Sebanyak 713 mahasiswa baru Universitas Bengkulu (Unib) tahun 2026 terdaftar untuk mengikuti Student Leadership Education (SLE) Jilid #15 yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Besar Mahasiswa (BEM KBM) Unib melalui Kementerian Pendidikan Karakter dan Kepemimpinan (KPKK).



Kegiatan technical meeting mengawali rangkaian SLE Jilid #15 oleh BEM KBM Unib.(foto:ist-doc)
Mengusung tema “The Journey of Leaders”, SLE Jilid #15 dirancang sebagai ruang pembinaan sekaligus proses belajar bagi mahasiswa baru untuk mengenali potensi diri, membangun karakter, dan mengembangkan kemampuan kepemimpinan.
Program unggulan KPKK BEM KBM Unib ini berlangsung selama sekitar empat bulan, sejak grand launching pada 29 Agustus 2026 hingga Wisuda SLE yang dijadwalkan pada akhir November 2026.
Selama mengikuti program, para peserta akan menjalani empat tahapan pembelajaran, yakni Kelas Titik Awal, Kelas Tempa Diri, Kelas Gerak Nyata, dan Kelas Manifesta. Keempat kelas tersebut dirancang sebagai tahapan berkelanjutan yang membawa peserta memahami diri, menempa kemampuan personal, mengasah kepemimpinan, hingga mengaktualisasikan kemampuan tersebut dalam aksi nyata.
Menteri KPKK BEM KBM Unib sekaligus Koordinator SLE Jilid #15, Sandri Prayuda, mengatakan proses yang panjang tersebut merupakan bagian penting dari pendidikan kepemimpinan. Menurutnya, kepemimpinan tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui pengalaman, tantangan, perjuangan, dan ketekunan.
“Prosesnya panjang, berlangsung selama empat bulan. Di akhir ada lomba, leadership camp, social project, serta pengerjaan tugas akhir untuk menguji tingkat kompetensi peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian pelatihan. Setelah semua proses dilewati, peserta yang lulus akan diwisuda pada Wisuda SLE di akhir November 2026,” ujarnya.



Grand launching SLE Jilid #15 ditandai pemukulan dol oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Unib.(foto:ist-doc)
Rangkaian SLE diawali dengan technical meeting yang dilaksanakan panitia di sekitar Danau Inspirasi Unib pada 25 Agustus 2026. Selanjutnya, kegiatan resmi dibuka melalui grand launching yang berlangsung di Auditorium Gedung C Unib.
Grand launching tersebut dihadiri Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unib Prof. Agustin Zarkani, SP, M.Si, Ph.D. Pembukaan SLE Jilid #15 ditandai dengan pemukulan dol secara simbolis oleh Prof. Agustin mewakili pimpinan Unib.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Agustin mengapresiasi penyelenggaraan SLE sebagai salah satu ruang pengembangan mahasiswa. Ia berharap SLE tidak hanya menjadi kegiatan pengembangan keterampilan, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menggali potensi sekaligus membentuk karakter kepemimpinan.
Suasana grand launching semakin semarak dengan kehadiran grup band OWTIEZ sebagai guest star. Kehadiran bintang tamu tersebut menambah antusiasme mahasiswa baru yang mengikuti pembukaan SLE Jilid #15.



Dalam kegiatan grand launching SLE Jilid #15, para peserta dihibur group band OWTIEZ.(foto:ist-doc)
Setelah pembukaan, proses pembinaan dilanjutkan dengan kegiatan outbound yang dipusatkan di Lapangan Basket Unib pada 30 Agustus 2026. Dalam kegiatan tersebut, panitia menyiapkan empat permainan yang dirancang untuk melatih kekompakan, komunikasi, kolaborasi, dan kemampuan bekerja dalam tim.
Melalui permainan dan aktivitas kelompok, peserta tidak hanya dituntut menyelesaikan tantangan, tetapi juga belajar mengambil peran, berkomunikasi dengan anggota kelompok, menyusun strategi, dan mencari solusi bersama. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran kepemimpinan yang dikemas secara aktif dan menyenangkan.
Saat menutup kegiatan outbound, Sandri kembali mengingatkan peserta bahwa perjalanan menjadi seorang pemimpin membutuhkan keberanian untuk menjalani proses. “Orang hebat tidak lahir dari proses yang mudah. Ia lahir dari proses yang sulit dan panjang. Sejarah telah membuktikan bahwa orang-orang hebat lahir dari kerasnya proses dan perjuangan,” ujarnya.
Ia mengajak mahasiswa baru menjadikan SLE bukan sekadar kegiatan organisasi, tetapi sebagai ruang belajar dan proses bertumbuh selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.
“Begitu pula sebagai mahasiswa baru yang belajar di Sekolah Kepemimpinan BEM Unib ini, ada tempat dan proses yang harus dijalani dengan baik. Proses tersebut membutuhkan waktu. Semua tidak ada yang instan, perlu proses dan perjuangan yang panjang,” lanjutnya.



Peserta SLE Jilid #15 mengikuti outbound untuk meningkatkan kebersamaan dan kekompakan.(foto:ist-doc)
Selain empat kelas utama, SLE Jilid #15 juga akan diisi dengan berbagai kegiatan pendukung, seperti Competition for SLE (CFS), leadership camp, social project, serta berbagai penugasan yang menjadi bagian dari proses menuju Wisuda SLE.
CFS menjadi ruang bagi peserta untuk mengaktualisasikan hasil pembelajaran melalui kompetisi. Sementara itu, leadership camp dan social project diarahkan untuk memberikan pengalaman kepemimpinan yang lebih nyata, termasuk kemampuan bekerja sama dan memberikan kontribusi bagi lingkungan.
Sandri berharap seluruh rangkaian tersebut dapat mendorong peserta untuk tidak berhenti pada pengembangan kapasitas pribadi, tetapi mampu menerjemahkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh ke dalam kontribusi nyata.
“Selamat belajar, bertumbuh, dan berkontribusi bagi Unib dan masyarakat nantinya. Kami tunggu kontribusi terbaik kalian,” katanya.

SLE Jilid #15 menjadi salah satu ruang pengembangan talenta mahasiswa yang dihadirkan melalui organisasi kemahasiswaan di lingkungan Unib. Melalui proses pembinaan yang berlangsung selama empat bulan, mahasiswa baru diharapkan mampu mengeksplorasi potensi diri sekaligus mengembangkan berbagai keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan akademik, organisasi, dan sosial.
Sejalan dengan tema “The Journey of Leaders”, perjalanan SLE diharapkan menjadi titik awal bagi mahasiswa untuk membangun karakter kepemimpinan yang adaptif, berintegritas, bertanggung jawab, serta memiliki keberanian untuk mengambil peran dan menghadapi tantangan.
“Kita semua berharap, melalui SLE ini dapat membantu mahasiswa meningkatkan jiwa kepemimpinan, menggali dan mengembangkan potensi diri, meningkatkan kemampuan public speaking, kerja sama dan problem solving, berpikir kritis dan menyampaikan gagasan secara baik, berani mengambil peran dan menghadapi tantangan, serta mendorong mahasiswa agar memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat melalui social project,” pungkas Sandri. [Laporan: Sandri | Editor: Purna Herawan | Humas].