UNIVERSITAS BENGKULU

Universitas Bengkulu (Unib) menandai satu tahun kepemimpinan Rektor Prof. Dr. Indra Cahyadinata, S.P, M.Si dengan berbagai capaian di bidang akademik, riset, pemeringkatan, kerja sama, tata kelola, hingga pengembangan infrastruktur.

Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata berbincang akrab dengan para awak media.(foto:hms1)

Capaian tersebut disampaikan Prof. Indra dalam kegiatan Coffee Morning bersama puluhan awak media di Pojok Secangkir Kopi Kampus (SKOPUS) Fakultas Pertanian Unib, Selasa pagi (6/10/2026).

Pertemuan tersebut menjadi ruang refleksi atas perjalanan Unib selama satu tahun sekaligus forum untuk mendengarkan masukan media dan masyarakat terhadap arah pengembangan universitas.

Dalam paparannya, Prof. Indra menegaskan bahwa satu tahun kepemimpinan bukan sekadar momentum untuk menyampaikan capaian, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mempertanggungjawabkan berbagai langkah yang telah dilakukan serta membuka ruang evaluasi terhadap pekerjaan yang masih harus diselesaikan.

Sejak awal kepemimpinannya, Unib terus memperkuat arah pengembangan kampus dengan semangat Unib Berdampak. Paradigma tersebut diarahkan agar keberadaan universitas tidak berhenti pada capaian internal, tetapi mampu menghadirkan manfaat nyata melalui pendidikan yang membuka kesempatan bagi mahasiswa, penelitian yang dekat dengan persoalan masyarakat, kerja sama yang menghasilkan program konkret, serta layanan perguruan tinggi yang semakin mudah diakses.

“Keberhasilan semua itu akan kita ukur dari manfaat yang dirasakan masyarakat Bengkulu dan Indonesia atas kehadiran Unib,” ujar Prof. Indra.

Didampingi Wakil Rektor II Dr. Yulian Fauzi, Wakil Rektor IV Prof. Ashar Muda Lubis dan Wakil Ketua PPID Unib Iqbal Rahmat Gani, Rektor Prof. Indra paparkan capaian satu tahun kepemimpinannya.(foto:hms1)

Pemeringkatan dan Akreditasi Menguat

Salah satu capaian yang menonjol selama satu tahun terakhir terlihat dari peningkatan posisi Unib dalam SCImago Institutions Rankings (SIR). Pada 2026, Unib berada di peringkat 46 di Indonesia, meningkat dari peringkat 66 pada 2025. Sebelumnya, pada 2024, Unib berada di peringkat 51.

Peningkatan tersebut menjadi salah satu indikator penguatan kinerja akademik dan riset Unib di tingkat nasional.

Kemajuan juga terlihat dari kualitas akreditasi program studi. Jumlah program studi yang memperoleh akreditasi Unggul atau peringkat A meningkat dari 28 program studi menjadi 39 program studi dari total 87 program studi yang dimiliki Unib. Dengan demikian, sekitar 45 persen program studi Unib kini telah berada pada kategori akreditasi tersebut.

Capaian ini menjadi bagian dari upaya Unib untuk terus meningkatkan mutu pendidikan sekaligus memperkuat daya saing program studi di tengah dinamika pendidikan tinggi yang semakin kompetitif.

Rektor Prof. Indra sengaja mengajak para awak media ngopi bareng di Pojok Skopus Fakultas Pertanian Unib, sebagai apresiasi terhadap geliat UMKM dan kewirausahaan di lingkungan kampus.(foto:hms1)

Perluas Pilihan Program Studi dan Internasionalisasi

Dalam periode kepemimpinannya, Unib juga memperluas pilihan pendidikan bagi calon mahasiswa melalui pembukaan empat program studi baru, yakni S1 Teknik Industri, S2 Teknik Sipil, S2 Teknik Mesin, dan S1 Penyuluhan Pertanian.

Penataan kelembagaan juga dilakukan pada rumpun ilmu kesehatan. Program Studi Kebidanan dan Keperawatan yang sebelumnya berada di bawah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) kini ditempatkan di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK).

Penataan tersebut diarahkan untuk memperkuat pengelolaan program studi sekaligus membangun ekosistem pendidikan kesehatan yang lebih sesuai dengan rumpun keilmuannya.

Dari sisi layanan akademik, Unib mulai menerbitkan ijazah dan transkrip nilai dalam dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, sejak pelaksanaan Wisuda ke-113. Kebijakan ini diharapkan dapat memperluas peluang lulusan, baik ketika melanjutkan pendidikan maupun memasuki pasar kerja internasional.

Semangat internasionalisasi juga mulai terlihat dari penerimaan mahasiswa asing. Pada 2026, sebanyak 16 mahasiswa diterima pada gelombang pertama dan sembilan mahasiswa pada gelombang kedua. Proses penerimaan mahasiswa internasional tersebut masih terus berlangsung sebagai bagian dari upaya Unib memperluas jejaring dan meningkatkan daya tarik kampus di tingkat global.

Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata menjelaskan soal penambahan program studi dan penerimaan mahasiswa internasional secara sistematis mulai tahun 2026.(foto:hms1)

Peminat Meningkat, Akses Pendidikan Diperluas

Daya tarik Unib juga tercermin dari meningkatnya jumlah peminat mahasiswa baru. Pada penerimaan mahasiswa baru 2026, total peminat dari seluruh jalur masuk mencapai 42.854 orang, meningkat dibandingkan 40.950 peminat pada tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.900 peserta dinyatakan diterima. Tingkat keketatan penerimaan mencapai 13,77 persen.

Peningkatan jumlah peminat tersebut menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap Unib sekaligus menjadi tantangan bagi universitas untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

Pada sisi akses pendidikan, Unib juga terus memperluas dukungan bagi mahasiswa dari kelompok yang membutuhkan. Pada tahun akademik 2026/2027, melalui jalur SNBP dan SNBT tercatat 691 mahasiswa menerima KIP Kuliah, sementara penambahan penerima dari jalur lainnya masih berlangsung.

Tidak hanya memberikan dukungan pembiayaan, Unib juga mengembangkan skema KIP-PA (Partner Academic). Program ini mempertemukan mahasiswa penerima KIP dengan kakak tingkat sesama penerima KIP untuk memberikan pendampingan akademik selama menjalani perkuliahan.

Melalui skema tersebut, mahasiswa penerima bantuan diharapkan tidak hanya memperoleh dukungan dari sisi pembiayaan pendidikan, tetapi juga memiliki lingkungan pendampingan yang dapat membantu mereka beradaptasi dan berkembang secara akademik.

Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata menjelaskan soal meningkatnya minat masyarakat kuliah di Unib dan perluasan akses pendidikan serta bantuan beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu(foto:hms1)

178 Publikasi Internasional Terindeks Scopus

Di bidang riset, Unib mencatat 178 publikasi internasional yang terindeks Scopus sepanjang Januari hingga September 2026. Pada periode yang sama, tercatat 553 publikasi pada jurnal terindeks SINTA.

Prof. Indra menegaskan, peningkatan kuantitas publikasi harus berjalan beriringan dengan upaya memperluas pemanfaatan hasil penelitian. Menurutnya, riset perguruan tinggi harus mampu bergerak dari ruang akademik menuju ruang pembelajaran, pelayanan publik, dunia usaha, hingga penyelesaian berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Dengan demikian, keberhasilan riset tidak semata diukur dari jumlah publikasi, tetapi juga dari sejauh mana pengetahuan dan inovasi yang dihasilkan dapat memberikan manfaat nyata.

Untuk mendukung aktivitas akademik dan riset, Unib juga tengah membangun Laboratorium FMIPA. Fasilitas tersebut diharapkan semakin memperkuat kapasitas praktikum, penelitian, serta pengembangan inovasi di lingkungan universitas.

Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata dan Kepala LPPM Unib Prof. Dedi Suryadi menjelaskan perkembangan dan peningkatan jumlah penelitian, publikasi, serta pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan Unib.(foto:hms1)

Perkuat Jejaring Kerja Sama dan Pengelolaan Aset

Pada bidang kerja sama, sepanjang satu tahun terakhir Unib mencatat 26 nota kesepahaman (MoU) dengan berbagai instansi, baik di dalam maupun luar negeri.

Penguatan jejaring juga dilakukan melalui pembentukan jaringan Ikatan Keluarga Alumni hingga tingkat fakultas. Keberadaan jaringan alumni tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari ekosistem yang memperkuat hubungan antara universitas, lulusan, dunia kerja, dan masyarakat.

Sementara itu, dukungan terhadap pengembangan kampus juga datang melalui hibah aset dari Pemerintah Provinsi Bengkulu. Unib menerima Barang Milik Daerah berupa tanah seluas 19.860 meter persegi beserta bangunan eks Transito di Jalan W.R. Supratman, Kandang Limun, Kota Bengkulu. Aset tersebut memiliki nilai perolehan Rp2.795.650.000.

Prof. Indra menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Bengkulu atas dukungan tersebut dan memastikan aset akan dikelola secara bertanggung jawab untuk menunjang kebutuhan layanan dan pengembangan universitas.

Pada sektor usaha, Unib juga terus memperkuat Badan Pengelola Usaha (BPU) sebagai pengelola lini usaha universitas. Pengembangan unit usaha diarahkan tidak semata-mata untuk mengejar keuntungan, tetapi juga menghadirkan layanan kepada masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan pembiayaan dan pengembangan kampus.

Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata menjelaskan perkuatan jejaring kerja sama dan pengelolaan serta penambahan aset Unib sebagai hasil kolaborasi dan sinergi dengan Pemerintah Provinsi Bengkulu.(foto:hms1)

Tata Kelola Mendapat Sejumlah Pengakuan

Penguatan tata kelola juga menjadi bagian penting dalam perjalanan Unib selama satu tahun terakhir. Dalam pengelolaan keuangan, laporan keuangan Badan Layanan Umum (BLU) Unib tahun 2025 memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari auditor independen.

