UNIVERSITAS BENGKULU

Biji kopi yang selama ini identik dengan secangkir minuman, di tangan guru MIS Hidayatul Hasaniyyah Kota Bengkulu disulap menjadi media pembelajaran yang kreatif. Butiran kopi lokal ditata, dihitung, dikelompokkan, dan disusun mengikuti pola tertentu hingga membentuk gambar utuh.

Tim Dosen Pengabdi Unib saat melakukan pengabdian di MIS Hidayatul Hasaniyyah Kota Bengkulu.(foto:ist-doc)

Inovasi sederhana tersebut menjadi bagian dari program pendampingan yang dilakukan tim dosen Universitas Bengkulu (Unib) untuk membantu guru mengembangkan pembelajaran literasi numerasi melalui media yang konkret, kontekstual, sekaligus menyenangkan bagi siswa sekolah dasar.

Literasi numerasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengenali angka dan melakukan operasi hitung. Kemampuan mengukur, mengelompokkan, mengenali pola, memperkirakan jumlah, hingga memahami hubungan bentuk dan ukuran juga menjadi bagian penting dari kecakapan numerasi yang perlu ditanamkan sejak dini.

Namun, dalam praktiknya, pengembangan literasi numerasi masih menghadapi tantangan. Tidak semua guru memiliki cukup wawasan dan pengalaman dalam menghadirkan media pembelajaran konkret yang dapat mengintegrasikan kemampuan numerasi dengan aktivitas belajar yang menarik. Di sisi lain, pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) di madrasah masih cenderung berfokus pada aktivitas seperti bernyanyi, menggambar, dan mewarnai.

Kondisi tersebut kemudian melahirkan gagasan untuk memadukan seni, kreativitas, dan numerasi melalui pemanfaatan bahan lokal yang mudah ditemukan, yakni biji kopi.

Tim Dosen Pengabdi Unib saat menjelaskan cara pembuatan dan manfaat mozaik biji kopi.(foto:ist-doc)

Gagasan itu diwujudkan melalui Program Pendampingan Pembuatan Mozaik Berbahan Dasar Biji Kopi. Program ini dilaksanakan oleh tim akademisi Unib yang berasal dari lintas fakultas dan bidang ilmu. Tim pengabdi diketuai Dr. Neza Agusdianita, M.Pd dari FKIP, dengan anggota Muhammad Habib Ramadhani, M.Pd dan Yusnia, M.Pd dari FKIP, serta Intan Zoraya, SE, MM dari FEB. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa Alisya Nadiefa Yumna, Intan Ayu Rizki Mulyanto, dan Dian Andriani.

Pendampingan dirancang menggunakan strategi action research yang memungkinkan proses pembelajaran dan evaluasi dilakukan secara berkelanjutan. Tahapannya meliputi identifikasi masalah melalui Focus Group Discussion (FGD), sosialisasi, pelatihan, pendampingan dan penerapan di kelas, serta evaluasi dan keberlanjutan program.

Pada tahap pelatihan, para guru tidak sekadar diajarkan teknik membuat mozaik. Mereka juga diperkenalkan pada berbagai aktivitas numerasi yang dapat diintegrasikan ke dalam proses pembuatannya. Guru berlatih menghitung jumlah biji kopi, mengelompokkan berdasarkan ukuran atau karakteristik tertentu, memperkirakan kebutuhan bahan, mengukur luas bidang, hingga menyusun pola dan komposisi yang memiliki unsur simetri.

Dengan pendekatan tersebut, aktivitas membuat mozaik tidak lagi sekadar menghasilkan karya seni. Setiap tahapan proses dapat menjadi ruang belajar numerasi yang konkret. Siswa dapat belajar membilang ketika menghitung biji kopi, belajar mengukur ketika menentukan bidang gambar, serta belajar mengenali pola dan hubungan bentuk ketika menyusun mozaik.

Tim Dosen Pengabdi Unib saat mempraktikkan pembuatan mozaik biji kopi.(foto:ist-doc)

Hasil pendampingan menunjukkan perkembangan yang signifikan. Rata-rata skor literasi numerasi siswa meningkat dari 5,91 pada saat pretest yang berada dalam kategori kurang menjadi 14,00 pada posttest dengan kategori sangat baik. Peningkatan tersebut mencapai 8,09 poin dengan nilai N-Gain sebesar 0,90 yang tergolong tinggi.

Tidak hanya berdampak pada capaian siswa, program ini juga mendorong peningkatan kepercayaan diri guru dalam merancang pembelajaran. Guru mulai mampu menyusun lembar kerja yang menggabungkan aktivitas membuat mozaik dengan kegiatan membilang, mengelompokkan, mengukur, dan mengenali pola.

“Fokus utama program ini adalah memperkuat kompetensi guru. Ketika guru mampu memanfaatkan biji kopi sebagai kekayaan lokal Bengkulu untuk melatih siswa menghitung, mengukur, dan menyusun pola, maka literasi numerasi siswa dapat tumbuh secara berkelanjutan. Guru adalah kunci agar inovasi ini tetap hidup di ruang kelas,” ujar Dr. Neza Agusdianita, M.Pd.

Pemanfaatan biji kopi sebagai media pembelajaran juga memberikan dimensi lain dalam proses pendidikan. Selain membantu siswa memahami konsep numerasi secara lebih konkret, penggunaan bahan lokal dapat menumbuhkan kreativitas sekaligus memperkenalkan potensi lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.

Mozaik biji kopi yang dihasilkan dalam kegiatan pendampingan Dosen Unib di MIS Hidayatul Hasaniyyah Kota Bengkulu.(foto:ist-doc)

Agar inovasi tersebut tidak berhenti pada kegiatan pendampingan, tim pengabdi mendorong para guru untuk mendiseminasikan praktik baik melalui Kelompok Kerja Guru (KKG). Dengan demikian, pengalaman dan metode yang diperoleh selama program dapat dibagikan dan dikembangkan bersama guru lainnya.

Program ini juga menghasilkan sejumlah luaran pendukung, antara lain artikel ilmiah populer, artikel media massa, video pendampingan, poster, buku panduan, serta Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Berbagai luaran tersebut diharapkan dapat memperluas manfaat program sekaligus menjadi dokumentasi atas praktik pembelajaran inovatif yang telah dikembangkan.

Tim pengabdi menyampaikan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bengkulu yang telah mendanai kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Skema Kemitraan LPPM di MIS Hidayatul Hasaniyyah Kota Bengkulu.

Melalui inovasi sederhana berbahan biji kopi, program ini menunjukkan bahwa pembelajaran numerasi tidak harus selalu berlangsung melalui angka dan buku. Dengan kreativitas guru dan pemanfaatan potensi lokal, ruang kelas dapat menjadi tempat bagi siswa untuk belajar berhitung, mengukur, mengenali pola, sekaligus berkarya. [Laporan: Tim LPPM Unib : Editor: Purna Herawan | Humas].