UNIVERSITAS BENGKULU

Universitas Bengkulu (Unib) terus mendorong pemanfaatan potensi lokal sebagai bagian dari inovasi pembelajaran di sekolah. Di SDN 04 Kabawetan, Kabupaten Kepahiang, daun teh dan daun kopi yang selama ini identik sebagai hasil perkebunan diolah menjadi karya ecoprint yang sekaligus menjadi media untuk melatih keterampilan berpikir kreatif siswa.

Tim Dosen Pengabdi Unib saat mempraktikkan pengolahan daun teh dan kopi menjadi karya ecoprint.(foto:ist-doc)

Di sebuah ruang belajar di sekolah tersebut, helai-helai daun teh dan kopi ditata di atas kain putih. Bentuk, susunan, dan karakter alami daun kemudian diolah melalui teknik ecoprint hingga meninggalkan jejak motif dan warna yang khas pada kain.

Namun, karya yang dihasilkan bukan sekadar produk kerajinan. Di balik proses tersebut terdapat tujuan pembelajaran yang lebih besar, yakni memberi ruang kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan mengamati, memilih, menata, memadukan, mencoba, hingga menghasilkan gagasan kreatif dari bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Inovasi pembelajaran tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan Tim Dosen Universitas Bengkulu melalui kegiatan bertajuk “Optimalisasi Potensi Unggulan Daerah Kabawetan Melalui Karya Ecoprint untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa SD Kabupaten Kepahiang.”

Program yang diketuai Dr. Pebrian Tarmizi, M.Pd, bersama anggota tim Yusnia, M.Pd dan Septi Johan, S.Si, M.Si, serta melibatkan mahasiswa Alisya Nadiefa Yumna, Intan Ayu Rizki Mulyanto, dan Dian Andriani, menyasar guru kelas IV SDN 04 Kabawetan sebagai mitra utama.

Mengangkat Potensi Lokal ke Ruang Kelas

Kabawetan dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil teh dan kopi di Kabupaten Kepahiang. Selama ini, kedua tanaman tersebut umumnya dimanfaatkan sebagai komoditas perkebunan. Melalui program pengabdian ini, tim Unib memperkenalkan perspektif baru bahwa daun teh dan kopi juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan dalam menghasilkan karya kreatif.

Potensi tersebut kemudian dipadukan dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah dasar yang semakin membutuhkan pendekatan yang mampu mendorong siswa untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga berani mencoba, menemukan, dan menciptakan sesuatu.

Tim Pengabdi Unib saat menjelaskan tahapan pengolahan daun teh dan kopi menjadi karya ecoprint.(foto:ist-doc)

Dari sinilah ecoprint dipilih sebagai media pembelajaran. Teknik ini memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan bahan alam sekaligus mengeksplorasi bentuk, pola, komposisi, dan warna yang dihasilkan secara alami.

Pendampingan dilakukan secara bertahap dengan strategi Action Research. Para guru tidak hanya diperkenalkan pada teknik pembuatan ecoprint, tetapi juga dibimbing agar mampu mengintegrasikan proses tersebut ke dalam kegiatan pembelajaran yang menumbuhkan kreativitas siswa.

Tim pengabdi mendampingi guru mulai dari mengenali karakter daun teh dan daun kopi, memilih daun yang sesuai, menentukan komposisi dan susunan motif, hingga mengolah daun agar bentuk serta warna alaminya dapat tercetak dengan baik pada kain.

Lebih dari sekadar menguasai teknik, guru juga diarahkan untuk membangun suasana belajar yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bereksperimen. Siswa didorong untuk menentukan pilihan sendiri, mencoba berbagai susunan daun, memadukan bentuk dan warna, serta mengembangkan gagasan berdasarkan hasil yang mereka temukan.

Dengan demikian, proses membuat ecoprint tidak berhenti pada keterampilan menghasilkan sebuah karya, tetapi menjadi pengalaman belajar yang mendorong siswa berpikir dan mencipta.

Pengetahuan dan Keterampilan Meningkat

Pendampingan yang dilakukan tim Unib menunjukkan hasil positif. Setelah mengikuti rangkaian kegiatan, rata-rata nilai pengetahuan peserta meningkat dari 53,79 pada tahap awal yang berada dalam kategori kurang memahami, menjadi 88,18 dengan kategori sangat memahami.

Peningkatan tersebut diperkuat dengan rata-rata N-Gain Score sebesar 0,75, yang berada pada kategori peningkatan tinggi.

Sementara itu, rata-rata nilai akhir keterampilan mencapai 87,27 dan masuk kategori sangat baik atau terampil mandiri. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peserta mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh dan mengembangkan ide kreatif melalui karya ecoprint.

Tim Pengabdi Unib foto bersama dengan para guru SDN 04 Kabawetan Kabupaten Kepahiang.(foto:ist-doc)

Ketua tim pengabdi, Dr. Pebrian Tarmizi, M.Pd, mengatakan pemanfaatan daun teh dan kopi sebagai bahan ecoprint merupakan salah satu cara untuk mempertemukan potensi lokal dengan kebutuhan pembelajaran kreatif di sekolah.

“Daun teh dan kopi selama ini hanya dipetik untuk diseduh. Padahal, dengan mengolahnya menjadi karya ecoprint, potensi lokal ini bisa menjadi media yang menumbuhkan keterampilan berpikir kreatif anak. Kami ingin siswa belajar mencipta dari bahan yang ada di sekitar mereka sendiri,” ujar Pebrian.

Menurutnya, pendekatan tersebut juga diharapkan dapat membantu siswa melihat lingkungan sekitar bukan hanya sebagai tempat memperoleh bahan pembelajaran, tetapi sebagai sumber inspirasi untuk menghasilkan karya.

Agar hasil program tidak berhenti setelah kegiatan pendampingan selesai, Tim Pengabdi Unib juga menyiapkan skema keberlanjutan. Para guru sasaran didorong membentuk komunitas belajar mandiri sebagai ruang untuk berbagi pengalaman, mengembangkan keterampilan, dan menyebarluaskan praktik pembuatan ecoprint kepada guru lainnya.

Melalui pola tersebut, keterampilan yang telah diperoleh diharapkan dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari aktivitas pembelajaran di SDN 04 Kabawetan.

Program ini juga menghasilkan sejumlah luaran, antara lain publikasi ilmiah dan artikel pada media massa nasional, serta karya visual dan audiovisual berupa video pendampingan, poster pengabdian, buku panduan pembuatan ecoprint, dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa video pendampingan.

Pelaksanaan program tersebut menjadi bagian dari komitmen Universitas Bengkulu untuk menghadirkan pengabdian yang tidak hanya menyelesaikan persoalan di masyarakat, tetapi juga mengembangkan potensi lokal menjadi sumber inovasi dan pembelajaran yang berdampak.

Tim pengabdi menyampaikan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bengkulu yang telah mendanai kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Skema Kemitraan LPPM dengan SDN 04 Kabawetan Kabupaten Kepahiang, serta seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan program tersebut. [Laporan: Pebrian | Editor: Purna Herawan | Humas].