BENGKULU. Cari camilan untuk teman ngopi? Butuh oleh-oleh atau buah tangan untuk sanak keluarga? Atau sekadar ingin jalan-jalan sore sambil jajan? Anda bisa mengunjungi event Gebyar Semarak Merah Putih di kampus Universitas Bengkulu (UNIB).
Di sana, deretan stand UMKM berjajar rapi. Ada camilan rumahan, produk herbal, madu, telur asin, sampai bingkai berisi serangga kering. Pengunjung datang silih berganti, dari mahasiswa, dosen, hingga warga sekitar kampus.

Stand UMKM dari Fakultas Pertanian
Keramaian ini akan berlangsung selama 10 hari mulai 24 Oktober hingga 2 November 2026 nanti. Gebyar Semarak Merah Putih merupakan program Pemerintah Provinsi Bengkulu. Kegiatan ini berlangsung di 12 titik. Setiap kabupaten dan kota mendapat satu titik, satu titik berada di tingkat provinsi, dan satu titik di Universitas Bengkulu.
Di UNIB, bazar UMKM menjadi salah satu agenda utama. Panitia menghadirkan sekitar 50 stand UMKM beserta beragam layanan publik. Pesertanya beragam. Ada ibu rumah tangga yang sudah lama berjualan. Ada mahasiswa yang baru merintis usaha. Ada pula unit usaha binaan sejumlah fakultas di UNIB.
Tak Perlu Sewa Lapak, Omzet Ikut Terdongkrak
Gebyar Semarak Merah Putih, salah satu manfaatnya dirasakan Yani Hartini. Dia menjalankan usaha camilan bernama GurihLab. Selama ini, ia menjual produknya melalui pesanan dan jaringan kenalan.
Bazar ini memberi Ibu Yani, sapaannya kesempatan berjualan langsung kepada pembeli. Ia tidak perlu menyewa tempat. Penyelenggara sudah menyiapkan stand untuknya.
Ibu Yani menyebut fasilitas ini sangat membantu. Ia mengaitkannya dengan kondisi ekonomi yang sedang sulit. Menurutnya, tambahan pemasukan sekecil apa pun berarti bagi pelaku usaha kecil.
“Ini sangat membantu kami sebagai UMKM. Kami difasilitasi sehingga bisa menambah penghasilan, apalagi sekarang lagi krisis,” ujar Ibu Yani.

Purwanto juga ikut merasakan manfaat serupa. Ia merintis usaha Rotuson sejak masih berstatus mahasiswa. Usahanya baru berjalan sekitar lima bulan. Meski begitu, Rotuson sudah menerima beberapa pesanan besar, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga acara kantor.
Bagi Purwanto, keunggulan bazar ini ada pada lokasinya yang terpusat. Pengunjung cukup datang ke satu tempat untuk melihat banyak produk. Kondisi ini membuat jumlah pengunjung bertambah.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi dan juga Universitas Bengkulu yang sudah mewadahi kami untuk memperkenalkan produk-produk kami kepada masyarakat,” kata Purwanto.
Ia menilai kegiatan ini membuat aktivitas berdagang lebih terpusat. Bagi usaha yang baru berjalan lima bulan seperti Rotuson, kesempatan bertemu banyak calon pembeli sangat dibutuhkan.
Dulu Cuma Dibeli Teman Kuliah, Kini Produk Dikenal Lebih Luas
Bazar ini juga memberi tempat bagi usaha milik mahasiswa UNIB. Sebagian merupakan produk usaha yang dijalankan lewat program Bantuan Mahasiswa Wirausaha (BMW). Beberapa di antaranya juga adalah unit bisnis binaan BEM ataupun fakultas.
Aisyah dan kawan-kawan mengelola usaha bernama Morifish. Ia mendapat stand melalui program Bantuan Mahasiswa Wirausaha. Sebelum mengikuti bazar, pembeli Morifish kebanyakan teman kuliah dan rekan satu jurusan.

Setelah bazar dimulai, pembelinya bertambah. Mahasiswa dari fakultas lain mulai mengenal Morifish. Dosen dari berbagai fakultas juga ikut membeli.
“Kalau untuk dampak dari acara ini, yang tadinya Morifish hanya dikenal oleh mahasiswa, sekarang mulai dikenal oleh berbagai fakultas lain serta dosen-dosen di fakultas lain,” tutur Aisyah.
Aisyah menilai perubahan ini penting. Usaha mahasiswa sering hanya berputar di lingkup pertemanan. Bazar membantu Morifish menjangkau pembeli di luar lingkup itu.
“Jadi lebih banyak yang mengenal Morifish, bukan hanya di kalangan teman atau sebatas satu jurusan saja,” tambahnya.
Amel, pelaku usaha produk herbal SR12, punya tujuan lain. Ia menilai banyak orang belum mengenal produknya. Karena itu, ia memakai bazar untuk menjelaskan SR12 langsung kepada pengunjung.
“Banyak orang juga belum tahu tentang produk SR12. Jadi dari sini kami memperkenalkan kembali produk SR12 ini,” kata Amel.
Serangga Perusak Tanaman Disulap Jadi Suvenir Bernilai Rupiah
Insect Art menawarkan produk yang berbeda dari stand lain. Usaha ini berada di bawah naungan BMW dan dikelola oleh Filia Oktiadana bersama timnya.
Mereka mengeringkan serangga, lalu menyusunnya di dalam bingkai. Mereka juga membuat gantungan kunci berbahan resin. Penjualannya memakai sistem pre-order.

