Melimpahnya hasil panen jeruk kalamansi di Kabupaten Bengkulu Tengah menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pelaku usaha pengolahan pangan. Ketika produksi mencapai puncaknya, kapasitas pengolahan yang terbatas justru membuat sebagian hasil panen tidak terserap dan berpotensi terbuang.

Persoalan pascapanen inilah yang mendorong Tim Dosen Pengabdi Universitas Bengkulu (Unib) menghadirkan intervensi teknologi dan inovasi produk melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat tahun 2026. Pada 2 Agustus 2026, tim pengabdian menyerahkan bantuan teknologi tepat guna sekaligus menggelar pelatihan pengolahan produk kepada UMKM Kalamansi Putri Bengkulu.
Program tersebut tidak sekadar diarahkan untuk menambah peralatan produksi, tetapi dirancang sebagai upaya membangun mata rantai pengolahan kalamansi yang lebih kuat, efisien, dan bernilai ekonomi. Mulai dari penyerapan bahan baku, pengembangan produk, peningkatan kapasitas produksi, hingga penguatan identitas dan kemasan produk, seluruh tahapan disentuh dalam satu skema pendampingan.
Ketua Tim Pengabdian Unib, Dr. Ir. Rena Misliniyati, S.T, M.T, menjelaskan bahwa persoalan utama yang dihadapi mitra selama ini terletak pada keterbatasan kapasitas pengolahan. Proses produksi masih banyak mengandalkan peralatan manual dengan kapasitas relatif kecil sehingga belum mampu mengikuti lonjakan produksi ketika musim panen raya tiba.
“Kapasitas pengolahan UMKM selama ini hanya mampu menyerap 40 hingga 60 persen hasil panen. Akibatnya, sekitar 40 persen jeruk terbuang percuma saat panen raya,” ujar Rena, dikutip dari kanal berita Bengkulu Network.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan komoditas pertanian tidak berhenti pada produksi di tingkat petani. Tanpa dukungan teknologi pengolahan dan diversifikasi produk, peningkatan produksi justru dapat diikuti oleh meningkatnya potensi limbah pascapanen.
Karena itu, tim pengabdian Unib mengambil pendekatan yang lebih menyeluruh. Teknologi tepat guna diberikan untuk meningkatkan kapasitas produksi, sementara inovasi produk dikembangkan untuk memperluas pilihan pemanfaatan buah kalamansi segar.
Teknologi Tepat Guna untuk Perkuat Kapasitas Produksi
Sebagai bagian dari intervensi tersebut, tim pengabdian menyerahkan satu unit mesin es krim berkapasitas 10 liter dan satu unit planetary mixer kepada pemilik UMKM Kalamansi Putri Bengkulu, Amanda Anisa Saptarani.
Kedua peralatan tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada proses manual sekaligus meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi. Dengan peralatan yang lebih memadai, bahan baku kalamansi yang sebelumnya berisiko tidak terserap saat panen raya dapat dialihkan menjadi produk olahan yang memiliki umur simpan dan nilai jual lebih tinggi.

Bantuan tersebut didukung melalui skema Program Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Direktorat Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Ditjen Kemendiktisaintek) tahun 2026, serta disupport penuh oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bengkulu.
Namun, bagi tim pengabdian, pemberian peralatan bukanlah titik akhir. Teknologi harus diikuti dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar peralatan benar-benar dapat menghasilkan perubahan dalam proses produksi.
Karena itu, tim Unib juga memberikan pelatihan pembuatan Pie Kalamansi dan Es Krim Kalamansi. Dua produk ini dikembangkan dengan karakter yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama, yakni memperluas diversifikasi produk sekaligus meningkatkan kemampuan UMKM menyerap buah kalamansi segar.
Pie Kalamansi diarahkan sebagai salah satu produk oleh-oleh khas Bengkulu yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut, sementara es krim diposisikan sebagai produk inovatif yang dapat menjadi salah satu alternatif pemanfaatan surplus kalamansi secara lebih cepat ketika pasokan buah melimpah.
Melalui diversifikasi tersebut, intervensi teknologi dan pengembangan produk diproyeksikan mampu meningkatkan kapasitas produksi mitra hingga lebih dari 40 persen.
Dari Produk hingga Identitas Merek
Penguatan UMKM dalam program ini tidak berhenti pada aspek produksi. Tim pengabdian juga melihat bahwa kemampuan sebuah produk lokal untuk berkembang di pasar sangat ditentukan oleh bagaimana produk tersebut dikemas dan diperkenalkan kepada konsumen.
Atas dasar itu, pendampingan dilanjutkan ke aspek branding dan pemasaran digital. Tim mahasiswa yang terdiri atas Ghina, Amalia, Ardi, Malzelka, dan Nabila turut mendampingi karyawan UMKM dalam merancang kemasan produk menggunakan aplikasi Canva.

