Universitas Bengkulu (Unib) terus memperkuat komitmennya dalam mencegah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di lingkungan kampus. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan edukasi, peningkatan kesadaran sivitas akademika, serta pengembangan sistem deteksi dini yang melibatkan berbagai pihak.



Wakil Rektor I Unib, Ketua UPA-BK, para narasumber foto bersama saat seminar Deteksi Dinis Penyalahgunaan Narkotia di GLT Unib.(foto:ist-doc)
Salah satu langkah konkret tersebut diwujudkan melalui Seminar Deteksi Dini Penyalahgunaan Narkotika di Lingkungan Universitas Bengkulu yang digelar Unit Penunjang Akademik Bimbingan Konseling (UPA-BK) Unib di Ruang Rapat Utama Gedung Layanan Terpadu (GLT) Unib, Selasa (6/10/2026).
Mengusung tema “Narkotika NO, Prestasi YES”, seminar tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik Unib, Prof. Dr. Kamaludin, S.E, M.M. Kegiatan ini diikuti ratusan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan (Tendik) di lingkungan Unib.
Untuk memperkaya perspektif peserta, seminar menghadirkan tiga narasumber dari BNN Provinsi Bengkulu dan bidang layanan sosial, yakni Evi Susanti, S.H, selaku Penyuluh Narkoba BNN Provinsi Bengkulu; Aidil Fitriansyah, S.Psi, M.Si, psikolog dan konselor adiksi BNN Provinsi Bengkulu; serta Sefriansyah, S.Sos, pekerja sosial.
Dalam sambutannya, Prof. Kamaludin menegaskan bahwa upaya menciptakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, sehat, dan terbebas dari penyalahgunaan narkotika merupakan tanggung jawab bersama seluruh sivitas akademika.
Menurutnya, pencegahan perlu dilakukan secara menyeluruh dengan membangun budaya kewaspadaan sekaligus menciptakan lingkungan kampus yang mendukung pengawasan dan keamanan.
“Salah satu upaya pencegahan, di masing-masing sekretariat organisasi mahasiswa, ruangan dosen dan tenaga kependidikan perlu didesain lebih terbuka, disertai pengawasan lingkungan, termasuk melalui penambahan CCTV untuk memastikan penyalahgunaan narkotika tidak terjadi di kampus Unib,” ujar Prof. Kamaludin.
Ia berharap seminar tersebut tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga mendorong seluruh sivitas akademika untuk mampu mengenali tanda-tanda awal penyalahgunaan narkotika dan memahami langkah yang tepat apabila menemukan indikasi penyalahgunaan di lingkungan kampus.
“Melalui kegiatan ini, kita berharap pemahaman sivitas akademika semakin meningkat mengenai bahaya penyalahgunaan narkotika serta langkah-langkah pencegahan dan penanganannya,” tambahnya.



