Ada perjalanan panjang di balik setiap gelar sarjana. Ada hari-hari yang diisi perkuliahan dan praktikum, penelitian dan tugas akhir, organisasi dan kegiatan lapangan. Namun, di balik semua itu, ada pula doa orang tua, dukungan keluarga, bimbingan dosen, serta pendampingan almamater yang turut mengantarkan seorang mahasiswa hingga akhirnya berdiri di ambang kelulusan.

Kesadaran itulah yang hendak dihadirkan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Bengkulu (Unib) melalui sebuah tradisi baru bertajuk “Serah Kasih Lulusan”.
Untuk pertama kalinya, kegiatan ini digelar pada 1 September 2026, sepekan sebelum Yudisium ke-70 FMIPA Unib dalam rangka Wisuda Periode ke-115 Universitas Bengkulu.
Bukan sekadar seremoni menjelang kelulusan, Serah Kasih dirancang sebagai ruang perjumpaan antara fakultas, lulusan, dan keluarga. Sebuah ruang untuk berbagi kebahagiaan, mengenang perjalanan pendidikan, sekaligus membuka percakapan tentang masa depan para lulusan.
Mengusung tema “Mengantar Putra-Putri Terbaik, Menyebar Kebanggaan Sains”, kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom tersebut mempertemukan pimpinan fakultas, ketua jurusan dan program studi, para lulusan, serta orang tua/wali.
Meski berlangsung secara virtual untuk mengefisienkan anggaran, suasana yang dibangun justru melampaui batas sebuah kegiatan formal. FMIPA Unib ingin menunjukkan bahwa perjalanan pendidikan seorang mahasiswa bukan hanya urusan kampus dan mahasiswa, melainkan juga perjalanan keluarga yang sejak awal ikut membersamai.
Lebih dari Sekadar Pelepasan
Selama ini, yudisium identik dengan suasana formal. Surat keputusan kelulusan diserahkan, lulusan berprestasi diberikan penghargaan, dan para mahasiswa bersiap melangkah menuju prosesi wisuda. Namun, melalui Serah Kasih, FMIPA Unib mencoba menghadirkan sisi lain dari sebuah kelulusan.
Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi fakultas untuk menyapa orang tua/wali secara lebih dekat, mendengarkan pengalaman mereka, sekaligus membuka ruang komunikasi yang selama ini mungkin belum banyak tersedia.
Dekan FMIPA Universitas Bengkulu, Prof. Dr. Sal Prima Yudha, S.Si, M.Si, mengatakan Serah Kasih merupakan kegiatan perdana yang diharapkan dapat menjadi jembatan silaturahmi antara fakultas dan keluarga lulusan.
Menurutnya, keberhasilan mahasiswa mencapai tahap akhir pendidikan merupakan buah dari proses panjang yang melibatkan banyak pihak. Karena itu, orang tua/wali perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam perjalanan akademik tersebut.

Prof. Sal juga mengajak para orang tua/wali untuk memberikan pandangan, pengalaman, serta masukan kepada FMIPA sebagai bahan evaluasi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan.
Keterbukaan itu bahkan disampaikan melalui sebuah ungkapan sederhana. “Seperti motto rumah makan Minang, kalaulah rasanya enak, tolong beri tahu teman. Kalau rasanya kurang sedap, mohon beri tahu kami.”
Ungkapan tersebut menggambarkan pesan yang ingin dibangun FMIPA, yaitu bahwa apresiasi diterima sebagai penyemangat, sementara kritik dan saran dipandang sebagai bagian penting dari proses pembenahan.
Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat, FMIPA menyadari bahwa kualitas pendidikan dan layanan kepada mahasiswa harus terus beradaptasi. Karena itu, komunikasi dengan keluarga lulusan tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi diharapkan berkembang menjadi bagian dari evaluasi dan penguatan institusi.
Mengenang Jalan Panjang Menuju Sarjana
Salah satu bagian yang menghadirkan nuansa emosional dalam Serah Kasih adalah pemutaran video perjalanan lulusan.
Potongan-potongan perjalanan mahasiswa sejak pertama kali mengenal kehidupan kampus hingga menyelesaikan pendidikan ditampilkan kembali. Ada masa pengenalan kampus, perkuliahan, praktikum, organisasi, kegiatan lapangan, penelitian, hingga penyelesaian skripsi maupun tesis.
Bagi para lulusan, rangkaian itu merupakan potongan masa yang segera menjadi kenangan. Bagi orang tua, perjalanan tersebut menjadi pengingat tentang panjangnya proses yang telah dilalui putra-putri mereka.
Sebab, di balik toga dan gelar akademik, ada cerita tentang kerja keras mahasiswa. Ada pula dukungan keluarga, bimbingan dosen, dan pelayanan tenaga kependidikan yang secara bersama-sama membentuk perjalanan seorang calon sarjana.
Pesan yang muncul setelah pemutaran video terasa sederhana, tetapi memiliki makna yang kuat: “Hari ini mereka bukan hanya menyelesaikan pendidikan. Mereka sedang memulai perjalanan baru.”
Kalimat itu menjadi jembatan dari satu fase kehidupan menuju fase berikutnya. Kelulusan bukan titik akhir, melainkan awal bagi lulusan untuk membawa ilmu dan nilai-nilai yang diperoleh selama berada di kampus ke tengah masyarakat.

