UNIVERSITAS BENGKULU

Internasionalisasi Universitas Bengkulu (Unib) tidak hanya berlangsung di ruang-ruang akademik, tetapi juga hadir melalui kegiatan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Semangat tersebut diwujudkan dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unib bersama mitra internasional dari Prince of Songkla University (PSU) Thailand melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMK Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bengkulu Tengah, 11 Agustus 2026.

Dosen Pengabdi FMIPA Unib Prof. Sal Primayudha menjelaskan teknik pembuatan Sabun Cair kepada para siswa SMK Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bengkulu Tengah.(foto:ist-fmipa)

Mengusung semangat pengabdian yang berdampak, kegiatan ini memadukan pengetahuan dan teknologi sederhana dengan kebutuhan praktis di lingkungan pendidikan kelautan dan perikanan. Dua materi utama yang diberikan yakni Pelatihan Pembuatan Sabun Cuci Cair untuk Peralatan Keramik dan Gelas serta Pelatihan Dasar Pembuatan Ponds Berbasis Lateks untuk Pengembangan Teknologi Perikanan, khususnya dalam Mengatasi Kebocoran Kolam.

Kegiatan tersebut menjadi semakin istimewa karena menghadirkan kepakaran internasional dari Assoc. Prof. Sitisaiyidah Saiwari, dosen Department of Rubber Technology, Prince of Songkla University (PSU) Thailand, yang memiliki kompetensi di bidang teknologi lateks berbasis karet.

Sementara dari FMIPA Unib, tim pengabdi terdiri atas tiga dosen dari Jurusan Kimia dan Biologi, yakni Prof. Dr. Sal Prima Yudha, Prof. Morina Adfa, dan Dr. Risky Hadi Wibowo. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa sebagai bagian dari proses pembelajaran berbasis pengalaman, yaitu Lenon Jus Pentus Tarigan, S.Si, mahasiswa Program Studi S2 Kimia, serta Hanifa Wulandari, mahasiswa Program Studi S1 Kimia.

Dosen PSU Thailand, Assoc. Prof. Sitisaiyidah Saiwari, menjelaskan cara pembuatan ponds berbasis lateks untuk mengatasi kebocoran kolam.(foto:ist-fmipa)

Keterlibatan mitra internasional tersebut sengaja dilakukan untuk memperkaya perspektif dan pengalaman peserta. Kepakaran Assoc. Prof. Sitisaiyidah di bidang lateks diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pemanfaatan bahan berbasis karet untuk mendukung kebutuhan teknologi sederhana di bidang perikanan.

Kegiatan yang didanai sepenuhnya melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bengkulu Tahun Anggaran 2026 ini disambut antusias oleh puluhan guru dan siswa SMK Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bengkulu Tengah.

Kepala SMK Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bengkulu Tengah, Desfia Rizkina, S.Pd.Gr, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran dosen FMIPA Unib bersama akademisi dari Thailand memberikan pengalaman baru sekaligus memperkaya wawasan para siswa.

“Kami sangat beruntung dan sangat berterima kasih kepada para dosen FMIPA Unib yang telah melaksanakan kegiatan pengabdian ini. Apalagi, kegiatan ini turut melibatkan dosen dari Thailand yang memiliki kepakaran di bidang lateks dari karet. Dengan kegiatan ini, para siswa mendapatkan pengalaman yang sangat berharga,” ujarnya saat membuka kegiatan.

Para siswa SMK Kelautan dan Perikanan mempraktikkan pembuatan sabun cuci dan material ponds dibimbing oleh Dosen FMIPA Unib dan Dosen PSU Thailand.(foto:ist-fmipa)

Tidak berhenti pada penyampaian materi, kegiatan dirancang dengan pendekatan learning by doing. Para siswa dan guru diajak mengikuti proses pembuatan secara langsung, mulai dari penyiapan material hingga menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan.

Dua pelatihan tersebut berlangsung secara simultan dengan dukungan mahasiswa yang terlibat langsung dalam penyiapan bahan dan proses pembuatan produk. Pola ini sekaligus memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa Unib untuk mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dalam konteks nyata di tengah masyarakat.

Setelah proses pelatihan dan praktik selesai, material hasil kegiatan diserahkan kepada pihak SMK Kelautan dan Perikanan Bengkulu Tengah agar dapat dimanfaatkan dan dikembangkan lebih lanjut. Tim pengabdi juga menyerahkan contoh produk sabun cuci cair yang telah dikemas dalam wadah yang menarik dan siap diedarkan sebagai gambaran pengembangan produk dari hasil pelatihan.

Dosen FMIPA Unib Prof. Morina Adfa dan Dr. Risky Hadi Wibowo serta Dosen PSU Thailand Assoc. Prof. Sitisaiyidah Saiwari saat mempraktikkan cara pembuatan sponds berbasis lateks.(foto:ist-fmipa)

Bagi para siswa, pengalaman tersebut tidak sekadar mengenalkan cara membuat suatu produk, tetapi juga membuka perspektif bahwa pengetahuan sains dapat diolah menjadi solusi sederhana yang memiliki nilai guna, bahkan berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Inilah yang menjadi salah satu titik penting dari kegiatan pengabdian kolaboratif tersebut. Teknologi yang diperkenalkan tidak berhenti sebagai demonstrasi, tetapi diarahkan agar dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh mitra sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimiliki.

Bagi SMK Kelautan dan Perikanan Bengkulu Tengah, transfer teknologi sederhana tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari penguatan kompetensi siswa, khususnya dalam mengembangkan keterampilan praktis yang relevan dengan bidang kelautan dan perikanan. Ke depan, hasil kegiatan juga diharapkan dapat dikembangkan dalam skala yang lebih besar sehingga memberikan manfaat yang lebih luas.

Para Dosen Pengabdi membagikan sabun cuci dalam kemasan yang berpotensi menjadi produk bernilai ekonomi, untuk dikembangkan oleh para siswa SMK Kelautan dan Perikanan.(foto:ist-fmipa).

Dekan FMIPA Unib yang juga menjadi salah satu dosen pengabdi, Prof. Sal Prima Yudha, mengatakan kegiatan kolaboratif internasional tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan manfaat nyata ilmu pengetahuan sekaligus memperkuat jejaring akademik Unib di tingkat global.

Menurutnya, internasionalisasi perguruan tinggi idealnya tidak hanya diukur dari banyaknya kerja sama atau aktivitas akademik di luar negeri, tetapi juga dari sejauh mana jejaring internasional tersebut mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

“Melalui pengabdian kolaboratif internasional ini, kami berharap manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh mitra, khususnya para guru dan siswa SMK Kelautan dan Perikanan Bengkulu Tengah. Pada saat yang sama, kolaborasi ini juga menjadi daya ungkit bagi internasionalisasi FMIPA dan Unib melalui kerja sama akademik yang menghasilkan dampak nyata,” ujar Prof. Sal.

Kolaborasi FMIPA Unib dan PSU Thailand ini sekaligus menegaskan bahwa penguatan jejaring internasional dapat berjalan beriringan dengan agenda pengabdian berdampak. Pengetahuan, kepakaran, dan pengalaman dari dua negara dipertemukan untuk menghadirkan solusi sederhana yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Melalui model kolaborasi semacam ini, Unib terus mendorong agar kegiatan tridharma perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan transfer teknologi, penguatan kompetensi, dan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. [Laporan: Sal Primayudha | Editor: Purna Herawan | Humas].