Wakil Rektor I Unib Prof. Kamaludin dan Ketua UPA-BK Unib Yessilia Osira, menyampaikan sambutan pada acara seminar Deteksi Dinis Penyalahgunaan Narkotia di GLT Unib.(foto:ist-doc)
Sementara itu, Kepala UPA-BK Unib, Yessilia Osira, S.Sos, M.P, menjelaskan bahwa seminar ini dirancang sebagai wadah edukasi sekaligus upaya memperkuat kesadaran sivitas akademika mengenai pentingnya deteksi dini penyalahgunaan narkotika.
Deteksi dini, kata Yessilia, tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengenali tanda-tanda awal penyalahgunaan narkotika, tetapi juga mencakup pemahaman mengenai mekanisme pelaporan, asesmen, pendampingan, hingga akses terhadap layanan yang sesuai.
Ia menjelaskan, penyalahgunaan narkotika masih menjadi persoalan sosial, kesehatan, dan keamanan yang membutuhkan perhatian serius di Indonesia. Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek hukum dan kriminalitas, tetapi juga dapat berdampak terhadap kesehatan fisik dan mental, produktivitas, kualitas sumber daya manusia, serta masa depan generasi muda.
Berdasarkan Survei Nasional Penyalahgunaan Narkotika tahun 2023 yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN), angka prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia pada kelompok penduduk usia 15–64 tahun mencapai 1,73 persen atau sekitar 3,33 juta orang. Angka tersebut, sebagaimana disampaikan dalam kegiatan, meningkat menjadi 2,1 persen pada tahun 2025.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan narkotika masih menjadi ancaman nyata, khususnya bagi kelompok usia produktif. Dalam pemaparan kegiatan juga disebutkan bahwa 10,65 persen penyalah guna narkotika berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa.
Menurut Yessilia, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika karena kampus merupakan ruang pendidikan yang dihuni kelompok usia produktif sekaligus tempat pembentukan sumber daya manusia yang akan berperan dalam pembangunan bangsa.
Di sisi lain, lingkungan kampus juga perlu mendapatkan perhatian dalam upaya pencegahan karena dapat menjadi salah satu lokasi yang berpotensi digunakan untuk penyalahgunaan narkotika. Karena itu, membangun kampus yang bersih dari narkotika tidak cukup hanya melalui kegiatan sosialisasi, tetapi perlu didukung sistem pencegahan dan deteksi dini yang terencana dan berkelanjutan.
“Semoga dengan seminar ini kita sama-sama mendapatkan pemahaman tentang deteksi dini penyalahgunaan narkotika. Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya memperkuat sinergi antara Unib dengan BNN Provinsi Bengkulu dalam menciptakan lingkungan kampus yang sehat, aman, produktif, dan bersih dari penyalahgunaan serta peredaran gelap narkotika,” ujar Yessilia.




Para narasumber saat menyampaikan materi seminar Deteksi Dinis Penyalahgunaan Narkotia di Unib.(foto:ist-doc)
Deteksi Dini hingga Reintegrasi Sosial
Dalam sesi pemaparan, Evi Susanti menyampaikan apresiasi terhadap kerja sama yang dibangun UPA-BK Unib dengan BNN Provinsi Bengkulu. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan BNN memiliki peran penting dalam memperkuat upaya pencegahan, khususnya dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap bahaya narkotika.
Ia menjelaskan bahwa BNN memiliki berbagai program yang diarahkan untuk mewujudkan generasi muda yang tanpa narkoba, sehat, berprestasi, dan berintegritas. Karena itu, keterlibatan perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang mendukung tujuan tersebut.
Sementara itu, Aidil Fitriansyah menjelaskan bahwa deteksi dini pada prinsipnya bertujuan menemukan permasalahan sedini mungkin sehingga dapat segera ditindaklanjuti melalui asesmen dan layanan yang tepat.
Menurutnya, deteksi dini tidak dimaksudkan untuk memberikan stigma atau menghakimi seseorang, melainkan menjadi pintu awal untuk memahami persoalan dan menghubungkan individu dengan bantuan yang sesuai.
“Target akhir dari deteksi dini adalah meningkatkan keselamatan, menemukan masalah lebih awal, mengurangi stigma, dan menghubungkan individu dengan layanan yang tepat,” jelas Aidil.
Perspektif tersebut kemudian diperkuat Sefriansyah yang menekankan pentingnya layanan berkelanjutan bagi individu yang menghadapi persoalan penyalahgunaan narkotika. Penanganan tidak berhenti pada tahap deteksi, tetapi perlu dilanjutkan dengan asesmen, rehabilitasi medis maupun sosial, hingga proses reintegrasi ke dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Melalui seminar ini, UPA-BK Unib tidak hanya mendorong peningkatan pengetahuan sivitas akademika mengenai bahaya narkotika, tetapi juga memperkuat kesadaran bahwa pencegahan merupakan tanggung jawab bersama. Sinergi antara Unib, BNN Provinsi Bengkulu, serta berbagai unsur terkait diharapkan menjadi fondasi dalam membangun ekosistem kampus yang sehat, aman, produktif, dan mendukung mahasiswa untuk berkembang serta meraih prestasi tanpa narkotika. [Laporan: Yessilia | Editor: Purna Herawan | Humas].