UNIVERSITAS BENGKULU

Universitas Bengkulu (Unib) terus memperkuat komitmennya dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga mampu menumbuhkan inovasi, kreativitas, dan jiwa kewirausahaan di kalangan mahasiswa. Melalui ekosistem tersebut, mahasiswa didorong untuk tidak sekadar menjadi lulusan yang siap memasuki dunia kerja, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang, membangun usaha, serta membuka lapangan pekerjaan baru.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unib, Prof. Agustin Zarkani, saat membuka workshop kewirausahaan mahasiswa yang diselenggarakan UPA PKK Unib.(foto:hms1)

Komitmen itu salah satunya diwujudkan Unit Penunjang Akademik Pengembangan Karier dan Kewirausahaan (UPA PKK) Unib melalui kegiatan Workshop Kewirausahaan Mahasiswa bertajuk Technopreneurship Innovation Bootcamp. Kegiatan ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang inspirasi bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat dunia kewirausahaan yang semakin erat dengan perkembangan teknologi digital.

Kegiatan berlangsung di Ruang Utama Gedung Rektorat Unib, Kamis (20/8/2026), dan diikuti sekitar 250 mahasiswa dari berbagai fakultas di lingkungan Unib. Beragamnya program studi dan disiplin ilmu peserta menunjukkan tingginya minat mahasiswa terhadap pengembangan kompetensi kewirausahaan dan pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari masa depan dunia usaha.

Workshop menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang dan pengalaman yang saling melengkapi, yakni Dosen Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) sekaligus praktisi kewirausahaan, Ir. Nunung Martina, S.T, M.Si, IPM, serta alumni Unib yang kini berkiprah sebagai Social Media Specialist Bayn Works Singapore & Learn With Andi, Budi Hari Wijaya, S.Pd.

Kehadiran Nunung Martina diharapkan dapat menggugah keberanian mahasiswa untuk mulai berwirausaha sekaligus memperluas perspektif mengenai pentingnya membangun ekosistem kewirausahaan di lingkungan perguruan tinggi. Sementara pengalaman Budi Hari Wijaya di bidang konten digital memberikan inspirasi kepada mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan digital sebagai bagian dari peluang ekonomi baru.

Wakil Rektor III Unib Prof. Agustin Zarkani, Kepala UPA PKK dan Narasumber foto bersama dengan ratusan mahasiswa peserta workshop kewirausahaan .(foto:hms1)

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Unib, Prof. Agustin Zarkani, S.P, M.Si, Ph.D. Didampingi Kepala UPA PKK Unib, Muhammad Khairul Amri Rosa, S.T, M.T, Prof. Agustin menyapa para peserta sekaligus memberikan dorongan agar kesempatan mengikuti pelatihan dimanfaatkan sebaik-baiknya.

“Tidak semua mahasiswa berkesempatan mengikuti pelatihan ini. Karena itu, jadikan momen ini untuk meningkatkan semangat berwirausaha dan simak baik-baik berbagai pengetahuan serta pengalaman dari para narasumber sebagai pembuka cakrawala berpikir. Jadikan bekal untuk memantapkan sikap dan pikiran dalam terus mengasah kemampuan berwirausaha,” ujar Prof. Agustin.

Menurutnya, keberhasilan mahasiswa dan alumni dalam mengembangkan usaha tidak hanya memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, tetapi juga memiliki kontribusi terhadap penguatan reputasi Unib sebagai perguruan tinggi yang unggul, berdaya saing, dan berdampak.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada kedua narasumber yang telah bersedia berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan mahasiswa Unib.

“Kemarin Bu Nunung memberikan pembekalan kepada para dosen pengampu mata kuliah kewirausahaan Unib, hari ini juga berkesempatan berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada adik-adik mahasiswa. Karena itu, kami mengucapkan terima kasih. Semoga berbagai pengalaman Bu Nunung dalam membangun dan memajukan ekosistem kewirausahaan dapat ditularkan serta menjadi inspirasi bagi para mahasiswa Unib,” ungkapnya.

Kepala UPA PKK Unib, Muhammad Khairul Amri Rosa, menjelaskan tentang komitmen Unib dan pentingnya pembekalan Technopreneurship kepada mahasiswa.(foto:hms1).

Indonesia Membutuhkan Lebih Banyak Pengusaha

Kepala UPA PKK Unib, Muhammad Khairul Amri Rosa, mengatakan kemajuan suatu bangsa turut dipengaruhi oleh kemampuan masyarakatnya dalam menciptakan nilai ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan. Dalam konteks tersebut, penguatan budaya kewirausahaan menjadi salah satu kebutuhan penting, termasuk di lingkungan perguruan tinggi, sehingga mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Ia menilai pembelajaran kewirausahaan di perguruan tinggi tidak cukup hanya pada kemampuan mahasiswa menyusun rencana bisnis. Lebih dari itu, mahasiswa perlu dibentuk agar memiliki pola pikir yang mampu melihat persoalan sebagai peluang, memanfaatkan teknologi, berani mencoba, dan menghadirkan solusi yang memiliki nilai tambah.

