Universitas Bengkulu (Unib) tidak ingin momentum Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) berhenti sebatas mengenalkan lingkungan akademik, sistem perkuliahan, dan berbagai aktivitas kemahasiswaan. Lebih dari itu, PKKMB dirancang sebagai pintu awal untuk menanamkan karakter, membangun keberanian bermimpi, sekaligus menumbuhkan kesadaran mahasiswa baru agar kelak mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.



PKKMB tingkat universitas yang menghadirkan guest star Sadam Permana Winaya.(foto:hms1)
Semangat tersebut terlihat dalam rangkaian PKKMB Universitas Bengkulu tahun 2026 yang berlangsung pada tingkat universitas maupun fakultas. Setelah menghadirkan sejumlah tokoh inspiratif pada PKKMB tingkat universitas, Unib kembali menghadirkan guest star dari berbagai latar belakang pada PKKMB tingkat fakultas yang berlangsung 5–8 Agustus 2026.
Kehadiran para alumni, aktivis, kreator konten, pejabat publik, hingga tokoh yang berkiprah di lembaga negara tersebut menjadi warna tersendiri dalam rangkaian PKKMB. Mereka tidak hanya berbagi motivasi, tetapi juga menghadirkan pengalaman nyata tentang bagaimana pengetahuan, keberanian, organisasi, jejaring, dan kepedulian sosial dapat menjadi bekal penting dalam membangun masa depan.
Sebelumnya, pada PKKMB tingkat universitas yang digelar 3–4 Agustus 2026, Unib menghadirkan kreator konten digital sekaligus aktivis sosial, Sadam Permana Winaya, yang dikenal dengan julukan “Pemuda Ganteng Berprestasi”. Di hadapan 4.875 mahasiswa baru, lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) tahun 2023 tersebut mengajak mahasiswa memaknai kehidupan kampus tidak hanya sebagai ruang untuk belajar, tetapi juga sebagai tempat menempa keberanian, integritas, dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Pesan tersebut menjadi fondasi yang kemudian diperkuat pada PKKMB tingkat fakultas. Setiap fakultas menghadirkan narasumber sesuai dengan karakter keilmuan dan kebutuhan mahasiswanya, sehingga materi motivasi tidak berhenti pada kata-kata penyemangat, tetapi terhubung dengan realitas profesi, tantangan sosial, kepemimpinan, hingga peluang pengembangan diri.
FKIP: Mahasiswa Diajak Memaknai Kembali Arti Kepemimpinan
Salah satu sesi yang mendapat perhatian adalah PKKMB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unib. Untuk memotivasi 935 mahasiswa baru tahun 2026, panitia menghadirkan aktivis mahasiswa sekaligus Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Fathimah Azzahra.
Fathimah dikenal sebagai aktivis mahasiswa yang kerap tampil dalam berbagai pemberitaan dan program televisi nasional karena sikap kritisnya dalam menyikapi berbagai kebijakan publik. Kehadirannya diharapkan dapat memberikan perspektif kepada mahasiswa FKIP tentang pentingnya keberanian berpikir kritis, menyampaikan gagasan, dan mengambil peran dalam perubahan.



PKKMB Fakultas KIP menghadirkan guest star Fathimah Azzahra.(foto:ist-rio)
Dalam sesi motivasi dan diskusi yang berlangsung di Gedung Serba Guna (GSG) Unib, Kamis (6/8/2026), Fathimah mengajak mahasiswa baru FKIP untuk meredefinisi makna kepemimpinan.
Menurutnya, kepemimpinan tidak selalu berkaitan dengan jabatan, panggung, ataupun pengakuan dari orang lain. Kepemimpinan, kata dia, lebih merupakan cara seseorang merespons keadaan dan mengambil tanggung jawab atas apa yang dihadapinya.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi mahasiswa FKIP yang dipersiapkan menjadi calon pendidik. Fathimah mendorong mereka untuk memiliki kepekaan dan sikap kritis terhadap berbagai persoalan pendidikan nasional.
Ia menyoroti setidaknya tiga persoalan yang perlu menjadi perhatian generasi calon pendidik. Pertama, kesenjangan fasilitas pendidikan. Di satu sisi masih terdapat sekolah dengan kondisi bangunan yang memprihatinkan dan keterbatasan sumber daya manusia, sementara di sisi lain terdapat sekolah dengan fasilitas yang jauh lebih lengkap.

