UNIVERSITAS BENGKULU

Universitas Bengkulu (Unib) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Delegasi mahasiswa Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian (FP) Unib, berhasil meraih dua gelar juara dalam ajang Soil Festival 2026 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah (HMIT) IPB University pada awal Oktober 2026. Dua prestasi tersebut diraih melalui kompetisi Mini GIS Project dan Essay Study Case, yang mengangkat isu pengelolaan karbon tanah, perubahan penggunaan lahan, serta keberlanjutan pertanian.

Delegasi Unib menerima piala dan piagam sebagai Juara II dalam GIS Mini Project Competition yang diselenggarakan oleh HMIT IPB University.(foto:ist-doc)

Capaian ini menunjukkan kemampuan mahasiswa Unib dalam mengembangkan gagasan dan solusi berbasis keilmuan untuk menjawab persoalan lingkungan dan pertanian. Melalui pendekatan pemetaan geografis dan kajian kritis, para mahasiswa tidak hanya berkompetisi, tetapi juga menawarkan perspektif akademik terhadap tantangan pengelolaan sumber daya lahan, khususnya di Provinsi Bengkulu.

Soil Festival 2026 merupakan ajang nasional tahunan yang menjadi wadah bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk berkompetisi, bertukar pengetahuan, dan memperluas wawasan di bidang ilmu tanah serta pertanian berkelanjutan. Pada penyelenggaraan tahun ini, kegiatan tersebut diikuti 23 tim dari 12 perguruan tinggi di Indonesia yang berpartisipasi dalam sejumlah kategori lomba, termasuk GIS Mini Project Competition dan Essay Study Case.

Dalam kompetisi Mini GIS Project, tim Unib yang beranggotakan Alfredo Fahrezi (E1F024019), Afrilya (E1F024039), dan Muhammad Rafi Pratama (E1F025038) berhasil meraih Juara II, dengan karya berjudul “Pemetaan Karbon Organik Tanah sebagai Basis Pengelolaan Lahan Pertanian Berkelanjutan dan Ekowisata di Desa Pagar Ruyung, Bengkulu Utara”.

Karya tersebut mengangkat pentingnya pemetaan karbon organik tanah sebagai salah satu dasar dalam merencanakan pengelolaan lahan secara berkelanjutan. Pendekatan berbasis Sistem Informasi Geografis (GIS) memungkinkan informasi spasial mengenai kondisi tanah dimanfaatkan untuk mendukung pengambilan keputusan dalam pengelolaan lahan pertanian sekaligus pengembangan potensi ekowisata. Dengan demikian, pemanfaatan data dan teknologi pemetaan dapat menjadi salah satu instrumen untuk menyelaraskan kepentingan produktivitas pertanian dan pelestarian lingkungan.

Delegasi Unib menerima piala dan piagam sebagai Juara III dalam Kompetisi Essay Studi Case yang diselenggarakan oleh HMIT IPB University.(foto:ist-doc)

Prestasi berikutnya diraih pada kategori Essay Study Case. Tim Unib yang terdiri atas Rosi Oktavia Ambarita (E1F025007) dan Sri Wahyuni (E1F025034) berhasil meraih Juara III melalui esai berjudul “Sawah Berganti Sawit: Ke Mana Karbon Tanah di Bengkulu Pergi? Menakar Dinamika Karbon Tanah di Tengah Perubahan Penggunaan Lahan dan Ancaman terhadap Masa Depan Pertanian”.

Esai tersebut menyoroti persoalan perubahan penggunaan lahan dari sawah menjadi perkebunan kelapa sawit serta implikasinya terhadap dinamika karbon tanah dan keberlanjutan pertanian. Isu ini relevan dengan tantangan pengelolaan lahan di daerah, terutama dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, keberlanjutan ekosistem, dan ketersediaan lahan untuk mendukung sektor pertanian.

Melalui kajian tersebut, mahasiswa Unib menunjukkan bahwa persoalan perubahan penggunaan lahan perlu dilihat secara komprehensif, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari aspek ekologis dan keberlanjutan produksi pangan. Pendekatan kritis semacam ini menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran akademik terhadap pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab.

Keberhasilan kedua tim tidak terlepas dari bimbingan dosen pendamping Program Studi Ilmu Tanah, yakni Iffah Izzatuddinillah, S.P, M.Si, dan Riesca Wulanda Citra, S.P, M.Sc. Dukungan juga diberikan oleh program studi, Fakultas Pertanian, universitas, serta Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah (HIMITA) yang turut mendorong kesiapan delegasi dalam mengikuti kompetisi.

Dosen pendamping, Iffah Izzatuddinillah dan Riesca Wulanda Citra, yang melakukan pembinaan itensif bagi delegasi mahasiswa Unib dalam Soil Festival 2026 di IPB University.(foto:ist-doc)

Pendampingan akademik, ruang diskusi, dukungan terhadap pengembangan gagasan, serta fasilitasi kebutuhan mahasiswa menjadi bagian dari upaya bersama dalam mempersiapkan delegasi untuk bersaing di tingkat nasional. Sinergi tersebut sekaligus mencerminkan pentingnya lingkungan akademik yang mendukung pengembangan potensi, kreativitas, dan kemampuan mahasiswa dalam menghasilkan karya ilmiah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unib, Prof. Agustin Zarkani, S.P, M.Si, Ph.D, menyambut baik capaian tersebut dan menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa serta dosen pendamping yang telah mengharumkan nama universitas melalui Soil Festival 2026.

Menurutnya, keberhasilan meraih dua gelar juara pada tahun ini merupakan perkembangan positif dibandingkan dengan keikutsertaan delegasi Unib pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, ketika mahasiswa Unib belum berhasil meraih gelar juara.

“Tahun lalu kita tidak mendapat juara, namun di tahun ini ada dua kategori yang kita dapatkan sebagai juara. Ini merupakan awal yang baik, menjadi semangat rekan-rekan Ilmu Tanah untuk mempertahankan dan meningkatkan latihannya,” ujar Prof. Agustin.

Ia meyakini bahwa prestasi mahasiswa dapat terus ditingkatkan melalui pembinaan yang terencana dan berkelanjutan. Karena itu, capaian yang diraih pada tahun ini diharapkan menjadi pemacu semangat bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan kompetensi, memperkuat persiapan, dan meningkatkan kualitas karya yang dihasilkan dalam berbagai kompetisi akademik.

“Selamat pada para mahasiswa dan dosen pendamping yang meraih prestasi di Soil Festival ini. Semoga ke depan mampu meraih prestasi lebih baik lagi dan capaian saat ini diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk berkompetisi dan meraih prestasi di bidang keilmuan lainnya,” ujarnya. [Laporan: Agustin | Editor: Purna Herawan | Humas].