilihnya Menteri Pergerakan Perempuan BEM KBM Unib, Nindy Amelia, sebagai Koordinator Forum Perempuan Aliansi BEM SI masa jabatan 2026–2027.
Kepercayaan tersebut menjadi capaian penting bagi BEM KBM Unib sekaligus menegaskan semakin terbukanya ruang bagi mahasiswa Unib untuk berkontribusi dalam dinamika gerakan mahasiswa di tingkat nasional.
Munas XIX BEM SI sendiri mempertemukan perwakilan BEM dari sekitar 150 perguruan tinggi yang tergabung dalam Aliansi BEM SI. Forum nasional tersebut menjadi ruang strategis untuk melakukan evaluasi, konsolidasi, merumuskan arah gerak organisasi, serta memilih jajaran koordinator yang akan menjalankan roda organisasi BEM SI selama satu tahun ke depan.
Unib mengirimkan tiga delegasi dalam forum tersebut, yakni Presiden Mahasiswa BEM KBM Unib 2026 M. Ghifar Alfarizsy, Menteri Luar Negeri BEM KBM Unib Ales Arta Rajasyah, dan Menteri Pergerakan Perempuan BEM KBM Unib Nindy Amelia.
Ketiganya tidak sekadar hadir sebagai peserta. Delegasi Unib terlibat aktif dalam berbagai dinamika persidangan, diskusi, penyampaian gagasan, serta perumusan arah gerak Aliansi BEM SI ke depan.
Munas XIX juga dihadiri langsung oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Republik Indonesia, Prof. Brian Yuliarto, Ph.D. Kehadiran Mendiktisaintek memberikan penguatan terhadap pentingnya organisasi kemahasiswaan sebagai ruang pembelajaran kepemimpinan, pengembangan kapasitas, sekaligus pembentukan karakter generasi muda Indonesia.
Di tengah dinamika forum nasional tersebut, terpilihnya Nindy Amelia menjadi salah satu momentum paling membanggakan bagi delegasi Unib.
Kepercayaan itu diberikan setelah peserta Munas mengikuti proses pemilihan sejumlah posisi strategis dalam struktur Aliansi BEM SI, di antaranya Koordinator Pusat, Koordinator Media, Koordinator Forum Perempuan, Koordinator Wilayah, dan Koordinator Isu.

Membawa Isu Perempuan ke Ruang Konsolidasi Nasional
Bagi Nindy Amelia dan jajaran BEM KBM Unib, terpilihnya sebagai Koordinator Forum Perempuan BEM SI bukan sekadar capaian personal. Amanah tersebut dipandang sebagai kepercayaan sekaligus tanggung jawab untuk memperkuat gerakan mahasiswa perempuan di tingkat nasional.
Forum Perempuan BEM SI diharapkan tidak berhenti sebagai ruang seremonial atau sekadar hadir dalam momentum tertentu. Forum tersebut perlu dikembangkan menjadi ruang konsolidasi, pertukaran gagasan, dan perjuangan bersama mahasiswa dalam membaca serta mengawal berbagai persoalan perempuan secara berkelanjutan.
Melalui amanah tersebut, BEM KBM Unib juga berkomitmen mendorong agar isu-isu perempuan dapat dibahas secara lebih komprehensif, baik yang berkembang di tingkat daerah maupun nasional, bahkan dalam konteks isu global.
Terpilihnya Nindy sekaligus menjadi ruang pembelajaran baru bagi BEM KBM Unib untuk memperluas jejaring, membangun kolaborasi lintas perguruan tinggi, serta menghadirkan gagasan mahasiswa Bengkulu dalam percakapan nasional mengenai pemberdayaan dan perlindungan perempuan.
Memberikan Pengalaman dan Jejaring Nasional
Presiden Mahasiswa BEM KBM Unib, M. Ghifar Alfarizsy, mengungkapkan rasa bangga atas kepercayaan yang diberikan kepada delegasi Unib. Menurutnya, seluruh rangkaian Munas XIX memberikan pengalaman berharga bagi delegasi, khususnya dalam memahami dinamika organisasi mahasiswa di tingkat nasional.
“Dinamika forum menjadikan kita lebih dewasa dalam menjalankan forum bermusyawarah dan lebih fokus merumuskan arah gerak BEM SI satu tahun ke depan guna mengevaluasi serta menjaga marwah gerakan mahasiswa,” ujarnya.
Ia mengatakan, Munas menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai daerah dengan latar belakang pengalaman, karakter, dan perspektif yang beragam.
“Luar biasa, banyak hal yang bisa kita pelajari. Melalui forum ini kita juga berkesempatan memperluas jejaring pergaulan dan kerja sama antarmahasiswa dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia,” lanjutnya.