Kedua, keterbatasan kebebasan belajar yang menurutnya masih dapat membatasi rasa percaya diri, langkah, dan kreativitas peserta didik. Ketiga, persoalan penghargaan terhadap profesi guru, termasuk terkait kesejahteraan serta dukungan terhadap kebebasan guru dalam menjalankan proses pembelajaran.
Dalam konteks tersebut, Fathimah mengingatkan bahwa tugas seorang guru jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan materi yang kini dapat ditemukan dengan mudah melalui internet.
Guru, menurutnya, memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir, membangun budi pekerti, sekaligus menjaga keaslian identitas peserta didik. Pendidikan tidak semestinya menyeragamkan semua anak, tetapi membantu setiap peserta didik menemukan dan mengembangkan potensi terbaiknya.
Di penghujung sesi, Fathimah berpesan agar mahasiswa tidak menjadikan kampus sekadar ruang tunggu sebelum memasuki dunia kerja. Sebaliknya, kampus harus menjadi ruang latihan sejak semester pertama untuk belajar disiplin, menuntaskan tanggung jawab, membangun keberanian, dan menciptakan pengaruh positif.
Kegelisahan terhadap berbagai persoalan, katanya, harus diubah menjadi tanggung jawab dan kemudian diwujudkan melalui gerakan nyata.

FISIP: Asah Kemampuan, Bangun Relasi
Semangat serupa juga hadir dalam PKKMB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unib yang berlangsung di Auditorium Gedung C Unib. Kali ini, panitia menghadirkan tiga bintang tamu dengan latar belakang berbeda untuk berbagi pengalaman dan memotivasi 535 mahasiswa baru.
Ketiganya adalah kreator konten @GenZpede.id, Fadhil Hary Mukti; alumni FISIP Unib yang kini menjadi pejabat daerah, Dr. H. Syarifudin, S.Sos, M.Si; serta alumni FISIP Unib penerima beasiswa LPDP, Yogi Kurniawan, S.A.P.
Fadhil Hary Mukti mengajak mahasiswa baru memahami bahwa proses menemukan jati diri tidak berlangsung dalam sekejap. Jati diri dibentuk melalui berbagai pengalaman, baik selama menjalani pendidikan maupun ketika aktif dalam organisasi dan kegiatan sosial.



Kreator konten Fadhil Hary Mukti saat menjadi guest star di PKKMB FISIP Unib.(foto:ist-tris)
Ia juga mengajak mahasiswa mengubah cara pandang dari sekadar memikirkan manfaat yang bisa diperoleh dari kampus menjadi bagaimana mahasiswa dapat memberikan manfaat bagi orang lain. “Jangan hanya bertanya, di sini saya dapat apa? Coba sesekali bertanya, di sini saya bisa bantu apa?” ujarnya.
Pesan tersebut mengajak mahasiswa untuk menempatkan kehidupan kampus sebagai ruang bertumbuh sekaligus ruang memberi dampak.
Sementara itu, Dr. H. Syarifudin membagikan pengalaman sebagai alumni FISIP Unib yang kini berkiprah sebagai pejabat daerah. Ia mengingatkan mahasiswa baru agar mengenali potensi diri, mampu mengelola kehidupan, dan menggunakan masa perkuliahan untuk membangun kedewasaan.
Menurutnya, mahasiswa perlu aktif membangun jaringan dan relasi, mengikuti organisasi, memperbanyak pengalaman lapangan, serta memiliki tujuan yang jelas agar proses pendidikan dapat dijalani secara terarah hingga selesai. “Kenali dirimu, pahami potensimu, kelola hidupmu, dan raih masa depanmu,” pesannya.



Alumni FISIP Unib, Dr. Syarifudin dan Yogi Kurniawan, S.A.P, saat menjadi guest star di PKKMB 2026.(foto:ist-tris)
Berbeda dengan dua narasumber sebelumnya, Yogi Kurniawan mengajak mahasiswa melihat masa perkuliahan sebagai tahap penting untuk mempersiapkan peluang pendidikan dan karier pada masa depan. Sebagai alumni penerima beasiswa LPDP, ia membagikan pengalaman sekaligus strategi yang pernah ditempuhnya hingga berhasil memperoleh beasiswa tersebut.
Ia mendorong mahasiswa baru untuk mulai mempersiapkan diri sejak awal perkuliahan, mengembangkan potensi, memperkaya pengalaman, dan tidak ragu memanfaatkan berbagai kesempatan yang tersedia. “Buat target untuk masa depan dan persiapkan langkah-langkah untuk mencapainya,” ujarnya.
Tiga perspektif tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik. Kemampuan mengenali diri, membangun relasi, berorganisasi, mencari pengalaman, serta keberanian mengambil peluang juga menjadi modal penting untuk menapaki masa depan.
Fakultas Pertanian: Mendorong Mahasiswa Melek Politik
Sementara itu, PKKMB Fakultas Pertanian Unib menghadirkan perspektif yang berbeda namun tetap relevan dengan kehidupan mahasiswa dan masa depan bangsa. Panitia menghadirkan dua alumni yang kini berkiprah di lembaga negara, yakni Anggota Bawaslu Provinsi Bengkulu Eko Sugianto, S.P, M.Si, dan Anggota Bawaslu Kabupaten Lebong Acep Pebrian Utama, S.TP, M.AP.