Filia dan timnya hanya memilih serangga yang merusak tanaman. Dengan cara ini, usaha mereka ikut membantu petani mengurangi hama.
Filia adalah mahasiswa Program Studi Proteksi Tanaman. Ia mempelajari teknik pembuatan produknya dari materi kuliah. Hasilnya, produk Insect Art punya nilai hias sekaligus nilai edukasi.
“Jujur kami sangat senang diberikan fasilitas seperti ini. Jadi kami bisa mempromosikan usaha kami sendiri,” ujar Filia.
Selain berjualan, Filia memakai stand untuk memperkenalkan BMW kepada mahasiswa UNIB. Ia juga mempromosikan program studinya kepada pengunjung.
“Kami juga bisa memberi tahu mahasiswa UNIB kalau ada yang namanya BMW. Kami juga bisa mempromosikan prodi saya sendiri, karena penjualan kami itu kami pelajari dari prodi kami sendiri,” jelasnya.
Insect Art menunjukkan bahwa ilmu dari ruang kuliah bisa menjadi produk yang dibeli masyarakat.
Madu hingga Telur Asin Buatan Mahasiswa Laris di Tangan Pengunjung
Stand Fakultas Pertanian termasuk yang paling banyak dikunjungi. Stand ini menjual buah, telur asin, dan madu hasil kerja mahasiswa.
Pengunjung yang datang tidak hanya membeli. Sebagian bertanya tentang asal produk dan cara pembuatannya.

Perwakilan fakultas mengaku senang dengan adanya bazar ini. Menurutnya, karya mahasiswa jarang mendapat kesempatan dijual langsung kepada masyarakat di luar kampus.
“Pertama, kami sangat senang karena ada acara seperti ini. Hasil karya mahasiswa, terutama Fakultas Pertanian, bisa dikenal dan bisa juga dijual ke masyarakat luas,” ujarnya.
Ia juga melihat antusiasme pengunjung selama bazar berlangsung. Banyak pelaku usaha ikut serta dan banyak warga datang berkunjung.
“Kita lihat sekarang banyak yang mengikuti, banyak juga yang berkunjung,” tambahnya.
Bagi fakultas, bazar ini memberi masukan langsung dari pembeli. Mahasiswa bisa melihat respons masyarakat terhadap produk yang mereka hasilkan.
Dampak Gebyar Semarak Merah Putih UNIB bagi UMKM
Bazar seperti Gebyar Semarak Merah Putih menyentuh tiga persoalan dasar UMKM: akses tempat berjualan, perputaran uang, dan jangkauan pasar.

Dampak pertama menyangkut akses pasar fisik. Biaya sewa tempat masih menjadi beban bagi usaha mikro. Bazar yang difasilitasi pemerintah dan kampus memangkas biaya itu. Pelaku usaha bisa mengalihkan modal untuk produksi, bukan untuk sewa lapak. Kebutuhan ini juga disadari pemerintah daerah. Pemerintah Kota Bengkulu sebelumnya mencanangkan penyediaan lokasi khusus bagi pelaku UMKM untuk menjajakan dagangan.
Dampak kedua menyangkut perputaran uang dalam waktu singkat. Pameran berdurasi pendek terbukti bisa menghasilkan transaksi nyata. Sebagai pembanding, pada Festival Tabut 2025 yang digelar Pemerintah Provinsi Bengkulu, lima UMKM binaan Kanwil DJPb Bengkulu mencatat total penjualan Rp23,25 juta selama pameran. Angka ini menunjukkan bahwa kegiatan berbasis acara mampu mendorong penjualan langsung bagi usaha kecil.
Dampak ketiga menyangkut perluasan pasar. Banyak UMKM masih bergantung pada pembeli dari lingkaran terdekat. Masalah ini makin berat bagi usaha yang belum menguasai pemasaran daring. Data Kanwil DJPb Bengkulu menunjukkan 35,71 persen UMKM di Bengkulu masih terkendala pemasaran digital, sehingga sulit masuk ke pasar yang lebih luas. Bazar tatap muka memberi jalan keluar. Pelaku usaha bisa bertemu pembeli baru tanpa harus lebih dulu menguasai platform digital.
Skala sektor ini juga besar. Mengutip data BPS Kota Bengkulu, jumlah UMKM di Kota Bengkulu naik dari 29.182 unit pada 2015 menjadi 44.773 unit pada 2025. Pertumbuhan jumlah usaha ini perlu diimbangi ruang pemasaran yang memadai. Tanpa itu, persaingan antarusaha kecil makin ketat di pasar yang sama.
Keterlibatan kampus menambah nilai tersendiri. Usaha mahasiswa mendapat kesempatan menguji produk langsung di hadapan konsumen. Mereka belajar menetapkan harga, melayani pembeli, dan membaca permintaan pasar. Pengalaman ini sulit diperoleh dari ruang kelas.
Para pelaku usaha berharap kolaborasi Pemerintah Provinsi Bengkulu dan Universitas Bengkulu ini berlanjut. Jika digelar secara rutin, bazar serupa dapat menjadi ruang pemasaran tetap bagi UMKM Kota Bengkulu, baik usaha mahasiswa maupun usaha rumahan. Bazar UMKM Gebyar Semarak Merah Putih masih berlangsung hingga 2 November 2026 di halaman Gedung Rektorat Universitas Bengkulu. Ajak keluarga dan teman, datang langsung, dan belanja produk lokal! (SNA01)