Serah Kasih, Bukan Pelepasan Tanggung Jawab
Puncak kegiatan ditandai dengan Prosesi Serah Kasih melalui pemutaran video bertajuk “Mengantar Putra-Putri Terbaik, Menyebar Kebanggaan Sains”, kemudian dilanjutkan penyampaian pesan penyerahan lulusan kepada orang tua/wali oleh Wakil Dekan Bidang Akademik FMIPA Unib, Prof. Dr. Morina Adfa.
Namun, istilah “serah kasih” tidak dimaknai sebagai pelepasan tanggung jawab pendidikan dari almamater kepada keluarga. Sebaliknya, prosesi tersebut menjadi simbol bahwa pendidikan adalah perjalanan bersama. Keluarga, mahasiswa, dan almamater memiliki peran masing-masing dalam membentuk generasi yang berilmu, berkarakter, serta siap memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Makna itu menjadi semakin relevan karena pada Yudisium ke-70 yang digelar 8 September 2026, FMIPA Unib melepas 291 lulusan dari 13 program studi. Mereka berasal dari Program Magister Kimia, Magister Biologi, Magister Statistika, serta Program Sarjana Kimia, Farmasi, Fisika, Geofisika, Biologi, Matematika, Statistika, dan tiga program Diploma, yakni Laboratorium Sains, Kebidanan, dan Keperawatan.
Para lulusan tersebut kini memasuki ruang kehidupan yang lebih luas. Ilmu yang diperoleh di bangku kuliah diharapkan tidak berhenti sebagai capaian akademik, tetapi menjadi bekal untuk bekerja, berkarya, dan mengabdi.
Dalam pesan kepada para lulusan, Prof. Morina menekankan pentingnya membawa nilai integritas, tanggung jawab, kejujuran, kepercayaan, transparansi, kebijaksanaan, serta kecerdasan dalam menghadapi berbagai persoalan di masyarakat.
Dari Doa Menjadi Bangga
Jika ada satu bagian yang paling kuat menggambarkan makna Serah Kasih, barangkali jawabannya terdapat pada sesi “Suara Orang Tua: Dari Doa Menjadi Bangga.”
Tiga orang tua/wali mendapat kesempatan menyampaikan pengalaman dan harapan setelah mendampingi putra-putri mereka menyelesaikan pendidikan di FMIPA Unib. Mereka adalah Henry Albertus Lumban Siantar, SE, orang tua dari Rico Edward Lumban Siantar, lulusan S1 Farmasi; Saprani, orang tua dari Putri Ramanda, lulusan S2 Kimia; serta Erni Fahniarti, S.Pd, orang tua dari Revika Putri Asharia, lulusan S1 Matematika.
Dari ruang virtual, suara para orang tua membawa satu pesan yang sama, yaitu keberhasilan anak merupakan kebahagiaan keluarga.
Perjalanan pendidikan yang panjang tidak hanya diwarnai oleh capaian akademik, tetapi juga doa, dukungan, pengorbanan, dan kesabaran keluarga. Karena itu, ketika seorang mahasiswa akhirnya menyandang gelar sarjana, kebanggaan tersebut sesungguhnya menjadi kebanggaan bersama.


Tangkapan layar, orang tua lulusan, Bapak Henry Albertus Lumban Siantar dan Bapak Saprani menyampaikan terimakasih dan kisah singkat perjuangan keluarganya hingga anaknya lulus kuliah.(foto:ist-morina)
Ketika Orang Tua Ikut Berbicara tentang Masa Depan
Serah Kasih tidak berhenti pada ungkapan syukur dan kebanggaan. FMIPA Unib juga membuka ruang yang lebih luas melalui sesi “Suara Orang Tua untuk FMIPA Unib.”
Pada sesi ini, Rahmaniar, ibu dari Aminah Syahidah dari Bengkulu Selatan, lulusan S1 Farmasi; Abner Pasaribu dari Medan, ayah dari Rodina Pasaribu, lulusan S1 Biologi; serta Jon Karyawan, ayah dari Aulia Permata Putri, lulusan D3 Keperawatan, menyampaikan apresiasi sekaligus sejumlah masukan.
Salah satu harapan yang mengemuka adalah perlunya wadah komunikasi yang dapat membantu lulusan memperoleh informasi mengenai dunia kerja, karier, dan peluang profesional setelah menyelesaikan pendidikan.
Masukan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara perguruan tinggi dan mahasiswa semestinya tidak berakhir ketika ijazah diterima. Setelah menjadi alumni, mereka tetap membutuhkan jejaring, informasi, dan ruang untuk berkembang.


