Universitas Bengkulu (Unib) terus memperkuat langkah menuju terwujudnya ekosistem pendidikan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga mampu melahirkan inovasi, menciptakan peluang, dan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui penguatan kapasitas dosen dalam mengembangkan pembelajaran kewirausahaan berbasis teknologi atau technopreneurship.



Kepala LPMPP Unib Dr. Charles Banon saat menyampaikan sambutan.(foto:hms1)
Melalui Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP), Unib menggelar kegiatan Peningkatan Kapasitas Dosen Kewirausahaan dengan mengusung tema “Transformasi Pembelajaran Technopreneurship Menuju Kampus Berdampak: Membangun Startup Mahasiswa yang Inovatif, Adaptif, dan Berkelanjutan.”
Kegiatan ini berlangsung di Aula Lantai 2 Gedung LPMPP Unib, Rabu (19/8/2026), menghadirkan Wakil Direktur Bidang Akademik Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), Nunung Martina, ST, M.Si, sebagai narasumber. Selain memiliki pengalaman akademik dan manajerial dalam pengembangan pendidikan vokasi, Nunung juga dikenal aktif membangun ekosistem kewirausahaan dan memberikan inspirasi kepada mahasiswa untuk berani mengembangkan gagasan menjadi usaha yang bernilai.
Puluhan dosen pengampu mata kuliah kewirausahaan dari berbagai fakultas di lingkungan Unib mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias. Kehadiran para dosen lintas disiplin ini menunjukkan bahwa pengembangan technopreneurship membutuhkan kolaborasi dan perspektif yang beragam, sehingga pembelajaran kewirausahaan dapat semakin dekat dengan kebutuhan zaman dan persoalan nyata di masyarakat.



Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata membuka acara dan memberikan apresiasi terhadap kegiatan ini.(foto:hms1)
Kegiatan tersebut mendapat perhatian langsung dari Rektor Unib, Prof. Dr. Indra Cahyadinata, SP, M.Si, yang hadir sekaligus membuka kegiatan secara resmi. Didampingi Kepala LPMPP Unib, Dr. Charles Banon, S.Pd, M.Si, dan Sekretaris Bidang Pengembangan Pembelajaran LPMPP, Prof. Dr. Arono, S.Pd, M.Pd, Rektor menyapa para peserta dan memberikan apresiasi atas komitmen dosen untuk terus meningkatkan kompetensi.
“Saya melihat para dosen yang hadir ini berasal dari beragam fakultas, baik dosen muda maupun dosen senior. Saya mengapresiasi kemauan Bapak dan Ibu untuk selalu belajar dan meningkatkan kompetensi. Semoga melalui kegiatan ini banyak pengalaman yang didapatkan untuk mendorong transformasi pembelajaran technopreneurship di Unib,” ujar Prof. Indra.
Rektor juga menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada Nunung Martina yang telah berkenan berbagi pengetahuan serta pengalaman dengan para dosen Unib. “Semoga berbagai pengalaman dan kesuksesan Bu Nunung dalam membangun dan memajukan ekosistem kewirausahaan di dunia kampus dapat ditransfer dan ditularkan kepada dosen-dosen kewirausahaan Universitas Bengkulu,” ungkapnya.
Dari Pembelajaran Menuju Penciptaan Peluang
Lebih jauh, Prof. Indra menegaskan bahwa peningkatan kapasitas dosen kewirausahaan bukan sekadar kegiatan pengembangan kompetensi, tetapi merupakan bagian dari langkah strategis Unib dalam membangun kampus yang unggul, inovatif, inklusif, dan berdampak.
Menurutnya, pembelajaran kewirausahaan perlu bergerak melampaui pendekatan konvensional yang hanya mengajarkan mahasiswa menyusun proposal atau rencana bisnis. Lebih dari itu, mahasiswa perlu dibekali pola pikir kewirausahaan yang memungkinkan mereka membaca persoalan sebagai peluang untuk melahirkan inovasi dan solusi.
“Pembelajaran kewirausahaan tidak seharusnya berhenti pada kemampuan mahasiswa menyusun rencana bisnis. Kita perlu membangun cara berpikir mahasiswa agar mampu mengenali persoalan, melihat peluang, memanfaatkan teknologi, berani bereksperimen, serta menciptakan solusi yang bernilai dan berkelanjutan,” papar Prof. Indra.



Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata memberikan cindera mata kepada narasumber Nunung Martina, dilanjutkan dengan foto bersama dengan para dosen peserta pelatihan.(foto:hms1)
Karena itu, lanjut Rektor, Unib ingin mendorong lahirnya lulusan yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga memiliki keberanian dan kemampuan untuk menciptakan peluang. “Kita ingin mahasiswa Unib bukan sekadar menjadi pencari kerja, tetapi juga memiliki keberanian menjadi pencipta peluang, pencipta inovasi, bahkan pencipta lapangan pekerjaan,” tegasnya.
Pandangan tersebut menempatkan technopreneurship bukan sekadar sebagai mata kuliah, melainkan sebagai bagian dari budaya akademik yang mendorong mahasiswa untuk menghubungkan pengetahuan, teknologi, kreativitas, dan kebutuhan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, Rektor menilai peran dosen menjadi semakin strategis. Mahasiswa yang inovatif, menurutnya, tidak lahir dari ruang pembelajaran yang pasif, melainkan dari ekosistem akademik yang memberikan kesempatan untuk bertanya, mencoba, melakukan kesalahan, mengevaluasi, dan kembali mencoba dengan pendekatan yang lebih baik.
“Dosen bukan hanya pengajar, tetapi juga mentor, fasilitator, inspirator, inisiator, dan penghubung antara ilmu pengetahuan dengan persoalan nyata di masyarakat dan dunia usaha,” jelasnya.
Karena itu, penguatan kapasitas dosen menjadi fondasi penting dalam proses transformasi pembelajaran. Dosen diharapkan mampu menghadirkan metode pembelajaran yang lebih kontekstual, kolaboratif, berbasis teknologi, serta memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam mengembangkan dan menguji gagasan kewirausahaan.



Dosen Politeknik Negeri Jakarta, Nunung Martina, saat menyampaikan materi dan berdiskusi dengan para dosen kewirausahaan Unib tentang pembelajaran technopreneurship.(foto:hms1)
Ruang Berbagi Pengalaman dan Strategi
Setelah dibuka oleh Rektor, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi dan diskusi terbuka bersama Nunung Martina. Dosen Sosiologi FISIP Unib, Diyas Widiyarti, S.Sos, M.A, bertindak sebagai moderator yang menghidupkan dialog antara narasumber dan peserta.
Dalam forum tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan perspektif konseptual mengenai transformasi pembelajaran technopreneurship, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk menggali pengalaman praktis narasumber dalam mengembangkan pendidikan kewirausahaan di lingkungan perguruan tinggi.
Diskusi berlangsung dinamis hingga sore hari. Para dosen aktif mengeksplorasi berbagai strategi, tantangan, dan peluang dalam membangun pembelajaran kewirausahaan yang mampu melahirkan mahasiswa dengan keberanian berinovasi serta kesiapan mengembangkan usaha berbasis teknologi.
Melalui kegiatan ini, LPMPP Unib berupaya memastikan bahwa transformasi pembelajaran tidak berhenti pada perubahan metode mengajar di ruang kelas. Lebih jauh, transformasi tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem yang mampu menghubungkan pengetahuan, teknologi, kreativitas, kewirausahaan, dan kebutuhan masyarakat. [Purna Herawan | Humas].