“Karena itu, pada kegiatan ini kita hadirkan narasumber yang berkompeten dan berpengalaman untuk menambah wawasan para mahasiswa. Dengan cara ini, kemampuan mahasiswa tidak berhenti pada penyusunan rencana bisnis, tetapi terus membangun cara berpikir agar mampu mengenali persoalan, melihat peluang, memanfaatkan teknologi, berani bereksperimen, serta menciptakan solusi yang bernilai dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Khairul Amri, perkembangan ekonomi digital telah membuka ruang yang semakin luas bagi generasi muda untuk membangun usaha. Karena itu, mahasiswa perlu dibekali bukan hanya dengan pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman praktis, kreativitas, kemampuan beradaptasi, dan keberanian mengambil langkah.

Harapannya, dari lingkungan kampus dapat tumbuh gagasan-gagasan usaha dan startup mahasiswa yang tidak hanya menarik secara konsep, tetapi juga adaptif terhadap perubahan, memiliki nilai ekonomi, memberikan manfaat sosial, serta mampu berkembang dan bertahan dalam jangka panjang.

“Kita ingin mahasiswa dan alumni Unib bukan sekadar menjadi pencari kerja, tetapi juga memiliki keberanian menjadi pencipta peluang, pencipta inovasi, bahkan pencipta lapangan pekerjaan,” tegasnya.

Dosen PNJ sekaligus praktisi kewirausahaan, Ir. Nunung Martina, bersemangat menjelaskan secara komprehensif tentang technopreneurship kepada ratusan mahasiswa Unib.(foto:hms1)

Ruang Berbagi Pengalaman dan Strategi

Usai dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor III, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi dan diskusi terbuka bersama kedua narasumber. Dosen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Unib, Selly Ratna Sari, S.Pi, M.Si, bertindak sebagai moderator yang menghidupkan dialog antara narasumber dan peserta.

Dalam forum tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual mengenai technopreneurship, tetapi juga diajak melihat berbagai peluang yang dapat lahir dari perpaduan antara kreativitas, teknologi, dan kebutuhan masyarakat.

Pengalaman Budi Hari Wijaya yang berkiprah di bidang konten digital juga memperkaya perspektif mahasiswa mengenai besarnya peluang ekonomi yang dapat tumbuh dari dunia digital. Kemampuan membuat konten, membangun personal branding, mengelola media sosial, hingga memahami karakter audiens menjadi bagian dari kompetensi yang semakin penting dalam ekosistem bisnis modern.

Sementara itu, pengalaman Nunung Martina memberikan gambaran mengenai bagaimana gagasan kewirausahaan dapat dikembangkan secara lebih sistematis melalui keberanian mengidentifikasi persoalan, membaca peluang, menguji gagasan, dan membangun solusi yang memiliki nilai.

Antusiasme peserta terlihat dari dinamika diskusi yang berlangsung hingga sore hari. Mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan dan mengeksplorasi berbagai strategi, tantangan, serta peluang dalam membangun usaha, mulai langkah sederhana yang dapat dilakukan sejak dari lingkungan kampus hingga bagaimana mengembangkan usaha agar mampu tumbuh secara berkelanjutan.

Di tengah kesibukan sebagai moderator, Selly Ratna Sari, menyempatkan diri mempromosikan produk olahan pisang yang menjadi luaran program pengabdian kepada masyarakat yang dilakukannya.(foto:hms1).

Melalui Technopreneurship Innovation Bootcamp ini, UPA PKK Unib menegaskan kembali peran strategis perguruan tinggi dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan dunia kerja dan ekonomi yang semakin dinamis.

Pendidikan kewirausahaan tidak lagi ditempatkan semata sebagai pembelajaran untuk mengetahui bagaimana memulai bisnis, tetapi sebagai proses membangun pola pikir yang kreatif, inovatif, adaptif, dan berani menciptakan solusi.

Dengan demikian, kampus diharapkan tidak hanya menjadi tempat lahirnya lulusan yang kompeten dan siap mengisi kebutuhan dunia kerja, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi para inovator dan technopreneur muda yang mampu menciptakan peluang, membangun usaha, dan membuka lapangan pekerjaan baru.

Langkah tersebut sejalan dengan semangat transformasi pendidikan tinggi yang terus didorong pemerintah, yakni menghadirkan perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan sumber daya manusia unggul, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, dunia usaha, dan pembangunan bangsa. [Purna Herawan | Humas].