Tangkapan layar, orang tua lulusan, Ibu Erni Fahniarti dan Ibu Rahmaniar menyampaikan terimakasih dan aspirasi kepada FMIPA Unib.(foto:ist-morina)
Menanggapi hal itu, Dekan FMIPA Unib menjelaskan bahwa fakultas telah mengarahkan para lulusan untuk memiliki akun LinkedIn sebagai salah satu sarana memperoleh informasi lowongan pekerjaan. Di sisi lain, FMIPA juga telah memiliki Ikatan Alumni (IKAL) FMIPA, sementara masing-masing program studi memiliki grup dan ikatan alumni.
Jejaring tersebut diharapkan terus diperkuat agar tidak hanya menjadi ruang silaturahmi, tetapi juga berkembang menjadi jaringan profesional yang memberikan manfaat nyata bagi lulusan. “Alumni adalah bagian yang tidak terpisahkan dari FMIPA,” menjadi semangat yang mendasari upaya penguatan jejaring tersebut.
Masukan lain datang dari Jon Karyawan yang berharap FMIPA dapat mengembangkan pendidikan keperawatan melalui pembukaan Program Studi S1 Keperawatan dan Program Profesi Ners.
Menanggapi harapan tersebut, Prof. Sal menyampaikan bahwa prosesnya telah memasuki tahap melengkapi kekurangan berkas. Fakultas berharap proses tersebut dapat segera diselesaikan sehingga kedua program studi dapat diwujudkan.
Dengan demikian, suara orang tua tidak hanya menjadi bagian dari seremoni, tetapi juga menjadi masukan bagi arah pengembangan fakultas.


Tangkapan layar, orang tua lulusan, Bapak Abner Pasaribu dan Bapak Jon Karyawan, menyampaikan terimakasih dan aspirasi kepada FMIPA Unib.(foto:ist-morina)
Menghargai Perjuangan, Menatap Masa Depan
Di antara 291 lulusan yang dilepas pada Yudisium ke-70, terdapat pula mereka yang menempuh pendidikan dengan dukungan beasiswa.
Sebanyak 47 lulusan merupakan penerima beasiswa KIP, sementara 10 lulusan lainnya menerima beasiswa dari berbagai skema, antara lain fast-track S1-S2 Kimia, Bank Indonesia, Bantuan UKT PPAPT Kemendiktisaintek, Penerbit Erlangga, Smart Scholarship, dan APJS Pusri.
Data tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan menuju kelulusan berlangsung melalui latar belakang dan pengalaman yang beragam. Namun, pada akhirnya, mereka bertemu pada satu titik yang sama, yaitu menyelesaikan pendidikan dan bersiap memasuki babak kehidupan berikutnya.
Serah Kasih kemudian ditutup dengan foto bersama secara virtual. Layar komputer menjadi ruang pertemuan terakhir pada pagi itu. Jajaran pimpinan fakultas, lulusan, dan keluarga berada dalam satu bingkai kebersamaan.
Sederhana, tetapi sarat makna. Sebab, sebuah kelulusan tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Di balik gelar akademik terdapat perjuangan. Di balik perjuangan terdapat doa. Dan di balik keberhasilan seorang anak, selalu ada keluarga yang memberikan dukungan.
Melalui tradisi baru ini, FMIPA Universitas Bengkulu tidak hanya mengantar para lulusan meninggalkan kampus. Lebih dari itu, FMIPA ingin memastikan bahwa setiap lulusan membawa serta ilmu, karakter, integritas, dan semangat untuk memberi manfaat di mana pun mereka berkarya.
“Mengantar Putra-Putri Terbaik, Menyebar Kebanggaan Sains.” Sebuah tema yang pada akhirnya bukan hanya menjadi slogan, tetapi juga menjadi pesan tentang bagaimana ilmu pengetahuan seharusnya bergerak: dari ruang-ruang akademik menuju kehidupan, dari kampus menuju masyarakat, dan dari keberhasilan individu menjadi manfaat bersama. [Laporan: Morina Adfa | Editor: Purna Herawan | Humas].