Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Bengkulu (Unib) melaksanakan Program Diaspora Berdampak 2026 dengan menghadirkan dua profesor dari International Islamic University Malaysia (IIUM), Prof. Dr. Muhammad Taher dan Prof. Dr. Deny Susanti, untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman akademik di bidang kimia dan kefarmasian. Program ini diawali dengan kuliah umum yang digelar di Ruang Rapat Utama Dekanat FMIPA Unib, Selasa (13/10/2026).



Dua profesor dari Malaysia disambut dengan tari persembahan “sekapur sirih” sebagai simbol ucapan selamat datang di kampus Unib.(foto:hms1)
Kehadiran kedua profesor dari International Islamic University Malaysia tersebut menjadi bagian dari upaya FMIPA Unib memperkuat kapasitas riset, meningkatkan kompetensi akademik, serta memperluas jejaring kolaborasi internasional. Keduanya akan terlibat dalam serangkaian kegiatan akademik dan pengembangan riset di lingkungan FMIPA Unib hingga 24 Oktober 2026.
Kuliah umum sekaligus pembukaan rangkaian program tersebut dihadiri Rektor Unib Prof. Dr. Indra Cahyadinata, S.P, M.Si, Wakil Rektor II Bidang Keuangan dan Umum Dr. Yulian Fauzi, S.Si, M.Si, Dekan FMIPA Unib Prof. Dr. Sal Prima Yudha S., S.Si, M.Si, para wakil dekan, Sekretaris LPPM Unib Bidang Penelitian, Ketua Prodi S1 Farmasi, para dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa dari bidang ilmu terkait.
Ketua Jurusan Kimia FMIPA Unib, Prof. Dr. Evi Maryanti, M.Si, menjelaskan bahwa Program Hibah Diaspora Berdampak merupakan inisiatif strategis Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) untuk memperkuat kapasitas dan jejaring riset perguruan tinggi melalui keterlibatan diaspora Indonesia yang berkiprah di luar negeri.
Program ini tidak sekadar menjadi ruang pertukaran pengetahuan, tetapi juga dirancang untuk mendorong pengembangan kepemimpinan riset, peningkatan talenta peneliti yang selaras dengan kebutuhan industri, serta percepatan pengembangan karier akademik peneliti muda.


Ketua Jurusan Kimia FMIPA Unib, Prof. Evi Maryanti, ketika menyampaikan sambutan.(foto:hms1)
“Program ini diarahkan pada penguatan kapasitas riset dan inovasi perguruan tinggi melalui transfer pengetahuan, pengembangan kepemimpinan riset, peningkatan talenta riset yang selaras dengan kebutuhan industri, serta percepatan karier akademik peneliti muda. Sinergi perguruan tinggi, diaspora, industri, dan mitra strategis lainnya diharapkan mampu mendorong hilirisasi riset sekaligus mempercepat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi nasional,” ujarnya.
Prof. Evi mengungkapkan, pada tahun perdana ini FMIPA Unib berhasil memperoleh pendanaan untuk dua proposal dalam Program Hibah Diaspora Berdampak, masing-masing dari Program Studi S1 Kimia dan Program Studi S1 Farmasi. Capaian tersebut menjadi peluang bagi kedua program studi untuk memperkuat kegiatan akademik dan riset melalui pendampingan langsung dari akademisi yang memiliki pengalaman dalam lingkungan perguruan tinggi internasional.
Setelah melalui koordinasi intensif, dua akademisi diaspora Indonesia yang kini menjadi guru besar di IIUM, Prof. Muhammad Taher dan Prof. Deny Susanti, bersedia terlibat dalam pelaksanaan program tersebut.
“Kita sangat bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada Prof. Taher dan Prof. Deny yang telah menyempatkan waktu untuk hadir langsung dan membersamai kita dalam menyukseskan Program Diaspora Berdampak ini. Kepada Rektor beserta jajaran dan Dekan FMIPA beserta jajaran, kami juga mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan,” tutur Prof. Evi.
Ia menambahkan, selama pelaksanaan program, berbagai agenda telah dirancang untuk menghasilkan manfaat akademik dan riset secara konkret. Kegiatannya meliputi kuliah umum, mentoring klinik atau pendampingan akademik dan riset, penjajakan potensi kerja sama infrastruktur riset, serta diskusi penyusunan peta jalan (roadmap) penelitian dan pengembangan.
Rangkaian kegiatan juga mencakup perumusan masalah penelitian, penyusunan proposal riset internasional, hingga pengembangan naskah artikel ilmiah dan diskusi mengenai strategi publikasi pada jurnal internasional. Melalui agenda tersebut, Jurusan Kimia FMIPA Unib diharapkan tidak hanya memperoleh pengayaan wawasan keilmuan, tetapi juga dapat memperkuat fondasi kolaborasi riset yang berkelanjutan.

