UNIVERSITAS BENGKULU

BENGKULU – Universitas Bengkulu (UNIB) terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang aman, inklusif, berintegritas, dan bebas dari berbagai bentuk kekerasan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Workshop Penguatan Kapasitas Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) yang dilaksanakan pada Selasa, 29 September 2026, bertempat di Aula Utama Gedung Layanan Terpadu Universitas Bengkulu.

Workshop mengusung tema “Sinergi Akademisi dan Penegak Hukum dalam Membangun Sistem Pencegahan dan Penanganan Kekerasan yang Efektif Menuju Kampus Aman dan Berintegritas.” Kegiatan mempertemukan unsur pimpinan perguruan tinggi, Satgas PPKPT dari berbagai perguruan tinggi di Bengkulu, aparat penegak hukum, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta berbagai unsur di lingkungan Universitas Bengkulu.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Titin Ungsianik, S.Kp., M.B.A., Ketua Satgas PPKPT Universitas Indonesia, dan IPTU Freddy Simaremare, S.H., Panit PPA Subdit IV/Renakta Ditreskrimum Polda Bengkulu. Kehadiran narasumber dari unsur akademisi dan penegak hukum menjadi bagian penting dalam memperkuat perspektif serta koordinasi pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi.

Rektor Universitas Bengkulu, Prof. Dr. Indra Cahyadinata, dalam sambutannya menegaskan bahwa kemajuan sebuah perguruan tinggi tidak hanya dapat dilihat dari pembangunan gedung, kelengkapan fasilitas, maupun berbagai prestasi yang berhasil diraih. Kemajuan kampus juga harus tercermin dari kemampuannya memberikan rasa aman kepada seluruh warga kampus untuk belajar dan bekerja tanpa rasa takut.

“Kampus dikatakan maju ketika setiap orang di dalamnya dapat belajar dan bekerja tanpa rasa takut, ketika seseorang yang terluka berani bersuara karena yakin mereka didengar, dilindungi, dan diperlakukan dengan baik,” sebagaimana ditekankan Rektor dalam sambutannya.

Rektor juga menyampaikan apresiasi terhadap peran Satgas PPKPT Universitas Bengkulu yang selama ini telah menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan. Workshop ini diharapkan mampu memperkaya pengalaman Satgas, meningkatkan kepedulian warga kampus, sekaligus mempererat koordinasi dengan aparat penegak hukum sehingga kualitas layanan dan perlindungan bagi warga kampus dapat terus ditingkatkan.

Secara khusus, Rektor menyampaikan selamat datang dan apresiasi kepada Dr. Titin Ungsianik. Kehadiran Ketua Satgas PPKPT Universitas Indonesia tersebut dinilai menjadi kesempatan berharga bagi UNIB untuk belajar dan bertukar pengalaman mengenai pelaksanaan pencegahan dan penanganan kekerasan di perguruan tinggi.

Apresiasi juga disampaikan kepada IPTU Freddy Simaremare, S.H. dari Polda Bengkulu yang hadir memberikan penguatan dari perspektif penegakan hukum. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman mengenai koordinasi dan penanganan kasus kekerasan sesuai dengan kewenangan masing-masing pihak.

Sementara itu, Ketua Panitia Workshop, Syahrio Marta Hila, M.Sos., dalam sambutannya menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang lebih luas dari sekadar mencerdaskan kehidupan bangsa. Perguruan tinggi juga harus mampu membangun lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, berkeadilan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Menurutnya, kampus seharusnya menjadi ruang bagi setiap orang untuk belajar, bekerja, berdiskusi, mengembangkan potensi, dan menyampaikan gagasan tanpa rasa takut terhadap kekerasan, intimidasi, diskriminasi, maupun tindakan yang merendahkan martabat manusia.

Ia menegaskan bahwa pencegahan dan penanganan kekerasan tidak dapat dibebankan hanya kepada Satgas PPKPT. Upaya tersebut membutuhkan komitmen bersama, sistem yang kuat, sumber daya manusia yang kompeten, serta koordinasi antara pimpinan perguruan tinggi, Satgas, sivitas akademika, mahasiswa, penegak hukum, dan seluruh pemangku kepentingan.

“Pencegahan bukan sekadar membuat aturan, tetapi juga membangun budaya. Budaya saling menghormati, budaya berani melapor, budaya tidak mentoleransi kekerasan, serta budaya yang memberikan dukungan kepada korban,” menjadi salah satu pesan yang ditekankan dalam kegiatan tersebut.

Ketua Satgas PPKPT Universitas Bengkulu, Dr. Mona Ardina, M.Si., turut menekankan pentingnya melihat setiap laporan kekerasan tidak hanya sebagai sebuah kasus atau angka, tetapi dari sisi kemanusiaan.

“Di balik setiap laporan, ada manusia yang membutuhkan perhatian dan dukungan,” ujarnya.

Dr. Mona juga menyampaikan bahwa laporan yang diterima Satgas mengalami peningkatan. Hal tersebut semakin memperkuat pentingnya keberadaan sistem pencegahan, pelaporan, pendampingan, dan penanganan yang mampu memberikan rasa aman kepada seluruh warga kampus. Ia turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga workshop dapat terlaksana.

Melalui workshop ini, peserta memperoleh penguatan dari dua perspektif yang saling melengkapi. Dari sisi perguruan tinggi, penguatan diarahkan pada upaya edukasi, pencegahan, mekanisme pelaporan, pendampingan, perlindungan korban, serta penciptaan budaya akademik yang sehat. Sementara dari perspektif penegakan hukum, kegiatan memberikan ruang untuk memperkuat pemahaman mengenai aspek hukum, prosedur penanganan, koordinasi, serta perlindungan terhadap korban dan saksi.

Sinergi tersebut menjadi penting karena penanganan setiap laporan tetap harus memperhatikan kewenangan masing-masing pihak, prinsip kehati-hatian, kerahasiaan informasi, perlindungan terhadap korban, asas keadilan, serta penghormatan terhadap hak setiap individu.

Workshop juga menjadi ruang bagi Satgas PPKPT dari berbagai perguruan tinggi untuk bertukar pengalaman, memperkuat jejaring, menyamakan persepsi, serta mendiskusikan berbagai langkah konkret yang dapat diterapkan dalam membangun lingkungan perguruan tinggi yang lebih aman.

Melalui kegiatan ini, Universitas Bengkulu berharap terbangun komunikasi dan kolaborasi yang berkelanjutan antara akademisi, Satgas PPKPT, pimpinan perguruan tinggi, mahasiswa, aparat penegak hukum, serta seluruh pemangku kepentingan. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan respons ketika kekerasan telah terjadi, tetapi juga memperkuat sistem pencegahan agar berbagai bentuk kekerasan dapat diantisipasi sedini mungkin.

Rektor Universitas Bengkulu kemudian secara resmi membuka Workshop Penguatan Kapasitas Satgas PPKPT Universitas Bengkulu, dengan harapan kegiatan tersebut menjadi langkah nyata menuju kampus yang semakin aman, inklusif, dan berintegritas.

Semangat tersebut sejalan dengan jargon Satgas PPKPT Universitas Bengkulu:

“Diam bukan pilihan, bersama cegah kekerasan.”

Melalui kolaborasi seluruh unsur kampus dan pemangku kepentingan, UNIB terus mendorong terciptanya lingkungan akademik yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan prestasi, tetapi juga memberikan rasa aman, perlindungan, serta penghormatan terhadap martabat setiap warga kampus.

UNIB Hebat, Tanpa Kekerasan.

Laporan : HMS24