Sementara itu, dalam Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Tahun 2026 oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Unib memperoleh nilai 84,6 dengan predikat A. Nilai tersebut terdiri atas komponen perencanaan kinerja sebesar 24,6, pengukuran kinerja 27, pelaporan kinerja 10,5, serta evaluasi akuntabilitas kinerja internal sebesar 22,5.

Pada tahun yang sama, Unib juga memperoleh sejumlah penghargaan yang mencerminkan kinerja pengelolaan institusi. Di antaranya adalah penghargaan PNBP Badan Layanan Umum Terbaik dari KPKNL Bengkulu atas kinerja pengelolaan Barang Milik Negara (BMN) tahun 2025.

Unib juga memperoleh penghargaan kolaborasi dari BPS Provinsi Bengkulu serta meraih Peringkat I Nasional kategori Pojok Statistik Terbaik Binaan BPS Provinsi pada Anugerah Hari Statistik Nasional 2026.

Pengakuan lainnya datang melalui UB Halal Metric Award 2026, di mana Unib meraih Medali Perunggu pada kategori perguruan tinggi bidang kebijakan (Policy) atas dukungannya terhadap pengembangan ekosistem halal nasional.

Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata menjelaskan tentang peningkatan tata kelola universitas dan sejumlah penghargaan dan pengakuan yang diterima Unib dari lembaga lain.(foto:hms1)

Media sebagai Mitra Evaluasi dan Kemajuan Unib

Di hadapan para awak media, Prof. Indra juga menempatkan media sebagai salah satu mitra strategis universitas. Menurutnya, media memiliki peran penting dalam menyampaikan berbagai informasi mengenai peluang pendidikan, hasil penelitian, kerja sama, prestasi, maupun layanan Unib kepada masyarakat. Pada saat yang sama, media juga berfungsi sebagai ruang kontrol sosial yang membantu universitas melihat berbagai persoalan dari perspektif publik.

“Melalui pertanyaan dan kritik media, kami dapat memahami bagian yang belum jelas serta pekerjaan yang masih perlu dibenahi,” kata Prof. Indra.

Ia menegaskan, berbagai capaian yang diraih Unib selama satu tahun terakhir bukanlah hasil kerja satu pihak. Kemajuan tersebut merupakan buah dari kontribusi bersama dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, mitra, pemerintah, media, dan masyarakat.

Prof. Indra juga mengakui bahwa berbagai capaian yang diraih Unib saat ini tidak terlepas dari fondasi yang telah dibangun oleh para pemimpin universitas sebelumnya. Karena itu, keberlanjutan dan penguatan capaian menjadi bagian penting dalam perjalanan Unib ke depan.

“Kami terus berupaya agar Unib senantiasa memberikan dampak bagi Indonesia umumnya dan masyarakat Bengkulu khususnya,” tutupnya.

Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata terbuka menerima kritik, saran dan masukan dari awak media dan mengajak para insan pers ikut berkontribusi memajukan Universitas Bengkulu.(foto:hms1)

Media Sampaikan Aspirasi untuk Kemajuan Kampus

Kegiatan Coffee Morning yang berlangsung dalam suasana akrab tersebut turut dihadiri Wakil Rektor II Bidang Keuangan dan Umum Dr. Yulian Fauzi, S.Si, M.Si, Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Prof. Ashar Muda Lubis, S.Si, M.Sc, Ph.D, serta Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unib Prof. Dr. Eng. Dedi Suryadi, S.T, M.T.

Setelah pemaparan Rektor, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang dipandu Wakil Ketua Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Unib Iqbal Rahmat Gani, S.KPm, M.Kesos.

Forum tersebut tidak hanya diisi dengan pertanyaan mengenai perkembangan Unib selama satu tahun terakhir, tetapi juga menjadi ruang bagi para wartawan untuk menyampaikan berbagai saran, masukan, dan aspirasi bagi kemajuan universitas.

Beberapa masukan yang disampaikan antara lain usulan agar Unib membuka peluang beasiswa bagi insan pers serta membentuk Lembaga Uji Kompetensi Wartawan (LUKW) bekerja sama dengan Dewan Pers. Usulan tersebut dinilai dapat menjadi bentuk kontribusi Unib dalam meningkatkan kapasitas dan profesionalisme insan pers sekaligus memperkuat ekosistem pers di Provinsi Bengkulu.

Diskusi berlangsung dalam suasana hangat dan terbuka. Rektor bersama jajaran pimpinan Unib secara langsung merespons berbagai pertanyaan dan masukan yang disampaikan para awak media.

Pertemuan yang berlangsung hingga siang hari tersebut kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama, menandai komitmen untuk terus menjaga hubungan kemitraan antara Unib dan media dalam mengawal perjalanan universitas serta menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. [Purna Herawan | Humas].