Dua alumni Fakultas Pertanian Unib, Eko Sugianto dan Acep Pebrian Utama, saat memberikan motivasi kepada ratusan mahasiswa baru dalam PKKMB 2026.(foto:ist-youtube)
Di hadapan 893 mahasiswa baru Fakultas Pertanian yang mengikuti rangkaian PKKMB di GSG Unib, Rabu (5/8/2026), keduanya berbagi pengalaman perjalanan karier dari latar belakang ilmu pertanian hingga dipercaya mengemban amanah di lembaga pengawas Pemilu.
Kehadiran kedua alumni tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan pertanian membuka ruang pengabdian yang luas. Kompetensi yang diperoleh di bangku kuliah dapat dikembangkan ke berbagai bidang, termasuk tata kelola pemerintahan, demokrasi, dan pengawasan penyelenggaraan Pemilu.
Eko Sugianto menjelaskan peran Bawaslu dalam mengawal hak politik masyarakat dan memastikan penyelenggaraan Pemilu berjalan sesuai prinsip demokrasi. “Bawaslu adalah lembaga yang mengawasi penyelenggaraan Pemilu agar prinsip langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dapat terwujud,” ujarnya.
Namun, bagi mahasiswa pertanian, Eko mengajak mereka melihat persoalan politik dari perspektif yang lebih dekat dengan bidang keilmuan mereka. Salah satunya adalah pentingnya keberpihakan kebijakan politik terhadap keberlanjutan sektor pertanian dan regenerasi petani.

Ia mengangkat fenomena aging farmer, yakni semakin menuanya populasi petani tanpa diimbangi regenerasi yang memadai dari generasi muda. “Aging farming menjadi ancaman nyata bagi Indonesia. Petani Indonesia mayoritas berada di atas usia produktif, rata-rata berusia antara 45 sampai 54 tahun,” paparnya.
Karena itu, Eko mendorong mahasiswa Fakultas Pertanian untuk tidak apatis terhadap politik. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami politik bukan sebatas janji kampanye atau kontestasi kekuasaan, tetapi sebagai proses menentukan arah kebijakan yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat, termasuk masa depan pertanian Indonesia.
Mahasiswa pertanian, katanya, memiliki posisi strategis untuk ikut menyuarakan pentingnya regenerasi petani, ketahanan pangan, inovasi teknologi, serta kebijakan pertanian yang berpihak pada keberlanjutan.
Kolaborasi antara generasi muda, pemerintah, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi penting untuk memastikan sektor pertanian tetap menjadi salah satu fondasi perekonomian nasional. “Sektor pertanian adalah sektor yang menjanjikan jika dikelola dengan inovasi dan kebijakan yang tepat,” tutup Eko.

Dari Kampus untuk Masa Depan
Ragam narasumber yang dihadirkan dalam PKKMB tingkat fakultas tersebut memperlihatkan bahwa proses pengenalan kehidupan kampus di Unib terus diarahkan melampaui kegiatan seremonial. Mahasiswa baru diperkenalkan pada lingkungan akademik sekaligus dipertemukan dengan figur-figur yang telah mengalami proses panjang dalam membangun kompetensi, organisasi, karier, maupun pengabdian.
Dari aktivis mahasiswa, kreator konten, pejabat publik, penerima beasiswa, hingga pengawas Pemilu, setiap narasumber membawa cerita dan perspektif yang berbeda. Namun, pesan yang dibawa memiliki benang merah yang sama: mahasiswa harus berani bertumbuh, mengenali potensi, membangun jejaring, berpikir kritis, dan mengambil peran.
Bagi Unib, proses tersebut merupakan bagian dari ikhtiar membentuk mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian, keberanian, dan kemampuan untuk memberi dampak.
Sebab, perjalanan menjadi insan unggul tidak dimulai setelah mahasiswa lulus dari perguruan tinggi. Perjalanan itu dimulai sejak hari pertama mereka mengenal kampus, menemukan lingkungan baru, bertemu inspirasi, dan memutuskan untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi mengambil bagian dalam perubahan. [Purna Herawan | Humas].