UNIVERSITAS BENGKULU

Universitas Bengkulu (Unib) memperkuat kemitraan dengan Pemerintah Desa Tik Kuto, Kecamatan Rimbo Pengadang, Kabupaten Lebong, dalam mendorong pembangunan dan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unib dan Pemerintah Desa Tik Kuto, pekan lalu.

Sekretaris LPPM Unib Bidang Pengabdian Masyarakat, Dr. Hardiansyah didampingi Dosen Pengabdi, saat menandatangani MoU dengan Kepala Desa Tik Kuto. (foto:ist-lppm)

Penandatanganan MoU menjadi momentum penting dalam membangun kemitraan yang lebih terarah dan berkelanjutan antara perguruan tinggi dan desa. Kerja sama tersebut sekaligus memperkuat posisi Desa Tik Kuto sebagai salah satu desa binaan Unib yang dikembangkan melalui pendekatan pemberdayaan berbasis potensi dan kebutuhan masyarakat.

Kegiatan penandatanganan dihadiri Sekretaris LPPM Bidang Pengabdian Unib, Dr. Ir. Hardiansyah, S.T, M.T, Tim LPPM Unib, Tim Pengabdian Dosen Unib di Desa Tik Kuto, perangkat desa, serta masyarakat setempat.

Suasana keakraban dan semangat kolaborasi mewarnai kegiatan tersebut. Bagi kedua pihak, MoU tidak sekadar menjadi dokumen kerja sama, tetapi menjadi landasan untuk membangun hubungan kelembagaan yang memungkinkan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan secara lebih terencana, berkesinambungan, dan memberikan manfaat nyata.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hardiansyah menyampaikan bahwa pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam membantu menjawab berbagai persoalan sekaligus mengembangkan potensi masyarakat.

Menurutnya, kemitraan dengan pemerintah desa penting agar kegiatan pengabdian tidak berhenti pada pelaksanaan program dalam satu periode, tetapi berkembang menjadi proses pendampingan yang berkelanjutan.

“Kerja sama ini diharapkan dapat menjadi ruang bagi perguruan tinggi dan masyarakat untuk bersama-sama mengembangkan potensi desa. Pengabdian tidak hanya berupa transfer pengetahuan, tetapi juga proses pendampingan agar masyarakat mampu mengembangkan potensi secara mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya.

Kemitraan tersebut mempertemukan sumber daya akademik yang dimiliki Unib dengan pengetahuan, pengalaman, serta kebutuhan masyarakat Desa Tik Kuto. Dengan pendekatan ini, masyarakat ditempatkan sebagai mitra aktif dalam merancang, menjalankan, dan mengembangkan program.

Dari Potensi Lokal Menuju Desa Organik

Desa Tik Kuto memiliki potensi yang cukup besar, terutama pada sektor pertanian dan pemanfaatan sumber daya lokal. Potensi tersebut menjadi salah satu dasar bagi Tim Pengabdian Dosen Unib dalam mengembangkan program pemberdayaan masyarakat berbasis green circular economy menuju desa organik yang berkelanjutan.

Program tersebut mengintegrasikan berbagai kegiatan, mulai dari pengembangan produksi pertanian, pemanfaatan limbah organik, pembuatan pupuk organik cair (POC), hingga penguatan kapasitas masyarakat dalam pengemasan dan pemasaran produk pertanian.

Pendekatan tersebut diarahkan untuk mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara lebih optimal sekaligus mengurangi potensi limbah dari aktivitas rumah tangga maupun pertanian.

Sekretaris LPPM Unib Bidang Pengabdian Masyarakat, Dr. Hardiansyah, Tim LPPM dan Dosen Pengabdi, foto bersama dengan Kepala Desa dan masyarakat Desa Tik Kuto. (foto:ist-lppm)

Konsep green circular economy diterapkan melalui pola pemanfaatan kembali sumber daya yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah. Bahan-bahan organik dapat diolah menjadi input yang mendukung kegiatan pertanian, sehingga tercipta siklus pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Dengan demikian, ekonomi sirkular tidak hanya diperkenalkan sebagai konsep akademik, tetapi diterjemahkan ke dalam aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Salah satu kegiatan yang dikembangkan adalah budidaya sayuran organik melalui demplot. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat memperoleh kesempatan untuk belajar sekaligus mempraktikkan teknik budidaya yang lebih ramah lingkungan.

Pendampingan tidak berhenti pada proses produksi. Aspek penanganan hasil panen, pengemasan, dan pemasaran juga menjadi bagian dari program agar hasil pertanian masyarakat memiliki peluang untuk memperoleh nilai tambah.