Dekan FMIPA Unib, Prof. Sal Prima Yudha, menyambut baik pelaksanaan program tersebut dan menyampaikan apresiasi kepada Jurusan Kimia yang berhasil memperoleh hibah pendanaan. Menurutnya, keterlibatan akademisi dengan jejaring internasional merupakan kesempatan penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan penelitian di lingkungan fakultas.
“Kehadiran jejaring global diharapkan menjadi wadah terjadinya transfer pengetahuan, pertukaran pengalaman metodologis, pengayaan perspektif keilmuan, serta pembentukan standar mutu riset yang sejalan dengan praktik terbaik internasional. Selamat untuk Jurusan Kimia yang mendapatkan Hibah Diaspora Berdampak. Semoga ini menjadi inspirasi dan motivasi bagi para dosen dan peneliti di jurusan lainnya,” ujarnya.
Dukungan serupa disampaikan Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata. Ia mengapresiasi keberhasilan Jurusan Kimia FMIPA Unib memperoleh hibah tersebut sekaligus menyambut kedatangan Prof. Muhammad Taher dan Prof. Deny Susanti di Bengkulu. Rektor berharap kehadiran kedua akademisi itu dapat membuka ruang pertukaran pengetahuan yang lebih luas serta memperkuat kolaborasi riset antara Unib dan perguruan tinggi mitra di luar negeri.
Prof. Indra menegaskan, Program Diaspora Berdampak sejalan dengan arah kebijakan Kemendiktisaintek yang mendorong perguruan tinggi di Indonesia meningkatkan akses dan kualitas kolaborasi dengan peneliti Indonesia yang berkiprah di luar negeri. Keterlibatan diaspora diharapkan menjadi instrumen untuk mempercepat transformasi kualitas riset sekaligus membangun kemitraan akademik jangka panjang.



Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata saat menyampaikan sambutan dan mengapresiasi program hibah Diaspora Berdampak yang dilaksanakan Jurusan Kimia.(foto:hms1)
“Diaspora Berdampak diharapkan dapat meningkatkan akses terhadap kolaborasi dengan peneliti asal Indonesia yang berkiprah di luar negeri. Dengan demikian, program ini menjadi instrumen penting dalam mempercepat transformasi kualitas riset perguruan tinggi dalam negeri sekaligus menjadi katalisator pembentukan kerja sama jangka panjang antara perguruan tinggi di Indonesia dan jejaring diaspora di luar negeri,” ujarnya.
Rektor menambahkan, Unib secara institusional mendukung dan berkomitmen menyukseskan program yang diinisiasi Ditjen Risbang Kemendiktisaintek tersebut. Selain memperkuat kapasitas riset dan kolaborasi internasional, program ini juga berpotensi mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi, khususnya dalam aspek pelaksanaan Tridharma, penguatan kerja sama, serta peningkatan luaran riset dan hilirisasi.
“Program ini sangat strategis dan memiliki banyak manfaat. Interaksi dengan kelompok riset internasional tidak hanya memperluas jejaring profesional, tetapi juga membuka peluang kolaborasi jangka panjang dalam bentuk publikasi bersama, proposal pendanaan, serta konsorsium riset lintas negara. Bagi institusi, keikutsertaan dalam program ini dapat meningkatkan kapasitas kelembagaan, serta berkontribusi terhadap internasionalisasi dan reputasi perguruan tinggi,” papar Prof. Indra. [Purna Herawan | Humas].



Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata menandatangani MoA dengan Prof. Taher dan Prof. Deny dari International Islamic University Malaysia dalam mensukseskan program hibah Diaspora Berdampak.(foto:hms1)



Rektor Unib dan Wakil Rektor II, Dekan dan Wakil Dekan FMIPA, Ketua Jurusan Kimia, Ketua Prodi Farmasi, Sekretaris LPPM Unib, serta para dosen dan mahasiswa foto bersama dengan Prof. Taher dan Prof. Deny.(foto:hms1)