Konsep “Kalamansi Heritage” dikembangkan sebagai identitas visual yang berupaya mengangkat karakter lokal Bengkulu sekaligus menghadirkan tampilan yang lebih modern. Dalam kegiatan tersebut, tim juga menyerahkan 500 kemasan pie dan 100 cup es krim siap pakai kepada mitra.
“Desain kemasan eksklusif ini disiapkan agar produk lokal mampu menembus standar pasar modern sekaligus merambah pemasaran digital,” kata Rena.
Pendekatan ini menjadi penting karena transformasi UMKM tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak produk yang dapat dibuat, tetapi juga seberapa kuat produk tersebut mampu dikenali, dipercaya, dan dipilih konsumen.
Dengan demikian, pengabdian Unib mencoba membangun ekosistem sederhana tetapi terintegrasi, yaitu buah kalamansi sebagai bahan baku, teknologi sebagai pengungkit kapasitas, inovasi sebagai pembentuk nilai tambah, dan kemasan serta pemasaran digital sebagai pintu masuk menuju pasar yang lebih luas.
Pengabdian yang Menyasar Dampak Ekonomi
Dalam pelaksanaan program tersebut, Rena didampingi dua dosen anggota, yakni Dr. Febzi Fiona, S.E, M.M, dan Anggri Puspita Sari, S.E, M.Si.
Bagi UMKM Kalamansi Putri Bengkulu, dukungan yang diberikan tim Unib menjadi momentum untuk memperkuat keberlanjutan usaha. Pemilik UMKM, Amanda Anisa Saptarani, menyambut positif pendampingan yang mencakup aspek produksi hingga pemasaran tersebut.
“Dengan peralatan yang efisien dan kemasan profesional, kami optimistis produk olahan kalamansi ini semakin digemari masyarakat luas,” tutur Amanda.



Intervensi inovasi dan teknologi yang diberikan Tim Pengabdi Unib diharapkan surplus hasil panen Jeruk Kalamansi dapat memperoleh peluang baru dalam peningkatan ekonomi.(foto:ist-ant & rri)
Optimisme tersebut sejalan dengan target yang ingin dicapai melalui program pengabdian ini. Integrasi teknologi, efisiensi produksi, diversifikasi produk, dan penguatan kemasan ditargetkan mampu mendorong peningkatan omzet usaha sebesar 20 hingga 30 persen.
Lebih jauh, program ini diharapkan tidak hanya memberi manfaat bagi satu unit usaha. Ketika kapasitas pengolahan meningkat, peluang penyerapan hasil panen juga semakin besar. Pada titik inilah pengabdian perguruan tinggi dapat mengambil peran strategis, bukan sekadar mentransfer pengetahuan dan memberikan bantuan peralatan, tetapi ikut menjembatani persoalan produksi dengan kebutuhan pasar.
Bagi Unib, pengabdian semacam ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengabdian yang berdampak. Pengetahuan akademik diterjemahkan menjadi teknologi dan inovasi yang dapat digunakan langsung oleh masyarakat, sementara komoditas lokal didorong agar tidak berhenti sebagai bahan mentah, melainkan berkembang menjadi produk bernilai tambah.
Jeruk kalamansi yang selama ini menghadapi persoalan surplus saat panen raya pun memperoleh peluang baru. Dari buah segar yang berpotensi terbuang, lahir produk olahan seperti pie dan es krim, dari proses manual menuju produksi yang lebih efisien, dan dari kemasan sederhana menuju identitas produk yang lebih siap memasuki pasar modern.
Pada akhirnya, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah alat yang diserahkan atau produk yang dihasilkan. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana teknologi dan pengetahuan tersebut mampu bertahan dan terus digunakan oleh mitra, meningkatkan kapasitas usaha, membuka pasar, menyerap lebih banyak hasil panen, serta menciptakan nilai ekonomi baru dari komoditas lokal Bengkulu.
Di situlah pengabdian perguruan tinggi menemukan maknanya, yaitu ketika pengetahuan tidak berhenti di ruang akademik, tetapi hadir sebagai solusi yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan menggerakkan ekonomi lokal. [Purna Herawan | Humas].