Menurut Ghifar, berbagai pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti Munas akan dibawa pulang dan dibagikan kepada jajaran pengurus BEM KBM Unib. Dengan demikian, pengalaman nasional tersebut tidak berhenti pada delegasi, tetapi dapat menjadi modal untuk memperkuat tata kelola, program kerja, dan gerakan mahasiswa di lingkungan Unib.
Khusus terkait terpilihnya Nindy Amelia, Ghifar menilai momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat peran BEM KBM Unib dalam mengawal isu-isu perempuan.
“Terpilihnya BEM KBM Unib sebagai Koordinator Forum Perempuan Aliansi BEM SI menjadi momentum bersejarah sekaligus peluang untuk memaksimalkan pergerakan dalam mewadahi dan memfasilitasi isu-isu perempuan, baik di tingkat daerah, nasional maupun internasional,” katanya.
Kepemimpinan Mahasiswa sebagai Ruang Pembelajaran
Selain menjadi ajang konsolidasi organisasi, Munas XIX BEM SI juga menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan bagi mahasiswa.
Dalam kesempatan tersebut, Mendiktisaintek Prof. Brian Yuliarto menekankan pentingnya organisasi mahasiswa sebagai wadah untuk membentuk generasi muda yang memiliki kapasitas, profesionalisme, dan integritas.
Menurutnya, pengalaman mahasiswa dalam organisasi, khususnya melalui kepemimpinan di BEM, dapat menjadi sarana untuk mengasah kemampuan koordinasi, pengambilan keputusan, komunikasi, dan kepemimpinan.
Ia juga memperkenalkan konsep statecraft, yakni kemampuan mengelola negara secara terampil, sebagai salah satu perspektif yang penting dipahami generasi muda yang kelak akan mengambil peran dalam pembangunan bangsa.
Pesan tersebut menjadi relevan dengan semangat Munas BEM SI yang tidak hanya berbicara mengenai keberlangsungan organisasi, tetapi juga bagaimana mahasiswa mempersiapkan diri menjadi bagian dari kepemimpinan bangsa di masa depan.

Musyawarah Berjalan Tertib dan Lancar
Ghifar melaporkan, seluruh rangkaian Munas XIX Aliansi BEM SI 2026 berlangsung tertib dan lancar. Berbagai agenda, mulai dari persidangan, penyampaian pandangan dan aspirasi, pembahasan agenda organisasi hingga pengambilan keputusan, dilaksanakan melalui mekanisme musyawarah.
Proses persidangan dipimpin oleh tiga pimpinan sidang, yakni Shabbarin Syakur sebagai pimpinan sidang pertama, Gufron Alsafi’i sebagai pimpinan sidang kedua, dan Adelia Afiffatuzzahra sebagai pimpinan sidang ketiga.
“Kami berperan aktif dalam semua tahapan Munas dan sangat terkesan dengan kekompakan, rasa persaudaraan dan persatuan, serta saling pengertian yang ditunjukkan oleh seluruh delegasi BEM se-Indonesia,” tutur Ghifar.
Ia menyebut banyak pengalaman dan inspirasi yang diperoleh selama mengikuti forum tersebut. Semua itu, menurutnya, menjadi bekal penting untuk memperkuat kepemimpinan dan membawa BEM KBM Unib menjadi organisasi mahasiswa yang semakin aktif, adaptif, dan berdampak.
Pengalaman dan capaian delegasi Unib dalam Munas XIX BEM SI tersebut selanjutnya dilaporkan kepada Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Unib, Prof. Agustin Zarkani, S.P, M.Si.
Bagi Unib, kepercayaan yang diberikan kepada Nindy Amelia bukan hanya menjadi kebanggaan bagi BEM KBM Unib, tetapi juga menjadi cermin semakin kuatnya kontribusi mahasiswa Unib dalam ruang-ruang kepemimpinan nasional.
Dari Bengkulu, suara mahasiswa Unib kini ikut mengambil bagian dalam menentukan arah gerak organisasi mahasiswa di tingkat nasional, membawa semangat kepemimpinan, kolaborasi, dan keberpihakan pada isu-isu yang relevan bagi generasi muda dan masa depan Indonesia. [Laporan: Arif | Editor: Purna Herawan | Humas].