Pengembangan pupuk organik cair juga menjadi bagian penting dari upaya membangun ekosistem pertanian yang lebih berkelanjutan. Limbah organik yang tersedia di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan pendukung kegiatan pertanian, sehingga selain mengurangi limbah, masyarakat juga memiliki alternatif input produksi yang berasal dari sumber daya lokal.

Masyarakat sebagai Penggerak Program

Dalam pelaksanaannya, masyarakat Desa Tik Kuto tidak ditempatkan hanya sebagai penerima manfaat. Mereka dilibatkan secara aktif melalui proses pembelajaran, pelatihan, praktik, demonstrasi, dan pendampingan.

Model pemberdayaan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi desa secara mandiri. Lebih dari itu, keterlibatan langsung masyarakat menjadi faktor penting untuk memastikan program dapat terus berjalan setelah pendampingan dari tim pengabdian berakhir.

Pemerintah Desa Tik Kuto memiliki peran strategis dalam memastikan keterlibatan masyarakat dan keberlanjutan program di tingkat desa. Sementara itu, LPPM Unib berperan menghubungkan sumber daya akademik, pengetahuan, teknologi, serta jejaring perguruan tinggi dengan kebutuhan pembangunan masyarakat.

Bagi Unib, kemitraan tersebut menjadi bagian dari penguatan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran dosen dan tim pengabdian di tengah masyarakat tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan kegiatan pemberdayaan, tetapi juga menciptakan ruang pembelajaran bersama dan melahirkan inovasi yang sesuai dengan karakteristik lokal.

Di sisi lain, Pemerintah Desa Tik Kuto memperoleh peluang untuk mendapatkan dukungan keilmuan dan teknologi dalam mengembangkan potensi desa. Sinergi tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas masyarakat dalam produksi, pengelolaan sumber daya, pengembangan produk, hingga pemasaran.

Keterlibatan masyarakat dalam proses kerja sama juga menjadi bagian penting dalam membangun rasa memiliki terhadap program. Sebab, keberlanjutan sebuah program pemberdayaan sangat dipengaruhi oleh sejauh mana masyarakat terlibat dan memiliki ruang untuk menentukan arah pengembangan kegiatan sesuai dengan kondisi serta kebutuhan mereka.

Sekretaris LPPM Unib Bidang Pengabdian Masyarakat, Dr. Hardiansyah bersama Tim LPPM, saat melakukan Monetoring dan Evaluasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat tahun 2026 di sejumlah wilayah. (foto:ist-lppm)

Membangun Kemitraan Jangka Panjang

Penandatanganan MoU ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi pengembangan kerja sama yang lebih luas antara Unib dan Desa Tik Kuto. Kemitraan ke depan tidak hanya diarahkan pada kegiatan pengabdian, tetapi juga dapat berkembang dalam penelitian berbasis kebutuhan masyarakat, penerapan teknologi tepat guna, penguatan kelembagaan desa, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pengembangan potensi ekonomi lokal.

Bagi masyarakat Desa Tik Kuto, kemitraan tersebut membuka peluang untuk terus meningkatkan pengetahuan, keterampilan, produktivitas, serta kemampuan mengelola sumber daya lokal secara berkelanjutan.

Sementara bagi Unib, kerja sama ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan ilmu pengetahuan dan inovasi yang relevan dengan persoalan serta potensi masyarakat di tingkat lokal.

Karena itu, penandatanganan MoU antara LPPM Unib dan Pemerintah Desa Tik Kuto tidak berhenti sebagai seremoni kerja sama. Momentum tersebut menandai dimulainya penguatan hubungan kelembagaan yang diharapkan mampu menciptakan ekosistem kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat.

Melalui kolaborasi tersebut, Desa Tik Kuto diharapkan dapat terus berkembang sebagai desa binaan Unib dengan pengelolaan potensi pertanian dan sumber daya lokal yang semakin produktif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Pada saat yang sama, pengalaman pendampingan di Desa Tik Kuto menjadi ruang bagi Unib untuk terus mengembangkan model pengabdian yang berangkat dari kebutuhan masyarakat dan bertumpu pada kekuatan lokal.

Dengan dukungan LPPM Unib, Pemerintah Desa Tik Kuto, dan masyarakat, kemitraan tersebut diharapkan tumbuh menjadi kolaborasi jangka panjang yang tidak hanya menghasilkan program, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat dan memberikan dampak nyata bagi pembangunan desa. [Laporan: Ardiansyah | Editor: Purna Herawan | Humas].